
Tanggal ujian sudah semakin dekat dan sekolah sudah mulai mengadakan jam tambahan untuk murid-murid kelas dua belas, sedikit malas untuk dilakukan, tapi perlu untuk kesempurnaan nilai. Kelas Devina dan Devano memiliki jadwal tambahan yang berbeda biasanya jam tambahan berlangsung selama dua jam untuk dua mata pelajaran.
Mereka yang biasa pulang pukul dua siang harus pulang ke rumah sekitar pukul empat sore. Ada beberapa hal yang difikirkan ketika sudah berada di kelas dua belas apalagi ketika mendekati ujian.
Bagaimana ketika nanti mereka lulus?
Rasa sedih untuk meninggalkan sekolah tercinta juga berpisah dengan teman-teman yang telah menghabiskan waktu selama tiga tahun bersama. Membayangkan bahwa sebentar lagi mereka akan meninggalkan berjuta kenangan mengusik hati mereka lebih dari soal-soal ujian.
Devina termasuk salah satunya, dia berfikir tentang keadaan dimana dia akan berpisah dengan ketiga sahabat baiknya yang pasti akan menempuh jalan yang berbeda-beda ketika kuliah. Selain itu memikirkan akan berjauhan dari Ziko membuat Devina sedih bukan main, dia takut kalau berjauhan dengan Ziko akan membuat hubungan mereka juga renggang.
Devina takut dia tidak akan menemukan teman-teman sebaik mereka nantinya.
Hanya saja masih cukup lama dan Devina tidak harus memikirkannya, biar saja semuanya berjalan seiring berjalannya waktu.
"Gue butuh minuman dingin yang bisa menyegarkan otak gue sekarang juga!" Kata Mona ketika mereka baru saja menyelesakan jam tambahan
Matematika!
Rasanya nama itu adalah musuh bebuyutan bagi Devina dan ketiga temannya karena nilai mereka selalu dibawah dari KKM, entah ketika latihan, ulangan, atau ujian semester.
"Gue mau nanya, lo semua ngerti gak?" Tanya Cessa sambil menatap teman-temannya
"Enggak sama sekali." Kata mereka bersamaan
"Berarti bukan cuman gue doang kan? Berarti bukan cuman gue yang bodoh, tapi...."
"Kita semua yang bodoh." Kata Mona sambil tertawa
Devina ikut tertawa, tapi memang benar dia juga tidak faham apa yang tadi dijelaskan.
Satu-satunya yang bisa Devina fahami adalah hasil akhir dari jalan yang begitu panjang yang dijelaskan.
"Udah kita kantin dulu masih ada lima belas menit kan? Gue mau beli es." Kata Nayla
Bersama-sama mereka pergi ke kantin, tanpa Ziko dan Gio karena mereka berdua memilih untuk diam di kelas sambil bermain game.
Ada beberapa murid juga yang belum pulang, termasuk anak basket yang masih latihan di lapangan. Sampai di kantin Devina langsung mengikuti Nayla yang ingin membeli es coklat.
"Habis ini Bahasa Inggris alamat ngebul nih otak." Kata Nayla membuat Devina tertawa mendengarnya
"Pusing ya Nay?" Kata Devina sambil memasang wajah sebalnya
"Banget Vin! Gue mendingan langsung ujian aja dah gak usah jam-jam tambahan segala bukan nambah pinter gue malah nambah bebel." Kata Nayla
Devina benar-benar tertawa mendengar perkataan itu, tapi memang benar Devina juga malah semakin pusing.
Apalagi ketika sudah dihadapkan dengan buku paket yang tebalnya minta ampun dan berisi begitu banyak soal yang bikin kepalanya pusing bukan main.
Setelah es yang mereka pesan datang Mona dan Cessa juga baru saja selesai lalu mereka berdua mengajak untuk duduk di kantin dulu. Tentu saja Devina setuju dia juga malas berada di kelas selain panas dia langsung pusing lagi.
"Kelas bikin kepala gue pecah." Kata Mona
"Pelajaran matematika yang gue bisa memang cuman 4p pertambahan, pengurangan, perkalian, sama pembagian yang lainnya mau dijelasin ratusan kali enggak ngerti gue." Kata Cessa
"Asli meskipun gue bisa nih pas pelajaran, tapi pas ulangan gak pernah bisa." Kata Nayla
"Aku nyari capek-capek gak pernah ada jawabannya." Kata Devina
"Tuh itu dia Vin yang gue malesin! Gue udah ngeluarin tenaga dan fikiran unthk mencari sebuah jawaban, tapi hasilnya gak ada! Lebih sakit dari pada ditinggal pacar!" Kata Mona sambil memukul meja cukup kuat
"Faktanya kelas kita kalau pelajaran matematika cepet banget ngerjaiinnya." Kata Nayla sambil tertawa
"Kadang setengah jam udah pada ngumpul." Tambah Devina
"Pas pembagian nilainya merah semua." Kata Cessa membuat mereka tertawa bersamaan
"Semakin susah pelajaran semakin cepat pengerjaan." Kata Mona
"Gue ngitung kancing." Kata Cessa
"Aku pakai penghapus." Kata Devina membuat mereka semua menatap Devina bergantian
"Hah?"
"Iya, waktu itu ada Kakak kelas pas aku lagi sibuk nulis dia bilang gini ngapain susah-susah ngitung dek, mending kayak kakak aja gitu dan dia nunjukin penghapus yang udah ada tulisan abcde terus di lempar ke meja kalau yang muncul A dia jawab A." Jelas Devina
"Oke nanti gue pakai cara ini juga." Kata Cessa
"Itu lo pas duduk sama siapa Vin?" Tanya Nayla penasaran
Sekolah mereka memang begitu biasanya kalau ulangan semester anak kelas sepuluh digabung bersama dengan anak kelas sebelas.
"Sama Kak Alan kalau gak salah." Kata Devina
"Hidup Devina dikelilingin cogan terus ya?" Kata Mona
Alan Mahendra merupakan Kakak kelas mereka dulu dan sekarang sudah berkuliah, setipe dengan Alex murid badung yang memiliki banyak penggemar.
"Lo kenapa gak minta ajarin Vano aja Vin? Dia kan pinter tuh." Kata Cessa
Devina menunjukkan cengirannya ketika mendapat pertanyaan itu, sama saja dia juga tidak pernah faham.
"Enggak ada bedanya Ces kadang Vano sampai kesel sendiri ngajarin aku karena gak ngerti-ngerti." Kata Devina sambil tertawa
"Vano aja bisa kesel." Kata Nayla
"Iya sampai bilang gini masa gak bisa sih Vin? Ini kan gampang, ya menurut aku sih matematika itu gak ada yang gampang susah semua." Kata Devina membuat teman-temannya tertawa
"Valid!"
Mereka terdiam sebentar untuk meminum es yang tadi dibeli lalu Mona mengajak kembali ke kelas karena hanya tinggal lima menit saja untuk jam tambahan selanjutnya dimulai.
"Ehh kalian mau kuliah dimana? Gue kok gak rela ya pisah sama kalian." Kata Nayla
Keadaan mendadak hening seketika, mereka juga merasakan hal yang sama dengan Nayla.
"Mau di kota ini aja sih gue, kalian gimana?" Tanya Mona
"Sama." Kata Devina
"Gue mau keluar kota kalau memang lolos." Kata Cessa membuat yang lainnya diam
Sedikit tidak rela kalau gadis itu benar-benar kuliah di luar kota nantinya.
"Yang penting jangan lepas komunikasi aja ya kita nanti." Kata Mona sambil tersenyum paksa
Mereka hanya mengangguk sebagai jawaban, belum berani membayangkan hari-hari setelah mereka lulus.
"Kata Vano jangan mikirin hal yang buat kita sedih." Kata Devina sambil tersenyum
Mereka ikut tersenyum mendengar perkataan Devina, benar mari nikmati saja hari-hari di masa SMA.
Kenangan mereka nantinya akan selalu terkenang dan tidak akan pernah terlupakan.
¤¤¤
"Mau pergi sama Ziko?"
Pertanyaan itu Devina jawab dengan anggukan juga senyuman lebarnya, dia ingin pergi ke toko buku bersama kekasihnya. Setelah jam tambahan usai mereka pergi ke lapangan untuk meminta izin pada Devano yang masih latihan dan ada Adara juga disana, seperti biasa gadis itu akan menemani Devano hingga selesai.
"Boleh kan?" Tanya Devina penuh harap
Devano tersenyum tipis lalu mengangguk sebagai jawaban dan membuat kembarannya itu tersenyum senang. Setelah mendapat izin dia langsung mengajak Ziko untuk segera berangkat agar tidak terlalu sore.
Selama perjalanan senyum Devina tidak pernah pudar dia selalu senang kalau pergi bersama Ziko. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang sampailah keduanya di toko buku dan Ziko langsung membantu Devina untuk melepaskan helmnya lalu meraih tangannya untuk digenggam.
"Mau beli buku apa?" Tanya Ziko sambil mengajak Devina untuk masuk ke dalam toko buku
"Emm mau beli novel aja." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
Tersenyum senang Devina langsung melepaskan tangannya dan berlari kecil menuju rak buku, semua novelnya sudah terbaca dia butuh novel yang baru.
Ziko memperhatikan kekasihnya yang terlihat begitu serius dalam memilih buku dan ketika Devina berjongkok karena ingin melihat buku-buku di rak terbawah dia menggelengkan kepalanya pelan. Tanpa berkata apapun Ziko mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar kekasihnya yang terlihat begitu lucu juga menggemaskan.
"Cuman beli novel aja?" Tanya Ziko
"Emm mau beli buku lain juga." Kata Devina
Selesai memilih empat buah novel Devina pergi ke rak buku-buku pelajaran lalu mencari buku paket yang dia inginkan. Rencananya Devina ingin belajar untuk tes perguruan tinggi, dia tidak yakin akan masuk melalui jalur undangan karena nilainya yang pas-pasan.
"Ziko"
"Hmm"
"Kamu mau kuliah dimana?" Tanya Devina sambil menoleh dan menatap kekasihnya sebentar
"Di kota ini aja Vin soalnya Mama gak izinin kalau jauh-jauh dari dia." Kata Ziki membuat Devina tersenyum senang
Berarti dia tidak perlu khawatir kan?
Kekasihnya tetap berada di kota yang sama dan artinya mereka memiliki banyak kesempatan untuk bertemu meski nanti sudah tidak satu sekolah lagi.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan Devina mengajak kekasihnya untuk membayar. Memikirkan masalah kelulusan hanya akan membuat sedih, jadi Devina tidak mau membahasnya lagi.
"Habis ini mau kemana? Langsung pulang?" Tanya Ziko setelah mereka berdua selesai membayar
"Mau makan mie ayam dulu ya?" Kata Devina
Ziko tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Tentu saja dia mau karena Ziko juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya.
¤¤¤
Wajah masam Devano mengikuti langkah kaki Adara yang baru saja masuk ke dalam rumah sambil membawa beberapa plastik belanjaan yang dibelikan oleh Satria. Saat dia dan Adara tengah menonton tv pintu rumah diketuk dan ternyata Satria yang datang sambil membawakan plastik belanjaan untuk kekasihnya.
Isinya merupakan makanan pokok untuk Adara tentu saja hal itu membuat Devano tidak suka karena ada pria lain yang memperhatikan kekasihnya. Menghela nafasnya pelan Devano mengikuti langkah kaki Adara ke dapur dan memperhatikan gadis itu yang tengah menyusun semuanya di dalam lemari atau memasukkan ke dalam kulkasnya.
Hal yang membuat Devano semakin kesal juga Satria yang tadi mengusap kepala kekasihnya sambil tersenyum, dia kesal.
Sangat kesal!
Devano sedang cemburu!
"Kenapa dia beliin ini semua untuk kamu?" Tanta Devano tidak suka
Adara menoleh sebentar lalu memberikan jawaban, dia juga tidak melihat wajah kesal kekasihnya dan tetap sibuk dengan aktifitasnya.
"Dari dulu dia memang sering ngelakuin ini Van meskipun aku udah berkali-kali nolak, tapi Satria tetap keras kepala dan beliin ini semua lagi dan lagi." Kata Adara menjelaskan
"Bilang sama dia gak usah lagi biar aku aja." Kata Devano kesal
Mendengar hal itu Adara langsung menoleh dan menatap wajah kekasihnya yang terlihat sangat kesal, tapi dia berkata jujur Adara selalu mengatakan jangan karena dia sendiri masih memiliki uang pemberian Kakeknya juga peninggalan Bundanya.
'Anggep aja ini pemberian dari seorang Kakak untuk adiknya'
Tapi, Satria selalu mengatakan hal itu setiap kali dia menolaknya.
"Van aku gak pernah minta dibeliin karena aku masih punya uang pemberian Kakek dan peninggalan Bunda, aku janji ini yang terakhir, tapi kamu juga gak perlu beliin aku kayak gini karena kamu udah banyak bantu aku." Kata Adara sambil tersenyum
"Kamu kenapa gak marah di pengang-pegang sama Satria?" Tanya Devano mengalihkan pembicaraan
"Dia memang kadang kayak gitu Van." Kata Adara membuat wajah Devano semakin kesal
"Jangan dibolehin lagi!" Kata Devano galak
Melihat hal itu Adara tertawa dan mengajak kekasihnya untuk kembali ke ruang tengah saja. Wajah Devano benar-benar dipenuhi kekesalan, tapi lucunya Adara malah suka melihatnya.
"Aku sayang sama Satria..."
"Dar apaan sih?!" Tanya Devano tidak suka
"Aku sayang sama dia sebagai teman Vano enggak lebih." Kata Adara
"Tetap aja gak boleh, kata teman itu bisa berubah jadi teman hidup." Kata Devano kesal
Adara menggelengkan kepalanya pelan lalu mencubit pipi Devano dengan gemas.
"Aku gak suka sama Satria." Kata Adara
"Aku juga gak suka kamu dekat-dekat sama dia terus!" Tekan Devano
"Ya ampun padahal aku disekolah sama kamu terus Van." Kata Adara sambil menggelengkan kepalanya pelan
"Darr jangan deket-deket sama Satria lagi." Pinta Devano
"Masa aku tiba-tiba jauhin dia? Satria sama aja kok kayak Alex dan yang lainnya buat aku." Kata Adara
"Darrr"
Adara tertawa melihat Devano lalu beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke dapur dan membuat kekasihnya itu mengikutinya.
"Daraaaa"
"Darrr aku cemburu ngerti gak sih?" Tanya Devano akhirnya
Menolehkan kepalanya Adara tertawa dan memeluk kekasihnya.
"Jangan deket-deket Satria." Kata Devano sambil membalas pelukannya
"Iya, tapi gak janji ya?" Kata Adara membuat Devano melepaskan pelukannya dan memasang wajah sebal
"Daraaaa"
Adara tersenyum dan mengusap pipi Devano dengan begitu lembut.
"Aku sukanya cuman sama kamu Van"
Hati Devano menghangat ketika mendengarnya dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium pipi Adara.
Adara terdiam dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya juga rona merah yang mulai muncul.
Dia sayang sekali dengan Devano.
¤¤¤
Udah yaa double uppp😉
Ada yang lagi berusaha menghibur Vano nihhh😂