My Possessive Twins

My Possessive Twins
69 : Kita Saudara



Biasanya Devina selalu suka akhir pekan karena dia bisa menghabiskan waktunya bersama dengan Devano dengan berjalan-jalan atau berkunjung ke rumah Kakaknya, tapi sekarang dia merasa tidak bersamangat. Sebenarnya Devina sudah mulai bicara dengan kembarannya hanya saja dia masih banyak diam belum ada keinginan untuk mengganggu Devano seperti biasanya.


Sejak tadi malam Devina terus memikirkan tentang banyak hal seperti dia yang mungkin saja egois karena marah pada Devano yang menemui kekasihnya padahal selama ini Devano tidak pernah marah kalau dia pergi bersama Ziko. Selain itu Devano juga selalu menuruti keinginannya dan mengalah agar dia tidak merajuk intinya Devano selalu mementingkan Devina dari pada dirinya sendiri.


Tapi, kenapa Devina tidak bisa mencoba untuk mengerti Devano?


Kenapa dia sangat egois?


Saat tengah sibuk dengan fikirannya pintu kamarnya terbuka, dia memang tidak mengunci kamarnya lagi dan ternyata Devano yang masuk ke dalam sambil membawa nampan berisi makanan. Ya tadi Devina memang tidak turun untuk sarapan, bukan karena marah melainkan karena bangun kesiangan.


Tadinya Devina mau turun setelah mandi, tapi Devano sudah lebih dulu datang.


Dia tetap diam ketika Devano duduk ditepi ranjang dan meletakkan nampan yang tadi dia bawa di atas meja.


"Meskipun kamu marah sama aku jangan lupa makan Vin, jangan sampai kamu sakit." Kata Devano dengan lembut


Mendongak dan menatap mata kembarannya Devina tersenyum tipis.


"Aku bukan gak mau makan, tapi bangunnya kesiangan ini aja baru selesai mandi." Kata Devina


"Kamu masih marah?" Tanya Devano sambil menatapnya penuh harap


Devina hanya diam dan mengangkat bahunya acuh.


'Tadi malam Devano juga tidak makan, dia bilang kalau kamu makan baru dia juga akan makan'


Apa Devina jahat dengan kembarannya?


"Marah banget ya?" Tanya Devano lagi


Devina tetap diam tidak memberikan jawaban apapun dan malah beranjak dari tempat tidurnya kemudian mengambil nampan yang ada di meja. Mendudukkan dirinya di sofa Devina mulai memakan sarapan paginya tanpa banyak bicara, tapi hal itu sudah cukup untuk membuat Devano merasa senang.


"Waktu kemarin aku sampai di rumah kamu gak ada dan aku fikir kalau kamu pergi sama Ziko biasanya kalau pergi sama Ziko kamu pulangnya sore, makanya aku juga pergi, tapi ternyata kamu langsung pulang waktu Mommy telpon." Kata Devano


Masih tidak ada tanggapan Devina hanya diam sambil memakan sarapannya.


"Aku memang jarang balas pesan kamu, tapi aku sering telpon Adara maaf kalau kamu jadi merasa terabaikan." Kata Devano lagi


Melihat Devina yang hanya diam Devano menghela nafasnya pelan, dia tidak bisa melihat kembarannya yang hanya diam padahal biasanya cerewet sekali.


Tadinya Devano fikir Devina akan baik-baik saja meskipun dia jarang membalas pesannya, tapi ternyata dia salah.


Devina kesal bahkan bisa dibilang marah.


"Vano"


Satu kata yang akhirnya Devina ucapkan membuat Devano langsung menatapnya.


"Iya?"


"Kamu sebel ya sama aku?" Tanya Devina yang langsung dijawab dengan gelengan oleh kembarannya


"Enggak Vin." Kata Devano


Devina mengangguk singkat lalu tersenyum tipis, mood nya masih buruk sekali sejak kemarin.


Meletakkan sendoknya Devina memilih untuk menyudahi sarapannya dan meminum air hangat yang tadi sudah dibawakan oleh Devano.


"Makasih ya Vano maaf kalau aku ngerepotin kamu terus." Kata Devina


"Kamu ngomong apa sih Vin?" Tanya Devano tidak suka


"Hmm enggak ada aku ngerasa kalau aku sering ngerepotin kamu terus selalu nyebelin dan egois, pasti kamu muak ya?" Tanya Devina


"Aku gak pernah kayak gitu Vin." Kata Devano lembut


Devina hanya tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di pundak Devano dan membuat pria itu tersenyum.


"Maaf ya? Harusnya aku gak egois karena kamu punya kepentingan lain selain aku dan gak selamanya juga kamu bakal prioritasin aku." Kata Devina


Ya, sejak semalam dia tidak bisa tidur dan terus memikirkan hal yang sama.


Tentang dia yang egois dan banyak menuntut.


"Aku yang minta maaf lain kali aku janji gak bakal ngabain pesan kamu dan bakal nemuin kamu dulu sebelum yang lain." Kata Devano


Devina diam sama sekali tidak memberikan tanggapan dan sesaat setelahnya dia berdiri lalu membawa nampan itu keluar. Dibelakangnya ada Devano yang mengikutinya, Devina sudah tidak marah kok pada kembarannya.


Sampai di dapur Devina menaruh piring kotor dan juga gelas di tempatnya lalu membuka lemari untuk mengambil cemilan.


"Kamu masih marah Vin?" Tanya Devano yag terus mengikutinya sampai ke ruang tengah


"Enggak"


Devano menghela nafasnya pelan dan ketika mereka berdua duduk di sofa dia langsung memegang kedua bahu Devina lalu membawa gadis itu untuk menghadap ke arahnya. Tatapan mata Devina berbeda tidak seperti biasanya dan Devano tidak mengerti apa maksud dari tatapan itu.


"Aku kangen Vin." Kata Devano


"Kan sekarang udah ketemu." Kata Devina sambil tersenyum


"Kangen kamu gangguin." Kata Devano


Devina tertawa kecil lalu melepaskan tangan Devano di bahunya dan menghidupkan tv.


Dia memang sudah tidak marah, tapi masih terus mengabaikan kembarannya.


"Kenapa masih diemin aku?" Tanya Devano


"Sstt aku lagi nonton tv." Kata Devina tanpa menoleh


Menghela nafasnya pelan Devano beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menjauh. Di tempatnya Devina tersenyum dengan pandangan kosong yang menatap layar tv.


'Vano sayang banget sama kamu Vin semua orang tau hal itu'


Menatap layar tv dihadapannya tanpa minat Devina mengambil album foto yang ada di dekat meja dan membukanya satu per satu. Ada banyak sekali foto disana dan tentu saja kebanyakan adalah foto dia dan kembarannya juga Sahara.


Disana mereka terlihat senang dan tanpa sadar tangan Devina terulur untuk mengusap fotonya bersama Devano ketika masih kecil.



Mendadak dadanya terasa sesak.


Dia merindukan Devano.


¤¤¤


"Mbak Devina"


Tidak papa sekali-sekali dia ingin pergi sendirian tanpa siapapun bahkan Devina diam-diam pergi keluar rumah dan mengatakan kalau dia ingin berjalan-jalan. Setelah cukup jauh dari rumah barulah Devina memesan ojek online dan sekarang dia dalam perjalanan menuju toko buku.


Dia tidak mengatakan pada siapapun kalau ingin pergi.


Tentu saja ini bukan alasan untuk dia menghindari atau lari dari masalah, tapi Devina benar-benar ingin merasakan yang namanya pergi sendiri. Selama perjalanan Devina hanya diam dan sesekali melirik ke arah jalan lalu menghela nafasnya panjang.


'Vina lo marah sama Vano ya? Maaf, jangan diemin dia Vin dia gak salah gue memang maksa dia untuk telpon setiap hari'


Jahat sekali Devina bahkan dia sempat berburuk sangka pada kekasih kembarannya.


Hah untuk sekarang dia mau berjalan-jalan sendirian dan tentu saja toko buku adalah tempat dimana dia bisa melupakan banyak hal.


Sekitar dua puluh menit Devina sampai dan setelah membayar dia tersenyum sambil melangkahkan kakinya memasuki area toko buku.


Hari ini saja Devina ingin menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri.


¤¤¤


Hujan


Wajah Devano diliputi kecemasan ketika Devina tak kunjung pulang padahal tadi gadis itu hanya izin untuk berjalan-jalan, tapi sampai sekarang dia juga belum pulang. Baru saja Devano kembali dari mencari Devina di sekitar kompleks perumahan dan dia sama sekali tidak menemukan kembarannya.


Ponselnya juga tidak aktif dan Devano sudah menelpon Ziko juga teman-teman Devina, tapi mereka sama sekali tidak tau. Sialnya sekarang orang tuanya sedang tidak ada di rumah karena beberapa saat setelah Devina pergi mereka juga pergi ke rumah Tante nya.


Baru saja Devano ingin pergi mencari, tapi pintu rumah terbuka dan Devina masuk ke dalam dengan rambut yang sedikit basah. Melihat hal itu Devano berlari menghampiri kembarannya dan memeluknya dengan cukup erat.


"Kamu dari mana Vin? Aku cariin kamu dari tadi." Kata Devano cemas


Melepaskan pelukannya Devina mengangkat plastik berisi beberapa novel yang tadi dia beli, beruntung tidak basah.


Tadi dia naik taxi dan rambutnya sedikit basah karena dia harus berlari menerobos hujan ketika sampai di depan gerbang rumahnya.


"Beli ini"


Menghela nafasnya pelan Devano langsung mengajak kembarannya pergi ke kamar dan mendudukkannya di sofa lalu mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah.


"Sama siapa?" Tanya Devano pelan


"Sendirian"


Sekali lagi Devano menghela nafasnya kemudian tanpa banyak bicara dia membantu untuk mengeringkan rambut Devina.


"Aku bisa sendiri." Kata Devina


Devano tidak peduli dan tetap malanjutkan kegiatannya lalu setelah selesai dia duduk disamping kembarannya.


"Aku buatin teh hangat kamu ganti baju dulu biar gak sakit." Kata Devano sambil mengusap pipinya dengan lembut


"Vano gak..."


"Vina, please jangan kayak gini." Kata Devano dengan raut wajah lelah


Akhirnya Devina mengalah dan berjalan ke lemari untuk mengambil baju membuat Devano tersenyum tipis lalu pergi ke dapur.


Mereka berdua sibuk dengan fikiran dan kegiatan masing-masing untuk sesaat keduanya merasa begitu jauh.


Sekarang Devano benar-benar merasa kalau Devina sangat-sangar marah padanya padahal dulu Devina tidak pernah seperti ini bahkan meskipun sedang merajuk dia tetap meminta Devano untuk mengantarnya kalau ingin pergi.


Sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk Devina keluar dari kamar mandi dan melihat kembarannya yang sedang duduk disofa. Tersenyum tipis Devina mendudukkan dirinya disamping Devano dan memeluknya dari samping, tanpa mengatakan apapun.


Tentu saja Devano merasa senang dia langsung merangkul tubuh Devina dengan sayang.


"Minum dulu teh nya biar hangat." Kata Devano


Mengangguk singkat Devina melepaskan pelukannya dan meminum teh hangat yang kembarannya buat hingga habis.


"Vina"


Mendongak dan menatap wajah kembarannya Devina tidak mengatakan apapun hanya bergumam pelan sebagai sautan.


"Jangan pernah pergi sendirian, kamu naik apa tadi?" Tanya Devano dengan lembut


"Berangkatnya naik ojek online kalau pulangnya naik taxi." Kata Devina


"Jangan pergi sendirian lagi." Kata Devano


Devina hanya mengangguk sebagai jawaban.


Mengusap singkat puncak kepala kembarannya Devano bangun dari duduknya dan mengambil sesuatu yang ada di nakas.


Saat Devano kembali duduk disampingnya Devina mendongak dan menatapnya dengan penasaran. Tersenyum manis Devano membuka kotak yang ternyata berisi kalung lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat Devina tersenyum.


"Aku beli ini waktu di Bali, kamu pernah bilang kan kalau mau punya kalung?" Kata Devano


Iya, Devina memang pernah mengatakan hal itu pada Devano hanya saja dia tidak pernah menemukan kalung yang bagus.


"Waktu lihat ini aku langsung inget kamu, jadi aku beli tadinya mau kasih kemarin, tapi kamu marah sama aku." Kata Devano


Tanpa banyak bicara Devano memakaikan kalungnya pada Devina dan setelah selesai langsung memeluknya dengan erat.


Memejamkan matanya Devina membalas pelukan itu dengan cukup erat.


"Kita saudara Devina aku gak mungkin lupaiin kamu dan masalah kemarin itu memang salah aku, maaf"


Bukan membalas perkataan itu Devina malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku sayang kamu Devina dan selamanya akan selalu begitu"


Benar


Devano akan selalu menyayangi Devina seumur hidupnya.


Dia sayang Devina dan dia juga sayang Adara.


Kalau ada yang bertanya mana yang lebih dia sayang maka dia akan jawab keduanya.


Devina dan Adara adalah orang yang sangat berarti untuknya.


¤¤¤


Kemaleman gak inii updatenya😂


Okee kita triple updatee😚


Besokk berapa kali yaaa updatenyaa😋