
Tiga bulan kehamilan Adara baru saja pulang dari pemeriksaan ke Dokter dan dia begitu senang juga lega mendengar kandungannya yang begitu baik juga sehat. Sebelum pulang ke rumah Adara mengajak Devano untuk pergi ke kedai ice cream karena katanya dia mau makan ice cream.
Tentu saja Devano menurut mobilnya juga baru saja berhenti di area kedai ice cream membuat Adara tersenyum senang. Keduanya turun Devano juga pergi memesan sebelum duduk dan menunggu pesanan mereka datang.
Adara duduk manis sambil menatap Devano dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Vann"
Devano bergumam pelan sebagai tanggapan.
"Kenapa sayang?" Tanya Devano
Adara menggelengkan kepalanya pelan dan meminjam ponsel Devano yang langsung pria itu berikan kepadanya.
"Van ada gak cewek yang suka chat kamu?" Tanya Adara sambil membuka aplikasi chat suaminya
Adara melihat beberapa chat yang ada dan diantaranya ada yang tidak ada nama.
"Ada, tapi gak banyak gak pernah aku tanggapi juga." Kata Devano
"Huh masih aja deh pada ganjen sama suami orang." Keluh Adara melihat beberapa pesan dari wanita yang ada di ponsel suaminya
Beruntung Devano sama sekali tidak menanggapi jangankan di balas bahkan Devano saja tidak membacanya.
"Biarin aja Ra." Kata Devano
"Kamu senang ya banyak yang chat gitu?" Tebak Adara dengan mata memicing
"Bumil jangan ngomong yang aneh-aneh gitu." Kata Devano
Adara menghela nafasnya pelan dan mengangguk singkat sebagai tanggapan.
"Alex sama Cessa beneran mau nikah Van?" Tanya Adara
"Bener lagi siapin semuanya mereka Alex sendiri yang cerita." Kata Devano
Adara mengangguk lagi dan tak lama pesanan mereka datang membuat senyum Adara mengembang dengan sempurna, dia langsung mengembalikan ponsel milik suaminya.
Devano tersenyum melihatnya lalu menatap Adara yang langsung memakan ice cream coklat miliknya dengan penuh semangat.
"Pelan aja Ra makannya." Kata Devano
Adara mendongak lalu tersenyum membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan.
"Van habis ini beli martabak yukk." Ajak Adara
"Memang udah ada yang buka masih jam segini?" Tanya Devano melihat jam masih menunjukkan pukul sebelas
"Ya kita carii pasti ada." Kata Adara dengan penuh semangat
"Iya iya nanti cari." Kata Devano
Adara langsung tersenyum senang dan kembali memakan ice creamnya.
Devano sendiri hanya memakan sedikit ice cream miliknya dia malah asik menatap Adara dan tawa kecilnya terdengar kala melihat sudut bibir istrinya yang kotor. Tangan Devano terulur mengusap sudut bibirnya membuat Adara menatapnya lalu tersenyum.
"Van mau coba punya kamu." Kata Adara
Devano tersenyum lalu menyuapi Adara ice cream miliknya.
"Hm enak ini rasa vanilla ya?" Tebak Adara
"Iya, kamu mau? Makan aja gak papa aku udah." Kata Devano membuat mata Adara berbinar
"Beneran boleh buat aku?" Tanya Adara
"Boleh"
Adara tersenyum dan membawa ice cream milik Devano ke hadapannya lalu memakan kedua ice cream yang kini telah menjadi miliknya.
Devano hanya sibuk memperhatikan Adara dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Dia jadi tidak sabar menanti kelahiran kedua anaknya.
°°°°
Pertama kalinya Adara mengalami morning sickness dia memuntahkan semua sarapannya dan berusaha menahan mual yang terus menyerangnya padahal Adara sudah muntah banyak sekali. Beruntung Devano belum berangkat, jadi sekarang dia menemani Adara yang masih menunduk di wastafel karena mual yang masih menyerangnya.
Setelah merasa Adara cukup tenang dia membasuh mulutnya dan langsung memeluk Devano dengan manja. Merengek pelan Adara ingin pergi ke kamar dan Devano langsung menggendongnya lalu meminta Daddy nya untuk berangkat lebih dulu karena dia akan menyusul.
"Vano kalau Adara tidak mau di tinggal tidak masalah kamu di rumah aja dulu." Kata Daffa
"Iya Dad"
"Nanti Mommy bawakan air hangat ya?" Kata Fahisa
Devano mengangguk lalu kembali melangkahkan kakinya ke kamar dan membaringkan Adara di sana.
"Vannn"
"Kenapa sayang? Apa yang sakit?" Tanya Devano dengan penuh kelembutan
"Vann sini aja ya? Bilang Daddy kamu gak ke kantor." Rengek Adara
"Iya aku disini." Kata Devano
Adara terisak pelan dia bangun dan memeluk Devano lagi.
"Sakit perutnya ya?" Kata Devano
Adara mengangguk singkat dia mengeratkan pelukannya tak lama Fahisa masuk ke dalam kamar dia membawa segelas air hangat.
"Adara minum dulu." Kata Fahisa dengan penuh kelembutan
Adara menurut dia melepaskan sejenak pelukannya dan meminum air hangat yang diberikan mertuanya.
"Makasih Ma"
"Perutnya sakit? Kamu masih mual enggak?" Tanya Fahisa lagi
Adara mengangguk lagi sebagai jawaban.
"Ma Vano di rumah aja ya?" Pinta Adara dengan wajahnya sendunya
Fahisa tersenyum dan mengangguk dia mengusap pelan pipi menantunya itu dengan sayang.
"Iya Daddy bilang Vano bisa di rumah hari ini." Kata Fahisa
Adara tersenyum singkat.
"Kalau ada apa-apa panggil Mama dan sebentar lagi Adara makan ya? Perutnya harus di isi." Kata Fahisa
Adara mengangguk lagi dan ketika Fahisa keluar dari kamar Adara kembali memeluk suaminya.
Devano dengan sayang mengusap kepalanya lalu meminta Adara untuk berbaring.
Devano mencium singkat perut Adara lalu berbisik pelan di sana.
"Anaknya Papa yang pintar ya sayang jagain Mama"
Devano duduk di dekat istrinya lalu mengusap kepala Adara dengan sayang dan mencium keningnya.
Kalau begini Devano tidak tega akan lebih baik kalau dia saja yang merasakannya.
°°°°
Aku update hehe😅
Oh iya nanti ini aku samain seperti Devina yaaa yang kehamilannya sudah lima bulan, okayyy biar sama alurnyaa🥰