My Possessive Twins

My Possessive Twins
92 : Devano Sakit



Keluar dari ruang ujian wajah Devina sangat kusut karena dia hanya bisa mendapatkan jawaban lima belas soal dari empat puluh yang ada bahkan beberapa di antaranya dia tidak yakin dan sisanya dijawab secara asal. Padahal dia sudah rajin belajar hingga rela tidur larut malam bersama dengan Devano, tapi separuhnya saja dia tidak bisa menjawab.


Entahlah melihat kumpulan soal tadi kepala Devina langsung pusing dan mendadak semua penjelasan Devano menghilang dari ingatannya. Sekarang Devina duduk di depan kelas bersama Cessa yang juga sedang menggerutu karena tidak bisa menjawab.


"Sumpah gue ngasal semua." Kata Cessa


"Gimana dong Ces? Nanti nilai kita jelek." Kata Devina


"Gak papa Vin cuman satu gak heran juga kalau yang jelek Matematika kalau yang jelek Bahasa Indonesia baru patut dipertanyakan." Kata Cessa sambil tertawa


Devina hanya mengangguk setuju, tapi dia masih kesal rasanya semua waktu yang dia luangkan sia-sia. Padahal dia rela tidak telponan dengan Ziko karena mau belajar.


"VIN COWOK LO GANJENN"


Seruan itu membuat Devina dan Cessa menoleh lalu melihat Mona serta Nayla yang berlari ke arah mereka juga Ziko yang mengejar di belakang. Saat sudah sampai di hadapan Devina dengan nafas terengah Mona bicara, tapi Devina hanya mengerutkan dahinya bingung.


"Ziko... hah... ganjen.. banget dia Vin." Kata Mona


"Iya Vin sumpah lo harus tau." Kata Nayla


"Bohong Vin." Sela Ziko


Devina menatap mereka bertiga bergantian lalu bertanya apa yang mau mereka ucapkan.


"Cowok lo! Dia Vin tadi kan disapa adek kelas terus katanya gini, cantik ya gitu Vin." Kata Mona heboh


"Enggak Vin mereka salah denger." Kata Ziko membela diri


"Sumpah Vin gue denger, lo juga kan Nay?" Kata Mona sambil menyenggol Nayla dengan sikutnya


"Iya bener"


"Wah Ziko lo bener-bener ya." Kata Cessa


"Bohong Vin! Sumpah aku gak ada bilang gitu." Kata Ziko


Devina diam dan menatap Ziko dengan mata memicing, antara percaya serta tidak percaya. Temannya tidak mungkin bohong, tapi Ziko juga terlihat sedang bicara jujur.


"Kamu kok gitu Zikoo? Udah bosan ya sama aku?" Tanya Devina dengan raut wajah sedih


"Ya ampun enggak Vin beneran, minggir Ces." Kata Ziko sambil mendorong sedikit bahu Cessa


Merasa kesal Cessa berdiri lalu menghentakkan kakinya, tapi membiarkan Ziko untuk duduk disamping Devina.


Mona memang tadi mendengar perkataan itu, tapi entah siapa yang bilang yang jelas ada Ziko disana jadi dia simpulkan kalau itu suara Ziko.


"Bohong Vin aku gak pernah kayak gitu." Kata Ziko


"Ihh ngaku aja! Kamu bosan kan sama aku?" Tanya Devina


Ziko menghela nafasnya pelan dan menatap Mona serta Nayla dengan sengit, dia tidak mengatakan apapun hanya tersenyum ketika disapa.


"Serius Devina yang bilang cantik bukan aku, tapi Satria." Kata Ziko


"Bohong! Mana Satria nya?" Tanya Devina


"Di kantin." Kata Ziko


"Ah Ziko mah bohong nyebelin!" Ketus Devina


Berjalan menjauh Ziko menatap ketiga gadis itu dengan sengit, tapi mereka hanya menunjukkan senyuman tanpa dosa bahkan malah meledeknya.


"Semangat Ziko!"


"Fighting!"


"Ayo kamu pasti bisa!"


Mereka bertiga tertawa melihat wajah masam Ziko, sekali-sekali dikerjaiin karena pria itu juga sering mengganggu kalau mereka sedang mengobrol.


"Sialan"


Setelah mengatakan hal itu Ziko bergegas menyusul Devina dan meninggalkan yang lainnya. Kekasihnya itu berjalan menuju perpustakaan sekolah dan Ziko berlari kecil agar bisa mensejajarkan langkahnya.


"Vinaaa"


"Ihh diem! Ziko ganjen aku marah!" Kata Devina kesal


"Siapa yang ganjen ya ampun." Kata Ziko


"Ziko bosan kan sama aku? Iya, pasti bosan makanya mau cari yang baru kan?" Tuding Devina


Ziko menggelengkan kepalanya pelan lalu merangkul Devina dengan sayang.


"Enggak Vin si Mona tuh salah denger bukan aku yang bilang cantik, tapi Satria." Kata Ziko


"Bener yaa?" Tanya Devina dengan wajah galaknya


Dengan senyuman Ziko mengangguk pasti membuat Devina akhirnya percaya, sebenarnya dia sudah hampir percaya.


"Mau kemana?" Tanya Ziko


"Emm ke kantin aja yuk aku mau beli susu." Kata Devina


"Kalau gitu putar balik." Kata Ziko


Devina tertawa lalu bersama Ziko mereka pergi ke kantin karena jam istirahat masih cukup lama.


Mana mungkin Ziko memiliki niat untuk mencari wanita lain, mendapatkan Devina saja butuh perjuangan.


Di lain sisi ada Adara yang terlihat cemas melihat Devano yang sejak selesai ulangan menelungkupkan wajahnya di meja. Saat ini dia memakai jaket tebal sesekali Devano terbatuk, mungkin pria itu sedang demam dan tentu saja Adara merasa cemas.


Devano tidak pernah seperti itu.


Saat tangannya menyentuh dahi pria itu dia langsung merasakan panas meskipun tidak terlalu, tapi Adara yakin kalau pria itu sedang sakit.


"Van"


"Hmm"


"Ke uks aja gih." Kata Adara sambil menyentuh pundaknya


"Iya Van ke uks aja gak lucu gila kalau lo tiba-tiba pingsan." Kata Alex


"Betul Van gak ada yang mau ngangkat lo." Kata Erick


Adara berdecak kesal karena kedua temannya itu malah bercanda.


"Apaansih lo berdua! Udah tau Vano lagi sakit." Ketus Adara


"Sukurin lo dimarahin pacarnya." Kata Yuda


Dia mendongak dan menyandarkan tubuhnya di kursi lalu terbatuk beberapa kali.


Devano rasa ini karena dia sering begadang dan belakangan ini dia juga sering sekali minum es.


Beda dengan Devina yang terbiasa kalau Devano berkali-kali minum es pasti dalam waktu singkat tenggorokannya akan sakit dan seperti sekarang.


"Beneran? Panggilin Vina ya?" Kata Adara


"Jangan Dar aku gak papa kok beneran nih tangan masih kuat buat mukul Alex." Canda Devano


"Van lo ada dendam apa sih sama gue? Padahal gue diem loh ini cuman duduk, tapi kena mulu." Kata Alex kesal


Devano tertawa kecil mendengarnya dan suara pria itu terdengar serak.


"Lebay lo"


"Setan lo"


Mereka berdua lalu tertawa, sepertinya nanti Devano akan menelpon Daddy nya saja dia tidak kuat bawa motor dan kalau memaksakan diri bisa mengancam keselamatan kembarannya.


Ayolah dia bukan sakit keras nanti malam istirahat saja dan besok dia akan kembali sehat.


¤¤¤


"Vin kata Vano ke kelas aja"


Ujian telah selesai Devina yang sedang menunggu kelas kembarannya pulang mengerutkan dahinya ketika dia malah disuruh masuk. Menghela nafasnya pelan Devina berjalan masuk ke dalam, tapi dia semakin bingung melihat kembarannya yang terlihat sedikit pucat dengan wajah cemas Devina berlari menghampirinya.


Disamping pria itu ada Adara dan Alex juga yang belum pulang mereka berdua menunggu Devina. Sebenarnya Devano sudah mengatakan tidak papa karena dia hanya pusing saja, tapi mereka berdua seolah tidak peduli dan tetap disana.


"Ihh Vano kenapaa?" Tanya Devina


"Telpon Daddy aja ya Vin? Kepala aku pusing gak bisa bawa motor." Kata Devano


Menghampiri kembarannya Devina menyentuh dahi Devano dan cemas karena merasakan hawa panas yang dia rasakan.


"Vano sakit yaa?" Kata Devina


"Demam kayaknya Vin dari tadi batuk-batuk juga suaranya sampai mau habis." Kata Adara


Mengerucutkan bibirnya Devina mengeluarkan ponselnya dan duduk di hadapan Devano lalu menelpon Daddy nya untuk meminta jemput.


"Halo Daddyy"


'....'


"Daddy jemputt Vano nya sakit katanya tidak bisa bawa motor nanti takut jatuh." Kata Devina


'....'


"Badannya panas Daddy terus Vano batuk-batuk heem telpon Dokter Daniel saja Dad." Kata Devina


"Vin aku gak papa." Kata Devano sambil menghela nafasnya pelan


'...'


"Iya Daddy cepetan nanti Vano pingsan." Kata Devina membuat Alex tertawa mendengarnya


Gadis itu ternyata lebay juga.


"Vin aku gak papa cuman pusing aja." Kata Devano


"Orang kalau pingsan juga biasanya pusing dulu." Kata Devina


Devano menggelengkan kepalanya pelan lalu dia menatap Adara sebentar dan menyuruh gadis itu untuk pulang bersama Alex.


"Bisa kan Lex?" Tanya Devano


"Bisa kok gue gak mau kemana-mana juga." Kata Alex


"Jangan diapa-apain." Kata Devano


"Ya ampun Van lo sama gue negatif thinking mulu heran." Kata Alex


Devano hanya tersenyum lalu menatap kekasihnya.


"Pulang sama Alex ya Dar." Kata Devano


"Hmm kamu cepet sembuh Van kalau besok masih sakit gak usah ke sekolah." Kata Adara


"Besok juga sembuh, nanti kabarin kalau udah sampai rumah." Kata Devano


"Hmm yaudah aku pulang dulu ya?" Kata Adara


Devano mengangguk, tapi sebelum itu dia meminta kekasihnya untuk mendekat dan tanpa dia duga Devano mencium keningnya sekilas.


"Hati-hati"


Keduanya saling melempar senyum tanpa peduli Alex yang menatap keduanya dengan tidak percaya dan Devina yang ingin tertawa karena melihat wajah Alex.


"Emang setan dasar Vano"


Devina tertawa membuat kedua orang yang saling melempar senyum itu menatapnya.


"Gue juga boleh ya Van?" Kata Alex


"Mau mati?" Tanya Devano


"Canda bos yaudah Dardara ayo pulang." Kata Alex


Sampai di depan pintu dia merangkul Adara dan membuat Devano berdecak kesal.


"ALEX"


"Haha ampun boss"


Devina ikut tertawa, ternyata kembarannya itu cemburuan sama seperti kekasihnya.


¤¤¤


Satu lagi nanti yaaa😚


Part selanjutnya akan penuh dengan si kembarrr❤


Tadinya memang ada niat untuk bikin cerita Devano sendiri, tapi takutnya malah bingung dan lagi aku punya cerita baru juga takutnya gak kebagian update semua😂


Aku berusaha buat update tiap hari ditengah kuliah dan tugas hehe😂


Dukung aku terus yaaa😊