
Berada di rumah Ziko hingga sore Devina masih belum pulang ke rumah dan menemani Ziko di kamarnya, tentu saja dengan pintu yang terbuka lebar. Sejak tadi dia mengajak Ziko mengobrol karena pria itu tidak mau istirahat dan jadilah mereka berdua mengobrol sambil bercanda.
Demam Ziko juga sudah sedikit berkurang wajahnya tak sepucat tadi mungkin kehadiran Devina yang menjadi salah satu alasannya. Melihat wajah cantik kekasihnya juga suara lembut serta tatapan matanya membuat Ziko merasa tenang, dia sangat ingin memiliki Devina seutuhnya.
Sekarang Ziko sedang berbaring dengan menjadikan paha Devina sebagai bantalannya dan kekasihnya itu sejak tadi sibuk mengusap sayang kepalanya. Seandainya saja dia tidak mengungkapkan perasaannya pasti Devina bersama dengan Alex sekarang dan posisinya dia akan tetap menjadi sahabat gadis itu, tapi beruntungnya tidak.
Devina miliknya.
"Ziko jangan sakit lagi nanti Vina sedih." Kata Devina
"Kenapa sedih?" Tanya Ziko
"Emm karena gak ada yang gangguin Vina." Kata Devina
"Vano ada." Kata Ziko
"Tetep aja ada yang kurang biasanya Ziko gangguin aku telponin terus gangguin aku lah pokoknya." Kata Devina
"Gangguin ginana?" Tanya Ziko
"Cubitin pipi aku kayak gini." Kata Devina sambil mencubit pipi Ziko pelan
"Salah kamu gemesin banget." Kata Ziko
"Ziko juga gemesin." Kata Devina
"Gemesin apa ngeselin?" Tanya Ziko membuat Devina tertawa kecil mendengarnya
"Dua-duanya"
"Nginep aja Vin." Kata Ziko tiba-tiba
"Gak ah nanti kena marah." Kata Devina
"Nginep ajaa." Kata Ziko lagi
"Aku nginep juga kan tidurnya gak disini." Kata Devina
"Mau tidur disini sama aku?" Tanya Ziko
"Ihh bukan gitu." Kata Devina dengan bibir mengerucut sebal
"Mau aku peluk ya?" Kata Ziko lagi
"Ziko yang tadi minta peluk." Kata Devina
"Iya aku suka dipeluk kamu Vin nyaman." Kata Ziko membuat Devina tersenyum senang mendengarnya
"Vina juga suka dipeluk sama Ziko." Kata Devina
Keduanya saling melemparkan senyum hingga Ziko bangun dan menghadap ke arah Devina lalu meletakkan tangannya di bahu Devina.
"Vin"
"Hmm"
"Kira-kira kalau aku ajak kamu liburan berdua di izinin gak ya?" Tanya Ziko
"Berdua sama aku aja?" Tanya Devina dengan alis bertaut
"Hmm cuman Vina sama Ziko." Kata Ziko
"Kalau Mommy sih bisa dibujuk, tapi gak tau deh Daddy sama Vano apalagi Vano pasti susah banget bujuk dia." Kata Devina
"Aku mau ajak kamu liburan berdua." Kata Ziko
"Kemana?" Tanya Devina
"Puncak"
"Nginep?" Tanya Devina
"Iya Vin mungkin dua atau tiga hari deh aku mau habisin waktu berdua sama kamu, tapi aku janji gak bakal ngapa-ngapain kamu." Kata Ziko
"Kalau gitu Ziko harus bisa bujuk Vano sama Daddy." Kata Devina
"Bisa, kamunya mau kan?" Tanya Ziko
"Mauuu"
Ziko tertawa kecil lalu mengacak gemas rambut Devina membuat gadis itu tersenyum sambil menatapnya.
"Makasih udah hadir dihidup aku Vin." Kata Ziko dengan senyuman tulusnya
"Vina juga makasih." Kata Devina
Menatap mata kekasihnya dengan dalam Ziko tersenyum lalu mengusap pipi Devina dengan lembut dan mendekatkan wajahnya dengan melupakan fakta bahwa pintu kamarnya terbuka. Refleks Devina memejamkan matanya ketika hidung mereka telah bersentuhan dan ketika bibirnya bersentuhan dengan milik Ziko dia tersenyum.
Ziko mengusap pipinya dengan lembut tanpa mau menjauhkan wajahnya hingga suara terdengar dan membuat Devina langsung mendorongnya.
"Ko katanya lo sa..... Ya ampun balik woy balikkkk"
Suara Gio yang ketika Devina mendongak dia melihat Mona bersama ketiga temannya yang melongo tidak percaya di depan pintu kamar kekasihnya. Pipi Devina merona dia menggigit pelan bibir bawahnya sambil menatap mereka bergantian lalu mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat pelan dan berlari ke kamar mandi.
"Vina mau ke kamar mandii." Kata Devina sambil berlari
Bukan malu Ziko justru tertawa sambil memegang dahinya pelan dan membiarkan teman-temannya masuk ke dalam.
"Wah udah gila Ziko." Kata Gio
"Diem Yo." Kata Ziko
"Ko gila lo yaaa? Temen gue sampe manut gitu." Kata Mona masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat
Devina tidak marah dan hanya diam ketika Ziko menciumnya.
"Sumpah gue kaget." Kata Nayla
"Mata gue berdosa banget udah melihat hal yang seharusnya tidak dilihat." Kata Cessa sambil menggelengkan kepalanya pelan
"Halah Ces biasa lihat yang lebih parah aja." Tuding Mona
"Heh diem yaaa?!" Ketus Cessa
"Eh ini ngomong-ngomong Devina gak mau keluar." Kata Nayla sambil melirik ke arah kamar mandi
"Vin lo ngapain? Keluar dah gak bakal kita apa-apain." Kata Mona
Tidak sahutan apapun dan di dalam kamar mandi Devina merasa sangat malu untuk keluar apalagi ketika melihat wajahnya yang memerah. Berkali-kali ketukan itu terdengar barulah Devina membuka pintu dan berjalan keluar dengan wajah memerah.
"Ey ada yang abis terciduk." Kekeh Cessa
"Ihh Cessaaaa." Rengek Devina
"Ya ampun Vin gemes banget sih pantes Ziko cinta mati." Kata Gio
"Bilangin Vano ya?" Canda Nayla
"Jangannn nanti aku kena marah terus diomelinnn." Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya sebal
"Aduh udah ah Vin sini-sini duduk samping tunangannya." Kata Mona
Mona merangkul Devina dan meminta dia untuk duduk disamping Ziko yang hanya bisa tersenyum melihat kekasihnya yang sangat menggemaskan.
"Udah Vin jangan cemas Ziko udah sembuh sekarang sembuh banget sampe gak bakal sakit lagi." Kata Gio membuat Ziko tertawa mendengarnya
"Harusnya jangan diajak tunangan Ko ajak nikah ajalah." Kata Cessa
"Udah kata Vina nanti aja masih kuliah padahal gue mau langsung nikah aja udah gak tahan." Kata Ziko membuat Devina melotot dan memukul lengannya
"Ishh Zikooo"
"Udah gila emang Ziko." Kata Gio
Ziko hanya tertawa sambil merangkul Devina dan mencium singkat puncak kepalanya.
"Zikoooo"
Dan Ziko kembali tertawa tanpa ada rasa berdosa sama sekali.
¤¤¤
"Gimana keadaan Ziko?"
Devina menjawab pertanyaan kembarannya itu dengan senyuman karena benar kata Gio keadaan Ziko sudah sangat-sangat baik bahkan tadi pria itu ingin mengantarnya pulang, yang benar saja dasar Ziko bucin. Sejak tadi Devina juga terus-terusan di goda oleh teman-temannya dan hal itu sangat menyebalkan apalagi Ziko malah ikut-ikutan, tidak malu sedikit pun.
Sekitar pukul setengah enam Devano menjemputnya dan dia langsung pulang meskipun Ziko meminta dia untuk pulang nanti malam, tapi Devina mengatakan kalau dia harus mengerjakan tugas untuk besok. Akhirnya disinilah Devina sekarang dalam perjalanan pulang bersama dengan kembarannya.
"Dia sakit apa?" Tanya Devano
"Demam aja kok udah di bawa ke klinik juga makanya udah baikan." Kata Devina sambil tersenyum
"Jadi udah gak sedih lagi kan?" Tanya Devano
"Enggak dong." Kata Devina
"Kita mau langsung pulang?" Tanya Devano
"Emm Vina mau ke super market dan Vano belanjaiin." Kata Devina
"Eh kok aku?" Kata Devano membuat Devina tersenyum mendengarnya
"Vano sedikit aja kok, boleh yaaa?" Pinta Devina
"Iya udah mau beli apa memang?" Tanya Devano
"Vina mau beli jajan sama ice cream." Kata Devina
"Iya nanti aku yang bayar untung aku bawa dompet." Kata Devano
"Heehe sayang banget sama Vano." Kata Devina
Devano hanya menanggapinya dengan senyuman lalu melihat Devina yang sekarang mengambil ponselnya. Selama perjalanan Devina bermain game di ponselnya hingga akhirnya mereka sampai di super market dan Devina langsung meletakkan ponselnya lalu keluar dari mobil.
Menggenggam tangan kembarannya mereka berdua masuk ke dalam dan Devano segera mengambil troli belanjaan lalu mengikuti langkah kaki kembarannya.
"Emm Vano sini ikutin aku." Kata Devina
Memasukkan banyak sekali makanan ringan ke dalam sana Devano hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, katanya itu sedikit.
"Vano mau beli apa? Aku beliin pakai uang Vano." Kata Devina
Devano tertawa kecil mendengarnya lalu mengatakan kalau tidak ingin apapun.
"Em kalau gitu kita beli ice cream." Kata Devina
Sekali lagi Devano mengikuti Devina dan melihat gadis itu mengambil lima ice cream lalu menatapnya dengan senyuman.
"Udah cuman itu aja." Kata Devina
Devano mengangguk dan mengajak Devina ke kasir lalu membayar semuanya.
Saat mendengar total belanjaannya Devina terkejut, tapi Devano terlihat biasa dan menguarkan dompetnya lalu membayar. Begitu selesai Devano membawa semuanya lalu meletakkan di jok belakang dan membuka pintu untuk Devina.
Setelah mereka berdua masuk Devina menahan tangan Devano, banyak sekali dia jadi tidak enak.
"Vano belinya banyak ya? Maaf nanti uangnya Vina ganti ya?" Kata Devina membuat Devano tersenyum mendengarnya
"Ngapain di ganti? Gak usah simpan aja uang kamu." Kata Devano
"Tapi, banyak banget tadi." Kata Devina
"Gak papa aku juga kan suka ambil makanan kamu." Kata Devano sambil tersenyum
"Beneran gak papa? Vina masih ada uang kok nanti Vina ganti." Kata Devina
Devano tersenyum sambil mencubit kedua pipi Devina karena gemas.
"Enggak usah Devina"
Devano kan sudah pernah bilang kalau Daddy nya selalu memberikan uang lebih untuk dia karena tau Devina sering minta dibelikan apapun padanya.
Tapi, meskipun tidak Devano juga tidak masalah yang penting Devina senang.
¤¤¤
Hai aku updatee hehe maaf yaa kemarin gak update😊
Mau nanya dong, belum pasti sih masih rencana aja kalau misal cerita ini aku tamatin terus aku buat cerita baru dengan tokoh utama Devina atau Devano, kalian maunya tentang siapaa?