
Perkataan Adara tadi membuat Devano merasa sangat senang bahkan dia sampai membuat kekasihnya itu geleng-geleng kepala karena sejak tadi tidak mau melepaskan pelukannya. Entah sudah berapa lama Devano memeluknya dan bersandar di bahunya, tapi yang jelas pria itu tidak mau di minta berhenti memeluknya bahkan tanpa rasa berdosa malah mengeratkan pelukannya.
Jujur Adara merasa sangat lega setelah mengatakan hal itu pada Devano rasanya semua ketakutan hilang begitu saja apalagi melihat senyuman manisnya yang mengembang dengan sempurna. Benar kata Ayahnya dia harusnya tidak perlu ragu pada Devano karena pria itu sangat mencintainya, dia rela menunggu Adara.
Seperti apa yang pernah Devano bilang dia mampu menunggu Adara entah untuk berapa lama, tapi dia tidak akan mau menunggu seseorang yang selalu meragukan perasaannya.
Dan Adara tidak mau melakukan hal itu lagi.
"Kamu kenapa manja banget sih Van? Dulu gak kayak gini." Kata Adara sambil mengusap kepala Devano dengan sayang
"Enggak tau." Kata Devano
"Kamu pasti sama Devina kayak gini juga ya?" Kata Adara
"Iya kadang aku sama dia tidur bareng, tapi biasanya kalau Devina udah tidur aku balik lagi ke kamar soalnya kalau Daddy tau kena marah." Kata Devano
"Kenapa?" Tanya Adara
"Karena aku sama Vina udah dewasa meskipun kami saudara kembar Daddy jarang kasih izin, tapi Devina kan manja jadi aku sering nemenin dia sampai tidur dan kadang aku sendiri yang mau." Kata Devano
Adara mengangguk faham lalu dia menatap Devano begitu pria itu melepaskan pelukannya.
"Di luar aja cuek udah itu galak, tapi sekarang manja banget." Kata Adara
"Ya gak papa kan sama kamu Ra aku cuek aja banyak yang naksir apa lagi enggak." Kata Devano
"Yaudah kamu cuek aja." Kata Adara
"Biar gak makin banyak yang naksir ya?" Kata Devano dengan raut wajah menyebalkan
Berdecak kesal Adara mencubit gemas pipi kekasihnya.
"Iya"
"Kamu juga jangan cantik-cantik dong Ra capek aku jagaiinnya." Kata Devano
"Aku gak cantik." Kata Adara santai
"Gak cantik dari sisi mananya sih? Kamu tuh dilihat dari sisi mana aja cantik terus apalagi kalau dari deket kayak gini." Kata Devano sambil memajukan wajahnya
"Vann"
Mendorong pelan dahi kekasihnya Adara dapat merasakan pipinya merona dan hal itu membuat Devano semakin mendekat lalu memberikan ciuman singkat di bibirnya.
"Vannn"
Adara berseru kesal dan memukul lengan Devano yang malah membuat kekasihnya itu tertawa senang.
"Setelah pulang aku bakal langsung bilang sama Daddy dan kamu harus tau kalau setelah ini gak ada lagi penolakan ya?" Kata Devano
"Iya"
"Penurut banget calon istri aku." Kata Devano sambil mengacak gemas rambut Adara
Adara hanya tersenyum lalu memeluk Devano lagi membuat kekasihnya itu tersenyum senang dan langsung membalas pelukannya.
Devano juga memberikan kecupan di puncak kepalanya membuat Adara merasa begitu spesial.
Ya setidaknya ini langkah yang benar, mereka saling mencintai dan Devano juga sudah yakin untuk menikahi dia, jadi Adara tidak perlu ragu lagi.
Dia akan membuat Devano menjadi miliknya hingga tidak akan ada lagi yang mencoba untuk merebut pria itu darinya.
°°°°
"Manikah?"
Seperti dugaan Devano sebelumnya begitu dia mengatakan hal itu kedua orang tuanya langsung menatap Devano dengan tidak percaya, tentu saja karena keduanya tau bahwa Adara selalu mengatakan kalau dia ingin menikah setelah lulus kuliah. Di tempatnya Devano menunggu kedua orang tuanya memberikan tanggapan, tapi di sangat yakin kedua orang tuanya akan selalu mendukung keputusannya selagi tidak ada paksaan yang Devano lakukan.
Meskipun usianya masih muda, tapi Devano yakin dia bisa dan yang paling penting Devano ingin mengikat gadis itu dalam hubungan pasti yang membuat Devano tidak lagi cemas kalau ada pria yang mendekati gadisnya. Jujur saja Devano tidak mau terlalu lama berpacaran dan lagi seperti kata Alex dia tidak perlu cemas apalagi sebelumnya Daffa sudah bilang bahwa kalau Devano ingin menikah dia akan mendukungnya.
Hanya satu hal yang penting, Devano tidak memaksa.
"Kamu serius? Kamu memaksa Adara?" Tanya Daffa sambil menata anaknya dengan penuh curiga
"Enggak Dad ya ampun Adara sendiri yang bilang dia udah siap dan tadi dia udah ngomong sama Om Juan." Kata Devano
"Mommy aku serius, aku sama sekali tidak memaksa Adara bahkan aku juga terkejut ketika dia mengatakan hal itu." Kata Devano
"Baik kalau gitu kamu bisa ajak Adara makan malam bersama besok malam nanti Daddy sama Mommy yang akan bertanya dan membicarakan beberapa hal." Kata Daffa
"Bicara apa?" Tanya Devano penasaran
"Terserah Daddy dong mau bicara apa." Kata Daffa
Fahisa tertawa apalagi melihat wajah murung Devano.
"Udah ah Vano percaya aja paling Daddy nanti bilang kamu kalau di rumah gimana." Kata Fahisa
"Jangan aneh-aneh ya? Nanti Adara jadi berubah fikiran." Kata Devano
"Sudah percaya saja sama Daddy." Kata Daffa
"Gak percaya Daddy tuh suka jahil sama Vano kalau sama Vina atau Kak Ara aja enggak, tapi sama Vano jahil banget." Kata Devano
"Jahil apa Devano?" Kata Daffa
"Jahil, suka banget gangguin Vano kalau Vina sama Kak Ara disayang terus." Kata Devano
"Oh kamu mau disayang? Yaudah sini." Kata Daffa
Belum sempat bicara Devano sudah ditarik mendekat ke pelukan Daffa yang membuat pria itu akhirnya pasrah dan diam dalam dekapan Daddy nya. Di tempatnya Fahisa diam sambil tersenyum penuh arti melihat interaksi keduanya.
"Dad lepas"
"Katanya mau disayang." Kata Daffa
"Ya gak gitu juga." Kata Devano
"Terus gimana?" Kekeh Daffa sambil melepaskan pelukannya
"Tambahin uang bulanan." Canda Devano membuat Daffa langsung menatapnya dengan tajam
"Daddy kurangin uang bulanan kamu." Kata Daffa
"Tuhkan kalau sama Vano pasti gitu." Kata Devano
"Hey kamu itu Daddy kasih lebih banyak dan kamu sendiri yang bilang kalau uang bulanan kamu selalu tersisa banyak, untuk apa ditambah?" Kata Daffa
"Iya iya enggak yaudah jangan dikurangi." Kata Devano
"Anak kamu Fahisa." Kata Daffa
Fahisa hanya tertawa lalu meminta Devano untuk mendekat dan memeluknya seraya mengusap kepalanya dengan sayang.
"Memang cuman Mommy yang pengertian." Kata Devano
"Lihat kan? Daddy kurangi uang kamu ya?" Kata Daffa
"Mas udah ah dari dulu suka banget gangguin anaknya." Kata Fahisa
"Marahin aja Mom." Kata Devano membuat Fahisa tertawa mendengarnya
Tangannya tidak berhenti mengusap kepala Devano dengan sayang dan hal itu membuat Fahisa merindukan Devina karena biasanya dia yang selalu minta dimanja.
Dan sekarang Devano melakukan hal yang sama, namanya juga anak kembar pasti ada aja kesamaannya.
°°°°
Devano manja mode on🤣
Hm karena katanya Devano lebih mirip sama Devina di pict pertama, jadi visualnya Devano ini yaaa🥰
Nah kalo ini Devano-Devina masih kecilll aww gemass🥰