
"Ziko"
Suara Zidan terdengar membuat Ziko mendongak lalu tersenyum dan begitu pria paruh baya itu mendekat dia menggeser sedikit tempatnya untuk duduk agar Zidan bisa duduk disampingnya. Setelah duduk bersebelahan Zidan merangkul anaknya itu dengan sayang lalu menepuk-nepuk pelan pundaknya.
Sebenarnya Ziko bingung dan ingin bertanya, tapi dia diam saja sambil menunggu hingga Zidan bicara padanya. Tak butuh waktu lama Zidan menjauhkan tangannya lalu menatap anaknya itu dengan senyuman.
Sebentar lagi Ziko akan memutuskan untuk menikah dan hal itu tentu saja sangat membahagiakan untuknya meskipun awalnya dia selalu meminta Ziko untuk memikirkan kembali. Bukan karena tidak percaya atau tidak setuju pada Devina, tapi Zidan hanya takut kalau Ziko terlalu buru-buru.
"Kamu memang mirip sekali dengan Papa." Kata Zidan
"Ya kan aku anak Papa." Kata Ziko sambil tertawa kecil
"Hm kamu memang anak Papa, apa kamu mau tau Ziko? Dulu Papa juga menikah ketika masih kuliah." Kata Zidan yang berhasil membuat anaknya terkejut bukan main
"Papa? Benarkah?" Tanya Ziko tidak percaya
"Hm Papa menikah ketika kami masih kuliah semester empat dan ya sama dengan kamu orang tua Papa juga menentangnya karena berfikir kami masih cukup muda, tapi Papa cukup keras kepala seperti kamu," Kata Zidan membuat Ziko tersenyum mendengarnya.
"Melihat kamu sekarang membuat Papa, jadi ingat ketika dulu Papa menikahi Mama kamu." Kata Zidan lagi
"Papa pasti sangat mencintai Mama ya?" Kata Ziko
"Iya Papa sangat mencintai Mama bahkan menikah dengan Mama kamu adalah hal yang sangat Papa syukuri, meskipun Papa pernah hampir kehilangan kamu dan Mama kamu dulu." Kata Zidan
Tentu saja Ziko tau apa maksud dari perkataan Papa nya.
Kejadian dimana Nazwa memergoki suaminya yang berselingkuh dan membuat dia membawa Ziko pergi dari rumah serta menggugat cerai meskipun akhirnya dia mencabut gugatan itu lagi.
"Saat itu Papa tidak berpikir jauh dan Papa gak ngerti kenapa sampai ngelakuin hal itu? Mengkhianati Mama adalah hal yang tidak pernah ingin Papa lakukan," Kata Zidan pelan.
Matanya menerawang mengingat kejadian dulu ketika pernikahannya hampir hancur.
'Aku mau cerai dan hak asuh Ziko akan ada ditanganku! Habiskan saja waktumu dengan wanita tak tau diri itu!'
Hampir saja Zidan kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya, tapi beruntung dia bisa mempertahankannya lagi.
"Saat Mama tau lalu membawa kamu pergi Papa sangat ketakutan apalagi ketika Mama kembali dengan surat perceraian, hari itu adalah hari terburuk dalam hidup Papa." Kata Zidan membuat Ziko kini menatapnya
"Semuanya sudah berlalu Pa." Kata Ziko
"Papa benar-benar takut kehilangan hingga setiap hari datang ke rumah Mama untuk memohon pada dia dan orang tuanya agar mau memaafkan Papa lalu menarik kembali gugatan perceraian,"
Helaan nafas terdengar bahkan hanya dengan mengingatnya saja Zidan merasa sesak.
"Kehilangan kepercayaan dari orang yang kamu cintai sama saja dengan kehilangan cintanya Ziko karena meskipun Mama memaafkan waktu itu butuh waktu yang sangat lama untuk membuatnya benar-benar kembali mencintai Papa." Kata Zidan
"Papa mencintai Mama kejadian itu hanya kesalahan." Kata Ziko
"Iya Papa mencintai Mama kamu sangat, jadi Ziko jangan mengulangi hal yang sama seperti Papa." Kata Zidan
"Enggak akan Pa." Kata Ziko dengan penuh keyakinan
Zidan tersenyum lalu menepuk pelan pundaknya.
"Hari ini kamu gak ada kegiatan apapun?" Tanya Zidan
"Hm enggak ada Pa." Kata Ziko
"Kalau gitu beri tau Papa tentang persiapan pernikahannya, sudah sampai mana?" Tanya Zidan
Ziko mengangguk patuh lalu memberi tau Zidan tentang semua yang sudah dia siapkan.
Tidak biasanya Ziko duduk dan berbincang bersama Zidan untuk waktu yang cukup lama.
¤¤¤
'Ma biarkan Papa bicara'
Sudah sejak tadi Zidan mengikuti Nazwa dan tidak peduli meskipun tangannya disentak berkali-kali serta tatapan tajam yang istrinya berikan. Sudah satu minggu Nazwa membawa Ziko kembali ke rumah orang tuanya dan sudah dua hari Zidan menerim surat perceraian dari istrinya.
Dunianya benar-benar berantakan Zidan tidak tau lagi harus dengan cara apa dia meminta maaf, dia tidak mau kehilangan istri dan anaknya. Semua memang kesalahannya, tapi dia berharap masih ada satu lagi kesempatan untuknya.
"Pergi dan jangan pernah menemuiku lagi!" Kata Nazwa marah dia bahkan mendorong tubuh suaminya
"Ma dengarkan Papa dulu..."
"Dengarkan apa lagi?! Penjelasan tentang kamu yang mencumbu wanita lain di depan mataku sendiri!" Kata Nazwa marah
Zidan tidak memberikan pembelaan dia hanya menatap sang istri dengan wajah memelas, tapi Nazwa tidak peduli dia benar-benar terluka karena suaminya.
"Sayang.."
"Jangan pernah menanggilku seperti itu lagi!" Kata Nazwa dengan penuh penekanan
"Ma kita bicara ya? Demi Ziko ayo kita bicarakan baik-baik dia masih sangat kecil." Kata Zidan pelan
"Jika kamu tau harusnya kamu tidak melakukan hal itu padaku! Harusnya kamu fikirkan aku dan anak kita!" Kata Nazwa dengan mata memerah
"Ma maafin Papa kita bicara baik-baik dan cabut gugatan cerainya ya?" Kata Zidan membuat Nazwa tersenyum sinis mendengarnya
"Mencabut gugatan? Tidak akan pernah! Aku mau cerai!" Kata Nazwa
Zidan baru akan bicara hingga suara anak mereka terdengar dan dia melihat Ziko yang berlari ke arahnya lalu memeluk dengan erat.
"Papaaa"
"Ziko kangen Papa apa Papa masih sibuk? Mama bilang Papa lagi sibuk kerja." Kata Ziko
"Hm Papa masih sibuk, tapi sebentar lagi selesai nanti Mama sama Ziko pulang ya?" Kata Zidan
Dengan semangat Ziko mengangguk, tapi tak lama setelahnya Nazwa meminta dia untuk mendekat ke arahnya.
"Pulang Mas aku tidak akan mencabut gugatan perceraian itu." Kata Nazwa
"Tapi, Ziko dia..."
"Biarkan itu menjadi urusanku! Lebih baik kamu urus saja wanita itu!" Kata Nazwa marah
Menatap kedua orang tuanya bergantian Ziko terlihat bingung, tapi tetap mengikuti langkah kaki Mama nya yang membawa dia masuk ke dalam kamar. Begitu masuk dan mengunci pintu Nazwa dapat mendengar suara ketukan serta suara sang suami yang memanggil namanya.
Duduk diatas lantai sambil bersandar pada tembol Nazwa memejamkan matanya hingga tidak sadar bahwa dia mulai menangis.
Ziko melihatnya, tapi dia tidak mengerti apapun dan malah menanyakan hal yang membuat Nazwa semakin terisak.
"Mama kenapa kunci pintunya? Papa di luar mau masuk." Kata Ziko
Tapi, ketika anak itu melihat Mama nya menangis dia mendekat membuat Nazwa menatapnya dengan air mata dipipinya.
"Ziko kalau Ziko hanya tinggal berdua sama Mama gimana?" Tanya Nazwa pelan
Ziko memasang wajah sedihnya.
"Enggak mau." Kata Ziko
Nazwa menangis lagi ketika mendengarnya dan hal itu membuat Ziko hanya diam sambil terus menatap dengan penuh kebingungan.
Dia tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
¤¤¤
Ziko tersenyum ketika ingatan itu kembali datang lalu dia menatap foto Devina yang ada di meja belajarnya. Salah satu hal kenapa dia begitu menjaga perasaan Devina karena dia tidak mau melihat orang yang dia sayang menangis.
Dulu dia melihat sendiri betapa Mama nya terluka hingga menangis setiap malam dan karena hal itu Ziko selalu menjaga perasaan seorang wanita. Makanya ketika Adyra atau Tiara pernah mendekatinya dulu dia tidak pernah sekalipun berlaku kasar.
Dia tidak mau membuat wanita menangis karena hal itu mengingatkan dia tentang Mama nya.
Menghela nafasnya pelan Ziko meraih ponselnya lalu menelpon Devina dan menunggu hingga mendapat jawaban. Dua kali menelpon Devina baru mengangkatnya.
"Kenapa baru angkat Vina?" Tanya Ziko
'Habis jajan sama Vano'
"Jajan apa hm?" Tanya Ziko
'Beli burger sama boba'
"Sekarang masih diluar?" Tanya Ziko
'Em enggak udah di rumah, memang kenapa?'
"Nanya aja sayang aku bosan di rumah." Kata Ziko
'Main game sana'
"Gak mau nanti kamu marah lagi." Kata Ziko membuat Devina tertawa mendengarnya
Dulu dia memang pernah bermain game hingga mengabaikan Devina dan membuat gadis itu marah serta merajuk padanya.
'Kalau gitu Ziko mau ngapain?'
"Mau telpon kamu, gak papa kan?" Tanya Ziko
'Enggak papa Vina suka telponan sama Ziko'
Ziko tersenyum mendengarnya, dia merindukan Devina sekarang.
"Vina aku kangen." Kata Ziko
'Ish baru tadi ketemu udah kangen lagi'
"Kamu bikin kangen terus." Kata Ziko
'Iya Vina kan ngangenin'
"Katanya kamu mau ketemu teman-teman kamu kuliah." Kata Ziko
'Besok aja sekarang malas'
"Sekarang maunya ngapain?" Tanya Ziko
'Telponan sama calon suaminya Vina'
Ziko terdiam dengan senyuman yang mengembang sempurna, rasanya tidak sabar menghilangkan kata calon disana.
¤¤¤
Aku updatee lagi hehe💞