My Possessive Twins

My Possessive Twins
54 : Marah dan Merah



"Masih ngambek?"


Pertanyaan yang Ziko ajukan Devina abaikan untuk yang kesekian kalinya, dia tidak bohong ketika mengatakan kalau ingin berjauhan dari Ziko karena sekarang Devina benar-benar menatap pacarnya itu dengan sinis. Sebenarnya dia hanya kesal karena perkataan Ziko yang mengatakan kalau dia sering menghubungi Adyra dan hal itu membuat Devina terganggu ditambah lagi dia sedang datang bulan.


Entah kenapa memikirkan kalau kekasihnya sering berkirim pesan dengan gadis lain membuat Devina sangat kesal. Masalahnya Ziko dan Adyra sering pergi bersama untuk manggung di cafe atau restoran bersama yang lainnya juga sering mengantar gadis itu pulang.


Sekarang Devina benar-benar malas berbicara dengan Ziko apalagi kekasihnya itu sangat posesif, tapi dia sendiri ternyata sering berkirim pesan dengan gadis lain.


Sangat menyebalkan!


"Vinaaaa"


Masih Devina abaikan dia sibuk dengan buku yang ada dihadapannya, ya mereka berada di perpustakaan ketika jam istirahat tiba. Awalnya Devina pergi ke perpustakaan untuk menghindar dari kekasihnya, tapi Ziko malah mengikutinya.


"Perpustakaan gak boleh berisik! Tau gak? Gak pernah ke perpustakaan ya?" Sungut Devina


"Maaf ihh Vin jangan ngambekk." Kata Ziko tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang melirik ke arah mereka


"Siapa sih? Berisik banget." Kata Devina membuat Ziko menatapnya dengan tidak percaya


"Ya ampun Vin aku minta maaf." Kata Ziko


"Diem! Kalau gak bisa diem sana keluar!" Kata Devina sambil menatapnya dengan galak


Menghela nafasnya pelan Ziko beranjak dari tempat duduknya dan mengambil buku di salah satu rak secara acak lalu kembali duduk disamping kekasihnya. Sesekali Ziko melirik Devina yang sedang membaca novel yang dia bawa dari kelas dan dapat terlihat dengan sangat jelas kekasihnya itu sesekali menahan senyumnya ketika sedang membaca.


Sekuat itu ya efeknya?


Kadang Ziko berfikir itu sedikit lebay karena kan hanya sebuah karangan belaka, tapi kalau dia mengatakan hal itu pada kekasihnya bisa habis dia sekarang juga.


"Kamu lucu banget tau Vin kalau lagi ngambek." Kata Ziko pelan


Devina meliriknya sebentar lalu memasang wajah datarnya dan kembali membaca bukunya.


"Apalagi kalau ngelirik sambil melotot gitu gemes banget." Kata Ziko lagi


Masih tidak ada tanggapan hingga Ziko menghela nafasnya pelan lalu melirik penjaga perpustakaan yang berjalan keluar dan sebuah ide gila muncul.


"Kalau penjaga perpus ngeliat kita lagi gimana ya Vin? Pasti ngiranya kita pacaran." Kata Ziko


Berhasil Devina menoleh dan menatapnya dengan tajam.


"Ziko kamu jangan disini jauhan dikit biar gak kena marah Ibu perpus." Kata Devina


Bukan pergi Ziko malah tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke sekitar, aman tidak ada orang disekitar mereka. Perlahan Ziko malah mendekatkan tubuhnya hingga membuat Devina melotot.


"Zikoo sanaa!" Kata Devina sambil berusaha mendorong pria itu agar menjauh


Tapi, yang dilakukan Ziko malah menahan lengannya dan semakin mendekat.


Menahan nafasnya tangan Devina yang lain mengambil buku di atas meja lalu memukul wajah kekasihnya itu pelan dan membuat Ziko langsung menjauhkan tubuhnya karena kaget.


"Jahat banget sih Vin sama aku." Keluh Ziko


"Kamu yang mulai!" Kata Devina galak


"Aku tadi cuman bercanda Vin, kamu lihat sendiri deh nih hp aku." Kata Ziko sambil meletakkan ponselnya di meja dan mendorongnya ke arah Devina


Bukan mengambil Devina kembali mendorong benda itu ke Ziko dan mengatakan sesuatu dengan wajah datarnya.


"Gak perlu"


Menghela nafasnya pelan Ziko mengambil ponselnya lalu meraih sebelah tangan Devina dan meletakkan ponselnya disana.


"Baca aja Vin biar kamu gak marah lagi." Kata Ziko


Terdiam untuk sesaat Devina akhirnya menurut lalu menghidupkan layar ponsel kekasihnya dan langsung disuguhkan dengan foto dirinya yang dijadikan sebagai walpaper. Tanpa sadar sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, tapi hanya sebentar karena Devina langsung mengubah ekspresi wajahnya lagi.



"Aku suka ngeliat foto kamu yang itu makanya aku jadiin walpaper." Kata Ziko


Devina diam dan tidak memberikan tanggapan lalu kembali membuka aplikasi whats app di ponsel kekasihnya.


Paling atas ada namanya yang ternyata oleh Ziko chat mereka di pin agar selalu berada di paling atas.


"Biar gak telat balas chat kamu." Kata Ziko


Masih belum menanggapi Devina melihat beberapa chat dibawahnya dan kebanyakan dari grup, tapi ada cukup banyak juga pesan dari gadis lain.


"Aku gak nanggepin mereka Vin." Kata Ziko ketika melihat wajah kekasihnya yang semakin kesal


Mengangkat bahunya acuh Devina membuka chat kekasihnya dengan Adyra lalu scroll ke atas dan ketika merasa cukup tangannya terhenti lalu mulai membaca satu persatu. Disampingnya Ziko terlihat biasa saja karen dia memang tidak pernah membahas sesuatu yang aneh dengan Adyra.


Ada beberapa pesan yang membuat senyum Devina perlahan mengembang.


Ziko bisa anterin gue gak?


^^^Maaf Dyr gue ada janji sama Devina, sama yang lain aja gimana?^^^


Ohh oke nanti gue chat Bastian aja


Ternyata Ziko masih mementingkan dirinya dan hal itu membuatnya senang, tapi tidak dia masih merasa kesal sekarang.


"Dia sering minta tolong sama kamu?" Tanya Devina pada akhirnya


"Hmn dulu sebelum kita pacaran aku memang sering bantuin dia." Kata Ziko jujur


Mengangguk faham Devina menyerahkan ponsel itu kembali pada Ziko lalu membuka novelnya lagi dan mulai membaca.


"Vin masih marah gak?" Tanya Ziko


"Siapa yang marah?" Tanya Devina


"Kamu"


"Gak marah cuman ngambek aja." Kata Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Kenapa sih Vin kamu gemesin banget?" Tanya Ziko


"Hmm gak tauu." Kata Devina acuh


"Udah gak marah kan?" Tanya Ziko lagi


Devina hanya bergumam pelan sebagai jawaban membuat Ziko tersenyum senang.


"Senyum dulu sini." Kata Ziko


Menoleh sebentar Devina menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang selalu berhasil membuat Ziko jatuh cinta. Tanpa sadar tangan Ziko terulur untuk mengusap pipi Devina dengan lembut, tapi dia dibuat tersentak hingga hampir terjengkang kebelakang ketika sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


"Kalian lagi! Ya ampun masih aja berani pacaran di perpustakaan!"


Kapan Ibu penjaga perpustakaan kembali dan berjalan menghampiri mereka?


Mengganggu sekali suasana romantis mereka berdua.


¤¤¤


"Pokoknya kalau aku ke perpustakaan kamu gak boleh ikut!"


Berkali-kali Devina menekankan hal itu pada Ziko yang hanya dijawab dengan gumaman singkat oleh kekasihnya. Sekali lagi mereka dihukum dan kali ini hukumannya sangat melelahkan karena ada begitu banyak buku yang baru saja datang ditambah lagi mereka disuruh membersihkan perpustakaan juga.


Pokoknya Devina sangat kesal!


Sekarang dia baru saja kembali dari membuang sampah lalu menghampiri Ziko dan membantunya menata buku di rak masih dengan wajah cemberutnya. Baru akan berbicara Ziko kembali mengurungkan niatnya ketika Devina mulai menggerutu sambil sesekali menghentakkan kakinya membuat Ziko menahan tawa melihatnya.


Padahal dia suka dihukum berdua seperti sekarang.


"Kalian ini masih muda harusnya fikirkan sekolah dulu belajar yang benar bukannya malah pacaran di sekolah apalagi di perpustakaan." Omel wanita paruh baya itu ketika melewati keduanya


Setelah wanita paruh baya itu lewat Devina kembali menggerutu dan membuat Ziko benar-benar ingin tertawa melihatnya.


"Siapa yang pacaran? Aku kan baca buku gak liat apa kalau aku bawa buku ke sini!!"


Sekali lagi Devina menghentakkan kakinya karena kesal lalu menaruh buku di rak dengan begitu rapih.


"Ini semua karena kamu Ziko! Ngapain coba kamu pakai pegang-pegang pipi aku kita jadi dihukum kan? Dikira pacaran juga sama Ibunya." Kata Devina kesal


"Kita kan memang pacaran Vin." Kata Ziko membuat Devina melotot ke padanya


"Kamu tuh ngeselin banget! Udah deh diam aja gak usah ngomong." Kata Devina sebal


Menggelengkan kepalanya pelan Ziko merasa lucu melihat Devina yang tidak berhenti menggerutu.


"Dasar nyebelin! Mana aku lapar! Ihh sebel banget." Kata Devina lagi


Sekarang Ziko faham kenapa Devina terlihat sangat kesal. Pertama Devina sedang datang bulan dan kedua dia sedang lapar.


"Kamu duduk deh biar aku selesain." Kata Ziko


"Gak usah aku bisa sendiri!" Ketus Devina


"Duduk aja kamu capek kan? Biar aku yang selesain." Kata Ziko lagi


"Ihh gak mau nanti kalau Ibunya lihat kita kena marah lagi!" Kata Devina membuat Ziko diam dan tidak bisa membantah


"Yaudah dong jangan cemberut, kamu mau apa?" Tanya Ziko dengan lembut


"Mau ke kelas!"


"Nanti malam kita jalan-jalan deh, mau gak?" Tanya Ziko


"Beneran?"


"Iya asal jangan cemberut lagi." Kata Ziko


Refleks Devina tersenyum senang lalu mengangguk setuju.


"Janji kan?"


"Janji Vina." Kata Ziko


Melihat Devina yang kembali tersenyum membuat Ziko ikut senang lalu membantu gadis itu dan menyelesaikan hukuman mereka bersama-sama.


Setelah setengah jam menyelesaikan hukuman akhirnya mereka selesai juga dan langsung kembali ke kelas, tapi sebelum itu mereka tetap mendapatkan omelan. Berjalan beriringan menuju kelas sesekali Ziko melirik kekasihnya, tapi matanya membulat ketika melihat sesuatu di rok Devina.


"Vin berhenti dulu." Kata Ziko membuat Devina berdecak kesal


"Apalagi sih Ziko? Cepetan nanti kita kena marah." Kata Devina


"Itu Vin"


"Itu apa sih?" Tanya Devina kesal


"Itu rok kamu Vin astaga"


"Kenapa sih kamu gak jelas banget?!" Kata Devina


"Rok kamu ada merah-merah." Kata Ziko membuat Devina melotot


"Beneran? Beneran Ziko? Ada merah-merahnya?" Tanya Devina panik


"Iya Vin"


"Ihh gimana dong?" Tanya Devina panik


Bukan hanya Devina, tapi Ziko juga ikut panik karena dia tidak tau harus berbuat apa apalagi ketika melihat Devina yang seperti ingin menangis.


"Gimana Zikoo?" Tanya Devina takut


"Kita ke uks aja kamu tunggu situ dulu." Kata Ziko


Mengangguk patuh Devina pergi ke uks bersama dengan Ziko dan secara kebetulan ada penjaga di uks yang merupakan seorang wanita. Melihat hal itu Devina langsung mendekat dan membisikkan sesuatu.


Mengangguk faham wanita yang masih cukup muda itu pergi ke sudut ruangan untuk mengambil sesuatu lalu Devina menghampiri Ziko.


"Zikoo kamu ke kelas aja bilangin kalau aku di uks." Kata Devina


"Terus gimana? Itu rok kamu?" Tanya Ziko


"Udah nanti ada Ibu Sarah." Kata Devina


Mengangguk faham Ziko mengusap puncak kepala Devina dengan sayang dan membuat kekasihnya itu tersenyum senang.


"Nanti aku kesini lagi bawa jaket untuk nutupin rok kamu." Kata Ziko


"Emm"


"Kamu butuh sesuatu lagi gak?" Tanya Ziko


Devina menggelengkan kepalanya pelan membuat Ziko tersenyum lalu melangkahkan kakinya pergi.


Senyum Devina mengembang dengan lebar, kekasihnya sangat perhatian.


¤¤¤


Awww kenapa ya aku bisa nulis kayak gitu😋


Suka gakkk hehe😂