
Ziko kembali masuk ke dalam ruang kerja Daffa setelah mertuanya itu meminta dia untuk datang selesai makan siang dan Ziko langsung kesini untuk menemuinya. Sebelumnya Daffa memberi tau Ziko tentang Devina seperti masalah alerginya serta ketakutan yang sering Devina rasakan dan kali ini mungkin ada hal yang lainnya.
Besok Ziko dan Devina akan pergi ke rumahnya mungkin karena itu Daffa berniat mengajaknya bicara tentang beberapa hal sebelum dia membawa anaknya pergi. Duduk disamping mertuanya Ziko tersenyum singkat dan bersamaan dengan itu Daffa memberikan sesuatu kepadanya.
Sebuah black card.
"Simpan ini." Kata Daffa
"Tidak perlu Pa..."
"Saya tau bahwa kamu dan Zidan pasti bisa mencukupi Devina, tapi biarkan saya melakukan ini kalau kamu tidak bisa menerimanya berikan pada Devina," Kata Daffa.
Ziko baru akan bicara lagi, tapi Daffa sudah lebih dulu melanjutkan ucapannya.
"Tidak masalah kalau tidak mau kalian gunakan, tapi setidaknya terima ini." Kata Daffa
Akhirnya Ziko mengangguk dan menerima apa yang mertuanya berikan.
"Makasih Pa"
"Meskipun ada Zidan dan kamu yang pastinya bisa mencukupi Devina, tapi Papa juga mau memberikan sesuatu untuk anak dan menantu Papa." Kata Daffa dengan senyuman
"Iya Pa terima kasih banyak." Kata Ziko
"Setelah ini tanggung jawab Devina akan sepenuhnya berada di kamu Ziko saya harap kamu akan menjaga Devina." Kata Daffa
"Saya akan melakukan hal itu Pa." Kata Ziko dengan penuh ketegasan
"Saya tau kamu selalu ada ketika Devina butuh dan kamu selalu bisa menenangkan Devina ketika dia sedang sedih atau ketakutan." Kata Daffa
Ziko tersenyum mendengarnya, dia ingat kalau sejak mereka masih bersahabat dulu Ziko selalu mencari Devina kalau gadis itu tidak ada di kelas dan Ziko selalu membelikan Devina sesuatu kalau dia tidak mau ke kantin.
Sejak dulu Ziko selalua menjaga Devina.
"Saya tidak akan pernah melarang Devina untuk berkunjung atau menginap disini Pa." Kata Ziko
"Hm terima kasih." Kata Daffa
"Papa jangan khawatir saya tidak akan membiarkan Devina sedih atau terluka." Kata Ziko
"Iya, baiklah kamu bisa kembali ke kamar kamu Ziko pasti Devina mencari kamu." Kata Daffa
"Vina masih bersama Devano di ruang keluarga." Kata Ziko membuat Daffa mengangguk faham ketika mendengarnya
"Kamu harus terbiasa dengan sikap manjanya Devina pada Devano mungkin besok dia akan menangis." Kata Daffa
Ziko tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Saya sudah terbiasa Pa, baiklah kalau gitu Ziko ke kamar dulu." Kata Ziko
Sebelum pergi ke kamar Ziko mencium punggung tangan mertuanya dengan sopan lalu pergi ke kamar. Benar dugaannya Devina belum kembali, tapi tidak masalah karena istrinya itu pasti ingin menghabiskan waktu bersama dengan kembarannya.
Di lain sisi si kembar tengah duduk bersebelahan dengan Devina yang memeluk erat Devano yang sejak tadi masih diam dan belum bersuara. Besok Devano akan ditinggal dan artinya setelah itu Devano hanya akan tinggal bersama kedua orang tuanya saja karena Sahara sudah menikah dan sekarang Devina juga sudah.
Artinya dia satu-satunya anak Daffa dan Fahisa yang belum menikah.
"Vanoo"
"Hm"
"Maafin Vina kalau selama ini Vina nyebelin terus sering minta macam-macam sama Vano." Kata Devina
"Enggak perlu minta maaf Vin aku gak masalah." Kata Devano
"Vina janji bakal jaga kesehatan biar Vano gak khawatir dan Vano juga harus sama ya?" Kata Devina
Devina melepaskan pelukannya lalu menatap Devano dengan senyuman membuat kembarannya itu ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Vina juga janji bakal ceritaiin apapun ke Vano dan kalau nanti Vina kangen Vina bakal kesini terus nginap." Kata Devina
"Iya Vin"
"Vina sayang banget sama Vano." Kata Devina dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"Jangan nangis." Kata Devano
Sayangnya perkataan itu malah membuat air mata Devina benar-benar turun hingga Devano harus menghapusnya dengan sayang.
"Vano juga sayang banget sama Vina, jadi jangan cemas kalau Vina bahagia Vano pasti bahagia." Kata Devano
Devina terisak pelan lalu memeluk lagi kembarannya dengan sayang erat membuat Devano mengusap kepalanya dan memberikan ciuman di puncak kepalanya.
"Vano selalu bisa rasaiin apa yang Vina rasaiin dan begitu juga sebaliknya, jadi Vina kita memang gak bisa sembunyiin apapun satu sama lain." Kata Devano
"Vina bakal kangen sama Vano." Kata Devina sedih
"Kalau Vina kangen bilang aja atau datang nanti kalau Vina gak bisa datang Vano yang bakal datang." Kata Devano
Devina menjauhkan tubuhnya lalu menghapus air matanya dan mengangkat jari kelingkingnya.
"Pinky promise?"
Devano tersenyum dan menautkan jari kelingking mereka.
"Pinky promise baby"
Tersenyum manis Devina mendekat dan memeluknya lagi seakan tidak puas dengan memeluk Devano yang sudah sejak tadi dia lakukan.
Sebentar lagi si kembar akan berpisah.
¤¤¤
Perkataan Fahisa itu Devina jawab dengan anggukan serta senyuman lalu gadis itu mendekat dan memeluk Fahisa dengan sangat erat membuat wanita paruh baya itu tersenyum sambil membalas pelukannya. Setelah cukup lama berpelukan Fahisa menjauhkan tubuhnya lalu mencium seluruh wajah Devina dengan sayang dan mengusap pipinya.
Setelah satu minggu berlalu Ziko akan membawa Devina pergi ke rumahnya untuk tinggal disana bersama orang tuanya juga dan sekarang mereka sedang berpamitan pada kedua orang tua Devina serta Devano. Mereka terlihat sangat sedih, tapi tetap tersenyum demi membuat Devina merasa lebih baik dan tidak berat untuk ikut bersama suaminya.
Selesai memeluk Fahisa kini Devina berdiri di dekat Daddy nya dan tersenyum lalu memeluknya tak kalah erat bahkan matamnya mulai berkaca-kaca.
"Vina bakal kangen Daddy nanti Vina kesini terus sampai Daddy bosan." Kata Devina membuat semuanya tertawa mendengar perkataan itu
"Daddy gak akan bosan sayang." Kata Daffa
"Bosan nanti Vina datang ke rumah terus ke kantornya Daddy juga." Kata Devina
"Lakukan Devina." Kata Daffa dengan senyuman
Setelah cukup lama berpelukan Devina melepaskan pelukannya lalu mencium pipi Daddy nya dengan sayang dan melakukannya hingga berkali-kali kemudian Daffa melakukannya juga, dia mencium kedua pipi serta kening anaknya.
Begitu selesai Devina berjalan ke arah Devano lalu belum melakukan apapun dia sudah menangis dan memeluk kembarannya dengan sangat erat bahkan lebih erat. Tidak mengatakan apapun Devina malah terisak kuat membuat Devano mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Udah Vin." Kata Devano
"Enggak... enggak Vina mau nangiss." Kata Devina sambil terisak
"Udah jangan nangis nanti jadi jelek." Kata Devano
"Mau peluk Vano yang lama." Kata Devina
"Vin nanti kita masih bisa sering ketemu kok kalau kamu kuliah dan kita sama-sama ada jam kosong nanti aku nemuin kamu." Kata Devano
"Nantii masih mau pelukk." Kata Devina manja
"Yaudah iya nanti aja." Kata Devano
Membiarkan Devina memeluknya untuk waktu yang lama sampai akhirnya gadis itu menjauhkan sendiri tubuhnya lalu menatap Devano dengan penuh kesedihan. Mengerucutkan bibirnya Devina menangkup wajah Devano dan mencubit kedua pipinya cukup kuat lalu mencium kedua pipi serta keningnya lama.
Setelah selesai Devina menatap Devano dalam diam dan kembarannya itu tersenyum sambil mengusap kepalanya dengan sayang.
"Udah jangan sedih kita masih satu kota cuman butuh waktu sebentar kalau mau ketemu." Kata Devano menenangkan
Sebenarnya pria itu juga sama sedihnya, tapi kalau dia juga sedih atau menangis Devina bisa semakin menangis nantinya dan Devano tidak mau.
"Vano pasti kangan aku kan?" Kata Devina
"Enggak"
"Ihh kangen! Harus kangen!" Kata Devina
Devano tertawa karena lucu melihat Devina mengatakan hal itu dengan wajah galak serta wajahnya yang memerah sempurna.
"Iya Vin aku bakal kangen banget sama kamu." Kata Devano sambil mencubit pelan pipinya
"Vina pergi dulu ya? Nanti Vina bakal sering bangett main kesini terus Vina bakal samperin Vano di kampus." Kata Devina
"Iya Vin"
Devina memeluknya sekali lagi lalu dia menghampiri Daffa lagi dan mengangkat jari kelingkingnya.
"Daddy janji gak boleh marahin Vano kalau Vina gak ada." Kata Devina
"Memang Daddy pernah marahin Vano?" Tanya Daffa
Devina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Pernah tiga kali, tapi karen ada Vina marahnya berhenti." Kata Devina
"Iya udah Daddy janji gak bakal marahin Vano." Kata Daffa
Devina tersenyum senang ketika Daffa menautkan jari manisnya.
Setelah itu Devina kembali mendekat pada Ziko dan menatap kedua orang tua serta Devano secara bergantian dengan senyuman tipis yang menghias wajahnya.
"Kami pergi dulu Ma Pa." Kata Ziko
Daffa dan Fahisa mengangguk sebagai jawaban lalu Ziko mentap Devano sebentar.
"Van gue sama Devina pergi dulu ya? Jangan khawatir gue gak akan buat dia sedih apalagi nangis." Kata Ziko
"Hati-hati nanti kabarin kalau kalian udah sampai." Kata Devano
Mengangguk faham Devina melambaikan tanganny lalu bersama Ziko berbalik dan berjalan keluar rumah sambil membawa koper berisikan baju-baju Devina. Sebelum masuk ke dalam mobil Devina menoleh dan menatap mereka dengan senyuman lalu berseru kencang.
"NANTI VINA MAIN KESINII"
Setelah mengatakan hal itu Devina masuk ke dalam mobil dan dia membuka kaca mobil lalu mengeluarkan sedikit kepalanya sambil melambaikan tangan pada keluarganya. Begitu mobil mulai melaju meninggalkan rumah Devina menutup kaca mobilnya lalu menoleh dan menatap ke belakang dimana keluarganya masih berdiri di dekat pintu.
'Sampai ketemu lagi Mommy, Daddy dan Vano'
¤¤¤
Dan akhirnya aku bener-bener selesai nulis cerita My Possessive twins😭
Seneng bangett bisa selesain cerita ini dan untuk kalian semua makasih banyak yang udah setia sama si kembar💞
Oh iya mau nanya memang kalian mau aku buat cerita Devano?
Satu lagi nantikan cerita Vina-Ziko yaa sebentar lagi bakal keluar😚