
Selama seharian penuh Devina hanya berada di kamarnya dan enggan untuk keluar dia juga tidak pergi ke kampus, jadi sejak tadi Devina hanya berdiam diri di kamar tanpa ada niatan untuk keluar. Kembarannya tadi juga tidak mau ke kampus, tapi Fahisa memarahinya karena Devano ada ujian dan akhirnya pria itu berangkat juga.
Ponsel Devina tidak dihidupkan, dia malas menerima panggilan dari siapapun dan dia malas berbicara dengan siapapun juga. Sekarang Devina duduk di dekat jendela kamarnya sambil menatap keluar dan memasang senyuman tipisnya.
Kepalanya sedikit pusing karena Devina yang tadi malam terus terbangun juga makan yang hanya dia santap sedikit, tapi Devina tidak mengatakan kalau dia sakit kepala karena kalau sampai dia bilang bisa-bisa Daffa akan menyuruh ke rumah sakit.
Saat ini Devina tidak merasakan apapun lagi dia hanya ingin berdiam diri saja di kamar. Sungguh Devina rindu masa SMA nya dimana dia merasa tenang tanpa ada gangguan dan kalaupun ada hal itu tidak sampai menyakitinya apalagi meninggalkan trauma.
"Vina"
Panggilan itu membuat Devina menoleh lalu melihat kembarannya yang masuk ke dalam sambil membawa sesuatu ditangannya.
"Vano udah pulang?" Tanya Devina
"Hm udah"
Berjalan mendekat Devano duduk di dekat kembarannya lalu menaruh apa yang dia bawa di atas meja.
"Aku beliin burger sama boba." Kata Devano
"Vano gak perlu beliin aku." Kata Devina
"Gak papa atau kamu mau yang lain? Kamu mau apa?" Tanya Devano
"Ini aja udah." Kata Devina
"Kalau kamu gak mau gak papa." Kata Devano
"Ish Vina mau kok." Kata Devina sambil tersenyum
Membuka apa yang sudah kembarannya bawa Devina tersenyum dan pertama-tama membuka boba lalu meminumnya.
"Vano mau?" Tanya Devina
"Enggak kamu aja." Kata Devano sambil tersenyum
"Nanti malam Ziko mau kesini." Kata Devina
"Hmm tadi dia juga bilang." Kata Devano
"Bilang ke Vano?" Tanya Devina
"Iya dia chat ke aku." Kata Devano
Devina mengangguk faham lalu menaruh boba miliknya dan mengambil burger yang kembarannya berikan. Perlahan Devina mulai memakannya dan membuat Devano tersenyum senang lalu mengusap kepalanya dengan sayang.
Tadi malam ketika marah-marah Devina merasa bersalah setelahnya padahal tidak ada yang mau kalau kejadian itu menimpa dirinya, tapi dia malah menyalahkan Daffa dan Devano yang jelas-jelas selalu berusaha melindungi dia. Belum lagi tadi malam Devina membentak Mommy nya dengan suara keras karena tidak mau makan dan membuat Mommy nya itu merasa sedih.
"Makan yang banyak biar gendut." Kata Devano
Mendengar hal itu Devina justru menatap kembarannya dengan wajah cemberut.
"Vina enggak mau gendut." Kata Devina
"Gak papa lucu tau nanti pipinya gembul bisa aku cubitin terus." Kata Devano
"Aku gak gendut juga Vano suka cubitin pipi aku." Kata Devina kesal
Devano tertawa mendengarnya, tapi memang benar.
"Kamu gemesin." Kata Devano
Devina berdecak kesal dan kembali menyantap burger miliknya dengan Devano yang terus menatapnya. Saat melihat ada saus di sudut bibir kembarannya Devano langsung mengusapnya menggunakan ibu jarinya.
Merasakan perhatian dari kembarannya Devina hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan kegiatannya untuk menghabiskan burger berukuran besar yang Devano belikan untuknya.
"Vina"
"Emm"
"Kamu gak salah apapun mereka ngelakuin itu karena sebuah kesalahan, bukan salah kamu." Kata Devano
"Em mereka begitu karena orang tuanya ada masalah sama Daddy di kantor kan?" Kata Devina
"Iya, kamu gak salah, tapi Daddy juga gak salah." Kata Devano
"Iya Vina tau tadi malam Vina gak tau kenapa tiba-tiba jadi kayak gitu." Kata Devina sambil tersenyum
"Yaudah jangan di ingat lagi." Kata Devano
"Tadi malam Vina marah-marah sama Mommy sekarang Vina jadi takut dan merasa bersalah." Kata Devina sedih
"Gak papa Mommy bakal ngerti dan dia gak akan marah." Kata Devano
Devina tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu ketika burger miliknya sudah habis dia langsung mengambil minumannya.
"Vano makasih aku kenyang." Kata Devina
"Hm sekarang aku obatin lagi luka kamu." Kata Devano
"Udah enggak sakit Vano ini kan memar bukan berdarah." Kata Devina
"Tetap aja harus diobatin." Kata Devano
"Tadi udah Mommy obatin habis Vina mandi." Kata Devina
"Yaudah kalau udah diobatin." Kata Devano
Selama ini dia selalu menjadikan Devina prioritasnya karena Devano tidak pernah bisa melihat kembarannya itu kebingungan, terkena masalah, terluka, dan menangis dia tidak bisa melihatnya. Setiap kali Devina membutuhkannya maka Devano akan secepat mungkin untuk datang dan ada disampingnya.
Secepat mungkin dia harus datang.
Bahu ini tempat bersandar untuk orang-orang yang paling dia sayang dan selalu tersedia setiap kali di butuhkan.
"Vano"
"Hm"
"Vina mau beli batagor temenin yuk." Ajak Devina
"Batagor? Beli dimana?" Tanya Devano
"Em biasanya Abangnya ada di dekat kompleks perumahan." Kata Devina
"Yaudah ayuk"
"Tapi, naik sepeda ya? Vano bonceng aku." Kata Devina
"Iya"
Devina tersenyum lalu memperhatikan Devano yang berjalan ke lemarinya untuk mengambil jaket. Begitu Devano kembali Devina merentangkan tangannya dan membiarkan kembarannya itu memakaikan jaket untuknya.
"Udah?"
Devina mengangguk lalu memeluk lengan Devano dan bersama-sama keluar dari kamar. Begitu sampai di bawah kedua orang tua mereka langsung menatap dengan penuh tanda tanya.
"Vina mau jalan-jalan naik sepeda." Kata Devina sebelum ditanya
"Mau ke..."
"Deket kok di sini-sini aja sekalian Vina mau cari Abang yang biasa jual batagor." Kata Devina
"Yaudah hati-hati." Kata Daffa
Keduanya mengangguk lalu berjalan keluar rumah di dekat gerbang Devina menunggu kembarannya kembali dan membawa sepeda yang ada di dalam garasi. Tak butuh waktu lama Devano keluar membuat Devina tersenyum senang setelah mengeluarkan sepedenya Devina langsung naik.
Sebelum Devano jalan dia memeluk kembarannya sambil tersenyum melihat ke sekitaran, sudah lama sekali mereka tidak jalan-jalan.
"Vanoo"
"Hmm"
Devina tersenyum lalu mengeratkan pelukannya.
"Makasih udah ajakin Vina jalan-jalan." Kata Devina
Tidak ada jawaban yang Devano berikan, dia hanya bergumam pelan lalu tersenyum sambil menatap ke depan.
Dulu waktu kecil mereka sering sekali bermain sepeda bersama.
"Vano itu tuh ada Abang batagornya." Kata Devina dengan penuh semangat
Devano melihat arah pandang Devina lalu tersenyum dan pergi ke tampat penjual itu berada. Begitu sepeda mereka berhenti Devina segera turun lalu pergi untuk memesan.
"Abangg"
"Ehh ada si eneng cantik." Kata penjual itu dengan riang
"Abang mau beli dua puluh ribu ya dibagi dua." Kata Devina
"Siap, sini Neng duduk dulu." Kata penjual itu sambil memberikan dua kursi untuk Devina dan Devano
"Kok Abang itu bisa kenal kamu Vin?" Tanya Devano
"Ih Abang ini temen aku tau." Kata Devina
"Temen?"
"Neng cantik ini sering banget beli batagor saya kadang kalau duitnya lebih gak mau dikasih kembalian." Kata pria paruh baya itu
Devina hanya tersenyum menanggapinya.
"Kamu sering beli?" Tanya Devano
"Heem dari SMA malah aku sering banget beli." Kata Devina
Devano mengangguk faham lalu mencubit pelan pipi kembarannya membuat Devina menggerutu kesal sambil melepaskan tangannya.
"Ishh jahill!"
Devano hanya tertawa, tapi tetap melakukannya lagi membuat kembarannya itu kini merengek pelan dan akhirnya dia berhenti.
¤¤¤
Hello aku updateee💞
Aku baru aja update cerita baru lohh hehe siapa tau ada yang mau baca udah ada nihh masih anget baru keluar dari draft😂