
Sejak mengetahui kalau kembarannya sakit Devina tidak mau pergi dari kamar Devano meskipun berkali-kali Devano mengatakan bahwa dia tidak papa, tapi tetap saja Devina khawatir. Sama seperti Devano yang sering kali cemas berlebihan tentangnya Devina juga sama, dia sangat cemas melihat Devano yang hanya tidur diam.
Selimut menutupi hingga ke lehernya karena Devano yang merasa kedinginan bahkan Fahisa sudah mengompres dahi kembarannya. Suhu tubuhnya cukup tinggi membuat Devina semakin tidak mau pergi dan memilih untuk duduk di atas ranjang, tepat disebelah Devano.
Devina tidak tau, kenapa kembarannya bisa sampai sakit padahal Devano jarang sekali jatuh sakit. Wajah Devina diliputi kesedihan melihat Devano yang terlihat sedikit pucat.
"Vanoo"
"Hmm"
"Vano masih sakit ya?" Tanya Devina sedih
Devano hanya bergumam pelan sebagai jawaban membuat Devina menghela nafasnya pelan lalu mengusap kepala Devano dengan lembut.
"Aku tadi kasih tau Adara kalau kamu sakit." Kata Devina
"Kenapa?" Tanya Devano pelan
"Ya kan dia pacar kamu harus tau kalau kamu sakit." Kata Devina
"Besok sembuh." Kata Devano membuat Devina berdecak kesal
"Ihh Vano kamu ini sok tau." Kata Devina
Devano tidak mengatakan apapun lagi hanya mengeratkan pelukannya kala hawa dingin kembali menyerangnya.
"Vina"
"Kenapa? Vano mau apa? Nanti Vina ambilkan." Kata Devina dengan cepat
"Dingin"
"Vano udah pakai selimut." Kata Devina
"Masih dingin Vin." Kata Devano pelan
Mendengar hal itu Devina langsung turun dan berlari ke lemari untuk mengambil selimut tebal lagi lalu kembali dan menyelimut Devano.
"Vano masih dingin?" Tanya Devina
Devano bergumam pelan sebagai jawaban membuat Devina langsung berlari keluar kamar untuk memanggil orang tuanya.
"Mommyyyyy"
Ternyata Fahisa baru saja selesai menyiapkan makan malam dan dia langsung menghampiri Devina ketika melihat wajah cemas anaknya.
"Ada apa sayang?" Tanya Fahisa
"Vano katanya dingin padahal sudah Vina kasih selimut dua, tapi masih dingin." Kata Devina
Fahisa menghela nafasnya pelan lalu mengajak Devina untuk pergi ke kamar dan melihat keadaan anaknya. Begitu sampai di kamar seluruh tubuh Devano tertutup selimut membuat Fahisa bergegas menghampirinya dan melepas selimut yang menutupi tubuh anaknya.
Wajah Devano terlihat pucat lalu ketika Fahisa meletakkan tangannya di dahi Devano ternyata panas sekali.
"Vano"
"Hmm"
"Ke rumah sakit ya?" Bujuk Fahisa
"Enggak"
Fahisa menghela nafasnya pelan lalu dia meminta Devina untuk menunggu Devano selagi dia memanggil Daffa agar menelpon Dokter untuk ke rumahnya. Setelah Fahisa keluar dari kamar Devina mendekati Devano dengan wajah sedihnya lalu mengusap pipi kembarannya itu dengan sayang.
Devano hampir jarang sekali sakit makanya melihat Devano yang seperti ini membuat dia cemas bukan main.
"Dingin Vin"
Devano mengatakan hal itu lagi membuat Devina naik ke atas ranjang lalu memeluk Devano dengan sayang.
"Vano jangan sakitt." Kata Devina sedih
Tidak ada jawaban Devano hanya diam, tapi pelukan Devina sedikit membuat tubuhnya menghangat meski dia masih kedinginan.
Entah berapa lama, tapi yang jelas cukup lama hingga pintu terbuka dan Daffa masuk bersama dengan Dokter Daniel. Melihat hal itu Devina beranjak dari atas ranjang, tapi Devano malah menahan tangannya.
"Sini aja Vin." Kata Devano
"Vano kan mau diperiksa nanti aku kesini lagi." Kata Devina sambil melepaskan tangannya
Begitu tangannya terlepas Devina pergi keluar kamar dan membiarkan Dokter Daniel memeriksa kembarannya. Di luar juga ada kedua orang tuanya yang membuat Devina langsung berhambur ke pelukan Daddy nya.
"Daddy kenapa tidak bawa Vano ke rumah sakit saja?" Tanya Devina
"Vano nya tidak mau." Kata Daffa sambil membalas pelukan anaknya
"Vina kalau gak mau dipaksa." Kata Devina membuat kedua orang tuanya tersenyum mendengarnya
"Vina kan tau gimana Vano kalau di bawa ke rumah sakit malah kabur nanti, kita lihat sampai besok ya? Kalau besok masih panas kita bawa ke rumah sakit." Kata Daffa
"Vina mau temenin Vano yaa? Vina gak mau ke kamar." Kata Devina memaksa
"Iya nanti kalau ada sesuatu langsung bangunkan Daddy sama Mommy ya?" Kata Daffa
Devina mengangguk faham lalu melepaskan pelukannya dan menatap Daffa dengan senyuman. Kedua orang tuanya sudah cukup mengerti bahwa Devano dan Devina itu sangat terikat satu sama lain.
"Vanoo"
Devina kembali naik ke atas ranjang membuat Devano membuka matanya dan menatap Devina dengan sayu, dia mengantuk.
"Sini aja Vin." Kata Devano
Devina mengangguk dan mengusap dahi Devano dengan sayang.
"Vina nanti tidur disini yaa?" Kata Devina
"Iya jangan kemana-mana sini aja." Kata Devano manja
Tersenyum manis Devina menatap kembarannya yang sekarang mulai memejamkan matanya, dia tau Devano pasti begadang terus.
"Vano jangan sakit ya? Nanti Vina sedih"
Devina mencium kening Devano sebentar lalu merebahkan dirinya disamping Devano dan memeluknya.
Selagi menunggu makan malam dia akan menemani Devano.
¤¤¤
"Ihh makann"
Devina merasa sedikit kesal ketika Devano yang hanya makan beberapa suap menolak untuk makan lagi karena sudah kenyang, padahal baru sedikit. Sudah berkali-kali Devina membujuk agar kembarannya itu kembali makan, tapi Devano menolak dan terus mengatakan kalau dia sudah kenyang.
Menghela nafasnya pelan Devina meletakkan sendoknya kembali ke piring dan menatap Devano dengan bibir mengerucut sebal. Padahal suhu tubuh Devano masih tinggi dia juga harus minum obat, tapi tidak mau makan.
"Vanoo makan"
"Udah Vin." Kata Devano
"Ihh baru sedikit kan habis ini minum obat." Kata Devina
"Enggak mau Vin pahit mulutnya, udah mana minum obatnya aja." Kata Devano
"Vanooo"
Devina menatap kembarannya dengan sedih.
"Satu lagi dehh ayo aaa." Kata Devina
Menghela nafasnya pelan Devano kembali membuka mulutnya dan menerima suapan yang Devina berikan. Senyum Devina mengembang dengan lebar dia menaruh piringnya di nakas lalu mengambilkan minum dan memberikan obat yang harus Devano minum.
"Ini obatnya." Kata Devina
Setelah Devano menghabiskan minum dan meminum semua obatnya Devina menaruhnya di atas nampan lalu berniat pergi ke dapur untuk menaruh semuanya, tapi Devano malah menahan tangannya.
"Sini aja"
"Vina mau taruh ini dulu di dapur." Kata Devina
"Nanti kesini lagi jangan lama-lama." Kata Devano
Devina tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu pergi keluar kamar untuk menaruh nampannya di dapur. Di dapur Devina melihat Fahisa yang sedang membawa semua piring kotor di meja makan.
"Eh Vina gimana Vano mau makan?" Tanya Fahisa
"Cuman sedikit Mommy." Kata Devina
"Yaudah gak papa yang penting makan." Kata Fahisa
Devina mengangguk dan meletakkan nampannya lalu memeluk Fahisa sebentar dan mengatakan kalau dia ingin kembali ke kamar Devano karena pria itu meminta agar dia tidak lama.
"Kalau ada apa-apa panggil Mommy sama Daddy ya sayang." Kata Fahisa
Devina mengangguk singkat lalu melangkahkan kakinya kembali ke kamar Devano dan ternyata pria itu belum tidur masih bersandar pada kepala ranjang, mungkin karena habis makan. Melihat Devina yang sudah kembali Devano langsung menepuk sisi sebelah ranjangnya membuat Devina tersenyum dan naik ke atas ranjang lalu duduk tepat disebelah kembarannya.
"Sini aja Vin." Kata Devano
"Iya Vina gak kemana-mana kok." Kata Devina
"Vano udah gak dingin?" Tanya Devina
"Enggak"
Devina tersenyum lalu menyentuh dahi kembarannya lagi yang masih cukup panas, tapi tidak sepanas tadi.
"Udah turun panasnya." Kata Devina
Bergumam pelan Devano mulai berbaring di ranjang dan meminta Devina untuk berbaring disampingnya. Begitu saling berhadapan Devano memeluknya membuat Devina tersenyum sambil mengusap kepala Devano dengan sayang.
"Vano kok jadi manja?" Tanya Devina
Tidak ada jawaban Devano hanya mengeratkan pelukannya saja dan tetap begitu hingga dia terlelap.
Devina tersenyum ketika sadar bahwa Devano sudah tertidur.
"Good night Vano"
¤¤¤
Haii aku updatee😋