My Possessive Twins

My Possessive Twins
60 : Kecewa



Malam ini Devina dikejutkan dengan kehadiran Alex dirumahnya, tapi setelah kembarannya mengatakan bahwa pria itu akan menginap karena ada beberapa urusan dia mengerti. Sebenarnya tidak ada masalah Devina hanya penasaran saja, kenapa pria itu bisa ada di rumahnya?


Sejak kedatangan Alex ke rumahnya juga Devina hanya menyapa lalu pergi ke kamarnya dan menghabiskan waktu dengan menonton film. Kekasihnya belum membalas pesan lagi dan Devina juga tidak terlalu mencarinya karena kalau Ziko tidak menghubungi itu artinya dia sedang ada urusan.


Devina tidak mau jadi wanita yang posesif selalu ingin dihubungi dan dijadikan prioritas karena Ziko juga manusia dia pasti memiliki banyak hal untuk dilakukan.


Lagi, hidup Ziko tidak harus melulu soal Devina kan?


Saat waktu makan malam Devina segera turun ke bawah dan bergabung bersama yang lainnya di meja makan. Selagi menunggu Fahisa dan Bi Santi selesai Daffa mengajak Devano juga Alex mengobrol.


"Jadi kalian ada pertandingan lagi?" Tanya Daffa


"Iya Om sebenarnya masih cukup lama dan saya sama Vano juga belum terlalu yakin untuk ikut karena waktunya dekat sekali dengan ujian." Kata Alex


"Iya Dad selain itu Vano juga ingin minta izin kalau Daddy izinkan Vano akan ikut, tapi kalau tidak Vano akan menolak." Kata Devano


Daffa mengangguk faham sedangkan Devina hanya diam mendengarkan, dia baru bergabung masih mencoba untuk memahami percakapan mereka.


"Daddy terserah kamu asalkan kamu tidak lupa dan bisa membagi waktu bukan masalah meskipun itu dekat dengan waktu ujian." Kata Daffa


Devano mengangguk faham, dia akan memikirkannya lagi.


"Ehh anak gadis Daddy sudah datang ternyata." Kata Daffa sambil menatap Devina yang tersenyum manis padanya


"Malam Daddyyy"


"Malam sayang dari tadi kamu ngapain hmm?" Tanya Daffa


"Nonton film." Kata Devina


Beberapa saat setelah percakapan mereka Fahisa datang dan duduk disamping suaminya lalu mempersilahkan mereka untuk memakan makan malam yang telah dia siapkan. Selama menyantap makan malam mereka hanya diam dan tidak bersuara hanya suara sendok yang terdengar.


Selama makan malam sesekali Alex melirik Devina yang terlihat lahap menyantap makan malamnya dan dalam diam dia tersenyum. Sebenarnya tidak banyak yang dia dan Devano bicarakan bahkan bisa dibicarakan lewat telpon, tapi Alex menginap karena di rumahnya tidak ada siapa-siapa kedua orang tuanya sedang keluar kota untuk dua hari kedepan.


Awalnya Alex ingin ke apartemen saja, tapi di baru ingat kalau apartemennya terlalu jauh dengan sekolah dia bisa telat. Selain itu Alex juga ingin melihat Devina lagi, entahlah sekarang dia selalu ingin melihat gadis itu.


Selesai makan malam Devina membantu Fahisa membawa seluruh piring kotor ke dapur lalu membuka kulkas untuk mengambil ice cream, tapi dia tidak melihatnya disana. Dengan wajah cemberut Devina menghampiri Fahisa lalu menanyakan ice cream nya yang ada di kulkas.


"Ohh sudah Mommy makan." Kata Fahisa dengan santainya


"Ihh Mommy itu kan punya Vina." Rengek Devina sambil menarik-narik lengan baju Fahisa dan membuat wanita paruh baya itu tertawa


"Tadi siang panas sekali sayang terus di kulkas ada ice cream yaudah Mommy makan." Kata Fahisa


"Mommyyy"


"Ya ampun nanti beli lagi." Kata Fahisa sambil menggelengkan kepalanya pelan


"Maunya sekaranggg." Kata Devina dengan wajah cemberutnya


Tertawa kecil Fahisa mencubit kedua pipi Devina dengan gemas.


"Sana minta anterin Vano." Kata Fahisa


Menganggukkan kepalanya Devina langsung berbalik dan berlari kecil menghampiri Devano yang sedang berada di ruang tengah. Ada Alex juga disana yang sibuk dengan ponselnya, tapi kembarannya itu malah sibuk berkutat dengan buku dan sebuah pena.


Pasti mengerjakan tugas.


"Vanoooo"


Keduanya menoleh, tapi Devina tidak peduli dia tetap menghampiri Devano dan meminta untuk diantarkan ke super market.


Sebenarnya bukan hanya ice cream yang mau dia beli, tapi ada beberapa barang juga yang mau dia beli kalau masalah ice cream sih dia sudah tidak terlalu peduli.


Satu yang paling penting Devina butuh night creamnya yang ternyata sudah habis.


"Temenin ke super market sekarang!" Pinta Devina


"Aku lagi ngerjaiin tugas Vin minta antar Pak Hadi saja." Kata Devano


"Ihh gak ada Pak Hadinya lagi keluar di suruh Daddy." Kata Devina


"Masih ngerjaiin tugas Devina, memang kamu mau beli apa?" Tanya Devano sambil menatap kembarannya itu dengan senyuman tipis


Terkadang Alex takjub kalau melihat Devano yang bisa dengan mudah mengatur ekspresi juga nada bicaranya. Saat bersama orang lain suara dan wajah Devano benar-benar dingin, tapi ketika bersama Devina atau Adara semuanya berubah menjadi lembut.


"Mau beli cemilan sama sesuatu." Kata Devina membuat Devano mengerutkan dahinya bingung


"Sesuatu apa?" Tanya Devano


"Adaa rahasiaa." Kata Devina


Devano tertawa kecil terkadang Devina suka sulit untuk dimengerti.


"Vano Vano Vano ayoo temeninn." Kata Devina masih tidak ingin menyerah


Menghela nafasnya pelan Devano meletakkan penanya di atas meja lalu tersenyum, tapi belum sempat bicara Alex sudah lebih dulu mengatakan sesuatu.


"Sama aku aja mau gak Vin? Ada yang mau aku beli juga di super market." Kata Alex


"Tuh sana sama Alex." Kata Devano


Dia bukan tidak mau, tapi dia sedang mengerjakan tugas dan kalau ditinggal akan semakin sulit untuk kembali mengumpulan niat.


Awalnya Devina terlihat ragu, tapi dia menganggukkan kepalanya juga hanya ke super market tidak ada apapun dan cuman sebentar juga.


"Pakai jaket sama kaos kakinya." Kata Devano


"Siap bosss"


Berlari kecil ke kamarnya Devina mengambil jaket dan kaos kaki dari dalam lemari. Sebelum pergi dia menghidupkan ponselnya untuk melihat apa kekasihnya sudah membalas pesan atau belum dan ternyata belum.


Tumben sekali biasanya Ziko selalu mengirim pesan sesaat setelah makan malam.


Menghela nafasnya pelan Devina keluar dari kamarnya dan menghampiri Alex yang sudah menunggunya. Tidak papa nanti dia akan mengatakan pada Ziko agar pria itu tidak marah.


"Mau kemana sayang?" Tanya Daffa ketika melihat anaknya memakai jaket dan juga kaos kaki


"Mau ke super market Daddy." Kata Devina


"Hati-hati"


Devina hanya mengangguk lalu menghampiri Alex dan mereka berdua bersama-sama keluar dari rumah. Sampai di halaman rumah Alex segera menghidupkan motornya dan menunggu Devina naik.


Dengan kecepatan sedang Alex melajukan motornya menuju super market yang letaknya tidak terlalu jauh dari area perumahan. Sesekali Alex melirik Devina dari kaca spionnya lalu tersenyum, malam ini sangat indah untuknya.


Bisa menatap wajah Devina selama ini sangat sulit bahkan terbilang mustahil.


Sampai di super market Devina segera turun dan bergegas masuk membuat Alex tersenyum lalu mengikuti langkahnya. Gadis itu mengambil keranjang belanja dan Alex menggelengkan kepalanya pelan ketika Devina pergi ke tempat camilan lalu mengambil begitu banyak makanan.


"Banyak banget Vin." Kata Alex


"Untuk stok." Kata Devina


"Stok berapa hari?" Tanya Alex lagi


"Dua"


Mendengar hal itu Alex melongo tidak percaya, sebanyak itu hanya untuk dua hari?


Selesai mengambil camilan Devina berlalu ke tempat sabun dan banyak lagi lalu mengambil sesuatu yang tidak Alex ketahui, entah apa yang jelas setelah mengambil itu Devina tersenyum.


"Itu apa Vin?" Tanya Alex penasaran


"Night cream"


Mungkin semuanya berada di pipi.


"Kamu mau beli apa?" Tanya Devina


"Kamu bayar duluan aja, cuman mau beli kopi kok sama rokok." Kata Alex membuat Devina terdiam dan mengerjapkan matanya berkali-kali


Tapi, gadis itu mengangguk patuh dan pergi untuk membayar.


Setelah membayar Devina menunggu Alex di depan dan tidak butuh waktu lama untuk pria itu kembali dengan plastik kecil yang dia bawa. Menggantungkan kantung belanjanya di depan Devina segera naik ke motor dan bersama Alex mereka kembali ke rumah dalam diam.


Mungkin satu hal yang tidak pernah Devina ketahui adalah Alex itu perokok, dia sering menghisap benda bernikotin itu, tapi tidak pernah kalau di sekolah. Saat sampai di rumah Devina langsung mengambil plastik belanjaannya dan mengucapkan terima kasih pada Alex, tapi sebelum masuk dia menanyakan sesuatu yang sangat membuatnya penasaran.


"Alex kamu ngerokok?" Tanya Devina


"Hmm udah lama sih, kenapa memang Vin?" Tanya Alex


Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia hanya penasaran.


"Vano enggak pernah..."


"Enggak tenang aja dia gak pernag nyentuh rokok sama sekali." Kata Alex membuat Devina menghela nafasnya lega


Baru ingin melangkahkan kakinya ke dalam Alex memanggil Devina lagi dan mengatakan sesuatu sambil tersenyum tulus.


"Kita teman kan Vin?"


Devina ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu bergegas masuk ke dalam meninggalkan Alex yang tersenyum penuh arti.


Jangan pernah berfikir kalau Alex memiliki niat untuk merebut Devina karena itu tidak benar.


Dia tidak berniat merusak kebahagiaan gadis yang dia cintai.


¤¤¤


Sejak kedatangannya ke sekolah Devina merasa kalau ada sesuatu yang aneh dengan Ziko. Kekasihnya itu terlihat tidak bersemangat dan hanya menyapanya dengan singkat tanpa ledekan seperti biasanya. Saat ditanya dia hanya menanggapi seadanya dan ternyata hal itu juga disadari oleh teman-temannya.


Sikap Ziko terbilang aneh bahkan sangat aneh dan mulai dari datang hingga bel masuk berbunyi Ziko fokus pada ponselnya. Selama pelajaran Devina merasa tidak tenang, dia ingin bicara dengan kekasihnya yang terlihat aneh padahal tadi malam mereka baik-baik saja bahkan masih sempat melakukan panggilan vidio.


Sekarang Devina juga jadi tidak bersemangat untuk melakukan apapun termasuk mendengarkan pelajaran, dia ingin segera istirahat agar bisa bicara sama Ziko.


"Sstt"


Devina mengerutkan dahinya sambil menatap Mona yang baru saja menyenggol lengannya.


Bukan menjawab Mona mendorong selembar kertas ke arahnya dan Devina langsung mengambil lalu membacanya.


Lo sama Ziko marahan?


Devina menatap Mona lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menuliskan sesuatu disana.


Enggak malah tadi malam aku sama dia masih vidio call


Kali ini Mona menatapnya dengan kening berkerut, kenapa Ziko tiba-tiba begitu?


Menghela nafasnya pelan Devina menelungkupkan wajahnya di meja, dia tidak suka kalau didiami tanpa asalan. Setidaknya kalau misal dia salah ya katakan saja jangan bersikap membingungkan.


"Devina kalau ingin tidur lebih baik keluar dari kelas"


Teguran itu membuat Devina mengangkat wajahnya dan meminta maaf.


Sial, mood nya juga ikut berantakan.


¤¤¤


"Zikooo"


Saat waktu istirahat Devina menahan tangan Ziko yang ingin berjalan keluar kelas bahkan pria itu tidak mengajaknya. Seakan mengerti teman-temannya berlalu pergi dan meninggalkan mereka berdua, tapi Ziko masih tetap diam ditempatnya tidak menoleh ataupun bersuara.


"Zikoo"


Helaan nafas terdengar bersamaan dengan Ziko yang melepaskan tangan Devina lalu duduk disamping gadis itu, tapi masih belum bersuara.


"Kamu kenapa?" Tanya Devina dengan suara yang begitu lembut


Ziko masih tetap diam, tidak mengatakan apapun.


Sebenarnya apa salah Devina?


"Aku ada salah? Kamu kenapa diem aja? Kenapa cuekin aku?" Tanya Devina


Kali ini Ziko menoleh dan menatap Devina yang terlihat begitu sedih, tapi satu-satunya hal dia ucapkan malah membuat Devina kesal.


"Gak papa"


"Kalau aku ada salah bilang Ziko." Kata Devina


"Gak ada apa-apa Vina." Kata Ziko sambil tersenyum tipis


"Kenapa? Kamu kenapa? Pokoknya jangan pergi kalau belum jawab! Kalau aku ada salah ngomong jangan diem aja." Kata Devina


Ziko memejamkan matanya lalu mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada kekasihnya.


"Buka whats app chat yang gak ada namanya." Kata Ziko


Devina tidak mengerti, tapi tetap melakukan hal yang dikatakan kekasihnya dan sekarang dia mengerti alasannya.


"Siapa yang kirim? Ini nomor siapa?" Tanya Devina


"Memang itu penting?" Tanya Ziko


Devina tersenyum tipis dan menatap kekasihnya dengan kecewa, tidak percaya Ziko semudah itu percaya tanpa mau bertanya kebenarannya.


Nomor itu mengirimkan foto Devina dan Alex ketika di lapangan, parkiran, dan super market.


Entah dari mana orang itu mendapatkannya, apa dia ada yang mengikutinya?


"Jadi enggak?" Tanya Devina


Ziko menghela nafasnya pelan lalu menyenderkan tubuhnya di kursi, dia bingung sendiri.


"Yaudah kalau menurut kamu gak penting, tapi bagi aku itu penting karena dia bikin kamu gak percaya sma aku." Kata Devina


"Gimana aku mau percaya Vin? Sekarang aku mau tanya, kamu masih suka sama Alex kan?" Tanya Ziko


Devina terdiam dan menatap Ziko dengan penuh kekecewaan, tidak menyangka kalau pria itu akan bertanya tentang perasaannya.


Jadi, menurut Ziko perasaannya selama ini bercanda?


"Sesulit itu percaya sama aku Ziko?" Tanya Devina pelan


Devina menghela nafasnya lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi.


"Kalau aku suka sama Alex untuk apa aku pacaran sama kamu? Apa perasaan aku sebercanda itu?"


Ziko hanya diam dan menatap Devina yang berjalan menjauh.


¤¤¤


Ziko jangan mudah terprovokasi dongggg😢


Besok up lagiii gakk😶