
Bermodal nekat juga rasa cemas yang menguasai dirinya sekarang disinilah Ziko berada, rumah besar keluarga Wijaya. Masih berada di depan gerbang Ziko tampak ragu untuk masuk ke dalam, tapi niatnya untuk berbaikan dengan gadisnya membuat dia menghela nafasnya panjang dan mulai masuk ke dalam.
Tidak bisa berlama-lama lagi dengan situasi seperti ini Ziko akan meminta maaf dan mengajak gadisnya berbaikan, sudah cukup seminggu lebih mereka marahan dan tidak saling bicara. Setelah memarkirkan motornya Ziko segera melangkah menuju pintu utama lalu mengetuknya dengan jantung yang berdetak sangat cepat.
Dia hampir jantungan ketika pria paruh baya yang tidak lain adalah Daffa membukakan pintu dan menatapnya dengan dahi berkerut, tapi dia sedikit lega ketika ada wanita paruh baya yang dengan ramah menyuruhnya untuk masuk. Langkah kaki Ziko terasa berat ketika dia masuk dengan diiringi tatapan penuh selidik Daffa, terkadang Daffa memang sangat menakutkan.
"Kamu ada apa kesini? Mau jengukin Vina ya?" Tebak Fahisa dengan ramah
Ziko mengangguk singkat dan mengatakan bahwa dia ingin menemui Devina.
"Hanya sendirian?" Tanya Daffa
"Iya Om cuman saya sendiri." Kata Ziko
"Devina ada di kamar dia belum mau turun dari tadi, kamu kesana aja." Kata Fahisa sambil menunjuk salah satu pintu yang ada di atas
"Buka pintunya dan jangan macam-macam." Tegas Daffa
Ziko mengangguk pasti lalu melangkahkan kakinya ke atas dan ketika sudah berdiri di depan pintu kamar Devina dia terlihat bimbang, tapi dia sudah samai sejauh ini dan akhirnya tangan Ziko terulur untuk membuka pintu. Hal pertama yang dia lihat adalah gadisnya yang bergelung dengan selimut yang menutupi hingga lehernya dan tangan yang memegang ponsel.
Lalu dia berbicara karena merasa pintu kamarnya terbuka, tanpa menoleh.
"Mommy nanti saja Vina belum lapar"
Mendengar suara yang sangat dia rindukan itu Ziko tersenyum senang lalu semakin melangkahkan kakinya ke dalam, tanpa menutup pintu tentunya.
Sesuai permintaan Daffa pintu kamar gadisnya akan tetap terbuka selama dia di dalam.
"Vina"
Ziko dapat melihat tubuh gadisnya menegang dan langsung membalikkan tubuhnya lalu menatap dengan mata membulat sempurna.
"Kamu kok bisa disini?" Tanya Devina kaget
Tersenyum tipis Ziko melangkahkan kakinya mendekat lalu mendudukkan dirinya ditepian ranjang Devina.
"Aku khawatir Vin." Kata Ziko
"Aku gak papa." Kata Devina sambil menunjukkan senyum manisnya
"Kamu jarang balas chat aku, masih marah ya Vin?" Tanya Ziko
Devina menggelengkan kepalanya pelan, tapi Ziko tau kalau dia berbohong.
"Bohong, kamu masih marah kan? Aku minta maaf Vin, please jangan diemin aku kayak gini." Kata Ziko
"Aku gak marah dan aku gak diemin kamu." Elak Devina
Menghela nafasnya pelan tangan Ziko terulur untuk mengusap puncak kepala Devina lalu menunjukkan senyum manisnya.
"Kamu masih marah Vin aku tau, maaf kalau omongan aku menyakiti kamu." Kata Ziko
Terdiam untuk sesaat Devina mendongak dan menatap sahabat baiknya itu dengan sendu.
"Kamu jahat sama aku! Kenapa kamu bilang kayak gitu ke aku Ziko? Terus kita ini apa sampai kamu bisa bilang kalau kita gak sedekat itu?" Tanya Devina
"Maaf, bukan itu maksud aku." Kata Ziko
"Terus apa?" Tanya Devina dengan tidak sabaran
"Aku sama sekali gak maksud ngomong gitu Vin, kita dekat sangat dekat untuk melakukan kebiasaan kita sama-sama." Kata Ziko
Menghela nafasnya pelan Ziko memberikan jeda dari setiap perkataannya.
Bingung harus mengatakan apalagi pada gadisnya.
Di tempatnya Devina juga terdiam tanpa mau memberikan tanggapan apapun, dia masih sakit hati dengan perkataan Ziko dan ditambah lagi kemarin pria itu jalan berdua dengan Adyra.
Untuk apa pria itu masih mau berbaikan dengannya sedangkan dia sudah punya Adyra?
"Enggak kamu gak boleh dekat-dekat terus sama aku nanti pacar kamu marah." Kata Devina ketus
Ziko mengerutkan dahinya bingung dia tidak mengerti ucapan Devina kepadanya.
Pacar?
Sejak kapan dia punya pacar?
Satu-satunya wanita yang sangat ingin Ziko jadikan sebagai kekasihnya hanya Devina, bukan yang lain.
"Pacar? Pacar apa sih Vin? Siapa yang punya pacar?" Tanya Ziko bingung
"Kamulah masa aku!" Kata Devina kesal
"Aku gak punya pacar Vin." Kata Ziko
"Bohong!" Kata Devina
"Ya ampun aku serius Vin." Kata Ziko lagi
"Enggak kamu bohong." Kata Devina tetap berpegang teguh pada pendiriannya kalau Ziko memiliki kekasih
"Kamu tau dari mana sih Vin? Aku gak punya pacar." Kata Ziko lagi
"Kamu pacaran sama Adyra kan?" Kata Devina kesal
"Hah?"
Ziko terdiam sebentar lalu tertawa setelahnya, siapa yang menyebarkan kabar itu pada gadisnya?
Yang benar saja dia tidak menyukai Adyra dan hanya menganggapnya sebagai teman.
"Kamu ngomong apa sih Vin? Aku sama Adyra cuman teman." Kata Ziko sambil tertawa
"Aku tau! Kamu bohong sama aku kalau pergi sama dia dan kemarin kamu juga jalan berdua sama dia, kamu kelihatan senang, kalau kamu takut aku marah tenang aja aku gak masalah kalau kamu punya pacar." Kata Devina panjang
Berusaha mencerna perkataan Devina yang panjang sesaat kemudian Ziko kembali tertawa dan mengacak gemas rambut hitam gadisnya.
"Aku gak pernah pacaran sama Adyra, maaf karena waktu itu aku bohong dan maaf kalau kamu gak suka aku keluar sama dia kemarin." Kata Ziko
"Aku biasa aja." Elak Devina
Ziko tertawa kecil lalu mengusap pelan pipi Devina yang terlihat memerah.
"Maaf, jangan diemin aku lagi Vin." Kata Ziko dengan penuh permintaan
"Kamu bohong kan? Kamu sama Adyra pacaran kan?" Tebak Devina lagi
"Enggak Vin aku sama dia cuman temenan." Kata Ziko yakin
"Yaudah"
"Yaudah dimaafin?"
"Iya"
Ziko tersenyum senang lalu mengusap sayang puncak kepalanya.
"Maaf ya?" Kata Ziko
"Iya"
"Enggak marah lagi kan?" Tanya Ziko
"Masih"
"Kok masih marah?" Tanya Ziko lagi
"Aku masih mau nanya." Kata Devina sambil menatap Ziko dengan ragu
"Nanya apa hmm?" Tanya Ziko
"Kamu memang gak pacaran sama Adyra, tapi kamu suka sama dia kan?" Tebak Devina dengan mata memicing dan menatap penuh curiga
Ziko tertawa kecil merasa lucu dengan pertanyaan dan wajah Devina yang menggemaskan.
"Kamu gak sadar ya Vin?" Tanya Ziko penuh tanda tanya
"Sadar apa? Gak sadar kalau kamu suka sama Adyra?" Tanya Devina
"Gak sadar siapa orang yang aku suka? Aku bukan suka Adyra, sama sekali enggak suka dia." Kata Ziko sambil tersenyum
"Terus?"
Ziko tersenyum jahil lalu menyentil dahi Devina dengan pelan.
"Ihhhh jahatt"
"Beneran udah gak marah kan?" Tanya Ziko lagi
Devina mengangguk singkat sambil tersenyum.
"Gak enak Vin kamu cuekin." Kata Ziko
"Jangan ngomong kayak kemarin lagi ya? Jangan bohong juga." Kata Devina
"Iya"
Tersenyum senang Devina mengangkat jari kelingkingnya dan meminta sahabat baiknya itu untuk menautkan jari kelingkingnya juga.
"Janji dulu"
Menautkan jari kelingkingnya dengan jari mungil Devina lalu tersenyum senang.
"Janji"
Menjauhkan tangannya Devina menatap sahabat baiknya itu sambil tersenyum, dia juga tidak betah berlama-lama mendiami Ziko rasanya sepi.
"Gak bakal cuekin chat aku lagi kan?" Kata Ziko
Devina menganggukkan kepalanya.
"Aku boleh telpon kalau malam kan?" Tanya Ziko lagi
Devina menganggukkan kepalanya lagi sambil tersenyum.
"Boleh nyanyiin kamu lagi?" Tanya Ziko yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Devina
Saat mereka tengah saling melemparkan senyum suara seseorang membuat keduanya menoleh dan ketika melihat siapa yang ada di depan pintu kamar gadisnya Ziko langsung memasang wajah datarnya.
Sial, ada Alex!
Kenapa pria itu harus datang disaat seperti ini?
¤¤¤
Sesaat setelah kedua pria itu pulang dari rumah besar keluarga Wijaya barulah Devano memasuki kamar kembarannya untuk bertanya apa saja yang kedua pria itu lakukan tadi. Selain itu Devano juga mau bertanya tentang hubungan Devina dan Ziko yang dia ketahui tidak baik selama satu minggu belakangan.
Memasuki kamar Devina dia dapat melihat gadis itu sedang tersenyum lebar sambil menatap sebuah kotak yang ada dipangkuannya. Saat melihat kembarannya yang berjalan mendekat Devina langsung meletakkan kotak itu ke sampingnya dan meminta Devano untuk duduk di dekatnya.
"Itu apa?" Tanya Devano
"Ihh kepoo." Kata Devina membuat pria itu berdecak kesal mendengarnya
"Dari siapa?" Tanya Devano lagi
"Di kasih Ziko katanya untuk permintaan maaf hehe lucu deh dia." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
"Coba buka." Kata Devano
Melihat kembarannya yang ingin mengambil kotak pemberian dari sahabatnya Devina langsung mencegahnya dan menatap Devano dengan galak.
"Ihh ini kan untuk aku rahasia dong kamu gak boleh tau." Kata Devina
Tertawa kecil Devano mengacak gemas rambut kembarannya.
"Udh baikan sama Ziko?" Tanya Devano
Dengan semangat Devina menganggukkan kepalanya.
"Udahh"
"Memang kalian ada masalah apa sih Vin?" Tanya Devano
"Emm ada pokoknya." Kata Devina enggan untuk mengatakannya pada Devano
Bisa bahaya kalau Devano sampai tau.
"Tadi Alex ngapain aja?" Tanya Devano
"Cuman jengukin aku aja padahal aku gak sakit beneran." Kata Devina sambil tertawa kecil
Sebenarnya Devina memang tidak sakit dia hanya tidak bersemangat saja untuk berangkat sekolah hingga akhirnya mengatakan dengan wajah sedihnya pada Fahisa kalau dia tidak mau berangkat sekolah.
"Ngapain sih gak sekolah tadi?" Tanya Devano bingung
"Kan aku udah bilang lagi malas." Kata Devina berusaha mengelak kalau dia malas bertemu dengan Ziko
"Pasti ada alasan lain kan?" Tebak Devano
Merasa gemas karena Devano yang terus bertanya Devina mencubit pipi kembarannya itu dengan kuat.
"Kepo. Aku kan udah gak papa Van jangan ditanya lagi." Kata Devina
"Sakit tau." Keluh Devano membuat Devina tertawa kecil lalu mencium pipi kembarannya
"Makanya jangan nyebelin." Kata Devina
"Kamu yang nyebelin ditanya gak mau jawab." Kata Devano
Mengerucutkan bibirnya sebal Devina memeluk kembarannya itu dengan cukup erat.
Devano memang tidak pernah mau mengalah kalau berdebat dengannya, menyebalkan.
¤¤¤
"Aku beli ini waktu pergi sama Adyra kemarin, semoga kamu suka"
Sebelum pulang Ziko mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan pada Devina yang terlihat senang ketika menerimanya. Saat ingin membukanya tangan Ziko menahannya dan meminta Devina untuk membukanya nanti saja.
"Ihh sekarang aja"
"Nanti aja Vina." Kata Ziko lagi
Mengerucutkan bibirnya kesal Devina meletakkan pemberian dari Ziko tadi di sampingnya.
"Iyaudah nanti"
Tersenyum manis Devano kembali mengusap puncak kepala gadisnya dengan sayang.
"Makasih udah maafin aku." Kata Ziko
"Iya"
"Maaf karena udah nyebelin." Kata Ziko lagi
"Iyaaa Ziko"
Tertawa kecil Ziko kembali menutup tasnya lalu berdiri dan mengatakan bahwa dia harus segera pulang.
Saat Ziko ingin pergi Devina melambaikan tangannya dan meminta dia untuk berhati-hati juga memberikan kabar kalau sudah sampai.
Senang rasanya bisa berbaikan lagi dengan Ziko.
¤¤¤
Sebuah novel dengan judul friendzone ada dipangkuan Devina sekarang lengkap dengan secarik kertas yang ada diatasnya. Senyum manis Devina terukir ketika membacanya, manis sekali cara Ziko untuk meminta maaf.
Hope you like it
Jangan marah lagi ya? Aku minta maaf Devina rasanya gak enak kamu cuekin, janji gak bakal ulangin lagi.
Saat ingin membuka lembaran buku tersebut ada sebuah sticky notes yang menempel dan tertutup kertas yang sebelumnya.
Ada tulisan yang membuat Devina jadi penasaran.
Aku harap kisah kita bisa berakhir seperti ini Ra♡
Memang kisah ini berakhir seperti apa?
Devina jadi tidak sabar untuk membacanya.
¤¤¤
Asikk dah baikannn😋
Gitu dong jangan lama-lama marahannya😂