My Possessive Twins

My Possessive Twins
ENDING



Si kembar duduk bersama dengan Fahisa juga Daffa di depan ruang persalinan. Sejak pagi Adara sudah pergi ke rumah sakit dan sekitar pukul sepuluh proses persalinan baru dimulai.


Kedua anak itu terlihat sedih sambil menatap ke arah pintu yang tertutup dengan rapat.


Daffa dan Fahisa dengan setia menemani kedua cucunya itu sambil terus berdoa agar proses persalinan berjalan dengan lancar. Mereka juga tidak sabar menanti kelahiran si kembar yang akan membuat rumah mereka semakin ramai.


Menit demi menit berlalu pintu ruangan masih tertutup dengan rapat belum ada tanda akan terbuka.


Hingga pintu ruangan benar-benar terbuka dan membuat mereka langsung berdiri.


Devano keluar dari dalam ruangan dengan wajah penuh kebahagiaan. Ada senyuman yang begitu lebar menghiasi wajah tampannya.


"Mommyyy"


Pria itu berlari menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk mereka dengan erat. Sangking bahagianya Devano sampai menitikkan setetes air mata.


Setelah puas Devano melepaskan pelukannya. Dia menunduk dan menciumi kedua anaknya bergantian.


"Mana adik aku Papa? Mau lihat mau lihattt." Kata kedua anak itu dengan penuh semangat.


"Devano bagaimana? Semua berjalan dengan lancar kan? Adara baik-baik saja kan? Lalu anak kalian? Baby twins juga baik kan?" Tanya Fahisa tidak sabaran.


Devano tersenyum, "Semua berjalan dengan lancar Mommy. Anak kami sudah lahir keduanya perempuan dan keadaan Adara cukup baik dia akan segera dipindahkan ke ruangan."


Kedua orang tua Devano langsung mengucap syukur karena merasa lega mendengar kabar itu.


"Daddy akan segera kabari Vina." Kata Daffa.


"Iya Dad"


"Mana? Aku mau lihat adik akuuu." Nadhin menarik-narik baju Devano agar Papanya itu mau menatapnya.


"Iya nanti ya sayang." Kata Devano dengan penuh perhatian.


Dia menunduk dan mensejajarkan tingginya dengan kedua anaknya. Kemudian membawa keduanya ke dalam dekapannya.


Terima kasih.


Devano tidak bisa lagi menggambarkan bagaimana bahagianya dia saat ini. Dua anak perempuan yang akan menjadi bagian di keluarga Wijaya.


•••••


"Cantik cepelti akuuu"


Nadhin yang berada dalam gendongan Fahisa tersenyum senang ketika melihat kedua adiknya. Begitu juga dengan Nathan yang ada dalam gendongan Daffa, dia menatap kedua adiknya itu dengan mata berbinar.


Sedangkan itu di atas ranjangnya Adara masih berbaring dan kelihatan lemas dengan Devano yang terus menggenggam tangannya.


Tapi, Adara senang melihat semuanya bahagia. Dia juga lebih senang karena berhasil melahirkan kedua anaknya dengan selamat.


"Mirip kamu." Kata Devano.


Perkataan itu membuat Adara mengalihkan pandangannya ke arah sang suami dan tersenyum dengan wajah yang sedikit pucat.


"Cantik banget kayak kamu." Kata Devano lagi.


Adara mengangguk singkat sebagai tanggapan karena jujur dia masih sangat lemas.


"Papa Papaaaa"


Nadhin yang baru saja turun dari gendongan Fahisa berlari menghampiri kedua orang tuanya.


"Kenapa sayang?" Tanya Devano sambil mengusap kepala anak itu dengan sayang.


"Aku mau liat Ama." Kata anak itu.


Devano lantas tersenyum dan mengangkat tubuh Nadhin lalu mendekatkannya kepada Adara yang kini menatap mereka.


"Amaa Amaa adiknya milip aku." Kata Nadhin senang.


"Iya"


Adara berujar pelan sebagai tanggapan. Dia menatap Nadhin yang kini meraih jemari tangannya.


"Ama makacih udah kacih aku adik yang lucu cepelti meleka." Kata Nadhin dengan lucunya.


Sekali lagi Adara tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban.


Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah sang mertua juga Nathan yang terlihat begitu senang melihat bayi kembarnya.


Semua orang terlihat begitu bahagia.


"Sayang nama baby twins nya siapa?" Tanya Fahisa sambil berjalan mendekat ke arah menantunya.


Adara langsung menatap Devano ketika mendapat pertanyaan itu.


"Nama adik aku ciapa Ama?" Tanya Nathan ikutan.


Devano tersenyum dan mengatakan nama bayi kembarnya sambil menatap sang istri.


"Naura Wijaya dan Maura Wijaya"


Mendengar itu Adara ikut tersenyum. Nama yang sangat indah untuk kedua anaknya.


Naura dan Maura.


••••


"Athan adiknya bobok"


Nadhin berbicara pada kembarannya sambil mengintip ke arah ranjang bayi tempat si kembar beristirahat.


Kedua anak itu tidak mau beranjak dari sana dan terus menatap adiknya dengan gemas. Mereka ingin menyentuh, tapi tidak berani karena tadi ketika Nadhin melakukannya salah satu adiknya menangis.


Jadi, Nadhin tidak berani lagi.


"AAA MANAA BABY TWINSSS???"


Suara Devina terdengar bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka. Wanita itu masuk bersama dengan Ziko juga kedua anaknya.


Perut Devina juga sudah semakin membesar hingga Ziko terus berada di sisi wanita itu dan membantunya agar tidak jatuh.


Devano yang melihat kedatangan kembarannya itu langsung mendekat dan memeluknya dengan sayang. Hal itu membuat Devina tersenyum sambil membalas pelukan itu.


Tapi, baru sebentar Arthan tiba-tiba memukul kaki Devano.


"Aaaa jangan peluk Amiii." Katanya sambil melotot.


Ziko hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


"Arthan enggak boleh gitu, ayo kita lihat adik bayinya." Kata Ziko.


Kali ini anak itu menurut. Bersama Devano mereka melihat si kembar yang tengah tertidur.


Mereka terlihat sangat cantik dan mirip dengan Adara.


"Ihhh gemesss"


Devina terlihat begitu senang. Dia menatap si kembar dengan mata berbinar.


"Namanya Naura dan Maura." Kata Devano.


"Haii baby twinss." Sapa Devina dengan riang.


"Mirip banget sama Adara ya Van?" Kata Ziko.


Devano mengangguk setuju, dia kini menatap kedua anak dari Devina yang juga sedang melihat si kembar.


"Bentar lagi Arthan sama Ardhan juga punya adik ya?" Kata Devano.


Kedua anak itu mengangguk dengan semangat.


"Nanti anak kita sekolahnya di satu sekolah yang sama ya Ko? Biar enak nanti kalau gue enggak bisa jemput bisa titip ke lo." Kata Devano sambil tertawa.


Ziko ikut tertawa lalu mengangguk setuju.


"Baby Vina enggak kembar ya?" Tanya Devano.


"Enggak, tapi anaknya perempuan, pasti lucu kayak dia." Kata Ziko sambil menatap Devina yang kini sudah menghampiri Adara.


Devano mengangguk setuju. Kembarannya memang sangat lucu, jadi anaknya pasti akan menggemaskan seperti Devina.


Kalau Adara itu manis. Dan kedua anaknya menurun pada Adara.


Apalagi Nadhin yang terlihat sangat cantik dan manis. Devano jadi tidak sabar melihat si kembar tumbuh besar.


Naura dan Maura.


Kedua anak itu sepertinya akan menjadi saingan Nadhin dalam memperebutkan perhatian Devano.


Tapi, itu pasti akan sangat menyenangkan.


Kehidupan Devano benar-benar sempurna.


Istri yang cantik. Anak yang penurut. Orang tua yang penuh kasih sayang dan kembaran yang sangat menyayanginya.


Apa lagi yang Devano harapkan?


Devano hanya berharap mereka akan selalu bahagia ke depannya. Dia hanya berharap di waktu yang akan datang nanti tidak akan ada masalah besar yang menimpa keluarganya.


Devano berharap semua orang yang dia sayangi akan terus berbahagia saat ini hingga seterusnya.


Dan semoga keluarga kecilnya akan selalu harmonis hingga berpuluh-puluh tahun lamanya dan hingga Devano pergi untuk selamanya.


......THE END......


YEEEEE CERITANYA TAMATTT🤗


Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mengikuti cerita ini sejak awal.


Sejak si kembar masih sekolah sampai si kembar udah punya anak🤣


I love youuu semuanyaaaa❤


Sampai bertemu lagi di Possessive Brothers semuanyaaa🥰


Aku sayang kalian. Si kembar sayang kalian jugaaaa❣️