My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (27)



Senyuman manis Devina mengembang dengan sempurna ketika melihat kekasihnya yang sedang menunggu kedatangannya di depan kelas sambil memainkan ponselnya. Menoleh pada kedua temannya Devina mengatakan kalau dia ingin menemui kekasihnya dan meminta mereka untuk duluan saja.


Pelajaran hari ini hanya ada dua dan mereka baru saja selesai tadinya Devina ingin ikut ke kostan Hanifa, tapi kekasihnya malah menghampirinya ke kelas. Saat melihat Devina ada dihadapannya Ziko tersenyum lalu merangkul kekasihnya itu dengan sayang dan mengajaknya ke parkiran.


Keduanya diperhatikan beberapa orang yang memang sudah tau bahwa mereka berpacaran karena Ziko sering sekali menghampiri Devina.


"Ziko mau ajak aku kemana?" Tanya Devina


"Emm sebenernya mau ajak ke rumah, tapi kita makan dulu aja soalnya di rumah gak ada Mama." Kata Ziko


"Mama kamu lagi kemana memang?" Tanya Devina


"Biasa ngikutin Papa ke luar kota." Kekeh Ziko


"Mama kamu pasti sayang banget sama Papa kamu Ziko sampai ngikutin terus kemana-mana." Kata Devina membuat Ziko tersenyum mendengarnya


Mereka pergi ke parkiran lalu ketika sampai Ziko langsung membukakan pintu mobilnya untuk Devina dan keduanya masuk ke dalam. Belakangan ini Ziko memang lebih sering membawa mobil dari pada motor tidak seperti di SMA dulu dimana dia selalu membawa motor kemanapun.


Menghidupkan mesin mobilnya keduanya meninggalkan area kampus untuk pergi makan, Ziko juga sudah menyelesaikan kuliahnya dan satu mata kuliah lagi dosennya berhalangan hadir.


"Zikoo"


"Hmm"


"Kemarin Daddy bilang kamu sama orang tua kamu hubungin Daddy ya?" Tanya Devina


Ziko menoleh sebentar lalu menganggukkan kepalanya.


"Hmm aku bilang sama orang tua aku dan mereka bilang terserah aku, jadi aku minta mereka untuk bilang ke Daddy kamu." Kata Ziko


Devina mengangguk faham lalu memperhatikan Ziko yang tengah fokus pada jalanan dihadapannya.


"Aku kira waktu Ziko mau ajak aku nikah atau tunangan itu cuman bercanda." Kata Devina


"Aku gak pernah bercanda kalau itu tentang kita Devina." Kata Ziko sambil tersenyum


"Kata Vano kamu gak sabaran." Kata Devina membuat kekasihnya itu tertawa


Ya, katakan saja kalau Ziko tidak sabaran dia tidak akan marah.


"Aku gak mau terlalu lama pacaran kayak gini Vin, bukan gak mau, tapi aku mau punya hubungan yang lebih serius lagi sama kamu." Kata Ziko


"Ziko serius sama aku?" Tanya Devina


"Kamu fikir bercanda?" Tanya Ziko sambil menoleh sebentar


Dengan cepat Devina menggelengkan kepalanya.


"Vin aku tau kamu itu banyak yang suka dan banyak banget yang mau ngerebut kamu dari aku, makanya aku mau mengikat kamu dengan hubungan yang lebih serius." Kata Ziko


"Karena Ziko takut kehilangan aku ya?" Tanya Devina membuat Ziko tersenyum mendengarnya


"Iya dan karena aku juga mau bebas peluk kamuu tanpa diprotes Devano." Canda Ziko


Devina tertawa lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Lucu sekali ketika kembaran dan kekasihnya sama-sama tidak mau kehilangannya.


Tapi, Devina juga sama dia tidak mau kehilangan keduanya.


Sekitar lima belas menit mobil Ziko berhenti di area parkiran cafe yang biasa dia dan kekasihnya kunjungi. Membuka pintu untuk Devina tangan Ziko langsung menggenggam erat tangan kekasihnya dan mengajaknya untuk masuk.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Ziko


"Emm mau burger aja." Kata Devina


"Udah?" Tanya Ziko


Devina mengangguk lalu duduk ketika mereka menemukan tempat yang kosong.


Selagi menunggu pesanan Devina memainkan ponsel Ziko dan mengeceknya, bukan karena curiga hanya saja dia merasa bosan. Ada banyak pesan yang tidak kekasihnya itu baca alias diabaikan.


Di chat teratas ada namanya yang diikuti dengan gambar hati, Ziko menang mengepin chatnya agar selalu berada di atas.


"Vin"


"Emm"


"Habis ini ke rumah aku ya? Mau kan? Ada Bi Lili kok di rumah." Kata Ziko


Devina mendongak lalu menganggukkan kepalanya membuat Ziko tersenyum senang.


"Ziko kenapa kamu gak pernah bosan sama aku?" Tanya Devina


Ziko mengerutkan dahinya bingung lalu menatap Devina yang kini menopang dagunya.


"Ya karena aku sayang sama kamu Devina." Kata Ziko


"Katanya dalam sebuah hubungan itu pasti ada rasa bosannya, memang Ziko gak pernah ngerasaiin?" Tanya Devina


"Kata siapa?" Tanya Ziko


"Kata Intan dia bilang dulu dia pacaran dua tahun terus diputusin karena cowoknya bilang bosan." Kata Devina


"Aku gak pernah ngerasa bosan Vin apalagi sama aku malah kalau gak ketemu sama kamu, jadi kangen banget." Kata Ziko


"Emm Vina juga gak pernah bosan." Kata Devina sambil tersenyum manis


"Gak boleh juga." Kata Ziko


Devina tertawa dan menganggukkan kepalanya hingga beberapa saat setelahnya pesanan mereka datang juga. Belum terlalu lapar sebenarnya karena tadi Devina memang makan di kantin ketika sedang jam kosong.


Devina memang suka makan, tapi susah sekali untuk gemuk kata Devano semua daginyanya ada di pipi.


¤¤¤


"Sini tangannya"


Tangan Devina terulur ketika Ziko mengajaknya untuk keluar dari loteng dan pergi duduk di atap rumah, seperti hari ulang tahun Ziko waktu itu. Sekarang sudah pukul empat sore makanya tidak terlalu panas bahkan bisa dibilang cuacanya cukup teduh.


Melangkahkan kakinya dengan hati-hati Devina tersenyum senang ketika mereka berdua duduk di atap rumah Ziko sambil menatap lurus ke depan. Sepertinya dia akan meminta Daddy nya untuk membuat seperti ini juga karena di rumahnya tidak ada bahkan loteng saja tidak ada.


"Hah enak ya Vin disini sejuk." Kata Ziko


"Iya aku sukaa." Kata Devina senang


Ziko tersenyum dan meraih tangan Devina untuk dia genggam sambil mengusap tangan kekasihnya itu dengan ibu jarinya.


"Vin"


"Hmm"


"Aku mau tau jawaban kamu, apa kamu mau tunangan sama aku?" Tanya Ziko


Devina tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya.


"Mauu"


"Tadinya aku memang mau ajakin kamu nikah, tapi Mama sama Papa aku minta aku untuk mikirin hal itu lagi kata mereka pernikahan itu gak semudah apa yang dibayangkan," Kata Ziko.


Devina mendongak untuk menatap kekasihnya yang tersenyum dengan pandangan lurus ke depan.


"Papa juga bilang kalau aku belum punya apa-apa untuk menikah di usia sekarang, dia bilang cinta gak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup paling tidak aku punya pekerjaan untuk bisa menopang hidup kita berdua." Kata Ziko


"Papa Ziko bilang gitu?" Tanya Devina


"Iya, kata Papa aku memang anak satu-satunya dan tentu aja bakal jadi penerus perusahaan Papa, tapi gak semudah itu juga aku masih harus banyak belajar masalah perkantoran dan lagi bisa aja hal itu gak terjadi kalau para pemegang saham gak setuju kalau aku jadi penerus Papa, entahlah Vin aku masih gak ngerti." Kata Ziko


Devina tertawa kecil lalau menyandarkan kepalanya di bahu Ziko membuat kekasihnya itu tersenyum senang.


"Papa gak ngelarang apalagi Mama dia malah seneng banget, tapi Papa minta aku fikirin lagi dan akhirnya aku putusin untuk ajak kamu tunangan." Kata Ziko


"Vina juga belum siap untuk menikah karena Ziko tau sendiri gimana aku kan? Manjanya minta ampun terus keras kepala juga makanya aku belum mau, tapi kalau tunangan sama Ziko aku mauu." Kata Devina senang


Ziko tersenyum dan menatap kedua tangan mereka ketika Devina menautkan jari-jarinya disana.


"Nanti jari manis kita bakal ada cincin, jadi gak bakal ada yang gangguin aku sama Ziko lagi"


Ya ampun dia harus mempercepat acara pertunangannya.


¤¤¤


Devina tersenyum ketika melihat penampilannya di kaca tadi sebelum pulang ke rumah Devina minta di antar untuk potong rambut oleh Ziko dan awalnya kekasihnya itu melarang, tapi Devina memaksa. Meskipun sekarang dia sedikit takut kalau Devano atau Daddy nya melihat lalu marah karena mereka berdua memang melarang keras Devina untuk potong rambut.


Masalahnya belakangan ini cuacanya panas sekali dan Devina sering kepanasan apalagi dia tidak pernah menguncit rambutnya. Makanya Devina memutuskan untuk memotong rambutnya cukup pendek.


"Enggak papa kali ya? Nanti Vano sama Daddy marah gak yaa? Tapi, aku mau potong rambut lagian gak ada bedanya"


Devina berbicara sendiri lalu menghela nafasnya pelan dan membuka pintu kamar dengan hati-hati sambil mengintip karena takut ada Devano atau Daddy nya yang muncul. Saat merasa aman Devina berlari kecil menuruni tangga dan menghampiri Mommy nya yang tengah memasak untuk makan malam.


Ya, memang sudah malam Devano sedang ikut Daffa ke rumah Farhan dan belum pulang sejak sore.


"Ehh Vina tum... loh sayang rambut kamu di potong?" Tanya Fahisa dengan raut wajah terkejutnya


Devina menunjukkan cengirannya lalu menghampiri Fahisa dan memeluknya.


"Iya Mommy habisnya udah panjang banget terus panas tau kalau di kampus apalagi gak pernah di kuncit." Kata Devina


"Pasti Vano sama Daddy gak tau kan?" Tebak Fahisa


Devina mengangguk singkat membuat Fahisa menggelengkan kepalanya pelan.


Sejak dulu Daffa memang selalu melarang dia dan anak-anak perempuannya untuk potong rambut.


"Kamu ini yaudah Mommy mau masak lagi." Kata Fahisa


"Yaudah Vina mau nonton tv ya?" Kata Devina


Setelah mendapat anggukan dari Mommy nya Devina melangkahkan kakinya ke ruang tengah, tapi ketika mendengar suara pintu utama terbuka Devina menoleh. Bersamaan dengan itu sebuah seruan terdengar membuat Devina terdiam di tempatnya.


"Vina kamu potong rambut?!"


Saat melihat Devano berjalan mendekat Devina berlari dan memeluk Fahisa yang baru saja muncul karena mendengar suara anaknya.


"Devina siapa yang suruh kamu potong rambut?"


Devina tidak menjawab dan hanya bersembunyi di balik tubuh Fahisa menghindari tatapan tajam kedua pria dihadapannya.


¤¤¤


Aduhh Vina kamu inii😂


Devina : Aku rambut baruu😋



Masih cantik kannn😌