
Bergerak pelan dalam tidurnya Devina merasa terusik ketika merasakan tepukan pelan di pipinya hingga membuat dia perlahan membuka matanya dan melihat Ziko yang sedang menatapnya. Terdiam cukup lama Devina langsung bangun ketika ingat bahwa tadi dia sedang menunggu kekasihnya mengerjakan tugas.
Masih dengan wajah bantalnya Devina belum mengatakan apapun karena merasa ngantuk dan hal itu membuat Ziko tersenyum melihatnya. Saat merasakan usapan dipipinya Devina menoleh lalu menatap Ziko yang tersenyum manis padanya.
"Vina ketiduran." Kata Devina pelan
"Hmm nyenyak banget tidurnya." Kata Ziko
"Sekarang jam berapa?" Tanya Devina
"Jam setengah lima dan Vano suruh aku anterin kamu pulang jam lima karena kalian mau pergi ke rumah Kak Ara katanya." Kata Ziko
Devina mengerucutkan bibirnya sebal ketika mendengarnya.
"Kita belum jalan-jalan." Kata Devina
"Besok aja." Kata Ziko
"Ziko gak bangunin akuuu." Kata Devina
"Mana tega Vin kamu aja tidurnya nyenyak banget tadi." Kata Ziko
"Besok harus jalan-jalan gak mau tau!" Kata Devina dengan wajah cemberut
"Iya sayangku." Kata Ziko
Menghela nafasnya pelan Devina memeluk kekasihnya sebentar dan menyandarkan kepalanya di bahu Ziko.
"Vina masih ngantuk." Kata Devina
"Cuci muka dulu." Kata Ziko
Kembali melepaskan pelukannya Devina tersenyum dan mengangguk singkat lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Tidak butuh waktu lama Devina keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
Mendekat ke arah kekasihnya Ziko merangkul Devina dengan sayang.
"Yuk aku anterin pulang"
Devina mengangguk singkat lalu mengambil tas miliknya yang ada di meja dan bersama-sama Ziko keluar dari kamar.
Begitu sampai di pintu utama Devina melihat Nazwa yang baru pulang dan langsung tersenyum ketika melihatnya lalu mendekat untuk memberikan pelukan hangat.
"Sayang ya ampun kamu kapan datang kesini?" Tanya Nazwa senang
"Em sudah dari siang Ma." Kata Devina
"Sekarang mau kemana?" Tanya Nazwa sambil melepaskan pelukannya
"Mau pulang." Kata Devina
"Kok pulang? Gak mau makan malam disini dulu?" Tanya Nazwa
"Vano udah telpon Ma aku mau ke rumah Kakak aku." Kata Devina
Tersenyum tipis Nazwa mengusap puncak kepala Devina dengan sayang dan memberikan ciuman singkat di keningnya.
"Yaudah hati-hati ya? Nanti main lagi ke rumah." Kata Nazwa
Devina mengangguk singkat lalu mencium punggung tangan Nazwa dan kembali melanjutkan langkah kakinya keluar dari rumah. Masuk ke dalam mobil Ziko memakaikan sabuk pengaman untuknya sambil mencubit pelan pipinya sebelum menghidupkan mobil dan melaju meninggalkan rumah.
Selama perjalanan Devina menyandarkan tubuhnya di jok mobil dengan mata yang terus menatap kekasihnya, dia suka ketika Ziko sedang membawa mobil apalagi ketika mata pria itu terlihat fokus ke depan tanpa mau menoleh.
"Ziko"
"Hmm"
"Waktu Vina tidur kamu ngapain?" Tanya Devina
"Main gitar sama main game." Kata Ziko
"Vina pas tidur jelek ya?" Tanya Devina membuat Ziko terkekeh ketika mendengarnya
"Enggak kamu tetap cantik." Kata Ziko
"Bohong kan?" Tuding Devina
"Kamu kenapa sih Vin? Perasaan setiap nanya dan aku jawab jujur pasti bilangnya bohong kan, kenapa?" Tanya Ziko penasaran
"Emm gak papa." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
"Nanti malam kalau kamu gak sibuk bilang ya? Aku mau telpon." Kata Ziko
"Iyaa"
Devina tersenyum dan kembali memperhatikan kekasihnya lalu mengambil ponsel milik Ziko yang ada di dashboard.
"Ziko pernah ada yang ledekin gak karena pakai case phone kayak gini?" Tanya Devina
"Pernah"
"Terus gimana?" Tanya Devina
"Gak gimana-gimana aku bilang aja pacar aku yang minta." Kata Ziko membuat Devina tersenyum senang ketika mendengarnya
"Temen aku banyak yang suka sama Ziko." Kata Devina dengan bibir mengerucut sebal
"Siapa?" Tanya Ziko dengan alis bertaut
"Banyak teman sekelas aku kata mereka Ziko itu manis banget terus perhatian." Kata Devina
"Kamu kesel?" Tanya Ziko
"Em sedikit soalnya kan mereka bener terus mereka juga gak ada niat mau rebut Ziko dari aku." Kata Devina
"Kalau ada?" Tanya Ziko
"Kalau ada gak bakal bisaa Ziko kan udah punya Vina." Kata Devina
"Iya aku milik kamu Vin." Kata Ziko dengan senyuman
Menghela nafasnya panjang Devina menghidupkan ponsel miliknya dan melihat galeri di ponsel kekasihnya yang sebenarnya berisikan banyak sekali fotonya. Entah kenapa Devina tidak pernah bosan melihat banyak sekali foto dirinya di ponsel Ziko entah di ambil dengan permisi atau Ziko yang mengambil gambar diam-diam.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit mobil Ziko akhirnya berhenti di area rumah keluarga Wijaya membuat Devina tersenyum tipis dan menaruh kembali ponsel kekasihnya.
Ziko melepaskan sabuk pengamannya lalu tanpa menjauhkan tubuhnya dia menatap Devina dengan senyuman dan mengusap lembut pipinya.
"Besok mau nonton?" Tanya Ziko
Dengan cepat Devina menganggukkan kepalanya.
"Besok aku jemput jam dua belas ya?" Kata Ziko yang kembali dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya
Sebelum keluar Devina memeluk tubuh kekasihnya dulu sambil memejamkan matanya. Cukup lama berpelukan Devina menjauhkan tubuhnya lalu mencium singkat pipi Ziko dan membuat kekasihnya itu tersenyum senang.
"Vina pulang dulu ya?"
Ziko mengangguk dan melambaikan tangannya pada Devina yang sekarang sudah keluar dari mobilnya.
Dia sangat tidak sabar ingin tinggal bersama Devina, tapi masih cukup lama ya?
Masih tahun pertama perkuliahan dan masih butuh cukup banyak waktu hingga mereka lulus.
Padahal Ziko sangat ingin menikah dengan Devina secepatnya.
¤¤¤¤
"KAK ARAAAA"
Seruan kencang Devina membuat Sahara menoleh lalu tersenyum senang begitu melihat adiknya serta kedua orang tuanya yang baru saja datang. Tawa kecilnya terdengar ketika Devina memeluknya dengan erat dan Sahara juga tidak bisa menagan dirinya untuk tidak membalas pelukan itu serta memberikan ciuman di kepala adiknya.
Kedua orang tua mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat kedua putri mereka yang sedang melepas rindu. Bersamaan dengan itu Arjuna datang sambil menggendong Airlangga yang langsung merengek pelan dan minta untuk diturunkan.
Begitu turun dari gendongan Arjuna anak itu berjalan pelan menghampiri Sahara lalu memukul-mukul kaki Devina.
"Mamaa"
Wajah Devina berbinar ketika melihat Airlangga dia langsung mengangkat tubuh anak itu dan menciumi pipinya membuat Airlangga merengek.
"Ndak Mamaaa"
"Ndak ndakkk"
Sahara tersenyum melihatnya memang Devina suka sekali menggangguk anaknya.
"Vina jangan ah"
"Hehe gemes banget geh sini cium lagi." Kata Devina sambil mencium pipi Airlangga lama
Airlangga mungkin merasa kesal hingga anak itu menarik rambut Devina dan membuat gadis itu meringis sakit.
"Angga jangan sayang." Kata Arjuna
Begitu tangan Airlangga terlepas dan anak itu berada di dalam dekapannya Devina mengerucutkan bibirnya sebal lalu mencubit pelan pipi keponakannya yang membuat Airlangga menangis kencang.
"Vinaa"
"Pelan kok cubitnya." Kata Devina pada Daffa yang baru saja memanggil namanya
"Dia ini emang jahil banget Kak." Kats Devano sambil mencubit pipi Devina cukup kuat
"Iihh sakitttt"
"Arjuna bagaimana dengan kandungan Sahara?" Tanya Daffa
"Baik Dad kemarin kamu habis dari Dokter." Kata Arjuna membuat Daffa menghela nafasnya lega
Begitu semuanya duduk Arjuna langsung meminta Bi Yuni untuk mengambilkan makanan serta minuman.
"Ara fikir Daddy cuman kesini sama Mommy." Kata Sahara
"Dan membiarkan kedua adik kamu merajuk nantinya?" Kata Daffa membuat Sahara tertawa kecil mendengarnya
"Devina sering bilang kalau dia kangen kamu." Kata Fahisa
"Benarkah? Ya ampun adik aku yang paling cantik kangen ya?" Kata Sahara sambil menatap Devina yang kini tersenyum padanya
"Heem kangenn Vina gak bisa cerita kalau sama Vano gak enak dia kalau di ajak cerita cuman hmm hmm aja." Keluh Devina
"Yang penting kan aku dengerin." Kata Devano
"Ish sama aja akunya kayak cerita sendirian." Kata Devina sebal
"Masih suka berantem aja." Kekeh Sahara
"Wajar sayang apalagi mereka kembar." Kata Arjuna
Sahara mengangguk faham lalu sesaat setelahnya Bi Yuni datang dan membawakan minum serta beberapa makanan ringan.
"Ih kesukaan Vinaaa!"
Devina berseru senang dan mengambil toples berisikan brownis kesukannya lalu meletakkan dipangkuannya.
"Habisin Vin." Kekeh Sahara
"Emang mau Vina habisin." Kata Devina senang
"Jangan sakit gigi nanti." Kata Devano
"Ish gak papa kok, ya kan Daddy?" Kata Devina dengan mata berbinar
"Benar kata Vano sayang nanti kamu bisa sakit gigi itu banyak loh." Kata Daffa
Devina mengerucutkan bibirnya sebal dan memeluk Mommy nya dari samping.
"Vina gak suka kalau Vano sama Daddy udah gabung pasti aku salah terus." Kata Devina
"Mirip sekali sama kamu Ra." Bisik Arjuna membuat Sahara tersenyum mendengarnya
"Kamu orang ke em tidak terhitung banyak sekali yang mengatakan hal itu." Kata Sahara
Arjuna tertawa kecil, memang Sahara dan Devina sangat mirip meskipun ada sedikit perbedaan di wajah mereka.
"Habiskan saja Devina." Kata Sahara sambil mengusap kepala adiknya dengan sayang
"Kakk aku mau ajak Ziko main kesini boleh gak?" Tanya Devina mengalihkan pembicaraan sambil memakan brownis nya lagi
"Boleh, Vano aja udah pernah kesini sama pacarnya." Kata Sahara
"Ihh masaa? Kok Vano gak bilang." Kata Devina
"Kamu gak nanya." Kata Devano santai
"Ish nyebelin!" Kata Devina sambil memukul pelan lengannya
"Ajak aja pacar kamu kesini Vina gak papa kok malah Kak Ara senang soalnya kan Mas Juna kerja biasanya pulang sore Kakak di rumah cuman sama Angga." Kata Sahara
Devina tersenyum senang ketika mendengarnya.
"Vina mau ajak Ziko kesini besok"
¤¤¤
Kebiasaan baru yang dilakukan Ziko belakangan ini adalah belajar, dia memang sangat giat sekarang karena tekatnya yang ingin segera lulus dan bisa segera menikah dengan Devina. Setiap malam Ziko akan mengerjakan tugas atau membaca buku agar memudahkan dia ketika kuliah.
Sebenarnya sampai sekarang Ziko masih berniat untuk bisa segera menikah dengan Devina karena dia benar-benar takut kehilangan Devina yang banyak sekali pria menyukai kekasihnya yang menggemaskan. Namun, dia juga selalu mengingat perkataan orang tuanya ketika dia mengatakan ingin menikah dengan Devina diusia yang masih muda.
'Pernikahan itu kalau bisa sekali seumur hidup sayang, jangan terburu-buru Mama sama Papa gak ada larang kamu, tapi kami hanya ingin memberitau bahwa ketika menikah kamu akan memiliki banyak tanggung jawab,'
'Kamu harus menjadi suami yang tentu saja memberikan nafkah kepada istri kamu dan ketika kamu memiliki anak maka tanggung jawab kamu juga akan bertambah,'
'Pernikahan mungkin tidak seindah yang kamu bayangkan, tapi tidak juga buruk kalau kamu memang tetap ingin menikah Mama sama Papa gak bisa larang hanya saja coba difikirkan lagi ya?'
'Bicara juga dengan orang tua Devina dan tentu saja Devina sendiri kalian harus memutuskan bersama jangan kamu ambil keputusan sepihak'
Memang benar sekarang Ziko masih mengandalkan orang tuanya mau apapun minta sama Mama atau Papa nya, ya meskipun sesekali dia membeli dengan uangnya sendiri.
Drrt drrrt
Getaran di ponselnya membuat Ziko tersentak dari lamunannya dan langsung memgambil ponsel miliknya yang ada di meja. Senyum manisnya mengembang dengan sempurna ketika melihat nama Devina yang tertera disana.
Zikoo
Gak usah telpon yaa aku ngantuk :"
Enggak papa kann?
Dengan cepat Ziko langsung membalas pesan yang Devina kirimkan untuknya.
^^^Iya Vin kamu tidur aja^^^
^^^Sampai ketemu besok^^^
Tidak butuh waktu lama Ziko langsung mendapat balasan dari kekasihnya.
Ziko besok kita ke rumah Kak Ara aja ya?
Mau enggakk?
^^^Iya Vin terserah kamu^^^
Oke! Besok ke rumah Kak Ara sama Ziko
Yaudah Vina mau tidur dulu
Selamat malam Ziko sayang
Senyum Ziko mengembang dengan sempurna ketika melihat foto yang Devina kirimkan untuknya.
Sampai jumpa di dalam mimpi sayang♡
¤¤¤
Masih ada lagii nanti aku updatee yaa😌