My Possessive Twins

My Possessive Twins
49 : Buku dan Sekotak Pizza



"Vina marah sama lo?"


Pertanyaan yang diajukan oleh gadis dihadapannya hanya Devano jawab dengan anggukan singkat, dia sedang berada di rumah Adara karena sepulang sekolah Devina langsung pergi dengan Ziko dan Devano tidak melarangnya hanya mengirim pesan kepada kekasih kembarannya itu untuk memberi kabar. Sampai sekarang Devina memang masih mogok bicara dan ini adalah kali pertama mereka saling mendiamkan hingga satu hari, Devano akui dia merasa sangat kehilangan sosok yang biasanya cerewet serta selalu mengganggunya.


Merasa mood nya sangat tidak baik Devano memutuskan untuk mengantar Adara pulang dan terlebih dahulu mengajak gadis itu pergi ke kedai ice cream langganannya dengan Devina. Pertama kalinya Devano bercerita pada orang lain tentang masalah yang sedang dia hadapi dan Adara adalah orangnya.


"Udah minta maaf?" Tanya Adara


Devano kembali menganggukkan kepalanya sambil menatap ice cream di atas meja itu tanpa minat.


"Dia masih belum maafin?" Tanya Adara


Kali ini Devano mengangkat bahunya dia juga tidak tau apa Devina sudah memaafkannya atau belum, tapi kembarannya itu tidak mau bicara dengannya sejak kemarin.


"Dia cuman jawab seadanya kalau ditanya dan dia juga gak bilang apa-apa setelah gue minta maaf." Kata Devano


"Lain kali jangan gitu Van, gue tau maksud lo baik apalagi itu sama Devina kembaran lo sendiri, tapi lo juga harus tau kalau Devina juga harus berusaha untuk ngertiin dia." Kata Adara


Devano bergumam pelan sebagai tanggapan, dia tau kalau disini dia yang salah.


"Mungkin agak susah untuk dimaafin apalagi gue bentak dia kemarin, Devina paling gak bisa dibentak dari kecil gak pernah ada yang bentak dia." Kata Devano membuat Adara terdiam dengan senyuman tipis


Dadanya terasa sakit ketika mendengarnya, berbeda sekali kehidupan yang dia jalani dan kehidupan yang Devina jalani.


Hidup Adara dipenuhi bentakan, sedangkan hidup Devina dipenuhi kelembutan.


Ada rasa iri yang menguasai diri Adara, tapi dia menyembunyikannya dari hadapan Devano. Semua sudah berlalu sekarang Adara hanya perlu menata hidupnya lagi dan melupakan semua rasa sakitnya.


"Gue cuman gak mau dia kenapa-kenapa Dar karena Vina itu mudah percaya sama orang dan terlalu polos, gue gak mau ada yang manfaatin dia." Kata Devano


"Iya Van gue tau kok." Kata Adara sambil tersenyum


Menatap mata gadis itu Devano ikut tersenyum dia bahagia bisa sedekat ini dengan Adara yang dulu mati-matian menjauhinya.


Takdir memang sering kali memberikan kejutan tak terduga, benar kan?


Sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan mungkin akan terjadi di waktu yang akan datang.


"Hmm mungkin lo harus kasih dia sesuatu sebagai permintaan maaf." Saran Adara


Mendengar hal itu Devano terdiam untuk sesaat lalu sudut bibirnya membuat sebuah senyuman tipis, dia memiliki rencana.


"Dar temenin gue." Kata Devano


"Kemana?" Tanya Adara bingung


"Toko buku." Kata Devano


"Hmm boleh kapan?" Tanya Adara


"Sekarang"


Setelah mengatakan hal itu Devano pergi untuk membayar dan meninggalkan Adara yang tersenyum penuh arti sambil menatapnya. Saat Adara melihat ponsel Devano di meja tanpa sadar tangannya terulur untuk mengambilnya dan ketika layar itu menyala senyum manisnya terukir.


Ada foto dia disana yang entah kapan pria itu ambil tanpa seizinnya.



Saat melihat Devano kembali Adara meletakkannya di meja lagi dan mengikuti langkah kaki Devano keluar dari kedai. Sampai di parkiran Devano membantunya memakai helm dan setelah dia naik motor itu melaju meninggalkan kedai ice cream menuju tempat tujuan mereka selanjutnya.


Di perjalanan entah kenapa tangan Adara terulur untuk memeluk Devano dan membuat pria itu sedikit tersentak, tapi tersenyum lalu menggenggam tangan Adara sebentar. Sama halnya seperti Devano yang merasa beruntung memiliki Adara dia juga sangat beruntung memiliki Devano yang selalu ada untuknya serta membantu dia menghadapi berbagai masalah.


Sesampainya di toko buku Adara langsung turun dan melepaskan helmnya sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari Devano, merasa malu atas perbuatannya tadi. Namun, pria dihadapannya itu justru tersenyum hanya saja tidak berniat untuk menggoda gadisnya dan memilih untuk menggenggam tangan itu lalu memasuki toko buku.


Keduanya pergi ke rak buku berisikan novel yang tertata rapih dan tanpa berfikir panjang Devano langsung mengambil cukup banyak membuat Adara menatapnya tidak percaya.


"Lo main ambil aja Van." Kata Adara


"Gue gak tau dan gak ngerti cara milihnya jadi ambil aja beberapa pasti bakal ada yang Vina suka." Kata Devano


Adara tersenyum geli melihatnya lalu dia ikut melihat-lihat beberapa novel yang ada disana tanpa ada minat untuk membeli karena dia tidak suka membaca.


"Dar kira-kira lima cukup gak? Apa kurang? Tujuh?" Kata Devano


"Lima udah banyak kali Van." Kata Adara


"Sedikit Vina biasanya beli banyak kadang setiap dua minggu dia beli." Kata Devano


"Waw dia suka banget baca novel?" Tanya Adara penasaran


"Hmm di rumah ada perpustakaan kecil yang dibuat atas permintaan Vina." Kata Devano lagi


"Keren banget"


Devano hanya menanggapinya dengan anggukan singkat.


Dia hanya tau Devina biasa membeli buku yang berkisah tentang percintaan dan dia mengambil banyak buku dengan judul yang ada kata Love serta cover cukup romantis.


Selesai memilih Devano mengajak Adara untuk membayar dengan tawaran untuk gadisnya kalau dia mau membeli buku juga, tapi Adara malah tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Style gue bukan baca buku Van, tapi berantem." Kata Adara membuat Devano berdecak kesal mendengarnya


"Sekarang udah enggak." Kata Devano yang dihadiahi tatapan meremehkan oleh Adara


"Lo enggak tau aja." Kata Adara


"Gak tau apa?" Tanya Devano


"Ya apa?" Kata Adara sambil tertawa kecil


"Dar"


"Dor"


"Devanoo"


Merasa kesal Devano mencubit pipi gadis itu dan berlalu pergi meninggalkan Adara yang bersungut kesal sambil berlari menghampirinya.


Dia sudah tidak pernah berkelahi lagi kok Devano memang benar.


Sejak kematian Bundanya Adara malah berfikir untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak membuat Bunda kecewa. Selesai membayar Devano masih enggan untuk bicara dan membuat Adara tersenyum lalu mengamit tangannya.


"Gue udah gak pernah berantem lagi Van karena sekarang satu-satunya hal yang mau gue lakuin hanya memenuhi keinginan Bunda, jadi anak yang baik dan tidak bergantung pada orang lain." Kata Adara


Devano tersenyum dan meraih tangan Adara untuk dia genggam.


Sejak dulu Adara adalah gadis yang baik, Devano sangat tau.


"Mau langsung pulang atau ada tempat yang mau lo kunjungin?" Tanya Devano ketika mereka sampai di parkiran


"Langsung pulang aja Van gue ngantuk mau tidur." Kata Adara


Mengangguk faham Devano kembali membantu Adara memakai helmnya hal yang sebenarnya bisa Adara lakukan sendiri, tapi Devano selaku melakukan hal itu kalau mereka pergi berdua. Saat motor melaju sekali lagi Adara memeluk Devano dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu lalu tersenyum.


Dia selalu merindukan sosok yang bisa melindunginya.


Dimana seharusnya Ayahnya yang ada di posisi itu, tapi ternyata situasi berbalik Ayahnya justru sosok yang selalu menyakitinya.


Saat dimana cinta pertama para wanita ada pada Ayah mereka maka bagi Adara Ayahnya adalah patah hati pertamanya.


Saat dimana para wanita menginginkan sosok pria seperti Ayahnya maka Adara tidak pernah ingin bertemu dengan seseorang seperti Ayahnya.


Berbeda, ada banyak hal yang membuat Adara berbeda dengan orang lainnya.


Tapi, bersama Devano dia kembali merasa bahagia.


Bahagia karena masih bisa bernafas dan menghabiskan banyak waktu dengan Devano disisinya.


Sekarang bagi Adara cinta pertamanya adalah Devano.


¤¤¤


Melihat kembarannya yang masuk ke kamar sambil membawa satu plastik berisikan novel dan satu kotak pizza membuat Devina melongo di atas kasurnya, untuk apa itu semua?


Melangkahkan kakinya ke dalam Devano langsung mendudukkan dirinya ditepian ranjang dan menatap Devina yang mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Menghela nafasnya pelan Devano mengambil ponsel milik kembarannya dan menaruh benda itu di atas nakas.


"Masih marah?" Tanya Devano yang tidak ditanggapi oleh Devina


Gadis itu masih tetap diam dan menatap lurus ke depan tanpa berniat untuk menanggapi.


Sebenarnya dia sudah tidak terlalu marah dan cukup bisa mengerti alasan Devano begitu marah hingga membentaknya karena tadi Daffa juga datang ke kamarnya.


'Daddy sama Vano cuman khawatir sama kamu sayang, iya Daddy tau kalau kamu mungkin tidak suka atau merasa terkekang, tapi Devina kami punya tanggung jawab untuk menjaga kamu sayang'


Sekarang yang Devina rasakan hanya sedikit rasa kesal, tapi dia juga merindukan kembarannya semua terasa sepi karena tidak ada yang bisa dia ganggu.


"Ini aku beliin kamu novel, tapi aku gak tau kamu suka yang mana soalnya aku cuman asal ngambil aja tadi." Kata Devano sambil menyerahkan plastik yang dia bawa


Masih belum menanggapi Devina hanya mengambilnya dari tangan Devano dan mengeluarkan isinya. Secara refleks senyum manis Devina mengembang dan membuat Devano ikut tersenyum melihatnya, rencananya berhasil.


"Ini aku beliin kamu pizza juga tadi pas pulang sekolah aku kesana." Kata Devano membuat senyum manis kembarannya mengembang dengan sempurna


Meletakkan buku-bukunya disamping Devina langsung mengambil kotak pizza yang Devano bawa lalu beranjak dari kasur dan duduk di sofa. Mengikuti langkah kaki kembarannya Devano ikut duduk disampingnya dan tersenyum melihat Devina yang terlihat begitu bahagia.


Semudah itu memang mengembalikan mood kembarannya.


"Masih marah?" Tanya Devano lagi


Devina mendongak dan menatap Devano sebentar.


"Emm sedikitt." Kata Devina membuat Devano tersenyum dan mengusap puncak kepalanya dengan sayang


"Maaf"


"Jangan marah-marah lagi apalagi bentak aku." Kata Devina sedih


"Iya enggak lagi"


"Sekarang peluk?" Kata Devina dengan raut wajah menggemaskannya


Tersenyum penuh arti Devano memeluk kembarannya itu dengan sayang.


Mana bisa dia marahan untuk waktu yang lama dengan Devina.


Satu hari saja rasanya sangat lama.


"Vano"


"Hmm"


"Aku janji gak akan pakai pakaian seperti itu lagi kalau keluar rumah." Kata Devina


Devano hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


Dia sangat menyayangi Devina.


¤¤¤


Double update kannn😋


Besok juga gak yaaaa😂 Btw aku udah mau mulai kuliah udah nyusun jadwal juga, jadi gak janji bakal update rutin.


Tapi, aku bakal usahaiin buat terus update kokk dan kuliahnya belum mulai kok makanya aku bakal sering-sering updateee😂


Cuman karena kuliahnya online kayaknya masih punya waktu untuk update terus doaiin yaa hehe😂