My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (36)



Terlihat begitu bersemangat Devano sangat tidak sabar untuk sampai di villa, ya dia sudah berada di perjalanan bersama dengan Adara yang duduk di sampingnya dan sebentar lagi mereka akan sampai. Di perjalanan Devano sesekali menggenggam tangan Adara lalu menciumnya entah kenapa pria itu senang sekali melakukannya sekarang membuat Adara jadi gemas.


Sebenarnya Adara merasa sedikit takut, dia tau maksud Devano mengajak ke villa itu untuk liburan dan ya tentu saja untuk melakukan hal itu lagi mungkin semacam liburan. Liburan untuk suami istri yang baru saja menikah, astaga Adara malu sendiri apalagi dia masih merasa sedikit sakit di sana.


Jujur Adara masih merasa sedikit sakit, tapi dia juga tidak mungkin menolak kan?


"Kita sampai sayang." Kata Devano senang


Adara menatap Villa yang berukuran sangat besar dari kaca dan begitu Devano menghentikan mobilnya Adara langsung melepaskan sabuk pengaman yang dia pakai. Bersama dengan Devano dia turun dari mobil lalu tangan Adara digenggam dengan sayang dan mereka masuk ke dalam.


Villa ini berbeda dengan Villa yang pernah mereka datangi ketika dulu Devano memberikan kejutan ulang tahun untuknya.


"Daddy kamu punya banyak villa ya?" Tanya Adara


"Enggak kok cuman ada dua." Kata Devano


Adara mengangguk faham dan dia berdecak kagum begitu masuk ke dalam Villa ya ampun ini bahkan sangat bagus.


"Bersih banget Van." Kata Adara


"Ada yang selalu datang untuk bersih-bersih Villa Ra." Kata Devano


Adara kembali mengangguk lalu dia duduk di sofa bersama dengan Devano dan sejak tadi matanya masih menjelajah ke setiap sudut.


"Sini"


Devano meminta Adara mendekat lalu dia memeluknya dengan sayang dan tidak lupa Devano juga memberikan ciuman di puncak kepalanya.


"Capek gak?" Tanya Devano


"Pegal aja Van dari tadi duduk terus." Kata Adara


"Adara"


"Hm"


"Kamu mau punya anak berapa Ra?" Tanya Devano


"Van kok udah sampai sana sih." Kata Adara malu


"Ya kan nanya." Kata Devano sambil tertawa


"Hm terserah kamu." Kata Adara pelan


"Kalau aku sih maunya banyak." Canda Devano


"Vanoo"


"Haha aku juga enggak ada keinginan pasti sih, tapi berapapun itu aku pasti bakal seneng." Kata Devano


"Aku juga"


"Aku mau nanti anak aku bakal kayak kamu Ra berani dan gak mudah menyerah." Kata Devano


"Aku juga mau nanti anak aku kayak kamu yang selalu sabar dan penuh perhatian." Kata Adara


Devano tersenyum dia menatap wajah Adara dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya lalu perlahan Devano mendekat dan mencium bibirnya.


Gerakan tiba-tiba itu membuat Adara memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman yang Devano berikan sambil membawa tangannya untuk melingkar manis di leher Devano.


Semakin lama ciuman Devano semakin menuntut bahkan Adara dapat merasakan tangan pria itu mulai bergerak menyentuh tubuhnya, tapi belum sampai lebih jauh Devano sudah menjauhkan wajahnya. Tersenyum manis Devano memberikan ciuman singkat lalu mengusap bibirnya yang sedikit basah dengan penuh kelembutan.


"Kamu lapar? Pesan makan aja ya Ra?" Kata Devano


Adara hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Devano sambil mengeluarkan ponselnya


"Hm terserah." Kata Adara


"Oke aku pesan ya?" Kata Devano


Adara mengangguk lalu memperhatikan Devano yang sedang fokus pada ponselnya dan perlahan Adara membawa kepalanya untuk bersandar di bahu sang suami.


"Oke udah aku pesan tinggal nunggu datang aja." Kata Devano


"Van"


Devano bergumam pelan dan dia sedikit terkejut ketika Adara mencium pipinya lalu tertawa kecil.


"Sayang banget sama kamu Van." Kata Adara pelan


"Aku juga sayang." Kata Devano sambil mencubit pelan pipinya


Adara tersenyum dia membawa tangan Devano dan menggenggamnya dengan sayang.


"Eh Ra waktu hari pernikahan kita itu Julian beneran gak datang?" Tanya Devano


"Datang kok cuman sebentar kayaknya gak sampai setengah jam deh." Kata Adara


"Kamu liat?" Tanya Devano


"Heem dia datang karena di paksa Ayah juga." Kata Adara


"Masih aja deh dia benci sama kamu." Kata Devano


"Enggak papa Van." Kata Adara dengan tenang


"Aku suka kesel sendiri kalau liat muka dia." Kata Devano membuat Adara tertawa mendengarnya


Mengusap sayang tangan yang ada di genggamannya Adara mencium singkat tangan Devano.


"Van"


"Hm"


"Menurut kamu apa yang spesial dari aku?" Tanya Adara sambil mendongak dan menatap mata suaminya


"Yang spesial? Hm banyak." Kata Devano


"Apa aja?" Tanya Adara


"Semua yang ada di diri kamu itu spesial." Kata Devano dengan senyuman


"Ish"


"Bener Ra." Kata Devano disertai tawa kecilnya


Adara diam lalu memeluk Devano dari samping dan menghirup aroma tubuh pria itu yang menenangkan seraya memejamkan mata kalau mendapat usapan di kepalanya.


"Jangan pernah tinggalin aku ya Van sekarang aku milik kamu sepenuhnya dan kamu juga milik aku." Kata Adara


Devano tersenyum mendengarnya dia menunduk dan menatap Adara lalu dengan cepat meraih dagu Adara agar mendongak hingga dia bisa mencium bibirnya.


Kali ini berbeda ciuman Devano begitu intim membuat Adara terbuai dan tak bisa melakukan apapun selain memejamkan mata serta membalas ciuman yang suaminya berikan.


Perlahan Adara merasa tubuhnya hampir berbaring di sofa, tapi belum sampai hal itu terjadi suara deringan ponsel Devano membuat keduanya berhenti. Nafas Adara memburu dia menatap Devano yang meraih ponselnya lalu melihat ada pesan yang masuk.


"Makannya udah datang aku ambil dulu ke depan"


Devano mengatakan itu lalu mencuri ciuman singkat di bibir Adara sebelum melangkahkan kakinya, tapi Adara menahan tangannya.


"Benerin dulu"


Dengan pipi memerah Adara mengusap bibir bawah Devano lalu merapihkan sedikit bajunya.


Devano tertawa kecil lalu pergi ke depan untuk mengambil makanan dan meninggalkan Adara yang wajahnya memerah sempurna.


Ah begini ternyata rasanya menjadi istri Devano.


°°°°°


Hai aku updateee🥰🥳