
Mungkin definisi kekasih sempurna pantas diberikan kepada Ziko yang begitu mencintai serta menghargai kekasihnya bahkan hanya dengan tatapan mata saja semua orang dapat tau betapa Ziko mencintai Devina. Melihat cara pria itu memperlakukan kekasihnya hingga cara bicaranya yang penuh kelembutan serta kehati-hatian membuat banyak orang juga mendambakan kekasih sepertinya.
Setiap kali Devina meminta atau menginginkan sesuatu Ziko akan menuruti selagi dia bisa dan ketika Devina membutuhkannya dia akan langsung datang agar bisa berada disisinya. Banyak yang bilang betapa beruntungnya Devina dapat memiliki kekasih seperti Devano yang sangat mencintainya.
Jika ditanya Devina juga merasa sangat bahagia karena memiliki Ziko dihidupnya, tapi bagi Ziko dia yang bahagia dan merasa beruntung karena memiliki Devina.
Ya intinya mereka sama-sama bahagia bisa saling memiliki satu sama lain.
"Zikooo"
Saat ini Ziko berada di rumah kekasihnya dia duduk di ruang tamu bersama orang tua Devina serta suami dari Sahara yang memang sedang mengobrol di bawah. Sesaat setelahnya Devina datang lalu duduk disebelah Fahisa dan memeluk wanita paruh baya itu dari samping.
"Mommy Vina mau jalan-jalan." Kata Devina
"Hm Ziko udah bilang." Kata Fahisa
"Apa maksud pakaian kamu Devina sayang?" Tanya Daffa sambil memperhatikan penampilan anaknya
Devina melakukan hal yang sama dia melihat pakaiannya sendiri lalu menatap Daffa dengan senyuman polosnya.
"Gak ada yang salah dengan apa yang Devina pakai Daddy." Kata Devina
"Rok kamu sayang itu terlalu pendek." Kata Daffa penuh peringatan
"Enggak Daddy ini kan pas selutut." Kata Devina cemberut
Daffa baru ingin bicara, tapi Fahisa langsung menegurnya dan membuat pria paruh baya itu menghela nafasnya pelan.
"Baiklah Daddy izinkan Vina pakai baju itu." Kata Daffa
Devina tersenyum senang lalu mengajak Ziko untuk segera pergi dan pria itu hanya mengangguk saja. Sebelum pergi dengan sopan Ziko berpamitan kepada semua orang baru setelahnya menggenggam tangan Devina dan mengajaknya keluar dari rumah.
Memasuki mobil Devina memakai sabuk pengamannya lalu menatap Ziko dengan senyuman membuat pria itu merasa gemas dan mencium keningnya sebentar. Setelah melakukan itu Ziko menghidupkan mobilnya dan melaju pergi meninggalkan area rumah Devina.
"Vina mau poto waktu lagi sunset ya?" Kata Devina
"Iya tadi aku udah minta izin bawa kamu pulang sampai agak malam." Kata Ziko membuat Devina tersenyum senang mendengarnya
"Berarti makan malam dulu?" Tanya Devina
"Iya sayang kita makan malam dulu." Kata Ziko
"Vina sukaa hari ini kita jalan-jalan bareng." Kata Devina senang
Ziko ikut tersenyum melihatnya lalu kembali fokus pada jalan dan membiarkan Devina yang kini mengambil ponsel miliknya, dia tidak pernah melarang Devina menyentuh barang miliknya.
"Ziko ini kenapaaa?" Tanya Devina dengan wajah kesal
"Kenapa gimana?" Tanya Ziko bingung
"Kenapa Ziko ada grup sama Tiara, Lisa, Naumi, dan Putra?? Kenapa ini grup apaa?" Tanya Devina posesif
"Oh itu grup tugas Vina aku lupa belum keluar tadinya berenam sama Nizam juga, tapi kayaknya dia baru keluar grup tugasnya udah selesai soalnya." Kata Ziko menjelaskan
"Terus kenapa Ziko enggak keluar? Aku keluarin dari grup enggak boleh ada grup sama cewek-cewek gini banyak lagi nanti mereka ganjen sama Ziko." Kata Devina sambil mengeluarkan Ziko dari grup
Ziko diam saja dia memang berniat untuk keluar, tapi belum sempat lagian itu juga grup untuk tugas. Kembali pada Devina yang melihat-lihat semua pesan yang masuk ke dalam ponselnya, tapi tidak menemukan apapun.
"Ziko apa Tiara masih suka chat?" Tanya Devina
"Udah jarang kalau dulu sering karena kita masih kuliah dia jadi serung nanya tugas, tapi karena udah selesai dia jarang chat." Kata Ziko membuat Devina mengangguk faham
Devina menyandarkan tubuhnya pada jok mobil sambil menatap Ziko dengan senyuman.
"Ziko pegang tangan Vinaa"
Mendengar hal itu Ziko menurut dia meraih tangan kekasihnya dan menggenggam dengan sayang membuat senyuman manis Devina mengembang dengan sempurna.
Merogoh tas nya Devina mengambil sesuatu disana lalu tanpa izin memakaikan di tangan Ziko sebuah jam yang dia beli bersama Fahisa.
'Mom aku mau beli jam jugaa'
Merasakan sesuatu Ziko melirik sebentar dan matanya membulat ketika melihat jam tangan yang sudah terpakai di tangannya.
"Vin kamu gak perlu beliin aku gini." Kata Ziko
"Gak papa Ziko kan cuman sekalii Vina baru beliin Ziko sekali ini aja." Kata Devina
Melihat kekasihnya yang memasang wajah sedih Ziko menghela nafasnya pelan lalu meraih tangan Devina dan menciumnya singkat.
"Iya makasih sayang"
Sekali lagi senyuman manis Devina mengembang dengan sempurna akhirnya dia berhasil memberikan sesuatu pada kekasihnya.
¤¤¤
Pantai, tempat itu sangat Devina sukai apalagi kalau sore ketika sunset akan terkihat dia akan sangat senang dan bersemangat hingga menolak untuk beranjak dari tempatnya duduk. Saat ini keduanya sudah sampai dan lagi duduk sambil menikmati air kelapa yang keduanya beli lalu melihat ke depan.
Suara debur ombak terasa menenangkan dan hembusan angin yang sesekali datang membuat suasana pantai semakin terasa menyenangkan. Tangan Devina digenggam dengan sayang sesekali sebuah usapan penuh kelembutan juga dia rasakan.
Banyak yang bilang Devina itu terlalu manja dan kekanakan, tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Ziko dia tidak pernah berpikir seperti itu dan sebaliknya Ziko sendiri yang memperlakukan Devina bak seorang puteri kerajaan.
Baginya Devina memang pantas mendapatkannya.
"Ziko em nanti kita liburan yuk? Tapi, gak berdua karena Daddy gak bakal bolehin." Kata Devina
"Memang kamu mau kemana?" Tanya Ziko lembut
"Belum tau, tapi Vina mau liburan bareng-bareng sama Mona dan yang lainnya terus sama Vano pokoknya seperti waktu kita ke villa itu Ziko." Kata Devina
"Hm gitu boleh kalau kamu mau aku akan ikut." Kata Ziko
"Ziko kenapa nurutin semua maunya Vina? Kayaknya Ziko enggak pernah bilang enggak kalau Vina minta sesuatu." Kata Devina membuat Ziko tersenyum mendengarnya
"Ya karena aku masih bisa nurutin semua mau kamu Devina selagi bisa aku bakal nurutin semua mau kamu." Kata Ziko
"Ziko gak mau minta sesuatu sama Vina?" Tanya Devina
Ziko terlihat seperti sedang berpikir lalu menatap Devina dan mencubit gemas pipinya.
"Jangan pernah tinggalin aku"
Devina tersenyum mendengarnya.
"Siapa juga yang mau ninggalin Ziko? Vina udah pernah bilang kalau Ziko udah buat Vina jatuh cinta, jadi Ziko harus sama Vina terus." Kata Devina
Tertawa kecil Ziko mengacak gemas rambut kekasihnya, dia cinta sekali dengan Devina.
¤¤¤
Pukul delapan malam mobil Ziko berhenti di rumah Devina setelah keduanya menyelesaikan makan malam dan sekarang Devina tengan menatapnya dengan senyuman manis. Hari ini mereka sangat bersenang-senang dan melakukan banyak hal bersama-sama hingga baru pulang jam segini.
Mengambil tas miliknya Devina kembali menatap sang kekasih lalu mengusap kepalanya dengan sayang dan mengatakan kalau dia akan pulang.
"Vina pulang ya?"
"Nanti dulu Vin." Kata Ziko tiba-tiba
Devina tersenyum lalu menatapnya dengan senyuman.
"Iya Ziko mau apa?" Tanya Devina
Ziko hanya tersenyum lalu melepaskan sabuk pengaman dan membawa tangannya ke tengkuk Devina hingga membuat gadis itu terdiam dengan mata membulat.
Mendekatkan wajahnya Ziko mendaratkan sebuah ciuman di bibir kekasihnya dan Devina hanya diam karena dia pikir Ziko akan menjauhkan wajahnya sebentar lagi, tapi yang pria itu lakukan malah semakin membuat Devina terkejut.
Ziko mengusap pipinya dengan sebelah tangannya lalu menggerakkan pelan bibirnya disana dan menggigit bibir bawah Devina agar terbuka.
Apa salah kalau Devina pingsan sekarang?
¤¤¤
Ziko balikk lagiii😻