
Setelah sekian lama Adara menyaksikan lagi kekasihnya bermain basket bersama dengan yang lainnya dan hal itu membuat jantungnya berdebar kencang kala melihat Devano dengan keringat bercucuran berlari untuk membawa bola lalu memasukkan kedalam ring. Setiap kali melihat kekasihnya bermain basket Adara merasa begitu senang karena ketampanan Devano naik ribuan kali lipat setiap kali dia bermain.
Meskipun ada rasa kesal juga karena secara kebetulan ada beberapa gadis disana yang sibuk memperhatikan Devano lali berbisik dan tersenyum penuh kekaguman. Decakan kesal terdengar, tapi Adara berusaha menutupinya dan bersikap biasa seolah dia bukan kekasih yang merasa cemburu.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Devano belum selesai juga, tapi Adara tidak masalah dia masih ingin melihat kekasihnya yang terlihat sangat tampan sekarang. Namun, beberapa saat setelah Devano memasukkan lagi bola ke dalam ring dia dan yang lainnya berjalan ke pinggir lapangan.
Mata Adara melotot ketika tanpa rasa dosa Devano membuka kaosnya hingga dia dapat melihat tubuh pria itu dengan jelas bahkan beberapa gadis tadi berseru kuat. Bukan hanay Devano sebenarnya, tapi Alex dan Erick juga hanya saja mata Adara terfokus pada Devano yang kini duduk disampingnya lalu mengambil air mineral yang Adara pegang.
Dalam diam Adara memperhatikan Devano yang sedang minum jakun pria itu naik turun membuat Adara langsung mengalihkan pandangannya.
"Ngapain sih buka baju Van?!" Tanya Adara kesal
"Panas tau"
Devano menjawab dengan santai, tapi memang benar matahari bersinar dengan sangat cerah hari ini hinhga cuacanya cukup panas.
"Ah lo juga seneng kan lihatnya." Ledek Alex membuat Adara melotot padanya
"Diem gak?!" Kata Adara galak
"Eh gak usah lihat-lihat gue Dardara." Kata Alex sambil menutupi tubuhnya
"Ck apasih pede banget." Ketus Adara
"Habis ini mau langsung pulang?" Tanya Devano
"Janganlah Van ikut dulu lah kita ke cafe udah lama banget gak kumpul bareng." Kata Yuda
"Aku terserah kamu." Kata Adara membuat Devano tersenyum
"Yaudah kita ikut." Kata Devano
Setelah merasa cukup untuk beristirahat Devano memakai lagi kaos miliknya lalu mengambil kemeja yang tadi dia kenakan dam memakai kembali tanpa memasang kancingnya. Kemudian mereka pergi ke cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat bermain basket tadi.
Sudah jarang sekali mereka kumpul seperti ini biasanya waktu masih sekolah mereka sering melakukannya bahkan terkadang setiap malam. Sudah sampai di cafe lalu memesan makanan mereka duduk berkumpul dan Adara satu-satunya wanita disana dia duduk di dekat Devano dan Alex.
"Ih gak enak banget gue cewek sendirian." Kata Adara
"Santai lah Ra lagian kita ngobrol-ngobrol doang." Kata Erick
"Bawa kali Lex pacar lo." Kata Gara
"Dah ada pacar Lex?" Tanya Devano sambil mengangkat sebelah alisnya
"Apaan gak ada gue." Kata Alex
"Belum move on dari Devina dia." Kata Yuda membuat Alex mengumpat pelan lalu tertawa
"Sialan"
"Memang bener Lex?" Tanya Adara
"Gak juga sih gue cuman malas aja pacaran." Kata Alex
"Dia tiap hari bonceng cewek beda-beda." Kata Devano
"Diem Van." Kata Alex
"Cari kali Lex pacar." Kata Erick
"Berisik ah lagian gue kan temen yang baik nemenin lo pada yang masih jomblo." Kata Alex
"Tapi, lo beneran gak bisa move on kan?" Tanya Erick
"Gimana ya? Devina susah dilupaiin, tapi yaudahlah dia juga udah sama Ziko." Kata Alex
"Kelamaan sih lo." Ledek Adara
"Udah deh gak usah dibahas." Kata Alex kesal
"Lo beneran masih suka sama Vina?" Tanya Devano membuat Alex menatapnya
"Ya gitu lah Van susah lupaiin kembaran lo itu kadang kalau ketemu masih suka deg-degan." Kata Alex membuat mereka semua tertawa mendengarnya
"Karma suka mainin cewek sih lo." Kata Yuda
"Brengsek"
Melihat Devina dari kejauhan saja sudah membuatnya cukup bahagia.
¤¤¤
Berada dalam perjalanan pulang setelah berada di rumah Ziko hingga sore Devina sibuk memainkan ponsel kekasihnya dan melihat hasil poto yang berkali-kali dia serta yang lainnya ambil. Senyuman manis Devina mengembang dengan sempurna dia mengirim semua foto itu ke ponselnya karena nanti dia ingin memasukkan ke akun media sosialnya.
Hari ini dia sangat bersenang-senang bersama dengan kekasihnya dan teman-temannya juga. Selama perjalanan Devina terus memainkan ponsel kekasihnya hingga sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ziko.
Ziko nanti ke rumah Tante Nadya ya? Ada Bianca di rumahnya
Mengerutkan dahinya bingung Devina menatap kekasihnya lalu bertanya.
"Bianca itu siapa Ziko?" Tanya Devina
"Bianca? Anak dari adiknya Mama dia kuliah di Australia, kenapa?" Tanya Ziko
"Ini Mama kamu barusan chat dia bilang kamu suruh ke rumah Tante Nadya karena Bianca ada disana." Kata Devina
Ziko mengangguk singkat lalu meminta Devina untuk membalas pesannya dan mengatakan bahwa dia sebentar lagi akan kesana.
"Bianca itu cantik?" Tanya Devina
"Mirip sama adiknya Mama." Kata Ziko
"Em gitu waktu Vina ikut makan malam sama keluarga Ziko dia ada?" Tanya Devina
"Enggak dia masih di Australia belum pulang." Kata Ziko
Devina mengangguk faham lalu memainkan lagi ponsel milik kekasihnya hingga akhirnya mereka sampai di rumah. Tersenyum manis Devina menaruh lagi ponsel milik Ziko lalu memakai tasnya dan menatap sang kekasih.
"Makasih Ziko hari ini Vina senang banget." Kata Devina
"Hm sama-sama nanti kita jalan-jalan lagi." Kata Ziko
Devina mengangguk sebagai jawaban lalu dia mencium pipi Ziko dengan sayang dan ketika ingin menjauhkan wajahnya lagi Ziko menahan wajahnya untuk mencium singkat bibirnya hingga dua kali.
"Ih Zikooo"
Tertawa kecil Ziko mengacak gemas rambut Devina membuat kekasihnya itu merengek pelan dan Ziko langsung merapihkan lagi rambut kekasihnya.
Setelahnya Devina melambaikan tangan pada Ziko dan masuk ke dalam begitu mobil Ziko menjauh, tapi matanya membulat begitu Daffa berdiri di dekat pagar dan menatapnya dengan tangan terlipat di dada.
"Apa itu tadi Devina?" Tanya Daffa
Devina terdiam lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Devina apa itu tadi?" Tanya Daffa lagi
"Enggak enggak ada apa-apa." Kata Devina
Daffa menurunkan kedua tangannya lalu menatap anaknya dengan raut wajah tanpa eskpresi membuat Devina mengigit pelan bibir bawahnya dan berlari masuk ke dalam membuat Daffa langsung menyusulnya.
"Devina Berlian Wijaya sini kamu Daddy lihat apa yang kalian berdua lakukan"
Devina semakin merasa takut dia berlari dan melewati Fahisa yang menatap dengan bingung.
"Enggak Daddy tadi salah lihattt"
Devina mengatakan hal itu sambil masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"Devina mata Daddy masih bagus dan bisa melihat dengan jelas"
Habislah Devina semua ini karena Ziko ya ampun dia tidak mau keluar kamar dan bertemu Daddy nya!
Mengeluarkan ponsel miliknya Devina langsung mencari nomor telpon Ziko dam menghubunginya.
"Ziko tadi Daddy lihat! Ziko sih cium-cium Vina terus nanti dimarahin gimanaaa?"
Devina merengek pada kekasihnya hingga suara ketukan pintu membuat mata Devina membulat dengan sempurna.
"Devina ayo buka pintunya Daddy mau bicara"
¤¤¤
Hayo kamu kecidukkk😂