My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (48)



Hari pertunangan telah tiba segala persiapan sudah selesai dilakukan hanya tinggal menunggu beberapa jam untuk acaranya di mulai. Sekarang Devina juga terlihat begitu bahagia hingga dia tidak sabar untuk bertemu kekasihnya lalu memakaikan cincin di jari manis Ziko yang menandakan bahwa pria itu hanya miliknya.


Pada acara pertunangannya nanti malam Devina akan memakai dress berwarna merah muda dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan dia akan memakai make up yang akan dipakaikan oleh Kakaknya sendiri. Semua orang terlihat sibuk, tapi Devina hanya duduk di tepian ranjang dengan Sahara yang ada disampingnya.


Hari ini Devina sangat-sangat bahagia dia ingin segera bertemu dengan kekasihnya. Pokoknya Devina tidak sabar bahkan dia terus menatap layar ponselnya menunggu kalau Ziko mengirim pesan untuknya.


"Ya ampun adik Kakak gak sabar banget ya?" Kekeh Sahara


Devina menoleh dan menunjukkan cengirannya.


"Vina bahagia sekali Kakk." Kata Devina


Sahara ikut tersenyum sambil mengusap sayang puncak kepala adiknya.


"Kakak senang melihat kamu bahagia." Kata Sahara


"Vina cantik gak?" Tanya Devina


"Adiknya Kak Ara selalu cantik." Kata Sahara sambil mencubit pelan pipi adiknya


"Mamaaa!"


"Ehh iya Angga sayang." Kata Sahara ketika Airlangga memukul pelan kakinya


Bukan Sahara, tapi Devina yang mengangkat tubuh keponakannya itu lalu memangkunya sambil menciumi pipi Airlangga dengan gemas.


"Aku cium pipi Angga biar kena lipstik Tante Vina." Kata Devina


"Ndak! Mamaaaa"


Devina tertawa ketika Airlangga merengek sambil berusaha menghindari ciumannya padahal Devina belum memakai lipstik.


"Ndak ndakkk"


Airlangga merengek lalu menangis membuat Sahara menggelengkan kepalanya pelan lalu mengambil anaknya dari pangkuan adiknya.


"Nakannn"


Bukan merasa bersalah Devina justru gemas hingga dia mencubit pipi Airlangga dan membuat anak itu kembali merengek.


"Vina jangan ah nangis lagi nanti." Kata Sahara


"Dia tuh gemesinn mana gendut lagii pengen aku makan pipinya." Kata Devina


Airlangga terlihat mengerucutkan bibirnya lalu memeluk Sahara dengan manja dan menyandarkan kepalanya di bahu Mami nya.


"Ish itu Kakak aku Angga." Kata Devina sambil menoel-noel pipinya


"Mamaaaaa!"


"Vinaa"


"Ihh iya enggak habisnya Angga gemes banget." Kata Devina


"Kamu ini jahil banget." Kata Sahara


"Kan kayak Kakakk." Kata Devina


"Ehh malah balikin ke Kakaknya." Kata Sahara membuat Devina tertawa


"Kakak dulu suka jahil sama Vina." Kata Devina


"Masih inget aja." Kekeh Sahara


"Ish inget banget Kak Ara waktu itu pernah suruh Vina untuk bilang ke Daddy kalau Vina ajak Kakak ke mall padahal Kakak yang mau ke sana karena ingin beli make up." Kata Devina


Sahara tertawa kecil lalu mencubit gemas pipi adiknya dan tak lama setelah itu pintu kamar terbuka Devano berdiri di sana sambil tersenyum sebelum melangkahkan kakinya ke dalam.


"Anggaaa"


Panggilan itu Airlangga dengar hingga membuatnya minta untuk di turunkan dan berlari kecil menghampiri Devano yang langsung menggendongnya.


"Cium Paman"


Airlangga seolah mengerti dia mencium pipi Devano sebentar kemudian memeluknya.


"Angga curang kalau sama Paman Vano nurut, tapi sama aku enggak." Keluh Devina


"Nakannn"


Airlangga mengatakan itu sambil menoleh ke arah Devina dan membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal.


"Dia memang nakal Angga." Kata Devano


"Ishh Vanoo!" Keluh Devina membuat kembaran dan Kakaknya tertawa melihat wajah cemberutnya


"Ya ampun jangan ngambek gitu." Kekeh Sahara


"Kak Ara harus tau kalau Vano itu sekarang nyebelin banget dia gangguin Vina terus." Kata Devina mengadu pada Kakaknya


Memeluk Sahara dari samping Devina membuat Kakaknya itu tersenyum sambil mengusap kepalanya, tapi hal itu di lihat oleh Airlangga yang ada di gendongan Devano.


"Mamaa mamaaa"


"Aku ambil Maminya Angga." Kata Devina sambil mengeratkan pelukannya


"Ndak Mamaa mamaaaa"


Airlangga memberontak membuat Devano menurunkannya dan membiarkan dia berlari menghampiri Sahara sambil memukul-mukul kaki Devina dengan wajah cemberut.


"Mamaaa"


"Maminya aku ambill." Ledek Devina


"Nakannn nakann"


Sahara menggelengkan kepalanya pelan lalu membawa tubuh anaknya ke dalam dekapannya membuat Airlangga langsung memeluknya dengan manja.


Merasa gemas dengan kembarannya Devano mencubit pipi Devina cukup kuat membuat gadis itu memukul pelan lengannya.


"Ish sakit!"


Astaga tidak bisa terbayang kalau Devano dan Devina harus dipisahkan.


¤¤¤


Acara pertunangan telah dimulai keluarga Ziko telah datang lalu teman-teman mereka juga sudah berada di rumah Devina dan sama-sama merasakan kebahagiaan yang dirasakan keduanya. Senyuman manis Devina juga Ziko begitu terlihat apalagi Devina yang sangat berseri-seri bahkan pipinya memerah tanpa sebab.


Sedangkan Ziko sejak tadi masih asik memandangi kecantikan Devina yang memakai dress berwarna merah muda serta polesan make up tipis di wajahnya. Saat Ziko meraih tangannya untuk memakaikan cincin senyuman Devina mengembang dengan sempurna.


Selesai memakaikan cincin di jari manisnya kini giliran Devina yang memakaikan cincin ke jari manis kekasihnya. Mereka bertatapan begitu selesai memakaikan cincin di jari masing-masing.


Mendekatkan wajahnya Ziko mencium kening Devina cukup lama membuat suara tepuk tangan terdengar juga ledekan dari teman-temannya yang membuat mereka tertawa.


"Kamu cantik banget Vin." Kata Ziko pelan


"Ziko juga ganteng bangettt." Kata Devina dengan senyuman


Tanpa ada yang menduga Devina berjinjit lalu mencium pipi Ziko dua kali membuat pria itu membeku karena terkejut.


"EHH VINAA"


Bukan malu ketika mendengar seruan itu Devina menatap ke depan lalu menunjukkan cengirannya dan malah memeluk Ziko.


"Mentang-mentang udah tunangan yaaa." Celetuk Mona membuat Devina tertawa


"Vina udah mulai berani." Kata Gio


"Ko sadar heh." Kata Cessa


Mengerjapkan matanya berkali-kali Ziko menunduk untuk melihat Devina yang kini berada di dalam pelukannya.


"Kamu buat aku jantungan sayang." Kata Ziko


Devina hanya tersenyum sambil mengeratkan pelukannya membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala pelan melihat tingkahnya, tapi mereka juga tidak bohong kalau mereka ikut senang melihat Devina yang sangat bahagia.


"Vina itu tunangannya gak bakal hilang, jadi udah pelukannya." Kata Daffa membuat Devina mengerucut sebal dan yang lainnya tertawa


Melepaskan pelukannya Devina meraih tangan Ziko dan menautkan jari-jari mereka disana lalu mendongak sambil menatapnya dengan senyuman.


"Hai tunangannya Vinaa"


Semakin hari Devina memang semakin membuatnya gila bukan main.


¤¤¤


"Siapa ini yang lagi bahagiaa?"


Devina tersenyum sambil berlari kecil menghampiri ketiga temannya dan memeluk mereka dengan sayang membuat Ziko memperhatikannya dengan senyuman. Sudah lama sekali tidak bertemu Devina merasa sangat rindu dengan ketiga temannya hingga memeluk mereka cukup lama.


Begitu pelukannya terlepas Mona mencubit pipi temannya itu dengan gemas membuat Devina mengeluh dan memukul pelan lengannya.


"Eh tunangannya Vina sini dong jangan jauh-jauhan." Kata Mona


"Apasih Mon?" Kekeh Ziko sambil berjalan mendekat


"Sini sini sampingan sama Vina." Kata Cessa membawa Ziko untuk berdiri disamping Devina


"Sumpah cocok banget." Kata Nayla


"Iyalah kan gue jodohnya." Kata Ziko sambil mencium puncak kepala Devina dengan sayang


"Terus Ko terusss pamer kemesraan." Kata Gio


"Iri ya?" Kekeh Ziko


"Emang minta di geplak." Kata Mona sebal


Devina hanya tersenyum sambil meraih tangan Ziko dan menautkan jari-jarinya disana.


"Ya ampun Vin kenapa lo bucin banget?" Kata Nayla sambil menggelengkan kepalanya pelan


"Gak papa Vina kan udah tunangan." Kata Devina senang


"Kalau udah nikah di kekepin sama Vina." Kata Cessa disertai tawanya


Devina mengerucutkan bibirnya sebal dengan pipi merona karena malu dengan perkataan teman-temannya.


"Vina yang gue kurung di kamar kalau udah nikah." Kata Ziko


Wajah Devina semakin memerah sedangkan teman-temannya semakin meledek mereka.


"Jangan-jangan nih orang dua udah pernah ciuman." Kata Mona curiga


"Ihh enggakkkk"


Devina mengerucutkan bibirnya sebal dengan wajah memerah sempurna, tentu saja pernah dan itu karena Ziko dia yang memulai.


"Pernah pasti tuh kan merah mukanya." Kata Cessa


"Ihhh Cessaa." Rengek Devina


"Emang pernah kok." Kata Ziko membuat Devina semakin malu ketika di ledeki oleh teman-temannya


Tertawa kecil Ziko menunduk untuk melihat Devina yang menatapnya dengan sebal lalu mendekat dan memeluknya karena malu.


"Ya ampun Vina udah gede haha"


Devina hanya bisa diam dengan wajah memerah sempurna.


¤¤¤


Aduhh aduhh ada yang baru tunangan🌚 Gemes banget dehh😚