My Possessive Twins

My Possessive Twins
102 : Prom Night



Prom night


Malam ini merupakan malam spesial bagi mereka kelas dua belas di SMA Kencana karena malam ini mereka akan menikmati moment kebersamaan sebelum akhirnya berpencar untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi. Pukul tujuh malam acara sudah di mulai semua murid telah berkumpul di gedung dengan senyuman penuh kebahagiaan.


Mereka semua terlihat cantik serta tampan dengan dress yang dipakai para gadis serta jas yang dikenakan oleh para pria. Semua kelas berkumpul menjadi satu menikmati acara yang akan berlangsung cukup lama, mungkin sampai sekitar pukul sembilan malam.


Di sudut sisi ada Devina bersama ketiga temannya dengan dress berwarna sama, biru laut. Sejak kedatangannya Devina menjadi pusat perhatian para lelaki karena dia begitu anggun dengan dress selutut serta rambut yang dibiarkan tergerai dan jangan lupakan make up tipis yang Devina pakai.


"Huaaa abis malam ini kita bakal sibuk untuk ngurusin kuliah." Kata Mona sedih


"Sedih banget ya? Gue kok masih mau SMA sih biar bareng-bareng sama kalian terus." Kata Cessa


"Bakal kangen banget sama kalian." Kata Nayla sambil menghela nafasnya pelan


"Sini pelukkk." Kata Devina sambil merentangkan tangannya


Mereka tersenyum dan berhambur memeluk Devina dengan perasaan senang juga bercampur sedih. Malam ini harus mereka habiskan bersama-sama sebelum disibukkan dengan dunia perkuliahan.


Setelah cukup lama berpelukan mereka menjauhkan diri dan saling tersenyum. Lagi, Devina merasa takut kalau dia tidak bisa menemukan teman seperti mereka.


"Vina cantik banget ya ampun pakai make up lagi." Kata Nayla


"Iya gue kira dia gak bakal pakai make up karena gak dibolehin." Kekeh Cessa


Devina tersenyum dan dalam hati membenarkan, dia memang tidak boleh memakai make up oleh Daddy nya tadi, tapi dengan sedikit paksaan dan raut wajah memelas akhirnya Devina mendapatkannya.


"Berantem dulu sama Daddy." Kata Devina


"Siapa yang makeiin make up nya Vin?" Tanya Mona penasaran


"Aku sendiri." Kata Devina membuat teman-temannya menatap dengan tidak percaya


"Hah?! Yang bener Vin?!" Tanya mereka bersamaan


Devina tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Wah lo bisa make up ternyata." Kata Mona


"Bisa dulu tuh sering diajarin sama Kak Ara terus aku juga diam-diam belajar sendiri dan beli alat make up nya juga." Kata Devina


Mereka mengangguk faham lalu terdiam ketika suara kepala sekolah mereka terdengar untuk memberikan sambutan. Semua murid sudah duduk di kursi yang disediakan tempat laki-laki dan wanita terpisah sehingga Devina tidak dapat melihat kekasih atau kembarannya.


Hanya saja Ziko melihatnya mata dia terpaku pada sosok Devina yang terlihat semakin cantik. Sungguh Ziko ingin menculiknya sekarang juga bahkan dia kesal melihat banyak sekali pasang mata yang menatap kekasihnya dengan penuh kekaguman.


"Hei sadar hei"


Ziko menoleh lalu tertawa kecil ketika Gio menegurnya.


"Cantik banget Vina ya? Gue kaget waktu lihat dia Ko." Kata Gio


"Cewek gue." Tekan Ziko membuat temannya itu berdecih pelan


"Tau Bang tau gue kan cuman memuji." Kata Gio


"Kapan sih selesai? Gue mau nyamperin Vina." Kata Ziko tidak sabaran


Sejak kedatangannya dia belum bertemu Devina karena sudah lebih dulu dimulai.


"Disamperin cowok-cowok tadi." Kata Gio


Mendengar hal itu Ziko langsung menoleh dan menatap Gio dengan tajam.


"Siapa?" Tanya Ziko


"Devina lah disamperin sama Harris dan teman-temannya." Kata Gio membuat Ziko berdecak kesal


Lihat kan?


Setelah ini dia akan menempel terus pada Devina agar tidak ada yang berani mendekati wanitanya. Lebih dari setengah jam rangkaian acara pembuka dilakukan hingga akhirnya acara inti dimulai juga.


Beberapa adik kelas ikut memeriahkan dan tampil di atas panggung yang lainnya sibuk mengobrol hingga mengambil foto bersama. Setelah berhasil bebas Ziko bergegas menghampiri Devina dan memeluknya dengan sayang.


"Zikoo"


Devina terlihat senang dia langsung membalas pelukan kekasihnya itu dengan hangat dan menatapnya sambil tersenyum lebar.


Jujur Devina terpesona melihat Ziko dengan jas serta rambut yang ditata rapih, semakin membuatnya jatuh cinta.


"Ganteng banget pacar aku." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya


"Kamu juga cantik banget sampai takut diambil orang, kenapa pakai make up?" Tanya Ziko


"Biar cantik." Kata Devina dengan senyuman


Ya ampun padahal tanpa make up saja Devina sudah sangat cantik dimatanya.


"Jadi banyak yang lihat kamu." Kata Ziko


"Ya iyalah Ziko temen gue cantik gini pasti diliatin orang-orang." Kata Mona


"Gak tau aja dia kalau tadi ada yang nyamperin Devina." Kata Cessa


"Tau kok Harris kan?" Kata Ziko membuat Devina terkejut mendengarnya


Kok Ziko bisa tau?


Tadi Harris memang menghampirinya bersama beberapa temannya.


"Tau gak dia peluk Devina tadi?" Kata Nayla yang langsung dihadiahi tatapan tajam Devina


Tadi Harris melakukannya tanpa izin bahkan Devina juga terkejut dan refleks mendorong tubuhnya.


"Bener Vin?" Tanya Ziko


"Iya, tapi dia gak bilang tiba-tiba peluk gitu aja aku kaget jadinya aku dorong dia." Kata Devina menjelaskan


Mengusap pipi Devina dengan lembut Ziko menghela nafasnya pelan, dia tidak akan membiarkan Devina sendirian.


Disisi lain Adara bergegas menghampiri Devano karena dia tidak memiliki banyak teman wanita, bahkan bisa dibilang dia tidak punya. Malam ini dia memakai gaun yang kekasihnya berikan meskipun awalnya menolak, tapi paksaan Devano membuat Adara memakainya juga.


Begitu melihat Devano serta yang lainnya Adara memanggil kekasihnya membuat Devano tersenyum lalu merangkulnya.


"Eh gila Dara cantik banget kalau dandan kayak cewek gitu." Kata Gara membuat Devano menatapnya tidak suka


"Marah tuh Gar." Kekeh Alex sambil menyenggol Gara


Gara tertawa kecil lalu memilih untuk diam, mata Devano itu tajam apalagi ekspresi wajahnya yang datar.


Menit demi menit berlalu kini lampu mulai meredup dan musik terdengar, waktunya untuk berdansa. Ada cukup banyak yang berdansa mengikuti aluman musik sedangkan beberapa yang lainnya hanya melihat saja.


Tepat di tengah ada Devano bersama Adara mereka saling menatap dan membalas senyuman. Terlihat sekali bahwa Adara begitu bahagia bersama kekasihnya.


"Vano"


"Iya?"


"Untuk semua cinta yang kamu kasih makasih banyak Van aku bahagia banget kamu buat aku berubah dan buat aku merasa dicintai." Kata Adara sambil tersenyum tulus


"Kamu pantas mendapatkannya Adara." Kata Devano


Menyandarkan kepalanya di dada Devano mata Adara terpejam, dia bahagia sekali memiliki Devano dihidupnya.


Setelah ini mereka mungkin akan jarang bertemu atau bahkan Devano melupakannya, tapi Adara hanya ingin pria itu tetap disampingnya.


Tidak masalah meski perasaan Devano berubah asal dia masih tetap disampingnya.


Karena hanya Devano yang dia miliki.


¤¤¤


"Ziko kenapa berhenti?"


Pertanyaan itu Devina ajukan ketika Ziko menghentikan mobilnya dan mengajak dia keluar, mereka baru saja pulang dari acara prom night. Setelah keluar dari mobil Ziko mengajaknya untuk duduk bersandar pada bagian depan mobilnya sambil melihat ke depan.


Cahaya lampu dari rumah-rumah terlihat indah juga gemerlap bintang yang membuat malam ini terasa menyenangkan. Sudah pukul setengah sepuluh malam jalanan juga sudah mulai sepi, tapi Ziko malah mengajaknta keluar.


"Aku mau habisin waktu sama kamu sebentar." Kata Ziko


Devina tersenyum lalu meraih tangan Ziko untuk dia genggam.


"Kita bakal sering ketemu kan?" Tanya Devina


"Iya kita juga bakal vidio call setiap hari." Kata Ziko membuat Devina tersenyum mendengarnya


"Kamu gak bakal ninggalin aku kan?" Tanya Devina


"Kenapa nanya gitu?" Tanya Ziko


Devina menggelengkan kepalanya pelan, tapi tetap mengatakan apa yang dia cemaskan.


"Sebentar lagi kuliah kamu bakal nemu banyak teman baru dan banyak cewek juga, mungkin kamu bakal...."


"Enggak bakal Devina sayang aku cuman cinta sama kamu." Kata Ziko


"Tapi, setiap orang berubah." Kata Devina pelan


"Enggak akan berubah kalau aku gak menginginkan hal itu terjadi, dengar ya? Aku itu orangnya konsisten bahkan aku suka sama kamu hampir tiga tahun dan kamu fikir aku bakal sia-siaiin perjuangan aku hanya untuk orang baru?" Kata Ziko


Devina diam lalu tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Ziko sambil memejamkan mata.


"Gimana kalau nanti kamu yang nemu cowok baru?" Tanya Ziko membuat Devina langsung menatapnya


"Enggak aku cuman mau sama Ziko." Kata Devina


"Kalau gitu sama aku juga, jadi gak ada yang perlu kamu takutin." Kata Ziko


Devina mengangguk singkat dia kembali memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam yang menerpa kulitnya.


Seakan sadar kalau angin cukup kencang Ziko mengajak Devina untuk masuk ke dalam dan melanjutkan perjalanan mereka. Tidak bisa menolak karena hari yang memang semakin malam Devina kembali masuk ke dalam mobil.


Mobil Ziko melaju pergi melewati jalanan yang sudah cukup sepi dan disampingnya Devina terus menatapnya dalam diam. Senyuman Devina mengembang dia meminta tangan Ziko untuk digenggam.


Sedikit membuat terkejut Devina mencium tangan kekasihnya itu berkali -kali sebelum melepaskannya.


"Kenapa dilepas?" Tanya Ziko


"Kan Ziko lagi bawa mobil." Kata Devina


Begitu mereka sampai di depan rumah kekasihnya Ziko tidak begitu saja membiarkan Devina pulang dia menatap wanita itu dengan senyuman sambil mengusap pipinya. Ikut tersenyum Devina selalu merasa berharga setiap kali ditatap dengan penuh cinta oleh kekasihnya.


Tidak ada orang lain yang menatapnya begitu.


Devina tidak mungkin mencari pria lain karena hanya Ziko yang bisa menerima dia yang cengeng, manja, dan bawel.


Hanya Ziko yang bisa menerimanya.


Saat Ziko mendekatkan wajahnya Devina memejamkan matanya dan dia tersenyum ketika merasakan ciuman dibibirnya. Hanya sesaat karena Ziko langsung menjauhkan wajahnya sambil mengusap pipinya lagi.


"Itu refleks juga?" Tanya Devina polos


Ziko tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Itu sengaja"


Devina tersenyum sambil menatap dengan wajah memerah.


"Lagi boleh Vin?"


Wajah Devina semakin memerah dia mencubit Ziko pelan membuat kekasihnya itu tertawa.


Jangan sampai Devano tau lagi.


¤¤¤


Rasanya Devano sudah gila karena terus menatap ke arah bibir Adara yang tengah bercerita, dia ingin menciumnya. Berkali-kali Devano mencoba untuk mengenyahkan fikiran kurang ajarnya dan fokus pada cerita Adara.


Sekarang mereka berada di rumah Adara baru saja sampai dan Adara meminta dia untuk masuk sebentar karena ada yang ingin dia kasih. Ternyata Adara memberikan album foto yang serupa dengan miliknya lalu bercerita tentang bagaimana susahnya mencari album yang sama.


"Untung aku dapat kamu simpan ya Van? Jangan dibuang." Kata Adara yang telah selesai


Dia menatap Devano sambil tersenyum, tapi kekasihnya itu diam dengan mata yang terus menatapnya.


"Van? Denger aku gak kamu ke...."


Mata Adara melotot ketika perkataannya terputus karena ciuman dibibirnya.


Devano kehilangan akalnya dia benar-benar tidak tahan hingga mendekatkan wajahnya dan mencium Adara dengan bibirnya.


"Van kamu..."


Adara semakin melotot ketika Devano melakukannya sekali lagi dan ketika pria itu menjauh Adara dapat melihat wajah Devano yang memerah.


"Aku... harus pulang Dar udah malam makasih hadiahnya." Kata Devano cepat


Dia bangun dari duduknya, tapi begitu sampai di pintu Devano kembali dan memeluk Adara sekilas.


"I love you dan maaf untuk ciumannya"


Begitu sampai di luar Devao tersenyum ketika mengingat apa yang tadi dia lakukan.


Sial, dia pasti sudah benar-benar gila.


The End


¤¤¤


Iyaa season satunya sudah tamatt😚


Besok kita udah mulai up season kedua ya😉 Sedikit bocoran season kedua nanti bakal lebih fokus ke Devina ya😊


Makasih dukungannya❤


Siapa yang gak sabar untuk season keduaa???