
Sejak kedatangannya ke sekolah Ziko duduk di depan kelas untuk menunggu kedatangan kekasihnya dia akan menyelesaikan semuanya hari ini juga, tapi Devina masih belum datang padahal sebentar lagi bel masuk berbunyi. Sama halnya seperti kemarin pesan Ziko benar-benar diabaikan padahal tadi malam dan pagi ini sebelum berangkat ke sekolah Ziko sudah mengirim pesan pada kekasihnya, tapi masih tetap belum ada balasan.
Dia benar-benar merindukan Devina.
Senyum manisnya dan suara lembutnya yang biasanya selalu Ziko lihat juga dengar setiap hari, kini sudah dua hari lebih dia tidak mendapatkannya. Ya, semua karena kesalahannya dia mengakui hal itu makanya Ziko ingin memperbaiki semuanya.
Dia akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Lalu semisal Devina memintanya untuk menjauhi Adyra dia akan melakukannya bahkan dia tidak akan menolak kalau disuruh memblokir nomor gadis itu atau hal lainnya.
Ziko tidak akan menolak asal Devina tetap ada disisinya.
Mata Ziko menjelajah sekitar ketika bel masuk berbunyi dan hingga koridor sekolah sepi Devina juga tidak terlihat membuat pria itu kini terlihat cemas. Tanpa fikir panjang Ziko mengambil ponselnya di saku celana dan mencoba untuk menelpon Devina, tapi tidak ada jawaban.
Berlari kecil memasuki kelas Ziko langsung menghampiri Mona, tapi dia terkejut ketika tanpa sengaja mendengar perkataan Moma dan yang lainnya.
"Lah Vina mau pergi? Dia mau kemana kok ada di bandara?"
Dengan segera Ziko menghampiri mereka dan merebut ponsel yang ada di tangan Nayla membuat gadis itu menggerutu sebal.
Benar, foto itu adalah foto kekasihnya di bandara.
Devina foto dengan sebuah koper di dekatnya.
"Dia mau kemana Mon?" Tanya Ziko cepat
"Gak tau." Kata Mona malas
"Mona! Dia kemana? Please, kasih tau gue." Kata Ziko hampir frustasi
"Dia mau ke Bali." Kata Mona yang sudah cukup membuat Ziko terkejut bukan main
Setelah mendengar hal itu Ziko berlari keluar kelas dan menuju parkiran, persetan dengan hukuman dia harus menemui Devina.
Kenapa gadis itu tidak memberi tau apapun?
Ziko tau kalau mereka masih marahan, tapi setidaknya Devina harus memberi tau kan?
Tidak akan Ziko biarkan Devina pergi ketika mereka sedang tidak baik-baik saja.
¤¤¤
"Mon beneran Devina mau ke Bali?"
Pertanyaan Gio itu dijawab dengan gelengan singkat oleh Mona bersamaan dengan tawa kecilnya yang terdengar membuat Gio sadar kalau gadis itu baru saja berbohong. Memang benar Devina tidak pergi ke Bali dia hanya mengantar Devano saja dan masalah foto dengan koper itu Mona yang meminta.
'Cepetan foto Vin gue mau nunjukkin ke yang lain dan bilang kalau lo mau pergi biar Ziko kapok!'
Awalnya Devina menolak karena dia tidak mau berbohong, tapi Mona terus memaksa dan membuat Devina pada akhirnya menurut.
Mona hanya kesal sangat kesal pada Ziko yang benar-benar membuatnya ingin memukul kepala pria itu dengan tangannya.
"Wah gila lo terus itu kenapa Devina bisa ada di bandara?" Tanya Gio
"Yang mau ke Bali itu Vano bukan Vina." Kata Mona
"Kasian Mon sama Ziko." Kata Gio
"Lah bukan salah gue, suruh siapa dia gak liat chat gue sama Vina dulu." Kata Mona sambil memberikan ponselnya pada Gio
Meraih ponsel itu dari tangan Mona dengan segera Gio membaca chat gadis itu bersama Devina dan benar salah Ziko yang tidak mau membaca chatnya lebih dulu.
Dadah Monaaaa
^^^WOY MAU KEMANA VIN? ^^^
^^^GAK BILANG-BILANG^^^
Ihhh galakk😂 Aku mau ke Bali
^^^JANGAN BERCANDA VIN!^^^
Ehee enggak deng bukan aku yang mau ke Bali, tapi Vano
Tadinya memang mau ikut cuman gak bolehhhh😭
^^^Vin cepetan lo foto jangan lupa sama koper punya Vano juga!^^^
Ihh untuk apa?
^^^Cepetannn mau gue tunjukkin Ziko terus gue mau bilang kalau lo bakal pergi^^^
Jangann aku gak mau bohong
^^^CEPETAN VINAAA! PERCAYA SAMA MONA^^^
Gak mauu
^^^YDH!^^^
Ihh iya iya jangan marah
Yaudah tungguinnn aku minta fotoin sama Vano dulu
Dan akhirnya dikirim lah foto itu sayangnya Ziko hanya melihat fotonya saja tanpa membaca percakapan mereka.
"Biarin aja lagian gue kesel banget sama Ziko! Lo orang tau gak sih yang ngirim chat gitu ke Vina ternyata Adyra! Emang dasar itu cabe berani banget mau hancurin kebahagiaan temen gue!" Kata Mona dengan berapi-api
"Heran gue Ziko kenapa sih bisa-bisanya deket sama cewek kayak Adyra?" Tanya Nayla
"Emang dasar gila itu cewek! Sumpah gue kesel banget untung yang digituin Devina coba kalau gue udah gue tampar tuh anak." Kata Cessa ikut-ikutan
"Jangan gitu lah Ziko sama dia kan memamg cukup deket apalagi sering manggung bareng...."
Menghela nafasnya pelan Gio memilih untuk diam dari pada dia kena semprot sama mereka bertiga. Lagi pula memang benar sih dalam hal ini Ziko yang salah.
Dia terlalu pencemburu, tapi dia juga dekat dengan gadis lain.
Entahlah Gio cuman bisa berharap kedua temannya itu akan segera berbaikan dan jangan sampai putus hanya karena kesalah fahaman.
¤¤¤
Sejak keberangkatan ke bandara wajah Devina terlihat sangat murung dan dia sangat manja pada Devano hingga membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala ketika melihatnya. Selama perjalanan Devina menyandarkan kepalanya di pundak Devano lalu memeluk lengan pria itu dan ketika sampai di bandara hingga menunggu waktu penerbangan Devina terus saja menempel pada Devano.
Sebenarnya Devano juga tidak tega dan tadi malam dia juga mengatakan pada Daffa untuk mengajak Devina juga saja, tapi pria paruh baya itu menolak dan mengatakan kalau itu tidak bisa. Ada banyak hal yang harus di persiapkan dan tidak mungkin dilakukan dalam waktu yang singkat, selain itu Fahisa akan sendirian kalau Devina ikut juga.
"Ya ampun Vina hanya seminggu, kenapa seperti ingin ditinggal bertahun-tahun saja?" Tanya Daffa sambil menggelengkan kepalanya pelan
"Daddyyy mah gak ngerti nanti kalau gak ada Vano aku kesepiann gak ada yang bisa digangguin." Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya sebal
"Cuman sebentar sayang, udah dong jangan manyun terus." Kata Fahisa sambil mengusap pipi Devina dengan lembut
Masih memasang wajah cemberutnya Devina mengeratkan pelukannya pada Devano.
"Cuman sebentar kok Vina." Kata Devano dengan lembut
Menghela nafasnya pelan Devina melepaskan pelukannya lalu menatap Devano dan dengan terpaksa menyunggingkan sebuah senyuman.
"Gitu kan cantik." Kata Devano sambil mencubit pelan pipinya
Saat keduanya harus pergi Devina kembali cemberut dan memeluk Devano lagi lalu setelah itu menatap Daffa sebentar membuat pria paruh baya itu tertawa dan menarik Devina ke dalam pelukannya. Awalnya Devina hanya diam, tapi setelahnya dia membalas pelukan itu dengan sangat erat.
"Manjanya anak Daddy." Kata Daffa
Melepaskan pelukannya Daffa menangkup wajah Devina dan menciumnya keningnya dengan lembut.
"Daddy akan usahakan untuk pulang lebih cepat hmm?" Kata Daffa
Kali ini Devina tersenyum dan mengangguk dengan cepat.
Memeluk istrinya sebelum pergi Daffa juga mencium kening Fahisa dengan lembut lalu mengusap pipinya.
"Aku sama Vano pergi dulu kalau ada apa-apa telpon ya?" Kata Daffa
"Iya Mas"
Setelah itu Devano dan Daffa berjalan menjauh sambil menyeret koper mereka meninggalkan Devina juga Fahisa. Melihat anaknya yang terlihat cemberut Fahisa tersenyum lalu merangkulnya dengan sayang.
"Senyum dong biar cantik." Kata Fahisa
Bukan tersenyum Devina malah semakin cemberut membuat Fahisa tertawa kecil.
Devina memang selalu begitu setiap Devano ingin pergi dia pasti akan melarangnya atau memaksa untuk ikut.
Salah satu alasannya karena Devano yang selalu memanjakan Devina dan membuat gadis itu bergantung padanya.
"Tuh kann kangen sama Vanoo"
Lihat kan?
Baru beberapa menit belum satu minggu.
¤¤¤
Sampai di area bandara Ziko bergegas mencari Devina karena takut gadis itu pergi sebelum dia menemuinya, ponselnya masih aktif dan itu berarti Devina belum pergi. Akan sangat sulit mencari Devina di tengah luasnya bandara juga banyaknya orang yang berlalu lalang, tapi Ziko tidak peduli dia yakin kalau dia akan menemukan Devina.
Entah sudah berapa kali Ziko berkeliling untuk mencari Devina, tapi masih belum melihatnya juga, dia hampir menyerah kalau saja tidak melihat sosok yang terlihat sama seperti Devina dengan pakaian yang tadi dia lihat di ponsel Mona. Langkah kaki Ziko sangat cepat menghampiri sosok yang berdiri di dekat kaca sambil menyentuhnya dan menatap pesawat yang sepertinya sedang lepas landas.
Dia yakin sekali itu Devina.
"Devinaa"
Berhasil sosok itu menoleh dan Ziko tidak salah gadis itu benar-benar Devina dan dia terlihat sangat terkejut melihat kalau Ziko berdiri dihadapannya. Tidak sampai disitu saja Devina semakin terkejut ketika tubuhnya di peluk dengan sangat erat dan membuat mereka menjadi pusat perhatian cukup banyak orang.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Devina kaget
Melepaskan pelukannya Ziko menatap Devina dengan penuh harap dan mengatakan hal yang membuat Devina merasa bingung.
"Jangan pergi Vin, aku minta maaf untuk semuanya"
Devina tetap diam karea terkejut dengan kehadiran Ziko dan juga apa yang pria itu baru saja katakan.
Tak kunjung mendapat jawaban Ziko melepaskan pelukannya dan menatap Devina dengan penuh penyesalan.
"Jangan pergi Vin"
Semakin bingung Devina menanyakan sesuatu yang membuat Ziko bingung juga.
"Siapa yang mau pergi?"
"Kamu..."
Masih sama-sama bingung suara Fahisa terdengar dan membuat mereka berdua menoleh.
"Devina ayo pulang ini Mommy sudah beli minum"
Melihat ada Ziko yang berdiri di dekat ananya Fahisa juga ikut memasang wajah bingungnya.
"Ehh Ziko kamu kenapa bisa ada disini? Masih pakai baju sekolah lagi"
¤¤¤
Pulang Ziko bukannya sekolah malah pergi ke bandara, bilangin emak lu nihh😂
Bisa tebak selanjutnya bakal gimanaaa???