My Possessive Twins

My Possessive Twins
78 : Pengganggu!



"Vinaa kenapa hmm?"


Pertanyaan yang diajukan Sahara pada adiknya malah membuat gadis itu semakin menangis di dalam pelukannya, bukan hanya dia, tapi yang lainnya juga merasa bingung. Sejak kedatangan Sahara beberapa menit lalu Devina langsung memeluknya dengan erat dan menangis di dalam pelukannya.


Tidak ada satu pun kata yang Devina keluarkan dan hal itu membuat Sahara bingung juga cemas sendiri. Adiknya tidak pernah seperti ini biasanya sambil menangis dia akan menceritakan semua keluh kesahnya, tapi sekarang Devina hanya diam.


Merasa kalau adiknya mungkin hanya akan bicara ketika mereka sedang berdua akhirnya Sahara meminta Devano dan kedua orang tuanya untuk keluar. Awalnya Devano menolak, tapi atas bujukan Fahisa dia menurut juga dan mengikuti orang tuanya keluar dari kamar.


Saat hanya mereka berdua yang tersisa Sahara melepaskan pelukannya dan menatap Devina yang sekarang wajahnya begitu memerah.


"Cerita sama Kakak sayang." Kata Sahara dengan lembut


"Vina kangennn"


Hanya itu yang Devina katakan, tapi Sahara tau kalau ada hal lainnya yang gadis itu sembunyikan.


"Iya Kakak juga kangen sama Vina." Kata Sahara


Dengan penuh kelembutan Sahara menghapus air mata adiknya, hidunga merah sekali karena tangisan.


"Jangan nangis." Kata Sahara sambil tersenyum


Devina mengangguk dan menghapus air matanya dengan pelan lalu berusaha untuk tersenyum.


"Kakak"


"Iya Vina?"


"Vina kenapa ya? Belakangan ini Vina kefikiran terus dari kemarin." Kata Devina sambil menatap Kakaknya dengan sedih


"Kefikiran apa?" Tanya Sahara


"Vina ngerasa kalau Vina itu cuman bisa nyusahin aja dan gak berguna sama sekali,"


Sahara terdiam mendengar perkataan itu karena dulu dia juga pernah merasakan hal yang sama seperti adiknya.


"Selama ini Vina manja banget dan mudah sakit pasti Daddy sama Vano capek ngurusin Vina terus, kenapa Vina mikirin katak gitu terus Kak?" Tanya Devina


Tidak ada jawaban Sahara terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum dan mengusap puncak kepala adiknya dengan sayang.


"Vina mau tau? Kakak juga pernah ngalamin seperti Vina sekarang." Kata Sahara


"Iya? Terus bagaimana?" Tanya Devina


"Dulu sebelum Vina lahir Kakak cucu perempuan satu-satunya di keluarga Wijaya makanya semua yang Kakak minta selalu dituruti dan hal itu terbiasa sampai Kakak dewasa,"


Sahara tersenyum ketika mengingat itu memang benar semua keinginannya selalu dituruti.


"Ternyata hal itu malah bikin Kakak manjanya minta ampun dan sama kayak kamu Kakak juga mudah sakit, telat makan sedikit saja bisa berakhir ke rumah sakit." Kata Sahara


Devina dengan setia mendengarkan semua perkataan Kakaknya.


"Bukan seperti kamu yang berfikir hal itu dengan sendirinya Kakak mulai memikirkan hal itu karena perkataan Kevin yang mengatakan bahwa Kakak hanya wanita lemah yang bisa bikin susah." Kata Sahara


"Kevin itu jahat." Kata Devina tiba-tiba


Sahara tertawa mendengar itu lalu mengangguk setuju.


"Kakak kefikiran terus sampai nangis semalaman bahkan minta maaf terus sama Mommy dan Daddy, tapi Devina kamu harus tau kalau semua yang Mommy dan Daddy atau Devano lakukan itu karena rasa sayang mereka sama kita." Kata Sahara


Saat melihat ada air mata yang terjatuh lagi Sahara langsung menghapusnya dan tersenyum sambil menatap adiknya.


"Kenapa kamu harus minta maaf? Kalau kamu minta maaf terus sama saja seperti kamu tidak menghargai kasih sayang Mommy dan Daddy juga Devano." Kata Sahara


Tersenyum manis Sahara mengusap puncak kepala Devina lalu mencium keningnya dengan lembut.


"Inget kata Devano? Kalau itu bikin kamu sakit atau sedih jangan difikirkan." Kata Sahara


Devina mulau tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Jadi?"


"Jadi Vina gak bakal mikirin hal itu lagi." Kata Devina


"Terus?"


"Terus sekarang peluk." Kata Devina sambil memeluk Sahara yang tertawa karena tingkahnya



"Badannya masih sedikit panas." Kata Sahara


"Tapi, sudah tidak pusing Kak." Kata Devina


"Sudah minum obat?" Tanya Sahara


"Belum, makan siang juga belum." Kata Devina


"Makan dulu yuk." Kata Sahara yang dijawab dengan anggukan oleh adiknya


Ketika ingin pergi mengambilkan makan Devina menahannya dan mengatakan kalau dia ingin makan di luar saja karena merasa suntuk seharian berada di kamar.


Saat keluar dari kamar Devina dapat melihat kembarannya yang sedang berada di ruang tengah dan ketika mata mereka bertemu dia langsung menghampirinya. Tanpa banyak bicara Devina duduk dan menunggu Sahara mengambilkan makan untuknya.


Devano duduk disampingnya, tapi dia tidak mengatakan apapun hanya memperhatikan Devina yang mata serta hidungnya memerah karena tangisan.


"Vanoo"


Bukan Devano melainkan Devina yang memulai percakapan, rasanya sudah cukup membuat kembarannya itu cemas.


"Kenapa?" Tanta Devano lembut


"Nanti Ziko mau kesini sehabis pulang sekolah." Kata Devina


"Iya gak papa." Kata Devano membuat Devina tersenyum senang


Melihat kembarannya yang terlihat membaik membuat Devano lega dan senang. Sesaat setelahnya Sahara datang dan membawakan bubur serta sup ayam yang sudah dibuatkan Fahisa untuk anaknya.


"Mau disuapin?" Tanya Sahara


Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mulai menyantap makan siangnya.


Perasaannya sudah membaik sekarang dan Devina akan berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatnya sedih. Sudah cukup dengan sikap manjanya saja, dia tidak mau membuat keluarganya cemas hanya karena fikiran yang menguasai dirinya sendiri.


"Ehh udah keluar anak Mommy." Kata Fahisa


Tadinya dia berniat untuk mengambilkan makan, tapi ternyata anaknya sudah ada di ruang makan dan tengah menyantap makan siangnya.


"Obatnya sudah disiapkan Ara?" Tanya Fahisa


"Sudah Mom." Kata Sahara


Entah karena terlalu lahap atau apa, tapi Devina tersedak dan terbatuk berkali-kali membuat Devano langsung memberikan minum untuknya.


"Pelan-pelan Vina." Kata Devano


Devina hanya menunjukkan cengirannya dan mengatakan hal yang membuat mereka semua tersenyum ketika mendengarnya.


Gadis itu sudah mulai kembali ceria.


¤¤¤


Ziko merasa lega ketika pulang sekolah dia melihat wajah kekasihnya yang sudah tidak sepucat kemarin juga senyuman manis yang mengembang dengan lebar, tapi dia sedikit malu ketika harus bertemu dengan Kakak dari kekasihnya. Sekarang dia berada di kamar Devina tentu saja dengan pintu yang terbuka dan kali ini tidak ada Devano yang menunggu mereka.


Sekolah tanpa ada Devina rasanya sangat sepi, tapi dia merasa senang ketika kekasihnya itu mengatakan bahwa dia akan pergi ke sekolah besok. Awalnya memang dilarang oleh Devano dan orang tua Devina, tapi gadis itu merajuk hingga mau tidak mau mereka mengizinkan dia untuk sekolah besok.


'Mommyyy bentar lagi ujiann kalau Vina gak masuk terus nanti Vina gak bisa, Vina kan tidak pintar seperti Vano'


Tentu saja tidak ada yang bisa menolak permintaan Devina.


"Ziko tadi ada tugas gak?" Tanya Devina


"Enggak ada Ra cuman minggu depan bakal ada ulangan harian." Kata Ziko


"Emm terus Ziko tadi ngapain ajaa?" Tanya Devina


"Belajar..."


"Ihh bohong biasanya gak belajar." Kata Devina dengan mata memicing


Ziko tertawa dan mencubit pipi kekasihnya itu dengan gemas.


"Belajar Vin." Kata Ziko


"Iya iyaa terus tadi Ziko gak deket-deket sama cewek lain kan? Awas ya kalau sampai deket-deket sama cewek lain aku marah!" Kata Devina dengan wajah galaknya


"Enggak Vina paling cuman Mona, Cessa sama Nayla itu juga karena ke kantin bareng mereka aja." Kata Ziko jujur


Devina tersenyum senang lalu meraih tangan Ziko dan menggenggamnya dengan erat membuat kekasihnya itu juga ikut tersenyum.


"Masih sakit gak?" Tanya Ziko sambil mengusap kepala Devina dengan tangan lainnya


Devina menggelengkan kepalanya pelan.


"Cuman sedikit pusing aja sama tenggorokannya sakit, tapi udah gak papa." Kata Devina


"Jangan sakit lagi Vin aku khawatir." Kata Ziko sedih


"Iya enggak." Kata Devina sambil tersenyum manis


"Tadi ketemu Kakak kamu di bawah, dia kenal aku." Kata Ziko


"Memang! Aku kan pernah tunjukin foto kamu sama Kak Ara terus Kak Ara bilang kita berdua itu mirip." Kata Devina dengan penuh semangat


"Kalau mirip berarti jodoh." Kata Ziko membuat senyum Devina mengembang dengan sempurna


"Ziko mau pinjam hp nya." Kata Devina


Mengerutkan dahinya bingung Ziko tetap mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memberikannya pada Devina. Saat menghidupkan ponsel kekasihnya Devina dapat melihat wajahnya sendiri disana lalu foto mereka berdua juga.


Iseng Devina membuka galeri di ponsel kekasihnya dan dia dapat melihat ada satu album dengan jumlah foto ratusan bernama, Devina.


"Ini foto aku semua?" Tanya Devina sambil menatap kekasihnya dengan senyuman


"Hmm ada foto berdua juga." Kata Ziko


"Kok banyak? Aku cuman sedikit." Kata Devina


"Kamu lupa ya? Dulu kamu sering minta fotoiin sama aku terus aku juga sering foto kamu diam-diam." Kata Ziko


Tidak memberikan tanggapan Devina memilih untuk membuka album itu dan melihat semua foto yang ada di dalamnya.


Benar ada foto mereka berdua, tapi lebih banyak foto dia sendiri dan bahkan yang Devina tidak memilikinya.


"Aku gak punya banyak foto Ziko." Kata Devina


"Gak papa sayang kan bisa lihat setiap hari." Kata Ziko sambil tersenyum


Setelah membuka galeri Devina beralih membuka aplikasi whats app milik kekasihnya dan melihat dengan siapa saja kekasihnya itu berkirim pesan. Di paling atas ada chat miliknya yang di pin oleh sang kekasih lalu ada grup kelas dan chat dengan teman-temannya, tapi ada satu nama yang menarik perhatian Devina.


Bastian


Tanpa meminta persetujuan Devina membuka chat itu dan membuat Ziko sedikit menahannya, tapi terlambat.


Ko


Lo gak ke studio lagi? Masih karena masalah kemarin?


Kita udah kontrak Ko besok malam harus perform lagi


Hanya empat pesan itu yang Devina baca dan dia langsung mendongak untuk menatap Ziko yang juga tengah menatap ke arahnya.


"It's okay"


"Kamu mau datang?" Tanya Devina


Ziko tersenyum dan mengangkat bahunya acuh, dia tidak berniat.


"Sebenernya gak mau, tapi gak enak sama Bastian dan Hendra." Kata Ziko


"Kalau kamu mau datang enggak papa." Kata Devina sambil tersenyum


"Belum tau Vin, tapi aku bener-bener malas buat ketemu Adyra lagi." Kata Ziko


"Nanti temen-temen kamu marah." Kata Devina


"Hmm gak masalah asalkan kamu enggak." Kata Ziko


"Enggak papa Ziko kamu datang aja, tapi kabarin aku ya? Terus jangan deket-deket sama Adyra juga." Kata Devina


"Siapa juga yang mau deket-deket sama dia." Kata Ziko sebal


Melihat hal itu Devina tertawa lalu mencubit pipi kekasihnya.


"Zikoo"


"Hmm"


Bukan bicara, tapi Devina malah memeluk tubuh kekasihnya dan membuat Ziko tersentak untuk sesaat. Namun, setelahnya dia tersenyum dan membalas pelukan itu dengan hangat.


Entah berapa lama mereka berpelukan.


Sampai suara Devano mengacaukan segalanya.


"Kalian ngapain peluk-pelukan?!"


Devano memang selalu merusak suasana Devina ketika bersama dengan kekasihnya.


Dasar orang ketiga!


¤¤¤


Mau double uppp???