My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (104)



Setelah percakapan yang cukup panjang antara Devano dan Adara akhirnya diputuskan juga bahwa Adara bersedia bertunangan dalam waktu dekat. Tentu saja hal itu membuat Devano merasa sangat senang, tak hanya dia bahkan keluarganya juga apalagi Devina yang langsung memeluknya.


Rencananya Adara dan Devano akan melangsungkan pertunangan sekitar satu minggu kedepan lalu besok keduanya akan pergi untuk mencari cincin. Sekarang Devano sudah pulang ke rumah dia berada di kamar bersama dengan kembarannya yang memang sudah sejak tadi berada disana.


Begitu mata mereka bertemu Devina tersenyum senang lalu ketika dia duduk disampingnya gadis itu langsung memberikan pelukan hangat untuknya. Membalas pelukan itu dengan sayang Devano mencium puncak kepala kembarannya berkali-kali membuat Devina semakin mengeratkan pelukannya.


"Udah sampai mana kamu mempersiapkan semuanya?" Tanya Devano begitu pelukan mereka terlepas


"Em Vina pergi ke wedding organizer temannya Kak Ara tadi." Kata Devina senang


"Lalu? Sudah memutuskan?" Tanya Devano


"Belumm kan tadi enggak sama Ziko, jadi besok mau kesana lagi." Kata Devina dengan senyuman manisnya


"Hm gitu terua masalah baju?" Tanya Devano lagi


"Udah selesaii Vina pakai gaun dua yang satu warna pink lalu warna putih tadi baru selesai masalah baju sama Ziko." Kata Devina


"Aku senang mendengarnya." Kata Devano


"Vina enggak sabar." Kata Devina dengan senyuman manisnya


"Harus sabar masih lama." Kata Devano sambil tertawa kecil


"Vano nanti kalau kita udah enggak satu rumah Vano harus sering kasih aku kabar ya? Kalau mau kemana-mana harus tetap kasih aku kabar juga gak boleh main pergi-pergi aja." Kata Devina


Mendengar perkataan itu Devano terdiam untuk beberapa saat lalu mengangguk patuh dan mengusap pipi Devina dengan sayang.


"Kamu juga mau janji hal yang sama?" Tanya Devano


"Mau, sekarang jari kelingking Vano sini kita pinky promise dulu." Kata Devina


Tersenyum penuh arti Devano menautkan jari kelingking mereka lalu keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat sampai suara pintu yang terbuka terdengar dan ternyata Daffa yang baru saja masuk ke dalam. Melihat kedua anaknya yang terlihat akur Daffa tersenyum senang lalu duduk tepat disebelah Devina membuat gadis itu memeluknya.


Daffa akan sangat merindukan hal ini nantinya.


Mengusap kepala Devina dengan sayang Daffa mulai mengingat berbagai kenangan manisnya bersama dengan anak-anaknya. Satu per satu anaknya akan menikah lalu memiliki kehidupan masing-masing dan Daffa merasa sedikit sedih, tapi setidaknya dia akan memaksa Devano untuk tetap tinggal bersamanya.


Tidak banyak alasan satu-satunya alasan karena rumah ini akan menjadi milik Devano nantinya, jadi untuk apa pria itu pergi kalaupun memang ingin tinggal berdua dengan sang istri untuk beberapa saat ada apartemen Daffa yang bisa keduanya gunakan.


Tapi, untuk membeli rumah yang lainnya Daffa tidak akan izinkan.


Rumah ini saja sudah cukup.


"Lagi ngomong apa hm?" Tanya Daffa


"Gak ada apa-apa Daddy cuman ngobrol biasa aja." Kata Devina


"Vina gimana tadi sama Kak Ara? Ada yang cocok?" Tanya Daffa


"Em belum tau Daddy besok mau kesana lagi sama Ziko." Kata Devina


"Tapi, ada yang Vina suka?" Tanya Daffa


"Ada Vina suka yang dekorasinya warna pink sama putih, kelihatannya cantik." Kata Devina senang


"Jadi, besok kesana lagi sama Ziko?" Tanya Daffa


"Heem kalau Ziko mau juga nanti kita pakai yang itu Daddy." Kata Devina


Daffa mengangguk faham lalu melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Devina melihat wajah lugu gadis itu dengan senyuman.


Bagaimana bisa dia mau menikah dalam waktu dekat?


Rasanya Daffa tidak percaya anak-anaknya sudah sebesar ini sekarang.


"Daddy pasti akan sangat merindukan Vina nanti." Kata Daffa


"Vina juga"


Tersenyum manis Daffa mengacak gemas rambut anaknya lalu menatap Devano yang juga tengah tersenyum padanya.


"Kalau Vano gimana? Tanggal pertunangannya sudah ditentukan kamu sudah menyiapkan apa saja?" Tanya Daffa


"Besok Vano sama Adara bakal cari cincin terus untuk pakaian nanti Kak Ara bakal bantuin, tapi ada satu hal yang ingin Vano lakuin." Kata Devano membuat Daffa serta Devina menatapnya


"Apa?"


"Vano mau bicaraiin hal ini juga sama Om Juan karena bagaimanapun juga dia tetap Ayahnya Adara dan Vano rasa dia perlu tau." Kata Devano


"Kalau kamu memang mau menemui..."


"Jangan! Om Juan itu jahat!" Kata Devina


"Gak papa kalau Vano memang mau bicaraiin hal itu ajak dia bertemu di luar agar tidak terjadi sesuatu." Kata Daffa


"Iya Dad nanti Vano akan coba hubungin Om Juan dulu." Kata Devano


"Adara enggak mau bicara sama Juan?" Tanya Daffa


"Bukan gak mau Dad, tapi dia bilang nanti saja karena Adara masih takut untuk bertemu makanya Vano yang mau ketemu langsung." Kata Devano


"Okay kamu janjian dulu sama Om Juan lalu kasih tau Daddy." Kata Daffa yang dijawab dengan anggukan oleh anaknya


Menatap kedua anaknya bergantian Daffa tersenyum lalu mengusap kepala mereka bergantian.


"Anak-anak Daddy sudah besar ternyata rasanya baru kemarin kalian menangis karena rebutan buku gambar"


Waktu memang berlalu dengan begitu cepat.


¤¤¤


"Eh ehh ada yang mau nikahh"


Devina memasang wajah cemberutnya dengan pipi memerah sempurna karena perkataan Mona barusan, dia memang ada janji bertemu dengan teman-temannya di rumah Mona dan sekarang mereka meledekanya. Begitu Cessa mengelurkan tangan Devina menyambutnya lalu ikut duduk disamping teman-temannya dan membuat Mona langsung mencubit pipinya.


Memang bukan hanya keluarga atau kekasihnya saja, tapi teman-temannya juga suka mencubit pipinya termasuk Intan. Menatap teman-temannya bergantian Devina tersenyum pada ketiganya, mereka heboh sekali saat tau Devina dan Ziko akan menikah.


"Ululuu bentar lagi jadi manten." Kata Cessa


"Ih Cessa jangan gituu." Rengek Devina


"Pantes aja Ziko ngebet mau nikah aduh Vina gemesin gini langsung deh nanti lo di kawinin." Kata Nayla membuat Devina melotot padanya


"Ih Naylaaa"


Nayla tertawa begitu juga yang lainnya.


"Langsung di unboxing dia." Kata Mona


"Nanti gue mau kasih kado lingerie yang seksi." Kata Cessa membuat mereka kembali tertawa


"Jangan diledekin Vina nya malu." Kata Devina sambil menyentuh kedua pipinya yang terasa panas


"Nanti kalau udah nikah jangan pake piyama pink lagi Vin, tapi pake lingerie yang warna putih." Kata Mona dengan tawa puasnya


"Mon Vina masih polos." Kekeh Nayla


"Justru itu harus kita ajarin Nay biar gak kaku pas malam pertama." Kata Mona tanpa dosa


"Monaaa"


"Gak kaku ah dia aja sama Ziko udah pernah kiss kiss di bibir yang waktu itu kita pergokin di rumah Ziko." Kata Cessa membuat wajah Devina memerah sempurna hingga ke kupingnya


"Jangan-jangan pernah lebih dari sekedar menempel." Kata Nayla


"Ih gak mau jangan bahas gituu." Rengek Devina


Moma tertawa lalu memeluk teman baiknya itu dari samping, dia senang sekali Devina akan segera menikah.


"Tapi, pernah gak Vin?" Kata Cessa


"Em pernah"


Jawaban yang Devina berikan dengan wajah polosnya membuat ketiga temannya melongi tidak percaya, Ziko benar-benar merubah temen polos mereka.


"Apa rasanya Vin?" Tanya Mona


"Ishh kan nanya gitu lagi." Kata Devina dengan bibir mengerucut sebal


"Kan nanya aja Vin dari pada kita minta vidio call pas malam pertama." Kata Cessa


"Cessa kamu ini mulutnya." Kata Devina sambil memukul pelan lengannya


"Iya ampun Vin." Kata Cessa


"Nanti Vina kita suruh cerita pengalam pertamanya bergulat di atas ranjang." Kata Mona sambil tertawa puas


"Mona ih jangan gitu! Aku marah nihh." Kata Devina dengan wajah cemberut


"Iya berhenti udah gak nanya gitu lagi." Kata Mona


Masih dengan wajah cemberutnya Devina yaki wajahnya pasti sudah merah sekali sekarang karena ulah teman-temannya.


Mereka suka sekali menggoda Devina.


¤¤¤


Sama halnya dengan Devina yang diledek teman-temannya Ziko juga merasakan hal yang sama begitu dia bergabung bersama Gio dan yang lainnya. Berbeda dengan Devina yang tersenyum malu-malu Ziko justru tersenyum bahkan sesekali tertawa.


Dia tidak peduli dengan apa kata orang yang terpenting dia akan menikahi Devina masalah yang lainnya biarkan saja. Saat ini ada Gio, Hendra serta Bastian dan dia yang sedang berada di cafe sambil memesan kopi serta beberapa makanan.


Sudah lama tidak kumpul begini karena sibuk dengan urusan perkuliahan.


"Seneng nih Ziko mau nikah." Kata Bastian


"Seneng lah Bas orang dia suka sama Devina udah dari awal masuk di friendzone dua tahun lebih lagi." Kata Gio membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Lo gak khawatir untuk nikah muda Ko? Gue cuman nanya ya jangan tersinggung." Kata Hendra membuat Ziko tersenyum mendengarnya


"Iya gue faham, tapi jawabannya enggak gue udah mikirin hal ini cukup lama dan udah tanya ke orang tua gue atau keluarga Devina juga sebelum akhirnya memutuskan." Kata Ziko


"Semoga lancar Ko lo berdua memang cocok banget sih." Kata Bastian


"Iya dari pas Ziko nembak Devina di cafe tempat kita biasa manggung." Kata Hendra


Ziko tersenyum menanggapinya, dia masih ingat juga ketika dia menyatakan cinta pada Devina dengan bernyanyi untuknya. Sekarang mereka sudah bersama dan sebentar lagi akan menikah juga.


Ziko benar-benar tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia.


¤¤¤


Aku updateee yee😚