
"Masih enggak bisa hidup"
Perkataan itu Devina katakan dengan wajah sedihnya kepada Fahisa serta Devano yang sedang menyantap sarapannya, dia ingin bilang pada Daddy nya hanya saja sudah berangkay ke kantor lebih awal. Merengek pelan Devina memberikan ponselnya pada Fahisa dan menunjukkan bahwa ponsel itu sudah tidak mau hidup lagi.
Menghela nafasnya pelan Fahisa meminta Devina untuk tenang karena dia akan mengatakan pada suaminya nanti lewat telpon. Masih tetap sedih Devina duduk di ruang makan dengan wajah murung dan menatap sarapannya dengan malas.
Dia bahkan malas untuk makan.
"Udah makan dulu nanti Mommy bilang sama Daddy." Kata Fahisa
"Terus Vina gimana? Mau kuliah nanti kalau mau minta jemput gak bisa bilang?" Tanya Devina
"Kamu pulang jam tiga kan? Nanti sebelum jam tiga aku udah jemput kamu dan pinjam ponsel Hanifa atau Intan untuk kasih kabar." Kata Devano
"Bener yaa?" Kata Devina
"Iya Vin"
"Yaudah sayang makan dulu sarapannya." Kata Fahisa
Mengangguk lesu Devina mulai memakan sarapannya dengan tidak bersemangat, tapi tetap memakannya hingga habis karena Devano bisa mengomel kalau dia menyisahkan makanannya. Setelah selesai makan Devina pergi ke kamarnya untuk mengambil tas lalu menghampiri Devano yang menunggu di bawah.
Keduanya mencium punggung tangan Fahisa dan memeluknya singkat sebelum berangkat ke kampus. Menggenggam tangan Devina dengan sayang Devano membuka pintu mobil dan membiarkan Devina masuk lebih dulu.
Setelah sama-sama memakai sabuk pengaman Devano melajukan mobilnya menuju kampus mereka.
"Vano"
"Hmm"
"Nanti... em nanti anterin Vina ke kelas ya?" Kata Devina membuat Devano tertawa kecil mendengarnya
"Iya Vina"
Tersenyum senang Devina menyandarkan kepalanya di jok mobil sambil menatap lurus ke depan. Tadi malam dia tidak berkirim pesan dengan Ziko hanya sekali saja menggunakan ponsel Devano untuk mengatakan kalau ponselnya mati.
Hampir setengah jam perjalanan mobil Devano terparkir rapih di fakultas Devina dan dia langsung mengantar kembarannya itu ke kelas karena jam kuliah Devano sendiri masih dua puluh menit lagi. Berjalan beriringan menuju kelasnya Devina menghela nafasnya pelan ketika kelas yang harusnya menjadi tempat dia belajar kosong.
Menatap Devano dengan lesu Devina mengerucutkan bibirnya sebal.
"Enggak datang Dosennya?" Tanya Devano
"Enggak tau hp Vina kan rusak." Kata Devina
Mengeluarkan ponselnya dari saku celana Devano meminta kembarannya untuk menghubungi temannya, tapi ketika di telpon tidak ada yang mengangkat.
"Berarti libur Vano biasanya Intan pasti pegang hp mungkin udah di kasih tau dari tadi malam." Kata Devina
"Terus kamu gimana? Mau pulang lagi? Aku anterin kalau mau pulang." Kata Devano
"Jangan kan sebentar lagi Vano ada jam nanti malah telat." Kata Devina
"Aku telpon Ziko ya?" Kata Devano lagi
"Ziko juga ada jam kalau sekarang." Kata Devina
"Yaudah telpon Daddy aja minta Pak Hadi untuk jemput." Kata Devano
"Vano gak ingat kata Mommy tadi? Sekarang Daddy lagi ada rapat." Kata Devina
Menghela nafasnya pelan Devano mencubit pipi kembarannya dengan gemas.
"Terus gimana?" Tanya Devano
"Vina ke perpustakaan aja ya?" Kata Devina
"Sendirian? Jangan deh." Kata Devano
"Kenapa?" Tanya Devina
"Nanti aku susah cari kamu kan kamu gak ada hp." Kata Devano
"Terus gimanaa?" Rengek Devina
"Ikut ke kelas aku aja." Kata Devano
"Ish nanti kena marah Dosennya." Kata Devina
"Enggak, yaudah kamu ikut ke kelas aku aja." Kata Devano
Devina tidak bisa menolak dan hanya diam ketika kembarannya menggenggam tangannya lalu mereka bersama-sama kembali ke parkiran.
Masuk ke dalam mobil Devano melajukan lagi mobil ke fakultasnya yang tidak membutuhkan waktu lama. Setelah sampai dan memarkirkan lagi mobilnya Devano keluar lalu mengajak Devina untuk mengikutinya.
Tangan Devina digenggam dengan sayang mereka berdua melangkahkan kakinya beriringan menuju kelas yang akan Devano masuki. Berada di lantai dua Devina sedikit ragu ketika ingin masuk ke dalam, tapi Devano tersenyum dan mengatakan tidak papa.
Begitu masuk ke dalam keadaan kelas yang semula cukup ribut mendadak hening karena kedatangan Devano dengan seorang wanita. Semuanya diam kecuali Alex yang langsung menyapa dan menghampiri keduanya.
"Ehh Vinaa"
Tersenyum tipis Devina membalas sapaan itu dengan ramah.
"Loh perasaan bukan ini deh cewek lo Van, baru ya?" Tanya seorang pria yang tidak Devina kenal
"Kembarannya ini." Kata Alex membuat beberapa orang yang mendengar terdiam
Beberapa mata menatap Devina dan Devano secara bergantian, tapi Devano memilih untuk tidak ambil pusing dia membawa Devina untuk duduk di dekatnya.
"Sini duduk samping aku." Kata Devano
Menurut dengan perkataan kembarannya Devina duduk di samping dan tak lama setelahnya Alex duduk juga tepat disampingnya lalu beberapa orang yang tidak Devina kenal mendekat ke arahnya. Tanpa banyak bicara Devano melepaskan almamatee yang dia kenakan lalu digunakan untuk menutupi kaki Devina karena gadis itu memang memakai rok.
Menatap kembarannya dengan senyuman Devina suka sekali karena Devano yang sangat perhatian padanya. Bukan hanya Devina, tapi mereka yang melihat itu semua merasa kagum dan terpesona dengan Devano karena mereka mengenal Devano sebagai pria dingin yang nyaris tak pernah bicara.
"Van ini kembaran lo beneran? Namanya siapa?" Tanya seorang pria yang berdiri di dekat meja sambil menatapnya
"Devina"
"Devina dan Devano wah gila gue gak nyangka Vano punya kembaran." Kata seorang pria yang disebelahnya
"Udah gak usah ditanggapin Mark sama Bryan memang suka kepo." Bisik Devano
Devina menoleh lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Van kenapa Vina disini?" Tanya Alex penasaran
"Dosennya gak masuk hp dia juga lagi rusak." Kata Devano
Mengangguk faham Alex memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi lalu tak lama setelahnya seorang pria paruh baya masuk ke dalam kelas. Sesaat Devina takut karena dia sama sekali bukan mahasiswi yang harusnya masuk ke dalam kelas, tapi Devano yang menggenggam tangannya membuat Devina merasa sedikit tenang.
"Gak papa Dosennya gak bakal nanya kalau kamu diam aja"
Devina tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya.
¤¤¤
"Van buru-buru amat sih"
Begitu mereka menghalangi jalannya Devano berdecak kesal sambil menatap kedua temannya itu bergantian kalah Alex sih dia sudah tidak terlalu masalah. Selain itu Devano juga tau bahwa Devina biasanya risih dengan pria yang sok akrab padanya meski baru pertama kali bertemu.
"Minggir Mark." Kata Devano
"Yaelah Van nanti kenapa kita kan mau kenalan sama kembaran lo." Kata Bryan
"Gak bakal boleh sama Vano." Kekeh Alex
"Pelit banget sih Van." Kata Mark
"Pelit apasih? Udah nih kenalin namanya Devina dia anak sastra udah tunangan, udah kan? Sekarang awas." Kata Devano membuat Alex tertawa kecil mendengarnya
"Udah tunangan? Bohong kan?" Kata Bryan
Menghela nafasnya pelan Devano meraih tangan kembarannya dan menunjukkan jari manis Devina yang terdapat cincin.
"Udah kan?"
Setelah menunjukkan itu Devano menggenggam tangan Devina dan mengajaknya ke parkiran untuk mengantarkan pulang. Masuk ke dalam mobil Devano memakaikan sabuk pengaman untuk kembarannya lalu melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.
"Vano galak banget sama temannya." Kata Devina
"Biarin"
"Vano udah gak ada kuliah lagi?" Tanya Devina
"Nanti siang." Kata Devano
"Vina juga nanti siang." Kata Devina
"Jam berapa?" Tanya Devano
"Jam dua belas." Kata Devina
"Nanti minta antar Pak Hadi aja ya? Aku ada urusan habis ini." Kata Devano
Devina hanya menganggukkan kepalanya, tapi sesaat setelahnya dia malah memiliki rencana lain.
"Vano aku mau ke kantor Daddy." Kata Devina
"Kantor Daddy?"
"Iyaaa anterin kesana." Kata Devina
"Telpon Daddy nya dulu." Kata Devano
Devina menganggukkan kepalanya dan meraih ponsel Devano yang ada di nakas lalu menelpon Daddy nya.
Tidak butuh waktu lama panggilan itu di angkat dan suara Daddy nya terdengar.
"Daddyyyy"
'Iya sayang? Kenapa pakai hp Vano?'
"Hp Vina kan rusak em Daddy boleh enggak Vina kesana? Vina gak mau pulang soalnya nanti siang ada kuliah lagi kan kantor Daddy lebih dekat." Kata Devina
'Loh hp Vina rusak? Yaudah sayang Vina kesini aja nanti Daddy anterin lagi ke kampus kalau udah mau kuliah'
"Makasih Daddy." Kata Devina senang
'Iya Vina'
Setelah selesai Devina mematikan telponnya dan Devano tidak perlu bertanya apa jawaban yang diberikan Devina karens melihat senyuman kembarannya dia sudah tau. Tak butuh waktu lama hanya sekitar lima belas menit mobil Devano akhirnya sampai di area kantor milik Daffa.
Devina langsung turun dan mengatakan kalau Devano tidak perlu mengantarnya karena mereka memang sesekali ke kantor, jadi sudah tau. Melangkahkan kakinya ke dalam Devina langsung di tatap oleh banyak mata beberapa orang sudah tau statusnya sebagai anak dari atasan mereka, tapi sebagian lagi tidak ada yang tau.
Masuk ke dalam lift dan pergi ke lantai teratas Devina menunggu bersama tiga orang lainnya yang ada di dalam. Begitu lift berhenti Devina tersenyum senang dan langsung keluar, tapi tanpa sengaja seseorang menabrak tubuhnya.
"Maaf"
"Gimanasih?! Jalan yang bener dong!" Sentaknya membuat Devina terkejut dan refleks memundurkan langkahnya
Padahal bukan salahnya Devina jalan dengan hati-hati wanita itu yang salah karena berjalan sambil memainkan ponselnya.
"Jalan pakai mata! Ah jatuh kan hp nya." Kata wanita itu kesal
"Tapi, aku..."
"Retak lagi, lagian ini cewek dari mana sih?! Bukan pegawai sini kan? Kok bisa masuk-masuk sampai lantai teratas gini." Katanya
"Aku...."
Perkataan Devina terputus karena suara Daddy nya yang terdengar dan membuat keduanya menoleh. Wanita itu langsung menunduk hormat ketika Daffa melewatinya, tapi matanya membulat dengan sempurna ketika Daffa menghampiri Devina.
"Kenapa gak ke ruangan Daddy?" Tanya Daffa
"Emm Vina..."
"Oh Siska kenapa kamu masih disini? Bukannya saya minta kamu untuk menemui Andrean di bawah? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Daffa
"Tidak.. tidak Pak saya akan segera ke bawah." Kata Siska sambil bergegas memasuki lift
Bisa habis dia kalau atasannya tau tadi dia membentak anaknya.
Kembali lagi pada Daffa yang kini menatap anaknya lalu tersenyum dan mengusap sayang kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Daffa
Devina menggelengkan kepalanya pelan lalu memeluk lengan Daddy nya dengan sayang.
"Daddy hp Vina rusak." Kata Devina
"Nanti setelah pulang kuliah Vina ikut Daddy kita cari hp baru." Kata Daffa membuat Devina tersenyum senang ketika mendengarnya
"Berarti nanti Daddy jemput Vina ke kampus?" Kata Devina
"Iya"
"Makasih Daddy"
Daffa hanya tersenyum lalu membuka pintu ruang kerjanya dan mengajak Devina untuk masuk ke dalam.
"Kamu duduk dulu Daddy mau nemuin asisten Daddy." Kata Daffa
Baru saja ingin keluar lagi Devina menahan tangan Daddy nya dan mengatakan sesuatu.
"Daddy pinjam hp nya boleh?"
Daffa tersenyum ketika mendengarnya lalu memberikan ponsel miliknya pada anaknya.
Mana mungkin dia menolak keinginan anaknya.
¤¤¤
Hai updatee maaf lamaa😆