My Possessive Twins

My Possessive Twins
56 : Gara-gara Case Phone



Memiliki kekasih seperti Devano terkadang menguras emosi juga apalagi kalau pria itu sudah mulai menunjukkan sikap cemburunya. Mereka memang resmi berpacaran setelah Devano mengatakan kalimat sakral itu pada Adara dan jujur Adara sangat bahagia ketika mendengarnya apalagi ketika Devano menggenggam tangannya lalu mengusap pipinya dengan lembut.


Dulu Adara sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah sekalipun percaya pada seorang pria, tapi ketika Devano datang semuanya mendadak berubah. Cara pria itu memperlakukannya berbeda bagaimana Devano membuatnya percaya bahwa hubungan tidak pernah salah dan cinta selalu bisa mengobati setiap luka akhirnya membuat Adara luluh.


Sekarang satu-satunya hal yang Adara takutkan adalah kehilangan Devano karena saat ini hanya pria itu yang dia punya dihidupnya, hanya Devano. Sampai sekarang Adara masih aman dengan uang peninggalan Kakeknya, tapi dia rasa hanya akan sampai SMA dia tidak akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.


Sisa uang itu akan lebih baik dia simpan dan dia akan mulai bekerja setelah lulus sekolah. Pekerjaan apapun yang bisa membuatnya terus bertahan hidup karena dia tidak mungkin terus bergantung pada uang peninggalan Kakeknya yang semakin hari semakin berkurang jumlahnya.


"Vano mau makan apa?" Tanya Adara


Saat ini dia dan Devano berada di rumahnya karena pria itu mengatakan dia ingin beristirahat sebentar lalu pria itu juga bilang kalau dia lapar. Sebenarnya Adara sudah mulai belajar memasak, tapi dia tidak terlalu pintar juga hanya bisa memasak sesuatu yang mudah saja.


"Masa mie aja lo masih ada stok mie kan?" Tanya Devano sambil meletakkan ponselnya dan menghampiri kekasihnya


Adara mengangguk singkat lalu membuka rak paling atas yang masih tersedia beberapa bungkus mie.


"Mau mie apa?" Tanya Adara


"Goreng"


Mengambil satu bungkus mie goreng Adara langsung mengisi air ke dalam panci dan menyalakan kompornya.


"Bisa kan?" Tanya Devano yang membuat gadisnya itu mendengus kesal


"Gak!"


Tertawa kecil Devano memperhatikan kekasihnya yang tengah sibuk membuka bumbu mie dan menaruhnya di piring.


"Gue selalu kena marah kalau minta masakin mie di rumah." Kata Devano


"Kenapa?" Tanya Adara


"Hmm gak tau Daddy selalu marah dan bilang kalau itu gak sehat atau jangan sering makan makanan instan bahkan gue sama Devina cuman dibolehin makan mie beberapa kali dalam sebulan." Kata Devano


Adara sedikit terkejut, tidak bukan karena perkataannya melainkan karena itu adalah kalimat terpanjang yang pernah pria itu ucapkan.


Apa itu artinya Devano sudah mulai terbuka sekarang?


"Selama Bunda koma gue sering banget makan mie." Kata Adara sambil tertawa kecil


"Vina sering banget bandel kadang kalau malam dia sering maksa Bi Santi untuk masakin mie." Kata Devano


"Itu pasti keliatan banget Devina orangnya ngeyel." Kata Adara


"Bener! Dia ngeyel banget kadang Mommy sama Daddy sampai kesel sendiri kalau udah ngadepin Vina." Kata Devano membuat Adara tertawa mendengarnya


"Pernah gak lo atau orang tua lo marah sama Vina maksudnya marah yang bener-bener marah?" Tanya Adara sambil menoleh dan menatap Devano sekilas


Terlihat seperti sedang berfikir Devano menggelengkan kepalanya pelan setelahnya lalu mengatakan hal yang membuat Adara tersenyum miris dan kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Gak pernah karena kalau udah ngeliat Devina yang mau nangis kita gak bakal tahan dan berakhir maafin dia." Kata Devano


Enak sekali kehidupan Devina dan bolehkan kalau Adara mengatakan hidup gadis itu terlampau sempurna?


Kembaran yang perhatian dan orang tua yang begitu sayang padanya, bolehkah Adara iri dengan itu semua?


"Ini udah siapp." Kata Adara sambil berusaha tersenyum dan mengajak Devano untuk pergi ke meja makan


"Di ruang tengah aja sambil nonton tv." Kata Devano dengan mata yang terus memperhatikan kekasihnya


Adara mengangguk singkat dan membawa Devano ke ruang tengah lalu menghidupkan tv dan menyerahkan remote kepada pria itu tanpa mau menatapnya.


"Vano gue mau ke...."


"Sini dulu." Kata Devano sambil menarik Adara agar duduk


Piring berisi mie yang tadi gadis itu masak Devano letakkan ke meja dan sekarang dia tengah memperhatikan kekasihnya lalu menyampirkan helaian rambut Adara ke belakang kuping.


Dia bukan tidak menyadari kalau ada perubahan di wajah kekasihnya.


"Jangan sedih"


Kalimat singkat itu membuat Adara menghela nafasnya yang terasa begitu berat bahkan sekarang dia mulai merasa kalau matanya mulai berair.


"Don't cry"


Sayangnya perkataan itu malah membuat setetes air mata Adara benar-benar jatuh dan membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan lalu menghapusnya dengan begitu lembut.


"Gue iri Van sama lo dan Vina kalian punya keluarga yang utuh dan bahagia gak kayak gue...."


Devano tidak mengatakan apapun hanya memilih untuk membawa gadis itu ke dalam pelukannya, memberikan ketenangan.


Devano sangat menyayangi Adara dan melihat gadis itu menangis adalah hal yang paling tidak dia inginkan.


"Gue juga mau punya keluarga utuh merasakan pelukan hangat dari Ayah dan sarapan bertiga sama Ayah dan Bunda, sesederhana itu, tapi sekarang semuanya mustahil." Kata Adara sambil berusaha menahan air matanya


Tidak ada isakan dia berusaha untuk menahan semua tangisannya, enggan untuk terlihat lemah didepan Devano.


Sayangnya sikap Adara yang berusaha untuk kuat itu malah membuat Devano semakin terluka.


Beberapa saat setelahnya Adara menguraikan pelukan lalu berusaha tersenyum kepada Devano yang malah semakin membuat pria itu merasa begitu terluka melihatnya.


"Nanti mie kamu dingin Van." Kata Adara


Salut sekali Devano melihat Adara dan karena dia tidak ingin membuat gadis itu kembali sedih akhirnya Devano mulai memakan mie yang tadi gadis itu masak. Matanya masih terus menatap Adara yang sekarang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh arti juga senyuman yang begitu tulus.


Setelah habis Devano meletakkan piringnya di meja dan meminum air putih yang tadi dia bawa lalu kembali menatap Adara. Cukup lama mereka bertatapan sampai Adara mengataka sesuatu yang membuat Devano tersenyum.


"Makasih Vano"


Baru ingin membalas Adara kembali bicara, tapi kali ini perkataannya membuat Devano merasa kesal bukan main.


"Dulu aku pernah berfikir kalau lebih baik aku mati dari pada..."


"Jangan pernah fikirin hal kayak gitu lagi!" Kata Devano sambil meraih kedua tangan Adara dan menggenggamnya


"Iya enggak"


"Ada gue Dar lo gak pernah sendirian hubungin gue kalau ada apa-apa." Kata Devano


Adara kembali menganggukkan kepalanya.


"Kalau udah lulus kamu mau kuliah dimana Van?" Tanya Adara


Entah kenapa dia mulai berfikir ke sana dan merasa takut kalau Devano pergi jauh darinya.


"Belum tau, jadi sekarang mau pakai aku kamu?" Tanya Devano


Adara menatap Devano dan tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya.


"Boleh kan?" Tanya Adara


Tertawa kecil Devano mencubit pelan pipi gadisnya.


"Boleh"


Tersenyum senang Adara meminta Devano untuk menunggu lalu membawa piring serta gelas kotor tadi ke dapur dan meninggalkan Devano yang sekarang meraih ponsel milik gadisnya. Beruntung tidak di kunci dan dia tersenyum melihat foto gadis itu bersama dengan Bunda nya.


Membuka aplikasi whats app Devano langsung melihat chat teratas yang ada nama Ayah disana.


Meskipun pria itu sudah begitu jahat, tapi Adara masih menghargainya dan perlahan tangan Devano membuka pesan itu lalu membacanya.


Pesan yang membuat tangannya terkepal dengan kuat.


Ayah : Angkat telpon saya Dara!


Ayah : Besok saya akan susul kamu dan kamu harus kembali ke rumah saya tinggalkan rumah itu!


Ayah : Kembalikan juga uang yang telah Papa saya berikan untuk kamu!


Mungkin Adara sudah terlalu lelah.


Adara : Saya akan tetap tinggal disini


Adara : Terima kasih karena masih memperhatikan saya


Adara : Terima kasih juga karena tidak datang ke acara pemakaman Bunda


Saat mendengar langkah kaki Devano langsung menutup aplikasi whats app nya dan berbalik membuka galeri.


"Ihh ngapain?" Tanya Adara


"Lihat galeri kamu." Kata Devano sambil mendongak dan tersenyum


"Gak ada apa-apa disana." Kata Adara


Entah kenapa menggunakan kata aku-kamu dengan Devano membuat Adara merasa sangat senang.


"Emm Vano"


"Kenapa hmm?" Tanya Devano sambil menatap kekasihnya


Adara terlihat ragu, tapi dia tetap mengeluarkan sesuatu yang tadi dia sembunyikan di balik punggungnya.


"Aku beli case phone kembar emm..."


Tertawa kecil Devano merebut kedua case phone itu dari tangan Adara dan sebelahnya dia pakaikan ke ponsel sang kekasih. Kemudian Devano mengeluarkan ponselnya dan melakukan hal yang sama, dia tidak pernah memakai case phone.



"Mau kembaran kan?" Tanya Devano


Adara mengangguk malu.


"Sekarang udah kembar." Kata Devano sambil mengangkat ponselnya dan ponsel Adara


"Makasihh"


Devano hanya mengangguk lalu mengusap pipi kekasihnya itu dengan begitu lembut.


"Vano"


"Hmm"


"Boleh peluk?" Tanya Adara


Tidak ada jawaban, tapi Devano langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Aku sayang banget sama kamu Van jangan pernah tinggalin aku ya?"


Devano tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Never"


Dia tidak akan pernah meninggalkan Adara.


¤¤¤


"Ihh gemes banget case phone nyaaa"


Helaan nafas Devano terdengar ketika Devina merebut ponselnya dan menatap case phone itu denan mata berbinar lalu berlari keluar kamar sambil beruseru kencang. Menggelengkan kepalanya Devano ingin tertawa melihat tingkah kembarannya itu lalu dia mengikuti Devina yang sekarang sudah sampai di ruang tengah menemui Fahisa dan Daffa yang sedang menonton tv.


"Mommy Mommy harus lihattt!"


Secara tiba-tiba Devina muncul dan berdiri di depan tv membuat Fahisa juga Daffa terkejut melihatnya, tapi gadis itu hanya tersenyum lebar. Sesaat setelahnya Devano ikut muncul dan menatap Devina sambil menahan senyumnya, menggemaskan sekali


"Lihat Vano pakai case phone lucu bangett terus ini pasti kembaran sama pacarnya! Aku yakin Mommy Daddy! Vina yakin seratus persen ehh enggak seribu persen." Kata Devina


Awalnya Fahisa dan Daffa hanya diam, tapi mereka tertawa setelahnya dan membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal.


"Terus kenapa sayang?" Tanya Daffa


"Terus ini tuh gemes bangett apalagi Daddy kan tau Vano itu di sekolah galak banget, tapi sekarang dia pakai kayak gini kan gemess, ya kan?" Kata Devina


"Biasa aja sebenarnya." Kata Daffa


"Ihhh Daddy!" Rengek Devina


"Tidak ada yang spesial sayang." Kata Fahisa sambil menahan tawanya ketika melihat Devina yang merasa kesal


"Ihh Mommy!"


"Devina iri Mom karena dia sama pacarnya gak punya." Ledek Devano sambil merangkul kembarannya yang semakim cemberut


"Enggak"


"Jadi karena itu? Vina beli juga dong sama pacarnya." Kata Daffa


"Ihh nyebelinnnn"


Mereka tertawa melihat Devina yang sangat menggemaskan dengan wajah cemberutnya apalagi ketika gadis itu menghentakkan kakinya kesal dan kembali ke kamarnya.


"Vina mau kemana?" Tanya Daffa


"Daddy diam Vina ngambek sama Daddy! Pokoknya Vina ngambek sama Mommy juga apalagi sama Vano!" Keluh Devina


Menggelengkan kepalanya pelan mereka ingin tertawa melihat Devina. Berbanding terbalik dengan Devina, iya dia memang merasa iri dan sekarang dia mau mengeluh sama kekasihnya. Memasuki kamar Devina mengunci pintu dan mengambil ponselnya lalu menelpon Ziko sambil menjatuhkan dirinya di ranjang.


Ketika di angkat Devina langsung memanggilnya.


"Zikooooooo"


'Kenapa Devinaa?'


"Ziko kesel! Kesel banget! Pokoknya kesel!" Keluh Devina


'Kesel kenapa? Sini kasih tau aku'


"Ziko pokoknya aku mau kayak Vano! Mau kayak gitu juga!" Kata Devina yang terdengar seperti rengekan


Ziko menahan tawanya disebrang sana.


'Mau apa hm?'


"Case phone yang lucu kayak punya Vano dia punya terus kembaran sama Adara, aku juga mau." Kata Devina


Tawa Ziko terdengar setelah Devina mengatakan hal itu, dia kira apa ternyata hanya masalah case phone.


"Ih jangan ketawa!" Kata Devina kesal


'Iya enggak memang kamu mau case phone yang kayak mana?'


Senyum Devina mengembang dengan lebar lalu mengatakan sesuatu yang membuat keheningan tercipta untuk beberapa saat.


"Mau warna pink yang lucu"


Pink?


Lucu?


Jadi Ziko harus pakai case phone?


¤¤¤


Maaf kemarin gak sempet update😣


Vina nih ikut-ikutan aja lohhh😂 Penasaran gak gimana Vano sama Adara bisa pacaran??