My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (89)



Devano benar-benar merajuk pada kembarannya karena kejadian kemarin hingga dia hanya menanggapi perkataan gadis itu dengan seadanya bahkan terkadang hanya bergumam pelan sebagai jawaban. Rasa kesal Devano masih terasa hingga sekarang ketika kemarin dia malah mendengar suara Ziko yang mengatakan kalau Devina tertidur dan ingin pulang malam.


Saat ini Devano sedang berada di kamarnya memetik senar gitar dengan asal untuk menghilangkan rasa bosan dan kesalnya. Mereka baru saja selesai sarapan dan Devano langsung pergi ke kamarnya tanpa mau menyapa Devina, entahlah dia masih merasa sangat kesal.


Sejak kembali dari rumah sakit Devano memang manja sekali pada Devina bahkan dia hanya ingin ada di dekat kembarannya saja. Begitu suara pintu terbuka terdengar Devano tetap diam dia tau kalau itu adalah Devina yang masuk ke dalam, tapi Devano memilih untuk mendiamkannya saja.


"Vanoooo"


Devano tetap diam dan fokus pada gitar dipangkuannya.


"Vano jangan marah sama Vinaa"


Devina merengek pelan sambil menarik-narik lengan baju kembarannya dan memasang wajah cemberut, tapi Devano belum memberikan tanggapan apapun.


"Ih Vano jangan marah maaf kemarin kan Vina ketidurann"


Merasa kesal karena Devano tidak memberikan tanggapan apapun Devina mengambil paksa gitarnya lalu menaruh di dekat lemari dan kembali duduk disamping kembarannya.


"Vanoo jangan marahh"


Menghela nafasnya pelan Devano menoleh dan menatap kembarannya yang kini memasang wajah cemberut, menggemaskan hingga membuat Devano tidak bisa untuk menahan diri dan berbicara.


"Iya"


"Jangan marah Vina minta maaf ya? Kemarin Vina ngantuk banget." Kata Devina sedih


"Iya aku juga minta maaf karena diemin kamu." Kata Devano membuat Devina tersenyum senang


"Beneran gak marah?" Tanya Devina


"Hmm enggak udah enggak marah." Kata Devano sambil mencubit gemas pipi kembarannya


Devina tersenyum lalu mendekat dan memeluk kembarannya dengan erat membuat Devano ikut tersenyum sambil membalas pelukannya.


"Vano kenapa marah? Biasanya Vano enggak marah aku juga pernah pulang malam." Kata Devina


"Gak tau aku memang lagi sensitif aja." Kata Devano


"Ih Vano kayak cewek yang lagi pms." Kata Devina membuat Devano merasa gemas dan mencubit pipinya


"Kamu ngantuk banget kemarin?" Tanya Devano


"Heem ngantuk banget." Kata Devina


Devano tersenyum lalu mengusap kepala Devina dengan sayang.


"Kemarin aku nungguin kamu pulang." Kata Devano


"Hm kenapa?" Tanya Devina sambil menatap kembarannya


"Karena aku kangen." Kata Devano membuat Devina tertawa kecil mendengarnya


"Tumben Vina kan biasanya pergi sama Ziko, tapi Vano gak kangen." Kata Devina


"Gak tau Vin dari kemarin aku maunya deket-deket kamu terus." Kata Devano


"Ishh manja banget kalau habis sakit." Kata Devina


Tidak melayangkan protes Devano hanya tersenyum saja ketika mendengarnya lalu memeluk Devina lagi dengan cukup erat. Sejak kemarin dia memang sensitif sekali bahkan ketika Devina lagi tidak ada Devano mencarinya dan menanyakan keberadaan gadis itu kepada orang tuanya.


Entahlah Devano hanya ingin berada di dekat Devina kemarin, tapi sekarang dia sudah bersikap biasa lagi.


Kemarin dia memang sedikit berlebihan.


¤¤¤


"Kamu udah baik-baik aja kan Van?"


Pertanyaan yang diajukan kekasihnya itu Devano jawab dengan anggukan serta senyuman manis membuat Adara menghela nafasnya lega lalu memeluk pria itu dengan sayang. Saat Devano di rumah sakit dia hanya pergi kesana satu kali dan kemarin Adara juga tidak ke rumah karena memang dia masih sibuk dengan ujian yang baru selesai minggu ini, berbeda memang dengan Devano yang sudah lebih dulu menyelesaikan ujiannya.


Rasanya cemas sekali pada Devano hingga dia berkali-kali menanyakan keadaan pria itu pada Devina bahkan pada orang tua Devano juga, tapi melihat pria itu sekarang terlihat membaik dengan wajah yang tidak pucat serta suhu tubuh yang tidak panas membuat Adara merasa lega. Kembali pada Devano yang tersenyum lalu membalas pelukan kekasihnya dengan cukup erat sesekali dia juga mengusap punggungnya.


Devano bisa memahami alasan Adara tidak bisa melihat keadaannya dia juga tidak mungkin egois membuat Adara meninggalkan ujiannya hanya untuk menemui dan melihat keadaannya.


"Aku udah baik-baik aja." Kata Devano


"Maaf aku baru bisa datang." Kata Adara sambil menjauhkan tubuhnya dan menatap pria itu lagi


"It's okay aku enggak masalah dengan itu semua karena aku mengerti keadaan kamu Ra." Kata Devano dengan senyuman manisnya


"Aku cemas banget Van kamu gak biasanya sakit sampai lama gitu apalagi sampai di rawat di rumah sakit." Kata Adara sedih


"Hmm aku gak tau waktu itu lemes banget Ra dan karena gak semakin membaik Daddy jadi bawa ke rumah sakit." Kata Devano


"Makanya Vano kamu tuh jangan keseringan begadang udah dibilang juga masih aja." Kata Adara membuat Devano tersenyum mendengarnya


"Iya enggak Ra"


"Sekarang ngomong enggak nanti kalau udah baikan gitu lagi." Omel Adara


"Vann kamu jangan ketawa gitu ah aku serius." Rengek Adara


"Iya iya enggak lagi Adara sayang." Kata Devano


"Awas ya gitu lagi." Kata Adara dengan wajah galaknya


"Iyaa enggak"


Adara tersenyum tipis lalu mengusap kepala Devano dengan sayang membuat pria itu memejamkan matanya.


Saat ini keduanya ada di ruang tengah hanya duduk berdampingan dan saling berhadapan, tapi hal itu sudah cukup membuat Devano merasa senang. Menatap wajah kekasihnya itu dalam diam Adara tersenyum lalu mengatakan sesuatu yang membuat Devano membuka matanya.


"Aku takut kehilangan kamu Van." Kata Adara pelan


Sangat pela hingga hampir tak terdengar, tapi Devano masih sanggup mendengarnya.


"Aku gak akan kemana-mana Ra." Kata Devano


"Bisa kamu janji?" Tanya Adara


Devano tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu mengangkat jari kelingkingnya dan menautkan dengan jari Adara.


"Pinky promise baby"


Mendengar hal itu Adara tertawa kecil Devano menggemaskan sekali, dia sangat beruntung bisa memiliki pria seperti Devano.


"Aku sayang banget sama kamu Van"


Devano tersenyum senang dia meliriki ke sekitar lalu mencium sekilas bibir Adara dan mengatakan hal yang sama.


"Aku juga sayang banget sama kamu Ra"


¤¤¤


Mengikuti langkah kaki Mommy nya yang tadi mengajak untuk pergi ke mall Devina tersenyum senang dan terlihat sangat antusias ketika Fahisa mengatakan kalau sebentar lagi ulang tahun Daddy nya. Saat ini Fahisa berniat untuk membeli kado dan dia mengajak Devina karena Devano baru saja pulang dari rumah sakit selain itu ada Adara juga di rumahnya.


Fahisa berniat membelikan jam tangan untuk sang suami dan Devina hanya mengangguk setuju saja ketika Fahisa meminta pendapatnya. Memasuki salah satu toko jam Fahisa duduk bersama Devina sambil melihat ke arah etalase yang berbariskan jam dengan berbagai pilihan harga.


Mengingat jam yang biasa suaminya pakai Fahisa meminta pelayan toko untuk membawakan jam dengan merk yang biasa suaminya pakai.


"Mommy mau beli jam aja?" Tanya Devina


"Iya, menurut Vina kita harus beli apa lagi?" Tanya Fahisa


"Em gak tau Daddy udah punya semuanya." Kata Devina membuat Fahisa tertawa kecil mendengarnya


Tidak lama setelah mengatakan hal itu pelayan toko datang dan memberikan apa yang Fahisa minta. Ada lima jam tangan yang dia bawa dan Fahisa melihatnya satu per satu.


Terkadang dia suka bingung kalau harus memberikan kado untuk suaminya karena benar apa yang anaknya katakan Daffa memiliki semuanya.


Entah apa barang yang tidak pria itu miliki.


"Mommy yang ini bagus Vina gak pernah lihat Daddy pakai jam seperti ini." Kata Devina


Fahisa melihat ke arah jam yang anaknya tunjuk lalu mengambil dan melihatnya.


"Bagus sayang yaudah kita ambil yang ini aja." Kata Fahisa


Mengatakan kalau dia akan mengambil barang itu Fahisa mengeluarkan kartu untuk membayar. Setelah selesai Fahisa mengajak anaknya untuk keluar dari toko lalu menanyakan hal pada anaknya.


"Kamu mau beli sesuatu gak sayang?" Tanya Fahisa sambil merangkul anaknya dengan sayang


"Hm mau makan spagheti aja." Kata Devina


"Okay kita makan." Kata Fahisa


Keduanya jalan beriringan dengan Fahisa yang merangkul anaknya.


"Mommy"


"Hmm"


"Vina mau kasih hadiah juga untuk Daddy." Kata Devina


"Vina mau kasih apa?" Tanya Fahisa


Devina menatapnya dengan senyuman lalu mengatakan sesuatu yang membuat Fahisa ikut tersenyum mendengarnya.


"Vina mau kasih Daddy sesuatu yang pernah Daddy kasih waktu Vina masih kecil dan nanti Vina bakal kasih surat juga untuk Daddy"


Tentu saja suaminya akan senang, dia selaku bahagia setiap menerima hadiah dari anak-anaknya.


¤¤¤


Haii maaf baru update :)