My Possessive Twins

My Possessive Twins
87 : Selamat Ulang Tahun



Keadaan Devina sudah semakin membaik bahkan lusa dia sudah boleh pergi ke sekolah oleh orang tuanya karena perban di kakinya telah dilepas hanya tinggal perban di tangannya dan kabar baiknya lagi hari ini adalah hari ulang tahunnya. Iya, tanggal 20 Oktober hari ini dia dan Devano berulang tahun, tapi masih belum ada ucapan selamat apapun bahkan Devina merasa sangat sedih sekarang.


Padahal dia berharap kejutan di tengah malam atau setidaknya ucapan selamat ulang tahun saja, baik Devano atau orang tuanya belum ada yang memberikan ucapan selamat ulang tahun dan Ziko juga belum. Jadilah Devina merasa sangat tidak bersemangat hari ini dan memilih untuk berbaring seharian di kamar sambil mengecek ponselnya.


Sayangnya masih tidak ada apapun padahal biasanya notifikasi akan berebut muncul di ponselnya, tapi sekarang sama sekali tidak ada. Lebih mengesalkan lagi Devina sudah mengirim pesan pada kekasihnya, tapi masih belum di balas sampai sekarang dan orang tuanya juga malah pergi lalu Devano sibuk belajar.


Menghela nafasnya pelan Devina dengan hati-hati turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar Devano lalu masuk tanpa meminta izin. Saat ini Devano sedang duduk di meja belajarnya sibuk berkutat dengan buku pelajaran dan ketika dipanggil barulah dia menoleh.


"Vanooo"


Melihat kembarannya Devano langsung berdiri dan merangkul Devina lalu mengajaknya untuk duduk di sofa dengan hati-hati.


"Kenapa?" Tanya Devano


"Vano enggak inget ini hari apa?" Tanya Devina pelan


"Inget ini hari ulang tahun kita kan?" Kata Devano


Devina tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.


"Mommy sama Daddy kok enggak ucapin apa-apa terus Kak Ara juga dan Vano juga samaaa." Keluh Devina membuat kembarannya itu tersenyum


"Yaudah, selamat ulang tahun Devina." Kata Devano


Bukan senang Devina malah mengerucutkan bibirnya dan merajuk, bukan itu keinginannya.


"Ihh bukan gitu Vano maksud aku, kenapa pada lupa? Masa gak ada yang bilang apa-apa untuk kita?" Keluh Devina


"Mungkin masih pada sibuk Vin." Kata Devano


"Tapi, biasanya kan enggak gitu." Kata Devina dengan wajah sebalnya


"Jangan cemberut gitu, aku ajak jalan-jalan deh biar gak sedih." Kata Devano


"Bener yaa?" Kata Devina dengan wajah senangnya


"Hmm kamu mau kemana?" Tanya Devano


"Ke kedai ice cream." Kata Devina


Ikut tersenyum Devano mengusap puncak kepala kembarannya dengan sayang.


"Yaudah kamu pakai rok dulu kakinya kan masih sakit." Kata Devano


"Yess"


Dengan penuh semangat Devina meninggalkan kamar kembarannya dan setelah gadis itu pergi Devano mengambil ponselnya untuk menelpon Daddy nya. Mereka memang memiliki kejutan untuk Devina, aneh memang padahal Devano juga berulang tahun, tapi malah ikut diajak kerja sama.


"Halo Dad aku sama Vina mau pergi." Kata Devano


'Sampai sore ya Van?'


"Hmm oke Dad." Kata Devano


Setelah mematikan panggilan telponnya Devano mengambil jaketnya di lemari dan keluar dari kamar. Beberapa saat setelahnya pintu kamar Devina terbuka dan gadis itu kekuar dengan memakai rok panjang serta sendal jepit.


Tersenyum manis Devano mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh kembarannya. Terlihat sekali kalau Devina sangat bersemangat dan sekarang Devano harus berfikir, kemana dia akan membawa Devina sampai sore?


"Habis ke kedai ice cream mau kemana lagi?" Tanya Devano


"Emm terserah." Kata Devina


Mengangguk singkat keduanya pergi ke garasi dan Devano langsung membukakan pintu untuk Devina lalu berlari memutar dan masuk ke dalam mobil. Di perjalanan Devina terus tersenyum sambil menatap kembarannya yang fokus menyetir.


"Mau nonton film?" Tanya Devano membuat mata Devina semakin berbinar


"Bolehh?"


"Hmm boleh." Kata Devano


"Mauuuu"


Melihat hal itu Devano tertawa kecil dan mengatakan kalau mereka akan pergi ke bioskop setelah dari kedai ice cream.


"Yesss sayang Vanoo"


Devano hanya bergumam dan kembali fokus pada jalan dia juga menghiraukan Devina yang mengambil ponselnya di dashboard. Biarkan saja Devina juga sudah biasa memainkan dan mengotak-ngatik ponselnya, dia tidak kaget.


Sampai di kedai ice cream senyum Devina semakin mengembang lebar dan dia duduk sambil menunggu Devano yang memesan. Sekarang rasa kesalnya sudah sedikit menghilang dan berganti dengan perasaan senang karena masih ada Devano disampingnya.


Ah dia sayang sekali dengan Devano.


Beberapa saat setelahnya Devano kembali dan duduk dihadapannya sambil tersenyum.


"Coklat kan?" Kata Devano yang dijawab dengan anggukan oleh kembarannya


"Emm Vano mau nanyaa." Kata Devina


"Nanya apa?" Tanya Devano


"Kamu enggak mau kasih aku kadoo?" Tanya Devina dengan bibir mengerucut


Mendengar hal itu Devano tertawa, tentu saja dia sudah menyiapkan kado untuk Devina bahkan sudah sejak kemarin dia menyiapkannya.


"Kasih, tapi ada di rumah nanti ya?" Kata Devano


"Benerann?" Tanya Devina dengan penuh antusias


Devano mengangguk dan membuat kembarannya itu semakin senang lalu sesaat setelahnya pesanan mereka datang. Senyum manis Devina mengembang sudah lama dia tidak makan ice cream sejak mengalami flu.


"Tapi, Vano aku enggak punya kado kan aku sakit jadi enggak bisa cari kado." Kata Devina dengan wajah sedihnya


"Enggak papa Vin." Kata Devano


"Emm gantinya Vano boleh minta apa aja sama aku." Kata Devina dengan senyum manisnya


"Kalau gitu aku minta kamu supaya cepet sembuh dan senyum terus jangan sedih atau sakit lagi." Kata Devano


Untuk sesaat Devina terdiam, tapi setelahnya dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Oke"


"Vano kado untuk aku apaa?" Tanya Devina kembali memulai percakapan


"Rahasia lah Vin masa dikasih tau." Kata Devano


"Ihh aku penasaran." Kata Devina


"Nanti kamu tau kok." Kata Devano


"Hmm yaudah, tapi aku mau nebak ya?" Kata Devina yang dijawab dengan anggukan singkat oleh kembarannya


"Kalungg?"


Devano menggelengkan kepalanya pelan.


"Gelang?"


Lagi, Devano menggelengkan kepalanya.


"Emm baju? Boneka? Sepatu?"


Sekali lagi Devano menggelengkan kepalanya membuat Devina menghela nafasnya pelan.


"Terus apa dongg?" Tanya Devina


"Kan rahasia." Kata Devano


"Ihh nyebelinn." Kata Devina


Devano hanya tertawa dan menyuruh Devina untuk menghabiskan ice cream miliknya. Melirik jam tangannya sekarang masih pukul dua siang berarti kalau mereka ke bioskop dan menonton film akan pas waktunya.


Rencananya mereka akan memberikan kejutan sekitar pukul lima, seharusnya untuk Devano dan Devina, tapi Devano sudah tau semuanya jadi itu bukan kejutan untuknya.


"Mau nonton film apa?" Tanya Devano


"Emm yang romantis yaa? Boleh kan?" Kata Devina dengan penuh harap


Kembarannya itu memang selalu menolak kalau di ajak menonton film romantis karena katanya itu membosankan, tapi Devina suka.


"Hmm"


Devina kembali tersenyum, memang Devano selalu menuruti semua keinginannya.


Dia jadi makin sayang.


¤¤¤


Pukul lima sore semua sudah berkumpul di rumah keluarga Wijaya termasuk teman-teman si kembar dan juga kekasihnya, mereka akan memberikan kejutan untuk Devano juga Devina. Beberapa dari mereka yang tau rencana ini tertawa karena Devano yang harusnya mendapat kejutan malah ikut menjadi bagian dari rencana.


Tentu saja kedua orang tuanya juga Sahara menyiapkan kado ulang tahun untuk Devina dan Devano. Mereka sudah semakin dewasa sekarang bahkan Fahisa masih belum menyangka rasanya baru kemarin mereka bertengkar karena gambaran Devina yang dirobek, tapi sekarang mereka sudah mau kuliah.


Sahara membawa kue ulang tahunnya ketika mereka mendengar knop pintu yang di taruk dan semuanya berseru secara bersamaan membuat keduanya terkejut bukan main. Berbeda dengan Devina yang terkejut juga senang, Devano hanya terkejut karena seruan yang cukup keras.


"HAPPY BIRTHDAYY"


Bersama dengan kembarannya mereka berjalan mendekat ke arah Sahara yang tersenyum pada keduanya.


"Selamat ulang tahun adik-adik kesayangan akuuuu." Kata Sahara dengan penuh semangat


Keduanya tersenyum lalu orang tua mereka mendekat dan memeluknya bergantian. Tidak seperti Devano yang tersenyum sambil mengucapkan terima kasih Devina justru menangis karena merasa terharu.


"Kenapa nangiss?" Tanya Fahisa sambil tertawa


Dia menghapus air mata anaknya dengan lembut.


"Vina kiraiin lupaaaa." Rengek Devina


"Ya ampun sini peluk Daddy dulu." Kata Daffa merasa gemas dengan tingkah anak perempuannya


Mengerucutkan bibirnya Devina mendekat dan memeluk Daffa dengan hati-hati karena lukanya masih terasa sedikit sakit.


"Masa lupa sih, mana mungkin hmm." Kata Daffa sambil mencium puncak kepalanya dengan sayang


Melepaskan pelukannya Devina menatap mereka semua satu per satu dan tersenyum senang lalu mendekat lagi pada kembarannya.


"Vano udah tau yaaa?" Tanys Devina


"Hmm"


"Licikk masa Vano tau, tapi aku enggak." Keluh Devina


"Sstt udah ah sini tiup lilinnya sama-sama dan jangan lupa make a wish yaa?" Kata Sahara


Devina dan Devano saling bertatapan lalu tersenyum sambil mendekat ke arah Sahara kemudian memejamkan matanya, mengatakan harapan mereka sebelum akhirnya meniup lilin itu hingga mati.


Selesai itu Devina memeluk kembarannya dan Devano juga melakukan hal yang sama.


Mereka menatap kedua anak itu dengan senyuman, Devina dan Devano memang sering kali membuat iri. Bukan iri karena pacar, tapi iri karena memiliki saudara yang perhatian dan penuh kasih sayang.


Sore yang tidak akan pernah bisa keduanya lupakan.


Senyum manis Devina mengembang dengan begitu lebar ketika Ziko memberian sebuket bunga untuknya bahkan keduanya menjadi pusat perhatian sekarang hingga wajah Devina mulai memerah. Bersamaan dengan ucapan selamat ulang tahun Ziko memberanikan diri untuk memeluk kekasihnya dan membuat mereka berdua jadi malu juga canggung.


Setelah melepaskan pelukannya Devina menatap Ziko dan mengucapkan terima kasih pada pria itu, dia fikir Ziko lupa, tapi ternyata pria itu ikut bersekongkol dengan keluarganya.


"Mommy keberatan gak kalau anaknya nikah muda?" Canda Sahara membuat Devina merengek dengan wajah memerah


"Ihh Kak Araaaa"


Mereka semua tertawa melihat Devina yang sekarang wajahnya memerah dengan sempurna.


Devina mau menghilang saja dari muka bumi untuk sementara.


¤¤¤


Masih ada lagi guysss😂


Kebanyakan enggakk nihh???