My Possessive Twins

My Possessive Twins
19 : Si Posesif Devano



Semenjak kehadiran Devano di kehidupannya Adara merasa seperti hidup kembali raganya yang sempat menghilang telah datang lagi bahkan bersama dengan senyuman tulus yang telah lama hilang. Sudah satu bulan berlalu sejak orang tua Devano membeli rumahnya dan sudah selama itu juga Juan atau istrinya tidak mengganggu Adara lagi, dia lega karena sekarang hidupnya terasa lebih baik.


Hubungannya dengan Devano juga semakin dekat, meskipun belum ada kata sepasang kekasih bagi keduanya, tapi perlakuan mereka kepada satu sama lain membuktikan betapa mereka saling menyayangi. Selain itu Devano juga sesekali mengajaknya ke rumah pria itu atau menemani dia untuk pergi ke rumah sakit.


Salah satu alasan kenapa sampai saat ini Juan masih membiayai seluruh pengobatan Bunda nya adalah surat wasiat Kakek yang menyatakan bahwa Juan harus membiayai seluruh pengobatan Bunda dan seluruh biaya sekolah Adara, jika tidak semua harta Kakek akan disumbangkan ke sebuah yayasan.


Mungkin jika bukan karena itu Juan tidak mungkin mau repot-repot mengurus dia dan Bunda yang sakit.


Mungkin juga Juan selalu mendoakan kematian untuk Bunda nya bereda dengan Adara yang selalu berdoa untuk kesembuhan juga keselamatan Bunda.


Semakin hari Adara juga berubah dia tidak lagi sering berkelahi, tapi sikap dingin dan juteknya tetap masih melekat dalam dirinya. Namun, berbeda kalau bersama Devano dia jadi lebih terbuka mudah tersenyum dan mengeluarkan tawanya.


Beralih pada kehidupan mereka sekarang ada Devina yang menjalani kehidupannya seperti biasa dan sekarang Alex juga sudah kembali mendekatinya, tapi Devina masih sedikit menjaga jarak.


Bukan karena Hara, tapi Devina hanya belum siap untuk kembali dekat dengan pria itu dan dia takut kalau perasaannya kembali tumbuh.


Saat ini Devina tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, entah siapa yang ada dihatinya sekarang, tapi yang jelas dia belum bisa menerima Alex mungkin kalau untuk berteman tidak masalah. Selain itu belakangan ini dia semakin dekat dengan sahabat baiknya, Ziko bahkan mereka berdua sering jalan bersama ke mall, toko buku, menonton film, dan bukan sekali dua kali juga Devina menonton Ziko serta teman-temannya bernyanyi di cafe.


Semua berjalan seperti biasa.


Hari ini untuk pertama kalinya Devina menemani kembarannya latihan bersama dengan Adara yang duduk disampingnya, Devano yang meminta Adara untuk menemaninya juga. Mereka duduk berdampingan sambil mengobrol, ah satu lagi Devina dan Adara sudah berteman baik sekarang.


Bisa dibilang Devina teman pertama Adara.


"Lo bosan gak sih Vin kalau disuruh nunggu Vano latihan?" Tanya Adara


Devina mengangguk dengan wajah tidak semangatnya.


"Bosan banget apalagi kalau pas tanding, lamaaa rasanya aku mau bubarin pertandingan biar cepet pulang." Kata Devina membuat Adara tertawa kecil ketika mendengarnya


"Dulu gue gak suka Devano menurut gue dia itu sok ganteng." Kata Adara


Devina menatapnya dengan tidak percaya, baru Adara yang mengatakan kembarannya sok tampan.


"Masa? Kenapa kamu ngomong gitu?" Tanya Devina penasaran


Adara hanya mengangkat bahunya acuh, dia juga tidak tau kenapa bisa begitu.


"Gak tau tiba-tiba aja mikir kayak gitu pas lihat dia tanding tahun kemarin." Kata Adara


"Lucu, baru kamu yang bilang kayak gitu." Kata Devina sambil terkekeh


"Lo deket sama Ziko?" Tanya Adara


"Hmm dia sahabat baik aku, kamu kenal sama dia?" Tanya Devina


"Teman waktu smp." Kata Adara membuat Devina mengangguk faham


"Menurut kamu dia orangnya gimana?" Tanya Devina penasaran


Adara hanya mengangkat bahunya acuh, sejak dulu dia jarang memperhatikan orang lain hanya fokus pada dirinya sendiri saja.


"Baik, gue gak tau banyak karena kita gak dekat, tapi lo sama dia cocok." Kata Adara membuat Devina salah tingkah mendengarnya


Banyak sekali yang mengatakan hal seperti itu padanya.


"Kenapa bisa bilang gitu?" Tanya Devina


"Dia suka sama Lo Vin, kelihatan banget dan gue penasaran lo suka sama dia?" Tanya Adara


Devina hanya diam enggan untuk menjawab, sudah dia bilang kan kalau dia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya sekarang.


"Kalau gitu lo suka sama Alex?" Tanya Adara lagi


Devina masih tetap diam, dia benar-benar bingung harus menjawab apa.


Kalau dibilang tidak Devina masih suka salah tingkah dan gugup kalau bersama Alex, tapi ketika bersama Ziko dia merasa sangat senang bahkan kalau sehari saja pria itu tidak masuk dia kesepian.


"Gue boleh kasih saran?" Tanya Adara yang dijawab dengan anggukan oleh Devina


"Pilih seseorang yang selalu buat lo tersenyum Vin dan cari seseorang yang selalu membuat lo merasa berharga yang menatap lo dengan penuh cinta, jangan sampai menyesal pada akhirnya." Kata Adara


Devina terdiam sebentar lalu mengangguk faham dan mengucapkan terima kasih atas sarannya.


Banyak yang bilang kalau Ziko menyukainya, tapi Devina sendiri tidak yakin apa pria itu memang benar menyukainya atau tidak.


Alex juga selalu mengatakan bahwa dia serius ketika mengatakan bahwa dia menyukai Devina, tapi Devina sendiri tidak yakin apa pria itu memang menyukainya atau hanya menjadikannya mainan belaka.


Terlalu banyak kemungkinan yang tidak mau Devina fikirkan rasanya dia masih terlalu muda untuk mengenal cinta.


Setelah latihan selama satu jam mereka berlari ke pinggir lapangan dan Devano langsung mendudukkan dirinya di tengah-tengah Devina dan adara membuat yang lainnya mengganggu Devano.


"Menang banyak lo Van, sini lah Devina suruh sama gue." Kata Erick


Baru akan menjawab Alex sudah menoyor kepala teman baiknya itu membuat Devina tertawa ketika melihatnya.


"Vina punya gue! Iya kan Vin?" Kata Alex sambil mengedipkan sebelah matanya


"Aku punyanya Mommy sama Daddy." Kata Devina membuat wajah Alex langsung masam apalagi ketika yang lainnya malah meledek dia


"******!"


Tidak menyerah Alex mendudukkan dirinya disamping Devina.


"Vina pulangnya sama gue aja ya? Baik nih gue Van biar lo bisa berduaan sama Dara di mobil." Kata Alex membuat Adara dan Devano menatapnya dengan tajam


"Gak!"


"Elah Van waktu itu pas temennya Vina mau nganterin dia lo boleh giliran gue enggak, licik lo sama temen sendiri." Protes Alex membuat Devina tertawa melihatnya


"Jangan marah-marah." Kata Devina


"Iya sayang enggak lagi." Kata Alex membuat Devano mendengus kesal ketika mendengarnya


"Motor lo gede Lex tinggi juga." Kata Devano


"Terus masalahnya apa? Masalahnya lo sensian kalau sama gue." Kata Alex lagi


"Devina pakai rok nanti pahanya kelihatan, gak boleh nanti lo curi-curi kesempatan." Kata Devano


"Bener tuh Van jangan boleh Van." Kata Erick


"Iya Van apalagi matanya Alex jelalatan banget." Tambah Gara


Wajah Alex semakin masam ketika mendengarnya, tau gitu dia bawa motor mattic aja tadi.


"Lo selalu berpikiran buruk sama gue." Kata Alex


"Kamu lebay banget sih Lex." Kata Devina sambil tertawa


"Memang lebay." Kata Devano


Alex baru akan bicara, tapi Devano sudah lebih dulu mengajak keduanya untuk pulang.


Kebetulan Devano membawa mobil tadi makanya dia juga meminta Adara untuk menemaninya.


Dia masih belum terlalu percaya kalau Adara akan benar-benar pulang jika bukan dia yang mengantar karena beberapa minggu lalu bukannya pulang Adara malah bertemu Satria, tidak bisa dibiarkan lagi.


"Duluan ya?" Kata Devina dengan ramah


"Chat aku nanti balas ya Vin." Seru Alex ketika Devina sudah mulai menjauh


Dari jauh Devina mengangkat jempolnya.


Sepertinya perjalanan cinta dia masih sangat panjang.


¤¤¤


Sudah sekitar satu jam Devina berkutat dengan pena dan buku yang dia atas meja, dia mengerjakan tugasnya sambil mendengarkan musik melalui earphone.


Suara merdu Ziko terdengar disana, iya Sahara memang sedang memutar kembali nyanyian Ziko yang sering dia rekam dan ada juga yang Ziko kirimkan untuknya. Namun, tiba-tiba lagunya terhenti digantikan dengan ponsel Sahara yang bergetar menandakan ada panggilan masuk disana.


Ternyata nama Ziko yang tertera disana membuat senyum Devina mengembang dengan sempurna, panggilan vidio.


Tanpa berfikir lagi Devina langsung mengangkatnya dan tersenyum saat wajah Ziko muncul diponselnya.


"Kenapa Ziko?" Tanya Devina dengan suara lembutnya


'Chat aku gak di balas, kamu masih apa?'


Devina mengangkat bukunya yang ada di meja lalu menunjukkan pada Ziko sambil tersenyum.


"Masih ngerjaiin tugas tau, kamu udah belum?" Tanya Devina


Dengan cepat Ziko menggelengkan kepalanya sambil menunjukkan cengirannya.


'Lihat kamu kan besok?'


"Bayarrr!" Kata Devina galak membuat Ziko tertawa ketika mendengarnya


'Pakai lagu ya?'


Awalnya Ziko hanya bercanda, tapi Devina malah mengangguk dengan semangat dan mengatakan hal yang membuatnya terdiam.


"Aku tadi lagi dengerin suara nyanyian kamu yang pernah aku rekam biar enggan ngantuk." Kata Devina


Santai sekali dia mengatakannya tanpa tau bahwa Ziko terlihat salah tingkah dan malu karena ucapannya.


'Bohong kan?'


"Ihh bener tau." Kata Devina tidak terima karena dikatakan berbohong


'Iya percaya, jadi mau dengar aku nyanyi lagi?'


"Mauuu"


'Mau lagu apa cantik?'


"Emm terserah." Kata Devina sambil tersenyum manis


'I won't give up?'


Menganggukkan kepalanya Devina memperhatikan Ziko yang sedang berdiri untuk mengambul gitarnya dan ketika pria itu meletakkan ponselnya lalu memangku gitarnya sambil tersenyum manis ke arahnya, saat itu juga Devina merasa terbius hingga matanya enggan untuk beralih ke yang lainnya.


Saat Ziko mulai memetik gitarnya dan bernyanyi Devina mendadak diam dia jadi enggan untuk menulis lagi karena melihat layar ponselnya saja sudah membuat dia bahagia.


Awalnya Devina ingin mendengarkan suara nyanyian Ziko sambil mengerjakan tugasnya, tapi setelah melihat Ziko bernyanyi dia malah enggan untuk menulis lagi.


I won't give up on us


even if the skies get rough


 


I'm giving you all my love


I'm still looking up


Ternyata tanpa Devina sadari dia malah asik memandangi Ziko yang bernyanyi dan bukan kembali melanjutkan tugasnya.


Bagaimana mungkin dia menyia-nyiakan pemandangan indah ini?


Rambut Ziko terlihat sedikit berantakan dari biasanya dia menggunakan kaos hitam berlengan pendek yang membuat tangan kekarnya terlihat.


Bagaimana mungkin Devina harus melewatkannya?


Setelah pria itu selesai bernyanyi dan kembali meletakkan gitarnya lalu mengambil ponselnya yang dimeja Devina tersenyum lebar.


"Bagus suaranya." Kata Devina


'Wah terbang nih karena udah dipuji cewek cantik kayak kamu'


Devina tertawa dan sesaat setelahnya pintu kamar Devina terbuka menampilkan kembarannya yang menatap dia dengan mata memicing.


Dahi Devina berkerut ketika Devano menatapnya dengan tajam, tapi saat pria itu berjalan mendekat dan menarik ikat rambutnya hingga rambut hitamnya yang tergelung ke atas jatuh begitu saja, dia baru sadar.


"Sama siapa?" Tanya Devano


"Sama Ziko." Kata Devina


Saat Devina menunjukkan layar ponselnya kepada kembarannya Ziko tersenyum kepada Devano yang hanya pria itu tanggapi dengan senyuman tipis tak ikhlas.


"Tidur"


"Masih ngerjaiin tugas." Kata Devina


"Kamu lagi ngobrol bukan ngerjaiin tugas." Kata Devano


"Ihh iya abis ini ngerjaiin." Keluh Devina


Mencubit pipi kembarannya dengan cukup kuat Devano mengambil laptop milik Devina dan bilang bahwa dia meminjamnya sebentar.


Devina hanya mengangguk dan memperhatikan Devano yang berjalan menjauh lalu keluar dari kamarnya.


Setelah Devano pergi Devina kembali menatap layar ponselnya.


'Asik ya Vin punya kembaran'


"Kadang Iya kadang enggak." Kata Devina membuat Ziko tertawa kecil mendengarnya


'Tapi lebih baik Vin dari pada jadi anak tunggal kayak aku gak ada teman kalau di rumah'


"Pantes kamu lebih sering main dari pada di rumah." Kata Devina


'Hm karena di rumah cuman ada Mama kadang juga Mama pergi sama teman-temannya'


"Kasihannn"


Ziko tertawa dan mengatakan bahwa dia sudah terbiasa.


'Belum selesai ngerjaiinnya?'


"Belum hehe matiin aja ya telponnya? Nanti aku malah ngobrol terus." Kata Devina


'Iya, semangat ya ngerjaiinnya aku tunggu tugas kamu di sekolah besok'


Devina berdecak kesal, tapi tetap mengangguk dan melambaikan tangannya lalu mematikan sambungan telponnya.


Sesaat setelahnya sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponselnya.


Semangat sayangnya Ziko♡


Senyum Devina mengembang dengan lebar lalu dia mengetikkan sebuah balasan.


Makasihhhhhhhhh♡


Lalu Devina meletakkan ponselnya di meja dan menarik lepas earphone nya, dia tidak akan melihat balasan lagi.


Ziko selalu membuat harinya menyenangkan dan penuh dengan senyuman.


¤¤¤


Apa kabar Ziko hatinyaaa😋