
Tawa Devano terdengar membuat Adara tersenyum dan langsung memeluknya dengan sangat erat, melakukan hal yang sama Devano balas memeluk istrinya itu dengan sayang, dia mencium puncak kepalanya hingga berkali-kali. Dalam genggamannya ada dua buah testpack yang menunjukkan dua hasil yang sama, iya Adara sepertinya sedang hamil lagi.
Mungkin itu penyebab kedua anaknya rewel sekali belakangan ini belum lagi Adara yang memang sedikit lebih sensitif. Sebenarnya Devano sama sekali tak curiga, tapi Adara yang merasa aneh karena sudah telat datang bulan dan ditambah lagi dengan ***** makannya yang sedikit meningkat seminggu belakangan.
"Baby twins?"
Adara menggelengkan kepalanya pelan, dia jelas tak tau.
"Baby twins atau bukan aku bakal tetep senang, hai anak Papa baik-baik di sana ya sayang." Kata Devano.
Tangan Adara mengusap kepala Devano ketika suaminya itu menunduk dan mencium perutnya yang masih terlihat rata untuk waktu yang cukup lama.
"Aku mau pamer sama Ziko haha dia pasti iri." Kata Devano.
Dengan antusias Devano mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Ziko di sana, dia mengambil gambar dua testpack itu dan mengirimkannya pada Ziko.
Duluan Ko💃
Memang Devano dan Ziko cukup akur sekarang, tapi tanpa sepengetahuan istri mereka ternyata mereka berdua sedang saingan untuk memiliki anak lagi dan sepertinya Devano akan lebih unggul.
Tertawa pelan Adara menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami.
"Enggak sabar banget, besok kita harus ke Dokter sayang." Kata Devano.
Devano mengusap perut rata itu dengan penuh kelembutan.
"Dia cewek atau cowok ya? Aku harap cewek biar lucu kayak Nadhin." Kata Devano.
"Nanti makin banyak yang manja sama kamu." Kata Adara sambil tersenyum.
"It's okay aku suka." Kata Devano.
Devano menatap istrinya itu dengan sayang lalu menciumi pipinya hingga berkali-kali dan membuat Adara tertawa pelan.
"Aaa gak sabar mau punya baby lagi." Kata Devano.
Baru saja Adara akan bicara pintu kamar mereka terbuka dan si kembar berlari memasuki kembar dengan penuh semangat, mereka habis ikut Fahisa ke rumah Sahara.
"Amaaa"
Nathan naik ke atas kasur lalu memeluk Adara dengan manja.
"Kenapa sayang?" Tanya Adara sambil mengusap kepala anak itu dengan sayang.
"Amaa Athan jatuh kalna lali lali." Kata Nadhin.
Mendengar itu Adara berubah cemas dia langsung melepaskan pelukannya dan menatap Nathan yang cemberut.
"Kakinya beldalahh tadi cudah diobatin Oma." Kata Nadhin.
Melihat ke arah lutut Nathan ternyata benar ada luka kecil di sana.
"Nathan jangan lari lari dong sayang kan jatuh, ya ampun kasian anak Mama." Kata Adara sambil mengusap kepala anak itu dengan sayang.
"Udah gak cakit." Kata Nathan.
"Nathan kalo main harus hati-hati." Kata Devano.
"Iyaa"
Devano kini menatap Nadhin yang naik ke atas ranjang, anak itu berjalan ke belakangnya lalu memeluk Devano dari belakang. Tangan mungilnya melingkar di kedua leher Devano membuat Devano tertawa pelan karena tingkah putrinya.
"Nadhin mau punya adik enggak?" Tanya Devano.
"Mauu mauuuuu"
Nadhin berseru senang bahkan anak itu melompat-lompat di atas kasur membuat Devano kembali tertawa.
"Kalau Nathan mau enggak?" Tanya Devano.
Nathan tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
"Mau"
"Akuu mau punya adik ya Paaa?" Tanya Nadhin dengan penuh antusias.
Devano tersenyum lalu mencapit gemas hidung Nadhin dengan tangannya.
"Iya Nathan sama Nadhin mau punya adik." Kata Devano.
Nathan dan Nadhin langsung tersenyum kini Nathan ikut naik ke atas ranjang lalu mereka berdua melompat-lompat di sana dengan raut wajah bahagia.
"Seneng ya?" Kata Adara.
"Yeee aku punya adikk." Kata Nadhin senang.
"Sini dong peluk Mama dulu." Kata Adara.
Adara tertawa ketika Nathan dan Nadhin langsung memeluknya dengan sayang dia mencium kepala keduanya secara bergantian.
"Nanti celuuu aku punya teman." Kata Nadhin.
Cukup puas berpelukan kedua anak itu turun dari pangkuan Adara dan berlari keluar sambil berseru kuat membuat Devano menepuk pelan dahinya.
Gagal deh untuk membuat kejutan.
"OMAA OPAA AKU MAU PUNYA ADIK BALUU"
Kedua anak itu berseru secara bersamaan dan Devano yang takut keduanya berlari menuruni tangga langsung mengejar mereka.
Adara masih duduk di atas ranjangnya, dia tersenyum lalu menunduk untuk menatap perutnya.
"Sehat-sehat ya anak Mama sayang"
°°°°
"Gue duluan Ko hahaha"
Devano tertawa puas melihat wajah masam saudara iparnya ketika memasuki rumah bersama dengan Devina juga si kembar. Berbeda dengan Ziko yang terlihat sebal Devina justru tersenyum senang dia memasuki rumahnya dan langsung memeluk Adara dengan sayang.
Mengucapkan selamat Devina langsung mengusap perut Adara kemudian tertawa pelan karena merasa senang akan memiliki keponakan baru. Kedatangan Devina juga membuat Adara merasa senang, dia memeluk saudara iparnya itu dengan sayang untuk waktu yang cukup lama.
"Mamiii"
Nathan dan Nadhin muncul kedua anak itu memang memanggil Devina dengan sebutan Mami sekarang.
"Iii mau punya adik." Kata Devina.
Nadhin tersenyum dia naik dan duduk di pangkuan Devina lalu mata bulatnya menatap Devina dengan lucu.
"Aku senang mau punya adik." Kata Nadhin.
"Mami juga senang." Kata Devina.
Devina lalu menatap Nathan dan mengusap pipi anak itu dengan sayang, tapi wajahnya berubah panik ketika suara Arthan terdengar. Anak itu memasang wajah galaknya ketika melihat Nadhin yang duduk di pangkuan Maminya.
"Aaaa Amiiii"
Nadhin memeluk Devina dan melihat Arthan yang sepertinya akan marah membuat Ziko langsung menggendong anak itu agar tidak menimbulkan keributan.
Tapi, bukan Arthan kalau tidak banyak drama anak itu langsung menangis dan memberontak minta di turunkan.
"Gakk gakk epasss mau Amiii aaaaa Ami di ambil nenek lampillll." Rengek Arthan.
Semua orang tertawa mendengarnya, tapi Devina masih memangku Nadhin bahkan balas memeluk anak itu dengan sayang.
"Ini anak Mami." Kata Devina sambil memeluk Nadhin.
"Aaa gakk gakkk Amii diambil Amiiiii"
"Nangis terus ih jelek." Kata Devano sambil menoel lengan Arthan.
"Aaaa canaaaa!"
Devano tertawa senang, tapi kasihan juga melihat Arthan yang benar-benar menangis hingga Devina akhirnya menghampiri anak itu ketika Nadhin turun dari pangkuannya.
Begitu pindah ke dalam gendongan Devina dengan jahilnya Devano kembali meledek hingga Arthan memukulnya karena kesal.
"Jelek ih abis nangis." Kaga Devano.
"Aaaaa"
"Eh jangan Arthan." Kata Devina sambil menghela nafasnya lelah.
Tak lama Fahisa dia mengajak anak-anak untuk bermain ke halaman belakang. Awalnya menolak, tapi melihat Ardhan juga ikut Arthan turun juga dan ikut berlari ke belakang bersama yang lainnya.
Kini hanya ada Devano, Devina, Ziko dan juga Adara di ruang tamu.
"Gue duluan Ko." Kata Devano lagi.
"Diemm! Vinaaaa." Rengek Ziko pada Devina.
"Berisik ishh." Kata Devina.
Devina tersenyum dia kembali menghampiri Adara dan duduk di sampingnya membiarkan Ziko yang memasang wajah masamnya karena menerima ledekan yang Devano berikan.
Jangan salah kalian, sekarang Devano itu jahil ketularan anak-anaknya.
°°°°
Si kembar ada di kamar orang tua mereka, dia atas kasur Nadhin dan Nathan duduk sambil mengusap perut Mama-nya dengan sayang. Perbuatan mereka itu membuat Adara tak bisa menahan senyumnya, senang sekali karena kabar kehamilannya membuat semua orang merasa bahagia.
Devano sedang keluar dan Adara bersama si kembar sekarang yang sudah sejak tadi menemaninya. Diminta pergi main mereka tidak mau katanya mau sama Adara saja, menggemaskan sekali.
"Adik aku dalam cinii dia macih kecil." Kata Nadhin
Tersenyum manis Adara menatap kedua anak itu secara bergantian, dia senang karena anak-anaknya mendapatkan kasih sayang orang tuanya dan menjalani kehidupan yang baik, tidak seperti dia dulu.
"Nanti aku cayang adiknya." Kata Nathan.
"Adiknya lamaa ya Ma?" Tanya Nadhin sambil menatap Adara dengan matanya yang membulat.
"Hm lama, tapi Nadhin sama Nathan mau nungguin kan?" Tanya Adara.
Kedua anak itu mengangguk bersamaan lalu bersama-sama juga memeluk Adara.
"Mama sayang banget sama Nathan sama Nadhin." Kata Adara sambil mencium puncak kepala keduanya secara bergantian.
Kedua anak itu tersenyum mereka berdiri dan memeluk pipi Adara bergantian.
"Cayang Mama jugaaa." Kata keduanya bersamaan.
Adara tertawa, tapi matanya berkaca-kaca dia kembali memeluk kedua anak itu dengan sayang.
Adara tidak bisa membayangkan, jika dulu dia tidak mengenal Devano akan seperti apa hidupnya sekarang?
Beruntung dia bertemu Devano hingga saat ini hidupnya penuh dengan kebahagiaan.
°°°°
**After baby nya lahir aku tamatin dan aku buat cerita khusus untuk anak-anak Devano-Adara yaaa😍
Maaf baru bisa updates, masih ada yang menunggu kan?
Next aku update cerita Vina-Ziko yaaa💃**