My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (15)



Adara tersentak ketika tangannya tiba-tiba di tarik dan tubuhnya terhuyung ke belakang, tapi ketika sadar bahwa orang itu adalah Devano dia diam apalagi melihat wajah kekasihnya yang tidak bersahabat. Tadi Adara sedang mengobrol bersama dengan Raffa sampai akhirnya Devano datang dan sepertinya pria itu marah.


Tidak ada perlawanan sama sekali ketika Devano membawa Adara ke area parkiran dan tanpa mengatakan apapun Adara juga langsung masuk ke dalam mobil bersama dengan Devano. Melirik sebentar ke arah kekasihnya Adara dapat melihat Devano yang diam dengan raut wajah tanpa ekspresi dan melakukan mobilnya.


Adara tidak mau membuat keributan makanya dia hanya diam dan membiarkan saja Devano akan membawa dia kemana, tapi jujur Adara tidak melakukan apapun dia hanya berbincang saja dengan Raffa tadi. Ternyata Devano membawa dia ke rumah dan sekali lagi Adara hanya mengikuti pria itu hingga masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu.


Kali ini mata Devano menatapnya dan Adara juga melakukan hal yang sama.


"Aku udah bilang kalau aku gak suka lihat kamu dekat sama cowok tadi kan?" Kata Devano tanpa basa basi


"Van aku sama dia cuman ngobrol aja kok gak lebih." Kata Adara berusaha menenangkan Devano


"Lalu? Aku gak peduli karena aku udah bilang kalau aku gak suka lihat kamu dekat sama dia." Kata Devano dengan penuh penekanan


"Kenapa?"


"Dia suka sama kamu dan dia coba deketin kamu." Kata Devano yakin


"Enggak gitu Van." Kata Adara


"Dia suka sama kamu." Kata Devano dengan raut wajah serius


"Yaudah maaf." Kata Adara tidak mau memperpanjang masalah


"Kedepannya jangan gitu lagi, jaga jarak sama dia." Kata Devano


"Iya Van"


"Kamu sendiri yang bilang dia sering chat bahkan nelpon kamu kan? Udah jelas kalau dia suka sama kamu." Kata Devano


"Iya maaf aku bakal jaga jarak sama dia setelah ini." Kata Adara


Devano tersenyum dia mendekat pada Adara lalu mengusap pelan kepalanya.


"Ra"


Suara Devano berubah lembut dan entah kenapa itu membuat Adara takut sendiri.


"Iya"


"Kamu...."


Devano tidak melanjutkan ucapannya dan hal itu semakin membuat perasaan Adara tidak karuan.


"Aku kenapa Van?" Tanya Adara


"Enggak"


Devano tersenyum tipis dan memainkan rambutnya dengan mata yang terus menatapnya.


"Van, kenapa?" Tanya Adara


"Kamu bilang kamu takut aku pergi dari hidup kamu kan?" Kata Devano


Adara mengangguk kaku dia takut sekarang, apa Devano berniat pergi?


"Kalau aku pergi gimana Ra? Aku gak bisa terus berjuang dan menunggu kamu." Kata Devano


Perkataan itu sukses membuat Adara terdiam rasanya begitu sesak apalagi melihat Devano yang menatapnya dengan senyuman tipis.


Apa pria itu sudah lelah dengannya?


Apa Devano benar-benar akan pergi darinya?


Apa Devano sudah menemukan wanita lain yang lebih baik darinya?


"Kamu bicara apa Van?" Kata Adara pelan


"Ra kamu tau kan aku udah berkali-kali bilang sayang sama kamu dan minta kamu untuk jadi milik aku seutuhnya, lihat kita bahkan udah tunangan." Kata Devano sambil meraih tangan Adara dan mengusap pelan jari manis yang melingkar cincin pertunangan mereka


"Iya Van"


"Kita udah tunangan, tapi kamu selalu tanya apa aku udah yakin? Kamu selalu bilang ada banyak wanita lain yang lebih pantas untuk aku." Kata Devano


Adara diam keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, dia takut Devano pergi menjauh.


"Kamu mau aku beneran pergi? Kamu mau kita beneran berakhir?" Tanya Devano


Dengan cepat Adara menggelengkan kepalanya, dia tidak mau hal mengerikan itu sampai terjadi.


"Enggak Van jangan." Kata Adara


"Ra"


Devano tersenyum dia mengusap sayang pipi Adara membuat gadisnya itu semakin takut.


"Aku bilang kayak gini bukan karena aku mau nyerah, tapi supaya kamu tau kalau aku juga bisa lelah dengan semuanya." Kata Devano


"Van maaf"


"Aku bisa berjuang untuk kamu dan aku bisa nunggu kamu selama apapun itu, tapi aku gak bisa berjuang untuk orang yang selalu ragu sama perasaan aku," Kata Devano.


Mata pria itu menatap lurus kepada Adara yang di pelupuk matanya sudah menggenang air mata.


"Aku gak bisa menunggu untuk seseorang yang selalu mengatakan bahwa ada banyak wanita yang lebih pantas untuk bersanding sama aku." Kata Devano


Tangan Devano dengan cepat menghapus setetes air mata yang jatuh di mata indah gadisnya.


"Kamu selalu bilang supaya aku gak pergi ninggalin kamu, tapi kamu tanpa sadar meminta aku untuk menjauh." Kata Devano


"Enggak Van." Kata Adara pelan


"Sekarang aku mau tanya, kamu mau aku pergi atau enggak? Kamu mau aku berhenti atau enggak?" Tanya Devano


Adara dengan cepat menggelengkan kepalanya hingga membuat air matanya jatuh lagi.


"Jangan nangis, aku udah bilang kalau aku bilang kayak gini bukan berarti aku bakal pergi." Kata Devano sambil menghapus air mata Adara dengan sayang


Terisak pelan Adara mendekat dan memeluk Devano dengan sangat erat.


"Aku gak mau kamu pergi Van cuman kamu yang aku punya selain Ayah." Kata Adara


Devano tersenyum dan dengan sedikit paksaan dia menjauhkan tubuh Adara lalu menangkup wajahnya.


"Aku gak akan pergi asal kamu mau janji sama aku." Kata Devano


"Apa? Aku bakal lakuin apapun." Kata Adara


"Jangan pernah meragukan perasaan aku lagi dan jangan pernah bilang atau berfikir bahwa ada banyak wanita lain yang lebih pantas dari kamu untuk aku." Kata Devano


"Janji"


"Kalau kata Devina pinky promise dulu." Kata Devano sambil mengangkat jari kelingkingnya


Menuruti keinginannya Adara menautkan jari kelingkingnya disana dan dia tersenyum ketika Devano mengusap sayang pipinya.


Mungkin hanya dengan cara tadi Devano bisa menghentikan Adara berfikir hal yang tidak masuk akal.


°°°°


Updateee duluuuu🥰