My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (61)



Devina sedang meminum boba yang Devano belikan sambil menonton tv ketika dia merasakan seseorang duduk disampingnya dan ketika menoleh ternyata itu Daddy nya yang sekarang tersenyum padanya. Tangan Daffa terulur untuk mengusap kepala anaknya membuat Devina ikut tersenyum lalu menyandarkan kepala di bahunya.


Sama sekali tidak ada pembicaraan Devina tetap fokus pada layar tv yang sedang memutar film juga boba yang masih setengah lagi. Sedangkan Daffa dia hanya diam sambil memainkan rambut anaknya yang sekarang sudah kembali panjang.


"Vina nanti malam mau temani Daddy?" Tanya Daffa


"Kemana?" Tanya Devina sambil menatap Daddy nya dengan alis bertaut


"Ada acara makan malam dengan rekan bisnis Daddy, tapi Mommy tidak bisa ikut karena harus ke rumah Kak Ara dan Vano akan mengantar Mommy kesana karena Pak Hadi pulang ke kampung untuk dua hari." Kata Daffa


"Emm boleh Vina enggak sibuk dan enggak ada tugas yang harus dikerjaiin kok, tapi gak lama kan Daddy?" Tanya Devina


"Enggak sayang hanya sebentar." Kata Daffa


"Jam berapa?" Tanya Devina


"Jam setengah delapan." Kata Daffa


"Oke nanti Vina siap-siap." Kata Devina


Daffa tersenyum lalu mencubit gemas pipi anaknya dan bersamaan dengan itu juga Fahisa datang menghampiri keduanya. Duduk disamping anaknya Fahisa tersenyum ketika melihat Devina yang terlihat begitu manja dengan Daddy nya anak itu tidak pernah berubah sejak masih kecil


Bukan hanya dimanja orang tua, tapi Devina juga dimanja oleh Sahara serta keluarga Wijaya. Tidak ada yang tidak menyayangi Devina mereka menyayangi Devina sama seperti Sahara.


Sekalipun Devina tidak pernah dimarah atau dibentak makanya setiap kali mendapat bentakan Devina akan takut dan ingin menangis, dia biasa diperlakukan dengan lembut.


"Mommy nanti malam mau ke rumah Kak Ara?" Tanya Devina


"Iya, kamu gak masalah kan temani Daddy?" Kata Fahisa


Devina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Enggak papa hari ini Daddy udah beliin Vina banyak banget, jadi Vina bakal nurut dan ikut Daddy." Kata Devina


Fahisa tersenyum dan mengacak pelan rambut anaknya.


"Itu es lagi? Vina kenapa minum es lagi?" Tanya Fahisa ketika melihat apa yang sedang anaknya minum


"Ini Vano beliin." Kata Devina


"Jangan minum es terus ah nanti batuk." Kata Fahisa


"Iya Mommy janji besok-besok gak lagi." Kata Devina


"Bener ya?" Kata Fahisa


Devina hanya menganggukkan kepalanya dan sejak tadi Daffa terus memperhatikan keduanya. Sungguh wajah Devina begitu mirip dengan istrinya, jika sikap Devina menurun dari Sahara maka wajahnya itu adalah duplikat Fahisa.


"Kalian mirip sekali." Kata Daffa membuat kedua orang itu menatapnya


Fahisa tertawa kecil dan merangkul anaknya.


"Dia kan anak aku Mas mirip lah." Kata Fahisa


"Iya Vina kan anaknya Mommy." Kata Devina sambil memeluk Fahisa dengan erat


"Kamu ini manjanya seperti Sahara, tapi wajahnya duplikat Mommy sekali." Kata Daffa lagi


"Katanya Daddy suka kalau Vina manja." Kata Devina


"Iya Daddy suka." Kata Daffa


"Sayang dari dulu Daddy kamu itu suka banget kalau anak-anaknya manja sama dia apalagi waktu masih kecil dia paling suka kalau kalian udah minta gendong." Kata Fahisa


Daffa hanya tersenyum mendengar perkataan istrinya memang benar dia paling suka ketika anak-anaknya meminta untuk digendong dengan memasang wajah lugu juga menggemaskan.


'Daddy gendong'


'Daddy mau gendong'


'Daddy enggak kelihatan, gendong'


Sayang sekali sekarang anak-anaknya sudah beranjak dewasa, tapi bukan masalah besar karena dia memiliki cucu dari Sahara.


"Em Mommy Daddy aku mau ke kamar ya? Mau telpon Ziko." Kata Devina


"Iya sayang sebentar lagi Mommy berangkat sama Vano." Kata Fahisa


"Kenapa berangkatnya sekarang?" Tanya Devina


"Kakak kamu telpon Mommy terus." Kekeh Fahisa


Devina mengangguk faham lalu memeluk kedua orang tuanya bergantian dan berlari kecil ke kamarnya. Masuk ke dalam kamar Devina langsung merebahkan dirinya di atas ranjang dan mengambil ponsel miliknya lalu menelpon sang kekasih.


Menunggu panggilannya di angkat Devina berguling ke samping sambil mengetuk-ngetuk ponselnya hingga suara kekasihnya terdengar dan membuat dia langsung duduk lalu menyapa Ziko dengan riang.


"Ziko"


'Iya Vin, udah bener hp nya?'


"Udah Daddy beliin yang baru untuk Vina." Kata Devina


'Kesayangannya Daddy ya minta apa aja dibeliin'


Devina tertawa kecil ketika mendengarnya, tapi memang benar perkataan kekasihnya barusan.


"Ziko dimanaa?" Tanya Devina


'Baru aja sampai rumah Vin'


"Belum mandi dong?" Kata Devina lagi


'Belum sayang ini aja baru sampai di kamar'


"Hm Ziko nanti malam aku enggak telpon ya? Daddy minta Vina temani untuk makan malam sama rekan bisnisnya soalnya Mommy gak bisa ikut." Kata Devina


'Iya Vin'


"Kalau gitu telponnya sekarang aja ya?" Pinta Devina


'Iya sayang, gimana tadi kuliahnya?'


'Diganti hari?'


"Heem yang satu diganti besok terus satu lagi cuman kasih tugas aja kalau Ziko gimana?" Tanya Devina


'Biasa aja Vin semua dosen aku masuk dan kasih tugas lagi'


"Kasiann"


'Semangatin dong'


"Hehe iya semangat kuliahnya Ziko sayang biar cepet lulus katanya mau nikahin Vina." Kata Devina


Disebrang sana Ziko terdiam hatinya berbunga-bunga mendengar perkataan Devina.


'Abis wisuda aku langsung nikahin kamu nanti ya?'


"Ish gak sabaran." Kekeh Devina


'Memang, kira-kira kalau nanti kita nikah gimana ya?'


"Emm gak tau." Kata Devina


'Vin jangan pernah tinggalin aku ya? Aku gak mau kamu pergi'


"Memang siapa yang mau ninggalin Ziko? Aku gak mau pergi maunya sama Ziko terus." Kata Devina


'Aku juga sayang'


"Udah lama juga ya kita pacaran." Kata Devina


'Hm sebentar lagi satu tahun'


"Ziko ada harapan untuk satu tahun kita pacaran nanti?" Tanya Devina


'Harapan aku hanya satu, bisa sama kamu selamanya'


"Emm kalau gitu sama harapan Vina juga gitu, tapi ada tambahannya." Kata Devina


'Tambahan apa?'


"Tambahannya Vina harap gak bakal ada lagi yang ganggu hubungan kita, jadi Vina sama Ziko bisa hidup sama-sama dan selalu bahagia." Kata Devina


'Aku tambahin juga ke harapan yang aku punya'


"Ish ikut-ikutan." Kata Devina


'Vin aku mau mandi dulu ya? Nanti aku telpon lagi'


"Iyaa"


'Aku sayang kamu Vin'


"Aku juga sayang Ziko." Kata Devina


Setelah itu Devina mematikan telponnya dan membiarkan Ziko untuk mandi terlebih dahulu karena kekasihnya itu memang baru pulang kuliah. Tersenyum senang Devina menatap foto yang menjadi walpaper di ponselnya dan mengusapnya pelan.


Dia sayang sekali sama Ziko.


¤¤¤


Pukul tujuh malam Devina sudah siap dengan memakai dress berwana coklat dengan rambut yang dia biarkan tergerai lalu memakai hiasan rambut sederhana yang membuatnya terlihat cantik. Selain itu Devina juga memakai make up tipis karena dia sudah kuliah, jadi tidak ada masalah dan Daffa juga tidak marah ketika melihatnya tadi.


Sekarang keduanya sudah dalam perjalanan dan Devina hanya diam selama perjalanan sambil menatap lurus ke depan. Tadi dia mengirim foto kepada kekasihnya, tapi Ziko belum membalas karena katanya dia ingin ke tongkrongan bersama dengan Gio.


Sekitar dua puluh menit perjalanan akhirnya mobil Daffa terparkir di salah satu restoran mewah dan Daffa langsung membuka pintu mobil untuk anaknya, tidak lupa dia juga menggenggam tangan anak perempuannya dengan sayang. Masuk ke dalam Daffa mengedarkan pandangannya lalu tersenyum singkat ketika menemukan orang yang dia cari.


Berjalan mendekat Daffa menyapanya dengan ramah sambil berjabat tangan dan Devina mencium punggung tangan kedua orang yang seumuran dengan orang tuanya itu dengan sopan. Setelahnya mereka duduk dan memesan lalu sambil menunggu pesanan Daffa mengobrol.


"Mirip sekali sama Fahisa." Kata pria yang tadi Daddy nya panggil dengan nama Dean


"Hm mereka memang mirip sekali." Kata Daffa sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang


"Dia benar-benar duplikatnya Fahisa kamu masih SMA sayang?" Tanya Istri dari Dean yang bernama Julia


"Bukan Tante aku sudah kuliah baru semester satu." Kata Devina


"Ya ampun kamu bahkan masih cocok untuk jadi anak yang baru masuk SMA." Kekeh Julia


Devina hanya tersenyum menanggapinya, dia bingung harus bersikap bagaimana karena tidak kenal dengan mereka.


"Aku terakhir melihatnya ketika maisih berusia delapan bulan, benarkan sayang?" Tanya Julia pada suaminya


"Iya setelah itu kita tidak pernah bertemu mereka berdua lagi, bagaimana dengan Vano?" Tanya Dean


"Vano baik dia kuliah di tempat yang sama dengan Vina hanya beda jurusan saja." Kata Daffa


"Dia masih sing..."


"Sudah tunangan." Kata Daffa ketika tau arah pembicaraan keduanya


"Tunangan?"


"Iya, maaf tidak mengundang kalian karena hanya pertunangan biasa bersama keluarga serta teman-teman anakku." Kata Daffa


"Aku mengerti Daf santai saja." Kata Dean sambil tertawa kecil


Setelah itu percakapan hanya didominasi oleh Daffa dan temannya sedangkan Devina hanya menjawab saja ketika mereka bertanya. Semua terlihat biasa hingga ponsel Devina yang di meja menyala dan ketika meliriknya Devina melihat pesan yang ada disana.


Merasa penasaran Devina membuka pesannya lalu terdiam sejenak ketika melihatnya.


Apa maksudnya mengirim pesan begitu padanya?!


Devina kesal sekali sekarang!


¤¤¤


Hmm kenapa itu Vina kesalll😌