
Senyum manis Adara mengembang dengan sempurna begitu melihat kekasihnya yang sedang menunggu di kantin sambil menikmati es yang dia pesan. Saat Devano sudah sampai tadi Adara mengatakan kalau dia belum keluar kelas, jadi Devano memutuskan untuk menunggu di kantin sekalian nanti mereka makan siang bersama.
Dari tempatnya berdiri Adara bisa melihat kalau kekasihnya itu belum sadar dengan keberadaannya, tapi ada satu hal yang sangat menyebalkan. Mata para gadis yang secara terang-terangan terus menatap ke arah kekasihnya membuat Adara memasang wajah sebalnya dan berjalan mendekat lalu duduk tanpa mau menyapa kekasihnya.
Melihat ada yang duduk dihadapannya Devano mendongak lalu tersenyum, tapi Adara malah memasang wajah cemberut.
"Kamu kenapa? Dosennya nyebelin? Ada yang gangguin kamu?" Tanya Devano
"Enggak"
"Oh lagi dapet ya?" Tanya Devano dengan polosnya
"Apaan sih Van?" Kata Adara sebal
"Lagi dapet kan? Biasanya kalau Devina lagi dapet kayak kamu tiba-tiba cemberut pas ditanya gak mau jawab." Kata Devano
Adara memasang wajah cemberutnya karena yang dikatakan Devano memang benar, dia sedang datang bulan. Namun, kekesalannya bukan karena itu saja melainkan juga karena Devano yang menjadi pusat perhatian di kantin.
"Kamu gak usah ke kantin lagi deh Van." Kata Adara akhirnya
"Kenapa? Makanan disini enak-enak Ra." Kata Devano
"Masalahnya Va...."
"Kamu mau pesen apa? Pesen aja dulu aku juga belum pesen apa-apa nungguin kamu datang dulu." Kata Devano
"Van aku itu lagi keselll." Keluh Adara
"Iya kesel kenapa Adara sayang?" Tanya Devano dengan penuh kelembutan
Mendengar suara lembut itu serta tatapan yang Devano berikan membuat Adara diam dan mendadak gugup sendiri.
Kalau kalian jadi Adara pasti kalian akan merasakan hal yang sama juga.
"Enggak.... enggak jadi." Kata Adara
"Kenapa? Bilang aja Ra kamu kenapa hmm? Kesel kenapa?" Tanya Devano lagi
"Enggak papa kok." Kata Adara cepat
"Adara"
"Aku kesel..."
"Kesel kenapa hmm?" Tanya Devano lagi
"Kesel banyak cewek yang liatin kamu di kantin." Kata Adara
Devano terdiam untuk sesaat lalu tertawa kecil ketika sadar maksud dari ucapan kekasihnya.
"Ya ampun kiraiin kesel kenapa." Kata Devano
"Ya kesel pokoknya gak suka banyak yang liatin kamu kayak gitu." Kata Adara
"Biarin aja Ra mereka punya mata lagian akunya juga biasa aja kok." Kata Devano
"Kesell"
"Yaudah, kamu gak mau makan disini? Mau makan dimana?" Tanya Devano
"Enggak papa deh disini aja." Kata Adara
Adara tidak mungkin mengajaknya untuk makan ditempat lain kan?
Dia tidak mau egois, Devano sudah menjemputnya kesini dan tadi pria itu bilang dia suka makanan di kantin masa iya mereka harus pergi cuman karena Adara yang cemburu.
"Kalau kamu gak mau makan disini gak papa kok kita makan di tempat lain aja." Kata Devano
Baru saja ingin berdiri Adara langsung menahan tangannya dan mengatakan sesuatu dengan suara pelan yang membuat Devano merasa gemas.
"Disini aja gak papa kok Van." Kata Adara
Tersenyum menis Devano malah berdiri lalu meraih tangan Adara dan mengajaknya keluar dari kantin.
"Van gak papa kok makan disana aja." Kata Adara
"Kamu gak nyaman kan kalau kita makan disana? Gak papa kita beli aja gimana? Nanti makannya di rumah kamu, habis ini gak ada kuliah lagi kan?" Tanya Devano
"Em udah gak ada kuliah lagi." Kata Adara
"Bagus, aku juga udah gak ada kuliah sekarang kita ke rumah kamu aja dan makan disana biar gak ada cewek lain yang ngeliatin aku selain kamu." Kata Devano
"Ihh Vano"
"Kenapa sayang? Aku kan benar." Kekeh Devano
"Maaf ya? Aku kesel banyak yang liatin kamu kayak gitu dan.. em takut juga." Kata Adara
"Takut kenapa?" Tanya Devano
"Takut aja aku kan biasa aja gak cantik-cantik banget bahkan temen sekelas aku aja ada yang pernah bilang, kok kamu mau sama aku." Kata Adara
"Siapa yang bilang gitu? Biar aku kasih tau dia alasan kenapa aku cinta banget sama yang namanya Adara Alexander." Kata Devano
"Enggak usah Van aku enggak terlalu mikirin kok lagian dia bilangnya udah lama." Kata Adara
Devano hanya tersenyum dan tidak bertanya lebih lanjut lagi karena mereka sudah sudah sampai di parkiran. Setelah masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengaman Devano langsung melajukan mobilnya menjauh dari area kampus kekasihnya.
Sejujurnya Devano suka bingung dengan Adara yang sering kali berkata bahwa dia tidak cantik atau biasa-biasa saja padahal bagi Devano tidak, kekasihnya itu bukan hanya cantik, tapi sangat cantik.
"Van"
"Hmm"
"Kata kamu kemarin trauma Devina kambuh, kenapa kamu gak temeni dia?" Tanya Adara
"Ke kampus? Memang dia udah baikan?" Tanya Adara kaget
"Hm udah dia yang maksa buat pergi ke kampus dan sekarang dia lagi sama Ziko tadi habis chat bilang kalau mau nonton." Kata Devano
Adara mengangguk faham lalu meraih ponsel Devano yang ada di dashboard dan memainkannya selama perjalanan.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Devano
"Hm kamu mau apa?" Tanya Adara
"Makan mie ayam aja mau? Udah lama kayaknya gak makan mie ayam." Kata Devano
"Boleh"
"Dibungkus aja ya? Makannya di rumah kamu." Kata Devano
"Iya Van"
"Kamu mau apa lagi?" Tanya Devano
"Hah? Udah gak mau apa-apa lagi." Kata Adara sambil tersenyum
"Bener?"
"Iya Van bener aku maunya kamu aja hehe." Kata Adara
Devano hanya tersenyum ketika mendengarnya, dia suka sekali kalau kekasihnya itu sudah menggodanya.
Menggemaskan.
¤¤¤
"Ish curang!"
Devina mengerucutkan bibirnya sebal sambil memukul lengan kekasihnya dengan cukup kuat, tapi Ziko malah tertawa melihatnya. Sehabis menonton film mereka pergi ke time zone dan memainkan beberapa permainan yang selalu dimenangkan oleh Ziko tentu saja hal itu membuat Devina kesal.
Dia bersikeras mengatakan kalau kekasihnya itu curang karena sebelumnya mereka buat kesepakatan yang kalah harus menuruti semua keinginan pemenang dan Devina kalah. Sekarang Devina menatap kekasihnya dengan cemberut membuat Ziko merasa gemas melihatnya, dia tidak akan mengalah.
Bisa membuat Devina menuruti semua keinginannya pasti menyenangkan.
"Ziko mah curang." Kata Devina lagi
"Siapa yang curuang Vin? Aku enggak curang ya." Kata Ziko
"Curang pokoknya!" Kata Devina galak
"Aku gak curang dan kali ini gak mau ngalah." Kata Ziko
"Ihh Zikoo harus ngalah sama aku." Kata Devina
"Enggak untuk kali ini Devina sayang." Kata Ziko
Menghela nafasnya pelan Devina menatap kekasihnya itu dengan penuh harap, tapi Ziko tetap menggelengkan kepalanya pelan.
"Yaudah Ziko mau apaa?" Tanya Devina
Tersenyum senang Ziko merangkul kekasihnya dan mengajaknya keluar dari area timezone sambil membisikkan sesuatu.
"Ada acara keluarga nanti malam dan aku mau kamu ikut"
Perkataan itu membuat Devina terdiam dan langsung mendongak untuk menatap kekasihnya, tapi Ziko hanya mengangkat bahunya acuh.
"Harus mau"
"Vina malu kan keluarga Ziko semua." Kata Devina pelan
"Nanti akan jadi keluarga kamu juga sayang." Kata Ziko
"Em Ziko beneran mau ajak aku?" Tanya Devina
"Beneran aku juga mau banget kenalin kamu ke Nenek aku karena aku sering banget ceritaiin kamu ke Nenek." Kata Ziko
Devina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya membuat Ziko merasa sangat senang.
Nanti malam Devina akan bertemu keluarga besarnya.
¤¤¤
Menatap pantulan dirinya di cermin Devina merasa sangat gugup untuk bertemu keluarga Ziko, mungkin kalau hanya orang tuanya Devina akan bersikap biasa, tapi keluarga besarnya bahkan membayangkannya saja Devina cemas sendiri. Sebelumnya dia sudah bilang dengan orang tuanya dan Devano juga mereka mengizinkan apalagi ketika Ziko mengatakan ingin mengenalkan Devina ke keluaga besarnya.
Tentu saja itu langkah pasti yang Ziko tunjukkan pada keluarga Devina bahwa dia serius. Helaan nafas panjang terdengar bersamaan dengan Devina yang mengambil tasnya lalu turun ke bawah untuk menghampiri Ziko yang sudah menunggunya.
Melangkahkan kakinya perlahan Devina yang sedang menuruni tangga dapat melihat kekasihnya yang juga sedang menata matanya. Di bawah sana Ziko seakan terpaku pada Devina yang terlihat begitu cantik dengan make up tipis di wajahnya.
Semakin mendekat Ziko masih tetap fokus pada Devina bahkan ketika gadis itu sudah berada dihadapannya dan ketika suara Devina menyapanya, dia benar-benar terpaku.
"Malam Ziko"
Ziko merasa dunianya terhenti saat itu juga dengan hati yang bergetar, jantung yang berdetak sangat cepat serta mata yang enggan beralih barang sedetik pun.
Ziko benar-benar ingim menunjukkan pada dunia bahwa Devina adalah miliknya.
Miliknya satu-satunya.
¤¤¤
Aduh Abang Ziko meleleh melihat kecantikan Devina😭
Ini dia penampilan Devina untuk bertemu dengan keluarga besar Ziko.