
Saling menatap dengan wajah bingung Fahisa merasa ada yang tidak beres dengan mereka berdua apalagi anaknya juga terlihat kebingungan dan ditambah lagi sejak kemarin Devina terlihat tidak bersemangat, mungkin ada alasan lainnya juga. Sedangkan Ziko yang ditatap seperti itu jadi malu sendiri dan merutuk dalam hati karena salah faham, tapi tidak masalah setidaknya dia bisa bertemu Devina.
Di sisi lain Devina yang masih merasa bingung hanya diam dan jantungnya juga berdetak dengan sangat cepat ketika matanya bertemu dengan manik mata Ziko. Sudah lebih dari dua hari mereka tidak bertemu dan sekarang ketika saling bertatapan Devina merasa gugup.
Cukup lama terdiam akhirnya Ziko mulai membuka suara dan menyapa Fahisa lalu mencium punggung tangannya dengan sopan.
"Pagi Tante"
Mengangguk singkat Fahisa masih menatapnya dengan bingung lalu menatap Devina juga yang tidak mengatakan apapun.
"Kamu kenapa bisa ada disini? Kamu lagi nganterin seseorang?" Tanya Fahisa
Menggaruk tengkuknya uang tidak gatal sama sekali Ziko menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya kira Vina mau pergi makanya..."
"Loh kok kamu ngiranya kayak gitu? Memang Vina bilang apa?" Tanya Fahisa sambil menatap keduanya bergantian
Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia tidak mengatakan apapun.
"Vina enggak bilang apa-apa." Kata Devina
Menghela nafasnya pelan Fahisa menatap keduanya bergantian, kelihatan sekali kalau mereka berdua sedang ada masalah.
"Kamu mau bicara sama Devina?" Tanya Fahisa pada Ziko
Ziko langsung menganggukkan kepalanya sejak kemarin dia memang menginginkan hal itu.
"Boleh Tante?" Tanya Ziko
"Boleh, tapi nanti langsung diantar pulang ya?" Kata Fahisa yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Ziko
"Baik Tante"
"Lain kali kamu jangan kabur dari sekolah kayak gini nanti orang tua kamu bisa marah." Kata Fahisa membuat Ziko terdiam dan mengangguk patuh
Tersenyum singkat Fahisa berjalan ke arah Devina dan membuat gadis itu mendongak untuk menatapnya.
"Mommy pulang sama Pak Hadi ya? Nanti kalau udah selesai langsung pulang jangan kemana-mana." Kata Fahisa
Dia percaya pada Ziko makanya Fahisa akan membiarkan mereka berdua bicara dan menyelesaikan masalahnya.
"Iya Mom"
Setelah itu Fahisa berlalu pergi dan meninggalkan keduanya yang tetap tidak saling bicara meskipun langkah kaki Fahisa telah menjauh. Entah berapa lama, tapi cukup lama sampai Ziko kembali menatap Devina dan mengeluarkan suaranya.
Mendengar suara itu Devina mendongak untuk menatapnya, tanpa senyuman yang menghiasi wajahnya. Sekarang Devina sedang berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan.
Dia ingin pergi saja.
'Coba omongin baik-baik dulu, kamu sama Ziko mungkin cuman sama-sama salah faham'
Tapi, perkataan Devano membuatnya diam dan benar dia harus bicara untuk menyelesaikan semuanya.
Berdiam diri tentu saja bukan solusinya.
"Vina"
"Emm"
"Ayo"
Ziko mengulurkan tangannya, tapi Devina enggan untuk menyambutnya dan terus berjalan tanpa mengatakan apapun membuat Ziko menghela nafasnya pelan. Tanpa protes atau apapun itu Ziko mengikuti langkah kaki Devina dan mereka sama-sama pergi ke parkiran.
Beruntung tadi pagi dia pergi ke sekolah dengan mobil karena motornya sedang ada di bengkel dan keberuntungan lainnya dia memakai jaket sehingga baju sekolahnya tidak terlalu terlihat.
Selama perjalanan menuju parkiran Ziko memperhatikan Devina yang sama sekali tidak mau melihat ke arahnya, pasti gadis itu kecewa sekali dengannya. Sampai di area parkiran Ziko menggenggam tangan Devina dan membawanya ke tempat dimana mobilnya di parkir.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil Ziko tak langsung pergi, tapi dia lebih dulu menatap Devina yang sekarang mengalihkan pandangannya. Helaan nafas terdengar bersamaan dengan Ziko yang meraih tangan Devina, tapi gadis itu langsung menarik tangannya.
"Vina"
"Cepetan jalan!" Kata Devina singkat
Tak mau membuat Devina marah akhirnya Ziko melajukan mobilnya dan dia akan mengajak Devina ke rumahnya saja. Orang tuanya sedang bekerja, tapi rumahnya tidak kosong karena ada beberapa pekerja disana.
Selama perjalanan Devina tidak mengeluarkan sepatah katapun dan Ziko juga tidak memaksanya untuk bicara.
"Mau kemana?" Tanya Devina
Astaga Ziko sangat merindukan suara lembut kekasihnya.
"Rumah aku"
Jawaban itu langsung membuat Devina menatapnya.
"Ngapain? Nanti ada orang tua kamu terus kamu dimarahin, ke tempat lain aja." Kata Devina membuat Ziko tersenyum mendengarnya
"Ke rumah aja." Kata Ziki sambil tersenyum manis
"Tapi, nanti...."
"Orang tua aku lagi kerja, tapi rumahnya gak kosong kok jangan takut." Kata Ziko
Menghela nafasnya pelan Devina hanya bergumam sebagai jawaban lalu mengeluarkan ponselnya yang berdering. Ternyata dari Mona yang baru saja mengirim pesan untuknya.
^^^Udah baikan belumm sayangkuu?^^^
Tertawa kecil Devina mengetikkan balasan dan membuat Ziko sesekali meliriknya, penasaran dengan apa yang bisa membuat gadis itu tertawa.
Belum, aku gak mau baikannn!
"Siapa Vin?" Tanya Ziko
Devina mendongak dan menatapnya sebentar lalu menjawab dengan acuh.
"Temen"
"Iya, temen siapa Vin?" Tanya Ziko
"Ya temen aku lah." Kata Devina ketus
Baiklah Ziko tidak akan bertanya sebelum mereka berbaikan.
Menempuh perjalanan selama lebih dari setengah jam kini mobil Ziko terparkir di halaman rumahnya dan dia langsung mengajak Devina untuk turun. Memasuki rumah Ziko langsung mengajak Devina untuk duduk di ruang tamu lalu pergi ke dapur untuk mengambilkan minum, dia membiarkan pintu utama terbuka dengan lebar.
Kembali dengan minuman yang dia bawa Ziko mendudukkan dirinya disamping Devina dan menatap gadis itu yang kembali sibuk dengan ponselnya. Awalnya Ziko tidak melakukan apapun hanya menatap Devina dalam diam, tapi setiap mendengar tawa kecilnya ketika mengetikkan sesuatu disana Ziko merasa kesal.
"Devina"
"Emm"
"Vin aku mau ngomong." Kata Ziko
"Ngomong aja." Kata Devina cuek
Menghela nafasnya pelan dengan hati-hati Ziko mengambil ponsel milik Devina dan membuat gadis itu langsung menatapnya tidak suka bahkan Ziko sedikit terkejut dengan ekspresi wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Devina
Sebenarnya sejak tadi dia memegang ponsel karena merasa gugup dan dia dia sedang berbalas pesan dengan Kakaknya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Aku mau ngomong Vin." Kata Ziko pelan
"Yaudah ngomong aku bakal dengerin." Kata Devina
"Jangan main hp dengerin aku dulu, kamu jangan...."
"Jangan apa? Jangan egois? Jangan kekanakan iya?!" Tanya Devina kesal
Ziko menghela nafasnya pelan, sepertinya butuh waktu untuk bicara tentang semuanya.
"Vina"
"Kamu jahat Ziko! Memang aku egois dan kekanakan iya? Kalau memang kayak gitu kenapa kamu gak putusin aku aja? Mending kita pu..."
Dengan cepat Ziko langsung memotong ucapan itu sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau putus dari Devina.
"Vina dengerin aku dulu, aku gak pernah bilang kalau kamu itu egois dan kekanakan, pesan itu bukan aku yang kirim." Kata Ziko berusaha menjelaskan dari awal
"Bohong!"
"Bener Vina, ini lihat di hp aku sama sekali gak ada pesan itu makanya aku gak tau apa-apa dan kamu gak egois sayang apalagi kekanakan, enggak sama sekali." Kata Ziko sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Devina
Mengambil ponsel itu Devina membaca pesan ketika Ziko mengirim banyak sekali pesan permintaan maaf dan pesan itu memang tidak ada disana.
"Pesan itu... Adyra yang kirim waktu itu aku lagi ke toilet dan hp aku dia yang pegang..."
Perkataan itu membuat Devina kembali kesal, dia jadi mengingat hari dimana Ziko jalan bersama dengan Adyra.
"Vina aku minta maaf sekarang kamu boleh pukul aku, tapi jangan tinggalin aku apalagi minta putus." Kata Ziko
Devina mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia kesal dan sekarang dadanya terasa sakit.
"Aku sama Adyra gak ada apa-apa dan kalau perlu kamu boleh hapus nomor dia atau blokir dari hp aku." Kata Ziko lagi
Tetap tidak ada jawaban dari Devina.
"Maaf Vin aku tau aku salah karena marah tanpa alasan lalu pergi sama Adyra dan buat kita jadi kayak gini, maaf." Kata Ziko
Karena tidak kunjung mendapat jawaban Ziko mendekat dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Meskipun menolak pada awalnya, tapi Devina diam setelah dia berada di dalam pelukan kekasihnya.
Memejamkan matanya sebentar Devina benar-benar merindukan Ziko, tapi dia masih kesal.
"Aku minta maaf"
Cukup lama mereka berpelukan sampai akhirnya Ziko melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Devina dan menatapnya.
"Maafin Ziko"
Melepaskan kedua tangan Ziko dari wajahnya Devina dapat melihat raut wajah kecewa disana.
"Vina"
"Aku mau pulang." Kata Devina
"Vin please, kita selesain ini semua ya? Aku gak mau diem-dieman terus sama kamu, aku kangen Vin." Kata Ziko
"Mau kamu apa memangnya?" Tanya Devina
"Aku mau kita baikan, jangan cuekin aku dan aku minta maaf." Kata Ziko
Menghela nafasnya pelan Devina bingung harus mengatakan apa.
"Aku kira kamu mau pu..."
"Aku gak pernah mau hal itu Vin sampai kapanpun!" Kata Ziko dengan penuh penekanan
"Aku boleh pukul kamu?" Tanya Devina
"Boleh asal kamu maafin aku." Kata Ziko
Devina mengangguk singkat lalu memukul lengan pria itu berkali-kali, tapi pelan sekali bahkan Ziko tidak merasa sakit sama sekali.
"Cubit boleh?" Tanya Devina lucu
"Boleh"
"Jaketnya bukaa dulu kan mau cubit tangannya." Kata Devina
Tertawa kecil Ziko membuka jaketnya lalu Devina mencubit lengannya cukup kuat, lumayan sakit. Tadinya Ziko fikir sudah selesai, tapi ternyata belum Devina sekarang mencubit kedua pipinya dengan kuat.
Setelah merasa puas Devina melepaskan tangannya dan menatap Ziko yang juga menatapnya dengan senyumam manis. Tangan pria itu terulur untuk menyampirkan helaian rambut Devina ke belakang telinganya.
"Maaf"
"Jangan kayak gitu lagi." Kata Devina
"Gak akan"
Kembali menyerahkan ponselnya Ziko meminta Devina untuk melakukan apapun yang dia mau.
"Kamu boleh hapus semua kontak cewek di hp aku atau blokir juga enggak papa." Kata Ziko
Devina menggelengkan kepalanya pelan dan menyerahkan ponsel itu kepada Ziko lagi.
"Enggak usah"
"Gak papa Vina." Kata Ziko
Sekali lagi Devina menggelengkan kepalanya dan menatap Ziko yang tengah menatapnya juga dengan senyuman.
"Udah dimaafin kan?" Tanya Ziko
"Udah"
"Aku janji gak bakal kayak gitu lagi." Kata Ziko membuat Devina tersenyum mendengarnya
"Emm pelukk?"
Tertawa kecil Ziko langsung membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Beruntung sekali dia memiliki kekasih seperti Devina.
"Mona jahat banget dia bilang kamu mau ke Bali." Kata Ziko
"Tadinya memang mau ikut, tapi gak boleh sama Daddy." Kata Devina
"Aku chat Devano, tapi gak ada di balas sama dia." Kata Ziko membuat Devina menjauhkan tubuhnya
"Beneran?"
Ziko mengangguk sebagai jawaban lalu memberikan ponselnya pada Devina dan gadis itu langsung melihat chat pria itu dengan kembarannya.
Benar ada banyak sekali pesan yang Ziko kirimkan dan hanya dibaca oleh kembarannya.
"Ziko"
"Iya sayang"
"Ayo jalan-jalan." Ajak Devina
Dia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Ziko.
"Kemana?"
"Pantai"
Devina selalu ingin kesana bersama kekasihnya.
¤¤¤
Birunya air laut ditambah dengan suara debur ombak merupakan hal yang sangat Devina sukai kalau Devano tau pria itu mungkin akan marah karena dia tidak pernah diizinkan pergi ke pantai. Kata Devano pantai itu anginnya cukup kencang dan Devina bisa sakit kalau kesana, padahal dia suka dan sekarang dia berhasil pergi kesini bersama dengan kekasihnya.
Mereka berdua tidak melakukan apapun hanya duduk di bawah pohon sambil memakan ice cream. Tadinya Devina ingin duduk di atas pasir pantai atau berjalan di tepi sana sambil menikmati air laut yang mengenai kakinya, tapi karena hari semakin siang cuaca jadi panas sekali.
Tapi, bukan masalah besar hal ini saja sudah membuatnya senang.
"Vina"
"Emm"
"Kamu kangen aku gak?" Tanya Ziko membuat Devina menoleh dan menatapnya sebentar
Dengan senyum yang mengembang sempurna Devina menganggukkan kepalanya.
"Kangen, tapi kesel juga sama kamu." Kata Devina
"Sekarang masih kesel?" Tanya Ziko lagi
Devina menggelengkan kepalanya.
"Enggak kan udah diajak kesini terus dibeliin ice cream." Kata Devina
Tertawa kecil Ziko menatap Devina yang memang terlihat sangat senang sejak mereka berdua sampai.
"Suka gak di ajak kesini?" Tanya Ziko
"Sukaaa bangettt"
Astaga Devina menggemaskan sekali.
Ziko berjanji dia tidak akan pernah menyakiti apalagi meninggalkan Devina seumur hidupnya.
Dia ingin Devina menjadi cinta pertama dan terakhir untuknya.
Mengeluarkan ponselnya Ziko meminta Devina untuk tersenyum dan gadis itu tersenyum dengan begitu lebar.
Devina memang tempat dimana kebahagiaannya berada.
¤¤¤
Siapa nih yang seneng mereka baikannnn???