My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (22)



Kejutan untuk Adara telah selesai disiapkan dan sejak pagi Devina mengajaknya keluar bersama dengan Ziko selagi yang lainnya menyiapkan berbagai hal. Sekitar pukul tujuh malam mobil yang Ziko kendari kembali ke villa dan membuat Devano tersenyum senang sambil berniat memulai rencananya.


Tidak ada banyak dekorasi hanya sedikit balon serta beberapa hal sederhana lainnya. Sebelumnya Devano juga sudah memesan kue satu hari sebelum dia berangkat le villa dan tadi dia juga membeli sebuket bunga.


Awalnya dia hanya ingin membuat sedikit kejutan dimana hanya ada dia dan Adara saja, tapi sepertinya akan lebih baik kalau mereka bersama-sama. Mungkin dengan ini Adara akan merasa bahwa dia tidak sendirian dan ada banyak orang yang masih peduli padanya.


Suara langkah kaki mulai terdengar semua lampu juga dimatikan dan hanya lilin yang menyala serta menyinari wajah Devano yang berdiri di tengah-tengah. Pintu utama terbuka mereka dapat mendengar suara penuh tanda tanya Adara hingga suara itu terpurus kala dia menangkap sosok Devano disana.


"Vin kok gelep? Mati lampu kali ya? Tapi, di luar terang apa ja...."


Dalam waktu singkat lampu menyala dan memperlihatkan yang lainnya berseru senang pada Adara membuat wanita itu tersentak.


"Happy birthday Adaraaa!"


Di tempatnya Adara sangat terkejut dia mengedarkan pandangan dan menatap satu per satu orang yang ada disana hingga pandangannya terfokus lama pada Devano yang tersenyum sambil berjalan mendekat. Melihat hal itu Ziko meraih tangan Devina dan mengajaknya bergabung bersama yang lainnya.


"Adara happy birthday wish you all the best baby"


Devano mengatakannya dengan suara yang begitu lembut dengan tatapan yang dalam serta penuh ketulusan.


Adara masih diam ditempatnya meskipun sekarang Devano sudah berdiri dihadapannya.


"Kamu mungkin udah tau ya? Soalnya aku kan bilang mau kasih kejutan, tapi aku.... ya ampun Adara." Kata Devano tersentak ketika Adara memeluknya


Tubuh Devano terhuyung ke belakang, tapi beruntung dia berhasil menahan keseimbangan dan kue yang dia bawa juga tidak jatuh.


"Hey Adara? Sini dulu tiup lilinnya aku sama mereka udah siapin ini dari sore." Kata Devano dengan sebelah tangan yang mengusap kepala kekasihnya


Perlahan Adara melepaskan pelukannya dan hanya diam ketika Devano mengajaknya mendekat ke pada yang lainnya. Dapat Adara lihat mereka semua tersenyum senang padanya.


Adara tidak pernah mendapat kejutan seperti ini.


Adara tidak pernah punya banyak teman.


Adara selalu ditatap dengan benci.


Tapi, sekarang semua itu tidak lagi berlaku ada banyak yang peduli padanya.


"Eyy Dardaraaa berikan aku traktiran." Kata Alex dengan wajah menyebalkannya


Bukan kesal Adara justru tertawa, dia dulu sering sekali berdebat atau bertengkar dengan Alex.


'Lo Lex gara-garanya!'


'Apaan lagi?! Ya lo tuh suruh siapa ngajak gue ribut di kelas!'


'Sialan emang lo ya!'


'Lo!'


Menggelengkan kepalanya pelan Adara tersenyum ketika mengingatnya. Kemudian matanya beralih ke Erick dan Yuda yang juga tersenyum padanya.


Berbeda dengan Alex meskipun mereka berdua menyebalkan, tapi dia tidak pernah terlibat pertikaian sengit dengan keduanya.


'Adara lo tuu cantik, kenapa sih harus galak? Coba deh kayak Nana kalem gitu pasti banyak yang suka sama lo'


'Dar kayaknya gue naksir sama lo'


Lagi, mata Adara beralih pada ketiga teman Devina serta Devina sendiri juga Ziko yang ada diantara mereka.


Adara tidak banyak tau tentang ketiga teman Devina, tapi tadi malam mereka mengobrol tentang banyak hal dan ya Adara akui mereka sangat friendly.


Lalu mata Adara kembali pada Devano yang masih tersenyum sambil melihat ke arah kue, meminta Adara untuk meniup lilinnya.


"Nanti make a wishh duluuu." Kata Devina membuat Adara tersenyum mendengarnya


Adara memejamkan mata dan meminta satu-satunya hal yang ada di fikirannya.



'Semoga semua ini nyata dan semoga Devano adalah miliknya sampai kapanpun'


Saat lilin itu mati mereka bersorak senang, tapi berbeda dengan Adara yang malah ingin menangis membuat Devano tersenyum lalu meletakkan kuenya di meja dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Air mata itu akhirnya keluar Adara mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di bahu Devano.


Semua terasa seperti mimpi, bagaimana hari yang sempurna ini bisa terjadi?


Semua ini nyata!


Devano dan semua kejutan ini adalah nyata dia dapat merasakannya.


Dalam pelukan Devano dia berusaha menahan isakannya dan memeluk erat Devano membuat pria itu tersenyum sambil mengusap puncak kepalanya dengan sayang.


"Kenapa nangis? Harusnya kan seneng." Kata Devano


Adara menggelengkan kepalanya pelan dan masih tetap memeluk Devano membuat Alex jadi ingin menjadi orang ketiga.


"Dardara please ya itu Devano gak bakal ada yang culik, sekarang kita potong kue cepetan." Kata Alex


Devano tertawa kecil lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Adara dengan penuh kelembutan.


"Don't cry"


Perlahan senyum Adara terbentuk dia menghapus air matanya lalu menatap Alex dengan sebal yang sama sekali tidak pria itu hiraukan.


"Silahkan Dardara potong kue." Kata Alex


"Alex nih nyebelinn." Kata Devina


Alex hanya menunjukkan cengirannya lalu duduk tanpa ada rasa berdosa dan Adara juga tidak banak bertanya dia ikut duduk. Mengambil pisau yang ada di meja Adara memotong kue satu persatu hingga cukup untuk mereka semua.


Dan lagi Alex bersikap menyebalkan.


"Gak gue yang itu! Yang paling gede punya gue ya! Gue yang paling capek." Kata Alex


"Capek apa sih lo gila? Lo dari tadi ngerokok doang." Kata Erick sambil menoyor kepala temannya


"Mana ada gak usah fitnah! Gue ini niup balon." Kata Alex membuat mereka semua mendengus kesal mendengarnya


Tapi, Adara yang masih merasa senang hanya tersenyum dan menukar piring mereka karena bagian dia memang lebih besar.


"Nah ini baru temen gue, makasih sayang." Kata Alex sambil mengusap-ngusap kepala Adara


Melihat hal itu Devano berdecak kesal dan langsung menepis tangan Alex dari kepala kekasihnya, tapi pria itu terlihat biasa saja.


"Emang harusnya gue gak usah ngajak Alex." Kata Devano


"Emang! Harusnya lo turunin dia di tengah jalan." Kata Ziko


"Gak usah ikut-ikutan lo ya?" Ketus Alex


"Apa?!"


Devina terkekeh sambil menahan lengan Ziko dan menariknya agar kembali duduk.


"Kasar emang dia Vin sama aku, hati-hati aja kamu." Kata Alex


"Alex gak usah nyari mati lo." Kata Mona sambil menggelengkan kepalanya pelan


Alex hanya mengangkat bahunya acuh dan mulai memakan kue yang ada di meja begitupun yang lainnya. Awalnya mereka hanya diam dan makan dengan tenang hingga Alex kembali bersuara.


Dia mengatakan sesuatu yang membuat Ziko berdecak kesal lalu menendang kakinya karena Alex memang duduk dihadapannya.


"Manis banget Vin kuenya kayak kamu.... aww sialan lo Ziko sakit woy." Kata Alex


Gantian kali ini Ziko yang mengangkat bahunya acuh lalu menyuapi Devina dan mencubit pipinya.


"Pacar gue Lex"


Alex berdecak kesal sambil memasang wajah masamnya membuat mereka tertawa.


Pria itu tidak ada habisnya mengganggu Devina.


¤¤¤


Haduhh ampun dehh musuh bebuyutan kalau dijadiin satuu😑


Happy birthday untuk bucinnya Vano😚