
"Zikoo enggak bisa nafasss"
Devina mendorong paksa tubuh kekasihnya yang terus mencium bibirnya tanpa henti bahkan memojokkannya ke ujung sofa dimana mereka sedang duduk. Sebenarnya Devina merasa takut sekali kalau ada orang tua Ziko yang melihat, tapi pria itu sama sekali tidak merasa khawatir bahkan terlihat biasa saja.
Begitu wajah mereka menjauh Devina memukul lengan kekasihnya itu karena kesal, tapi Ziko malah tertawa membuat Devina langsung memasang wajah cemberutnya. Melihat hal itu Ziko mencubit gemas pipi kekasihnya yang langsung Devina tepis karena merasa sangat kesal.
Tersenyum manis Ziko menangkup wajah Devina lalu mengusap bibir bawah gadis itu dengan penuh kelembutan dan merapihkan rambut Devina yang cukup berantakan karena ulahnya. Sejak mencium Devina di mobil waktu itu Ziko jadi sering sekali memperhatikan Devina dan menatap tepat di bibirnya, mesum sekali.
"Ish jangan cium terus nanti ada yang lihat kita kena marah." Keluh Devina
"Iya maaf habisnya kamu gemesin minta di cium nanti kalau udah nikah kamu aku cium terus." Kata Ziko
"Ziko sekarang ngomongnya gitu terus." Kata Devina sebal
"Gitu gimana?" Tanya Ziko
"Ya gitu suka ngomong cium-cium sama tidur bareng." Kata Devina
"Habis nikah kan memang gitu Vin." Kata Ziko
"Tuh kannn"
"Ya terus aku harus gimana?" Tanya Ziko
"Vina maluu." Kata Devina dengan bibir mengerucut
"Ya ampun gemes." Kekeh Ziko
"Ziko sih ngomong gitu terus." Kata Devina
"Iya enggak lagi." Kata Ziko
"Jangan ngomong gitu terus Vina nya malu." Kata Devina pelan
"Iya enggak lagi Devina sayang." Kata Ziko
Tersenyum tipis Devina mencubit pipi Ziko karena kesal dan Ziko hanya tersenyum saja karena cubitan di pipinya sama sekali tidak terasa.
"Sekarang Ziko nakal." Kata Devina
"Nakalnya sama kamu doang kok." Kata Ziko
"Iyalah awas aja kalau nakal sama cewek lain aku marah." Kata Devina galak
"Mana mungkin aku nakal sama cewek lain kamu aja udah cukup." Kata Ziko membuat Devina tersenyum mendengarnya
"Ziko mau janji sama Vina gak?" Tanya Devina penuh harap
"Janji apa?" Tanya Ziko sambil meraih kedua tangan Devina dan menggenggamnya
"Janji untuk enggak akan pernah ninggalin Vina." Kata Devina
"Hm janji tanpa perlu berjanji aku akan tetap ngelakuin hal itu Devina." Kata Ziko
"Ya tapi, harus janji sama Vina dulu." Kata Devina
"Iya aku janji Devina." Kata Ziko
Tersenyum senang Devina memeluk kekasihnya itu dengan erat membuat Ziko ikut tersenyum dan membalas pelukan itu sambil mengusap sayang kepalanya.
"Vina punya sesuatu." Kata Devina
Setelah cukup lama berpelukan Devina mengatakan hal itu lalu melepaskan pelukannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ada sebuah gantungan kunci bergambar bintang disana dan Devina memberikannya pada Ziko.
"Untuk aku?" Tanya Ziko
"Heem untuk Ziko gantungan kunci ini Vina beli di pasar malam udah lama waktu kita belum pacaran." Kata Devina dengan senyuman
"Kamu sama siapa waktu beli ini?" Tanya Ziko penasaran
"Vanoo dulu waktu belum pacaran kalau mau kemana-mana bilangnya sama Vano nanti dia yang antar." Kata Devina
"Makasih aku suka." Kata Ziko
"Mau Ziko pasang dimana?" Tanya Devina
"Di kunci mobil." Kata Ziko
Devina mengangguk faham lalu menatap Ziko lagi dengan senyuman membuat pria itu juga tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis disampingnya. Sihir Devina begitu kuat hingga Ziko tidak bisa menghindarinya dengan tatapan serta senyumannya saja Ziko sudah terlena.
Apalagi ketika mata gadis itu menyipit, menggemaskan sekali.
"Vin kamu gak marah kan?" Tanya Ziko
"Marah kenapa?" Tanya Devina
"Marah karena aku ajak aku menikah di usia kita yang masih muda." Kata Ziko
"Em enggak Vina kan mauu hehe kalau Vina marah berarti Vina gak mau." Kata Devina
"Aku sayang banget sama kamu Vin." Kata Ziko
"Aku jugaa"
Devina tidak pernah mau mengalah kalau membahas masalah rasa sayang yang mereka miliki.
Keduanya saling melemparkan senyum hingga suara Nazwa terdengar membuat Devina mendongak dan menatap wanita paruh baya itu dengan senyuman manisnya. Berjalan mendekat Devina mencium punggung tangannya dengan sayang lalu mencium kedua pipinya juga.
Nazwa selalu senang kalau Devina datang ke rumahnya, dia sangat tidak sabar menanti Devina menjadi menantunya.
¤¤¤
Berada di kamar anaknya Fahisa tersenyum sambil memandangi kamar Devina yang bernuansa pink dengan wajah yang tidak bisa digambarkan. Setelah Devina menikah kamar ini akan kosong kebiasaan membangunkan Devina tidak bisa dia lakukan lagi dan menatap anaknya yang sedang tidur tidak bisa dia lakukan juga.
Rasanya sedih Fahisa masih belum rela kalau sebentar lagi Devina akan menikah, tapi sebagai orang tua dia tetap harus melakukannya karena entah sekarang atau nanti hal ini akan terjadi juga. Akibat keguguran yang pernah dia alami Fahisa hanya bisa memiliki dua anak saja padahal dia mau lebih, tapi Tuhan hanya memberikan si kembar Devano dan Devina untuknya.
Tentu saja Fahisa merasa sangat senang dia turut bahagia karena Devina juga merasa sangat bahagia bersama Ziko. Dia hanya berfikir tentang rasa rindu yang pasti akan hadir setiap harinya.
Devina yang biasanya membuat rumah terasa lebih ramai setelah Sahara menikah.
"Eh Mommy ada di kamarnya Vina"
Perkataan itu membuat Fahisa mendongak lalu menatap Devina yang sepertinya baru pulang dan langsung berlari kecil menghampirinya. Memeluk sayang anaknya Fahisa mencium puncak kepalanya lalu kening dan kedua pipinya membuat Devina hanya bisa tersenyum saja.
"Mommy cariin Vina?" Tanya Devina
"Hm anak Mommy sama pacarnya terus." Kata Fahisa membuat Devina tertawa kecil mendengarnya
"Ish mommy kan jarang keluar sama Ziko soalnya Daddy jarang kasih izin." Kata Devina
"Tadi kemana?" Tanya Fahisa dengan senyuman
"Di rumah Ziko aja." Kata Devina
Mengangguk faham Fahisa mengajak anaknya untuk duduk menangkup wajah Devina dan mengusapnya dengan sayang.
Dia akan sangat merindukan Devina nanti.
"Mommy Mommy tau enggak?" Tanya Devina begitu Fahisa menjauhkan tangannya
"Hm tau apa sayang?" Tanya Fahisa
"Tau kalau Vina sayang Mommy." Kata Devina dengan senyuman yang mengembang sempurna
Tertawa kecil Fahisa mencapit gemas hidung anaknya membuat Devina ikut tertawa karenanya.
"Mommy juga sayang banget sama kamu Devina"
Sangat sayang hingga Fahisa tidak bisa menggambarkannya.
Tersenyum senang Devina memeluk Fahisa dengan sayang membuat wanita paruh baya itu langsung membalas pelukan anaknya.
Akan sulit membiasakan diri tanpa Devina nantinya.
¤¤¤
"MOMMY AYO MAIN BELBII"
Devina yang masih berusia empat tahun merengek pada Fahisa dan mengajak Mommy nya untuk menemani dia bermain barbie karena Kakaknya sedang sekolah. Melihat anaknya yang ingin menangis Fahisa menghela nafasnya pelan lalu menaruh peralatan dapurnya dan bercuci tangan sebelum mengikuti anaknya.
Mereka ke ruang tengah yang sudah cukup berantakan dengan Devano yang terlihat asik pada pensil serta bukunya. Dengan penuh semangat Devina berniat mengambil barbie miliknya, tapi melihat barbie nya yang sudah rusak Devina langsung memasang wajah marahnya.
"Vano lusakin belbi aku lagi kan?!" Kata Devina sambil mengangkat barbie yang kakinya hanya tinggal sebelah
"Enggak"
"Bohong! Vano bohong ih nakal nakal belbi Vina kakinya diilangin." Rengek Devina
Melihat hal itu Fahisa langsung meminta Devina untuk diam dan tenang.
"Vano nakal nakal belbi Vina kakinya cuman satu gala-gala vano." Kata Devina sedih
"Nanti dibenerin ya?" Bujuk Fahisa
Devina masih memasang wajah cemberutnya lalu dia mengambil bantal dan melemparnya pada Devano hingga tepat mengenai kepalanya.
"Nakall"
Devina langsung memeluk Fahisa dan menangis membuat Fahisa hanya bisa menghela nafasnya pelan.
Memang begitu kelakuan anak-anaknya.
¤¤¤
Aku updatee💞