My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (7)



Mata Adara membulat sempurna ketika Devano datang bersama dengan Fahisa ke rumahnya yang pria itu bilang untuk melihat keadaannya, padahal Adara sudah membaik. Setelah kemarin beristirahat serta minum obat yang Devano berikan dia merasa lebih baik, tapi pria itu sekarang datang bersama Fahisa.


Bukan tidak suka sungguh Adara hanya malu karena rumahnya sangat berantakan apalagi kamarnya, tapi ternyata Fahisa sendiri tidak masalah dan merasa maklum. Sekarang wanita paruh baya itu duduk di sampingnya sambil menatapnya dengan senyuman.


Tentu saja Adara ikut tersenyum, beruntung dia sudah mandi.


"Kata Vano kamu sakit." Kata Fahisa dengan penuh kelembutan


"Ehh cuman demam aja Tante sekarang udah baikan." Kata Adara


"Kalau sakit kamu mau aja di ajak ke rumah sama Vano, bahaya loh kamu cuman tinggal sendirian nanti kalau ada apa-apa gak ada yang tau." Kata Fahisa membuat Adara tersenyum canggung lalu mengangguk kan kepalanya


"Gak mau dia Mom katanya takut merepotkan." Kata Devano


"Adara gak boleh ngomong gitu ah kamu ini udah kayak anak sendiri." Kata Fahisa


"Maaf Tante"


"Masih Tante lagi manggilnya?" Kata Fahisa dengan mata memicingnya


"Eh maksudnya Mami." Kata Adara


Fahisa tersenyum lalu mengusap kepala Adara dengan sayang.


"Tadi Mami kesini bawa makanan udah Vano taruh di dapur semua kamu kalau mau makan gak usah beli nanti." Kata Fahisa


"Makasih Mi"


"Kamu itu anak Mami loh sama kayak Vano dan Vina jangan sungkan gitu." Kata Fahisa


"Iya Mami"


"Yaudah kita makan ya? Kamu sudah makan belum?" Tanya Fahisa


Adara menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Yaudah makan"


Dengan di rangkul oleh orang tua kekasihnya Adara melangkahkan kakinya dan pergi ke dapur bersama dengan Devano juga lalu duduk di ruang makan. Baru ingin membantu Fahisa langsung melarang dan dia yang menyiapkan semua hidangan di meja.


Sungguh Adara merasa sangat merepotkan, tapi dia juga tidak bisa memberikan penolakan. Tak hanya menyiapkan Fahisa juga mengambil kan makanan ke piring Adara dan Devano.


"Ayo makan ini Mommy masaknya tadi." Kata Fahisa


Mengangguk patuh Adara mulai menyantap makan siangnya tanpa banyak bicara, dia sungguh beruntung.


Rasanya seperti memiliki keluarga yang baru dan utuh.


°°°


Pukul lima sore hanya ada Adara bersama dengan Devano di rumah kalau Fahisa dia sudah di jemput oleh Pak Hadi tadi karena ada keperluan mendesak bersama sang suami. Saat ini Adara duduk diam sambil menatap Devano yang sedang memangku gitar miliknya dan bersenandung pelan untuknya.


Memang Devano pernah membawa gitar ke rumahnya dan meninggalkan benda itu disana katanya agar ketika dia ingin bermain gitar mudah. Rasanya Adara tidak pernah bosan mendengar kekasihnya itu bernyanyi dengan suara merdunya, bisa di bilang dia kecanduan.


Apalagi setiap kali bernyanyi Devano selalu menatap matanya dengan dalam.


"Udah ah capek"


Adara hanya bisa tersenyum kala Devano mengatakan hal itu sambil menaruh gitar nya di samping.


"Aku selalu suka Van dengerin kamu nyanyi." Kata Adara


"Aku juga suka kalau kamu suka dengerin aku nyanyi." Kata Devano dengan senyuman


"Suka bangett kamu suaranya bagus." Kata Adara


"Memang"


Adara tersenyum lalu mendekat pada Devano dan memeluknya dari samping.


"Hmm"


"Aku seneng deh karena Mami Fahisa perhatian banget." Kata Adara


"Iyalah sama calon menantunya harus perhatian." Kata Devano


"Tapi, kadang aku masih suka takut sama Daddy kamu Van." Kata Adara


"Daddy? Kenapa?" Tanya Devano dengan alis bertaut


"Gak tau takut aja." Kata Adara


"Daddy baik kok Ra jangan takut, kamu belum liat aja kalau dia lagi sama Devina atau Kak Ara gak ada serem-serem atau seriusnya." Kata Devano


"Iya Van"


"Kamu udah gak panas lagi." Kata Devano


"Iya aku udah baikan karena minum obat yang kamu kasih, makasih Van." Kata Adara senang


"Gak perlu bilang makasih sayang." Kata Devano


"Perlu"


"Yaudah sama-sama Adara sayang." Kata Devano


Adara tersenyum senang sambil mengeratkan pelukannya membuat Devano ikut tersenyum seraya mengusap lembut kepalanya.


"Kamu kenapa gak mau nikah sekarang Ra?" Tanya Devano


Ah sepertinya mereka akan terlibat percakapan yang serius.


"Aku belum siap Van dan aku takut... Aku takut nantinya aku gak akan bisa jadi pasangan yang baik untuk kamu atau aku gak bisa jadi menantu yang baik untuk orang tua kamu." Kata Adara


"Kenapa mikirnya kayak gitu?" Tanya Devano


"Gak tau Van, tapi aku selalu mikir kesana dan kalau boleh jujur aku sering banget mikirin itu apalagi kalau kamu habis nanya masalah nikah, aku bukan gak mau aku cuman belum siap." Kata Adara


Devano tersenyum dia melepaskan pelukan Adara lalu menatap kekasihnya itu dengan senyuman dan mengusap pipinya.


"Maaf kalau pertanyaan itu mengganggu kamu, tapi jangan khawatir aku akan selalu nunggu sampai kamu siap"


Sungguh Adara sangat mencintai Devano.


Tersenyum manis Adara mendekatkan wajahnya lalu memberikan ciuman singkat di bibir kekasihnya.


"Kalau Daddy lihat dia bisa suruh aku nikahin kamu sekarang." Kata Devano dengan senyuman di wajahnya


"Vannn"


"Bener Ra, kamu tau gak? Devina disuruh nikah itu karena Daddy lihat dia sama Ziko ciuman." Kata Devano


"Beneran?"


"Iya mana waktu di marahin Devina bilang kalau aku juga pernah ciuman sama kamu, kata Devina biar dia gak dimarahin sendirian." Kata Devano


Mata Adara membulat pipinya mulai memerah ketika mendengar cerita yang Devano katakan.


Habis dia, mana berani dia menampakkan wajah di depan Daffa nantinya.


"Ih Van makin gak berani aku sama Daddy kamu"


°°°°


Vano datangggg😘