My Possessive Twins

My Possessive Twins
43 : Maafin Aku Sayang



Semalaman penuh Devina benar-benar memgabaikan kekasihnya dan tidak memghidupkan ponselnya bahkan sampai pagi ini juga dia masih membiarkan ponselnya dalam keadaan mati, biar saja dia sudah sangat kesal. Sebelumnya Devina ingin mengurungkan niatnya dan mencoba untuk menghubungi Ziko, tapi pria itu kembali mengabaikan pesannya lalu memberikan balasan yang sangat-sangat membuat Devina kesal.


Aku lagi sibuk Vin nanti chat lagi ya


Sibuk apa?


Rasanya Devina benar-benar kesal pada Ziko dan hari ini dia juga sengaja datang tepat saat bel masuk berbunyi agar bisa menghindari Ziko lagi. Saat memasuki kelas Devina dapat melihat kekasihnya itu menatapnya, tapi Devina mengalihkan pandangannya dan langsung duduk disamping Mona, tanpa menyapa atau memberikan senyuman.


Jujur Devina merasa kecewa karena Ziko tidak bisa percaya dan terus berfikiran buruk, dia mencintai Ziko apa itu tidak cukup untuk membuat pria itu percaya padanya?


"Vin"


"Hmm"


"Gue chat lo, tapi gak di balas lo udah buat tugas kan?" Tanya Mona membuat Devina membulatkan matanya seketika


"Tugas apa?!" Tanya Devina panik


"Bu Endah"


"Pelajaran pertama dong?" Kata Devina semakin panik


"Jangan bilang lo gak ngerjaiin?" Tanya Mona


Belum sempat menjawab Bu Endah sudah memasuki kelas dan membuat keadaan hening seketika juga wajah Devina yang langsung memucat. Rasanya ingin menangis karena dia lupa membuat tugas bahkan Devina sama sekali tidak ingat kalau ada tugas untuk hari ini.


Astaga bagaimana sekarang?!


Setelah membuka salam Bu Endah langsung memerintahkan kepada murid-muridnya untuk mengumpulkan tugas dan sepertinya Devina menjadi satu-satunya orang yang tidak mengumpul tugas. Saat Bu Endah mulai mengabsen dan memeriksa tugas Devina semakin berkeringat dingin, dapat dipastikan dia akan diusir keluar kelas.


Saat namanya dipanggil Devina langsung mengangkat tangannya dengan wajah yang memucat karena takut apalagi ketika Bu Endah menurunkan sedikit kaca matanya dan menanyakan tugasnya. Sambil menundukkan wajahnya Devina mengatakan bahwa dia tidak mengerjakan dan saat itulah terdengar gebrakan meja yang membuatnya serta teman-teman yang lain terlonjak kaget.


Tangan Devina yang ada di bawah dinggenggam oleh Mona karena gadis itu tau kalau sahabat baiknya sangat tidak bisa dibentak. Terbukti dengan tangan Devina yang berkeringat dan terasa begitu dingin karena merasa takut.


"Keluar dari kelas saya Devina karena saya hanya akan mengajar murid-murid saya yang mengerjakan tugasnya." Kata Bu Endah dengan tegas


Merasa tidak bisa membantah Devina mengangguk lesu dan beranjak dari tempat duduknya keluar dari kelas, tanpa mau menoleh.


Sepertinya dia sial sekali hari ini sampai harus dikeluarkan dari kelas dan sekarang kaki Devina melangkah menuju perpustakaan dimana dia akan menunggu hingga bel pergantian pelajaran berbunyi. Tanpa sepengetahuannya ternyata ada Ziko yang ikut keluar kelas dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, dia tidak memanggil Devina hanya mengikuti gadis itu saja dari belakang.


Memasuki perpustakaan Devina memilih tempat di paling ujung lalu menelungkupkan wajahnya disana, mau menangis rasanya. Saat melihat gadisnya memasuki perpustakaan Ziko lebih dulu pergi ke kantin untuk membelikan sekotak susu juga roti untuk kekasihnya, entahlah hanya itu yang ada difikirannya sekarang.


Selesai dari kantin Ziko bergegas ke perpustakaan dan melihat kekasihnya yang saat ini tengah sibuk dengan buku digenggamannya. Sambil tersenyum Ziko melangkah mendekat dari samping dia meletakkan sekotak susu yang tadi dia beli di dekat buku dan membuat kekasihnya itu menoleh lalu menatapnya dengan raut wajah terkejut.


"Kamu kenapa disini?" Tanya Devina bingung


Tersenyum manis Ziko mendudukkan dirinya disamping Devina dan menatapnya dengan dalam.


"Ini minum dulu tadinya mau beli roti juga, tapi roti yang biasanya gak ada udah habis." Kata Ziko tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya


Menatap sekotak susu yang ada di meja Devina tersenyum tipis, tapi dia tidak meminumnya dan malah kembali menatap sang kekasih.


"Kenapa disini?" Tanya Devina lagi


"Di kelas gak ada kamu." Kata Ziko sambil mengangkat bahunya acuh


"Terus?"


"Terus aku ikut keluar dan nemenin kamu disini." Kata Ziko


"Kenapa? Kamu gak perlu ngelakuin itu Ziko." Kata Devina dengan lembut


"Harus, kamu matikan hp semaleman karena aku kan? Berarti karena aku kamu lupa ngerjaiin tugas dan karena aku juga kamu dihukum keluar kelas, jadi aku harus tanggung jawab." Kata Ziko membuat Devina tersenyum mendengarnya


"Makasih susunya." Kata Devina


Kembali mengalihkan pandangannya ke depan Devina meminum susu yang dibelikan oleh kekasihnya, tapi tidak lagi mengajaknya bicara dan memilih untuk diam.


Dia masih merasa kesal.


Menghela nafasnya pelan Ziko menumpukan dagunya di kedua tangan dan menatap Devina sambil tersenyum manis membuat kekasihnya itu merasa salah tingkah. Apalagi setelahnya Ziko mulai mengeluarkan gombalan yang entah kenapa membuat Devina merona.


"Kamu cantik banget sih Vin kalau lagi baca buku kayak gini, kecantikannya nambah berkali-kali lipat dari biasanya." Kata Ziko


Devina masih diam enggan untuk memberikan tanggapan apapun.


"Apalagi kalau pipinya merah-merah gitu jadi gemes deh mau cium, tapi masih inget ini di sekolah." Kata Ziko frontal


Kalimat itu berhasil membuat Devina menoleh dan menatapnya dengan garang juga pipi memerah yang membuatnya benar-benar terlihat menggemaskan di mata kekasihnya.


"Apalagi kalau lagi melotot gitu ya ampun lucu banget pengen cubit pipinya." Kata Ziko sambil tersenyum lebar


"Mending kamu baca buku aja sana." Kata Devina sambil mengalihkan pandangannya


Jantungnya berdetak dengan sangat cepat sekarang.


Astaga Ziko benar-benar membuatnya bisa gila.


"Aku maunya baca fikiran kamu Vin biar kita gak pernah marahan dan akur terus." Kata Ziko membuat Devina terdiam lalu tersenyum tipis


Melihat tidak ada tanggapan apapun dari kekasihnya Ziko kembali bicara dan membuat Devina menoleh lalu menatapnya.


"Alu minta maaf Vin"


"Sikap aku kemarin? Gak seharusnya aku kayak gitu harusnya aku cukup dewasa dan gak berfikiran terlalu jauh." Kata Ziko


Devina tersenyum, tapi belum memberikan tanggapan apapun.


"Kamu masih marah ya? Maafin aku Vina janji gak kayak gitu lagi." Kata Ziko sambil menatap kekasihnya dengan penuh harap


Masih tidak mau memberikan tanggan Devina membuat Ziko menghela nafasnya panjang.


"Aku cuman takut Vin, bener-bener takut kalau ada seseorang yang merebut kamu dari aku." Kata Ziko


Kali ini Devina menatapnya dan tersenyum manis lalu membuka suaranya.


Dia mengatakan hal yang membuat Ziko tidak bisa menahan sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman.


"Vina kan udah bilang kalau Vina cuman suka Ziko"


Tersenyum senang Ziko mencubit pipi Devina pelan lalu kembali mengucapkan maaf dan mengajaknya untuk berbaikan.


"Maaf, kita baikan ya?" Kata Ziko


Devina menganggukkan kepalanya dan membuat sang kekasih semakin merasa senang lalu tangannya terulur untuk mengacak rambut Devina dengan gemas. Namun, keduanya terlonjak kaget ketika sebuah suara mengejutkan mereka dan membuat Ziko langsung menjauh.


"Kalian berdua ngapain disana?"


Sial! Mereka tidak akan disangka macam-macam kan?


¤¤¤


"Gara-gara kamu sih"


Sejak tadi Devina tidak berhenti menyalahkan Ziko yang membuat mereka berakhir di untuk menyusun buku-buku yang baru saja datang juga buku yang telah dikembalikan oleh murid-murid pada tempatnya. Saat ketauan tadi mereka langsung ditegur dan Ziko mengatakan kalau mereka sedang dihukum karena tidak mengerjakan tugas, tapi wanita paruh baya yang memang bertugas di perpustakaan itu mengatakan hal yang sangat menyebalkan.


"Kalian pasti sengaja bolos untuk pacaran kan? Astaga masih muda sudah berani berbohong"


Ya ampun Devina benar-benar kesal mendengarnya.


Sekarang di sudut perpustakaan Devina terus menggerutu dan menyalahkan Ziko yang membuatnya berakhir di situasi seperti ini, menyebalkan.


"Iya Vin gara-gara aku maaf." Kata Ziko entah untuk yang keberapa kalinya


"Nyebelin banget sih tau gitu mending aku ke rooftop aja tadi." Keluh Devina sambil berjinjit untuk meletakkan buku di rak teratas


Tapi, mengingat tinggi badan rata-ratanya dia mengalami kesulitan hingga Ziko mengambil alih buku itu dan meletakkannya di atas.


"Pendek"


Perkataan itu membua Devina melotot dan langsung memukul kekasihnya dengan kesal membuat Ziko tertawa senang.


"Vina"


"Diem!"


"Vina"


"Diem!"


"Vina sayang"


Kali ini Devina menoleh dan menatapnya dengan tajam yang sayangnya hanya ditanggapi dengan raut wajah tidak berdosa kekasihnya.


"Kenapa sih Ziko? Cepetan bentar lagi kita ganti pelajaran." Kata Devina kesal


"Gemes banget kalau lagi ngomel." Kata Ziko membuat Devina berdecak kesal dan mencubit lengannya


"Cepetan!"


"Iya sayang maaf." Kata Ziko sambil tertawa


Akhirnya mereka berdua bersama-sama menjalani hukuman dan tepat ketika mereka selesai bel pergantian pelajaran juga berbunyi membuat Devina langsung mengajak kekasihnya untuk kembali ke kelas. Namun, sebelum pergi mereka lebih dulu menghampiri Penjaga perpustakaan dan mengatakan kalau mereka sudah selesai.


"Jangan pacaran lagi kaliam ke perpus! Belajar dulu yang benar." Katanya membuat Devina kembali merasa kesal


Tapi, Devina hanya mengangguk patuh dan meminta Ziko untuk bergegas bahkan dia berlari kecil hingga Ziko ingin tertawa melihatnya.


"Santai aja Vin"


Perkataan Ziko membuat Devina mendengus kesal dan menatapnya dengan malas.


"Kamu nyebelin banget tau gak?!"


Tertawa kecil Ziko mencoba untuk merangkul kekasihnya yang berkali-kali ditepis dengan Devina hingga mereka melihat Pak Toni yang berjalan dari arah berlawanan. Mata Devina membulat dia langsung meraih tangan Ziko dan menariknya membuat pria itu tersenyum sambil memperhatikan tangan mereka yang saling menggenggam.


Devina selalu berhasil membuatnya merasa begitu bahagia hanya dengan hal sederhana.


¤¤¤


Hmm kadang suka bingung mauu nulis apa lagi yaa😂


Besok double update lagi gaa?