
Seharian ini tidak ada percakapan bagi Ziko dan Devina mereka berdua saling mendiamkan tanpa ada yang mau memulai untuk bicara. Semua teman-teman mereka ikut merasa bingung karena biasa melihat kedua orang itu selalu bersama dan menunjukkan kedekatan di setiap waktu, tapi kali ini saling menatap saja tidak.
Saat ditanya keduanya juga tidak ada yang mau menjelaskan dan hanya diam sambil menggelengkan kepala. Tidak mau ikut campur akhirnya mereka juga ikut diam dan Mona mulai mengajak teman baiknya untuk mengobrol, paling tidak menghilangkan wajah cemberut Devina.
Entah apa masalah Devina dengan kekasihnya Mona tidak ingin tau karena kalau mereka memang ingin bercerita pasti akan datang padanya, dia tidak mau memaksa. Setiap menjalin hubungan pasti akan selalu ada yang namanya pertengkaran tidak mungkin hanya kebahagiaan apalagi mereka masih muda.
Sikap egois pasti menguasi diri masing-masing, tapi seiring berjalannya waktu mereka akan sadar sendiri lalu mencoba untuk memperbaiki.
Apa yang salah dengan kecemburuan?
Tidak ada hanya terkadang sikap terlalu berlebihan itu yang salah. Kamu boleh cemburu, tapi tetap harus tau bagaimana caranya untuk bersikap.
Di belakang Devina ada Ziko hanya diam sambil terus menggeser layar ponselnya, dia sibuk dengan fikirannya sendiri dan enggan untuk menanggapi Gio yang mengajaknya bicara. Ada banyak hal yang memenuhi fikirannya, semua perkataan Devina dan foto-foto yang dikirimkan padanya membuat kepala Ziko pening.
Apa dia salah?
Devina terlihat bahagia senyumnya begitu tulus ketika dia menatap Alex dan Ziko mulai ragu.
Ragu terhadap dirinya sendiri dan ragu dengan perasaan yang Devina miliki.
'Harusnya dia juga pengertian dong Ko dalam hal ini kan lo pacar dia dan harusnya dia menghargai perasaan lo bukannya kesana sini sama cowok lain'
Perkataan itu juga membuatnya pusing, dia tidak sepenuhnya percaya karena Devina tidak pernah kesana sini dengan pria lain baru kemarin dia menghabiskan cukup banyak waktu dengan Alex.
Hanya kemarin, tapi hal itu sudah cukup membuat Ziko cemburu bukan main.
"Yo"
"Kenapa?" Tanya Gio ketika Ziko memanggilnya
"Mau ikut ke rooftop gak?" Tanya Ziko
Gio terdiam sebentar lalu menganggukkan kepalanya dan mereka berdua bersama-sama pergi keluar kelas.
Sedang jam kosong makanya Ziko mengajak teman baiknya itu untuk keluar kelas dan tadi sebelum pergi dia sempat melirik Devina yang juga menoleh ke arahnya.
Mata itu membuat fikiran Ziko semakin tidak karuan.
Mata itu menatapnya... kecewa.
'Sesulit itu untuk percaya sama aku Ziko?'
Ah pertanyaan itu menghampirinya lagi.
'Harusnya dia bisa menghargai perasaan lo dan jaga jarak dari cowok yang namanya Alex itu'
Lagi perkataan itu menghampirinya juga.
Sampai di rooftop Ziko langsung mendudukkan dirinya dan menyandarkan tubuhnya di kursi yang sedang dia duduki lalu memejamkan matanya. Ikut duduk disamping teman baiknya Gio hanya diam tanpa mau bertanya karena pria itu akan bicara kalau dia sudah siap untuk bercerita.
Gio akan mengatakan kalau Ziko itu cukup pengecut dan dia mudah terpengaruh dengan perkataan orang lain. Sering kali percaya tanpa mau mencari kebenarannya.
"Yo gue salah gak ya?" Tanya Ziko pada akhirnya
"Memang lo ngelakuin apa?" Tanya Gio penasaran
Helaan nafas Ziko terdengar lalu dia mengeluarkan ponselnya dan membuka chat dengan seseorang kemudian menyerahkannya pada Gio. Memperhatikan satu persatu foto itu Guo tersenyum, Ziko terlaku pencemburu dan hal itu bukan hal yang baik.
"Menurut lo Devina masih suka sama Alex?" Tanya Ziko
"Menurut lo gitu?" Tanya Gio balik
Ziko terdiam lalu mengangkat bahunya sebagai jawaban bahwa dia juga tidak tau.
"Sebenernya kenapa sih Ko? Ada hal lain kan? Gak mungkin lo bisa mudah banget percaya cuman karena foto apalagi sampai nyuekin Devina." Kata Gio
Tidak ada jawaban Ziko hanya diam membuat Gio menghela nafasnya kasar.
"Tadi malam Vina bilang kalau Alex nginep di rumahnya terus tadi pagi mereka juga berangkat bareng..."
"Bareng berempat sama Dara dan Vano juga." Kata Gio yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Ziko
"Vina suka sama Alex selama dua tahun lebih, mungkin gak dia ngelupain Alex dalam waktu sesingkat itu? Ditambah lagi Vina suka banget sama Alex." Kata Ziko membuat Gio kini faham
Itu yang membuat Ziko ragu.
Kenyataan bahwa Devina mencintai Alex untuk waktu yang cukup lama, tapi mungkin saja perasaan bisa berubah dalam waktu yang singkat.
"Mungkin gak Vina ngelupain orang yang dia suka dalam waktu yang singkat padahal dia sering banget ketemu orang itu bahkan hampir setiap hari?" Kata Ziko lagi
Ya, hal itu yang membuat Ziko ragu awalnya dia tidak pernah memikirkannya.
Tapi...
'Menurut lo semudah itu dia lupaiin perasaannya untuk Alex? Vina suka sama Alex selama dua tahun lebih, mereka berdua sering ketemu, dan apa lo yakin Vina bener-bener udah ngelupaiin perasaan itu?'
Sial! Kenapa juga dia harus mengatakan hal seperti pada Ziko?
"Sekarang gue yang nanya deh, menurut lo Vina itu pembohong?" Tanga Gio yang tentu saja langsung dijawab dengan gelengan oleh Ziko
"Enggak lah"
"Terus kenapa lo ragu? Apa Vina termasuk orang yang bisa menipu orang lain dengan perasaannya? Lo tau gimana Vina! Gimana tulusnya dia dan gue yakin lo lebih tau hal itu dari gue Ko." Kata Gio
Ziko diam dan hatinya mulai membenarkan hal itu lalu ada banyak hal yang muncul di fikirannya.
Tentang bagaimana Devina yang selalu tersenyum manis padanya dan menatapnya dengan penuh ketulusan.
Suara lembutnya dan kata-kata yang selalu membuatnya bahagia.
'Sayang banget sama Ziko'
'Vina kan udah bilang kalau Vina cuman sayang sama Ziko'
Kenapa dia bisa ragu?
Memang benar semua perkataan Gio kekasihnya bukan orang yang bisa menipu orang lain dia terlaku jujur dan tulus.
"Jangan pernah sia-siaiin Devina karena sekali lo sia-siaiin dia ada banyak cowok yang bakal maju untuk deketin dia." Kata Gio
Helaan nafas Ziko terdengar dia rasa kali ini dia sudah membuat kesalahan yang cukup besar.
"Jangan pernah buat dia kecewa karena lo harus tau Ko sekali cewek kecewa bakal sulit bagi mereka untuk percaya." Kata Gio
Tapi, Devina sudah terlanjur kecewa padanya.
Semua karena rasa cemburunya, kenapa susah kali mengontrol dirinya dari cemburu yang selalu membuatnya dan Devina bertengkar?
'Sekali lo sia-siaiin dia ada banyak cowok yang bakal maju untuk deketin dia'
Benar, sekali lagi Gio benar dan Ziko tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi.
Ada dua orang yang dia yakin selalu siap untuk merebut Devina dari sisinya.
Alex dan Harris.
¤¤¤
"Kenapa diam aja Vin?"
Pertanyaan itu sudah tiga kali Devano ajukan di perjalanan pulang, tapi Devina terus menjawab dengan gelengan kepala. Selama perjalanan pulang Devina hanya diam dengan tangan yang bermain di jendela mobil dan tatapan mata kosong yang melihat ke jalan.
Devano tau dan yakin kalau sesuatu pasti terjadi, tapi kembarannya tidak ingin bercerita sama sekali. Mengetahui kalau Devina tidak akan mau bercerita Devano memilih untuk mengajak kembarannya itu ke suatu tempat dan berharap bisa membuat mood nya membaik.
Dia tidak suka melihat Devina yang hanya diam.
"Mau kemana? Makan? Toko buku? Aku yang bayarin." Kata Devano
Devina menoleh dan menatapnya sebentar lalu mengatakan sesuatu yang membuat Devano mengangguk faham dan melajukan mobilnya ke tempat yang kembarannya inginkan.
"Toko buku"
Setidaknya Devina butuh novel untuk nanti malam agar dia tidak memikirkan Ziko. Biar saja dia tidak akan memulai bicara kalau pria itu tidak menyapa atau mengajaknya bicara.
Biar saja Ziko sibuk dengan semua fikiran negatifnya.
Saat pulang sekolah tadi Devina langsung berlari keluar kelas dan beruntung Devano juga muncul hingga mereka berdua langsung pergi meninggalkan sekolah. Sebisa mungkin Devina mencoba untuk mengindari Ziko dan membuat pria itu mengerti.
Mengerti kalau rasa cemburunya itu tak berdasar dan mengerti kalau dia sudah membuat Devina kecewa.
Dia selalu menceritan semuanya pada Ziko dan selalu bertanya apa dia marah atau tidak.
Selain itu hal yang paling membuat Devina kesal adalah Ziko tidak mau bicara dan memberi tau dimana letak salahnya hanya tiba-tiba bersikap cuek padanya.
"Vanooo"
"Emm kenapa?" Tanya Devano sambil menoleh sekilas
"Kamu kalau cemburu gimana?" Tanya Devina membuat Devano menatapnya dengan bingung
"Hah?"
"Kamu kalau lagi cemburu gimana? Marah-marah gak? Nyuekin Adara gak?" Tanya Devina penasaran
"Kesel aja dan nyuekin Adara iya, tapi cuman sebentar." Kata Devano
"Sering gak?" Tanya Devina lagi
"Sering apa?" Tanya Devano tidak mengerti
"Sering gak cemburu sama Adara?" Tanya Devina sedikit kesal
"Enggak juga soalnya Adara sama aku terus." Kata Devano membuat kembarannya itu mendengus kesal
"Kenapa? Lagi marahan sama Ziko?" Tanya Devano dengan lembut
Devina menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak mau cerita karena nanti malah memperumit suasana.
"Habis ke toko buku aku mau makan bakso." Kata Devina
"Iya"
"Vano yang bayarin!" Kata Devina lagi
"Iya Vinaaa"
Tersenyum tipis Devina menyandarkan tubuhnya lalu mengeluarkan ponsel dan senyumnya kembali pudar ketika matanya disambut dengan foto dia bersama Ziko yang dijadikan walpaper.
Ahh dia rindu dengan kekasihnya.
¤¤¤
Raut wajah Ziko terlihat tidak bersemangat ketika dia memasuki toko buku, tempat ini mengingatkannya pada Devina dan sekarang dia sangat merindukan gadis itu, sangat. Tadinya dia berniat meminta maaf sepulang sekolah, tapi Devina sudah lebih dulu menghindarinya pasti gadis itu marah dan semua memang karena kesalahannya.
Sekarang dia ada di toko buku bersama dengan Adyra karena sebelum pulang sekolah tadi gadis itu minta untuk ditemani dan Ziko mau sekalian dia ingin bercerita. Rasanya Ziko tidak tenang dia butuh seseorang untuk diajak bercerita dan secara kebetulan Adyra menghubunginya.
Tapi, sekarang perasaannya malah semakin tidak tenang dia takut kalau Devina tau dan keadaan malah semakin rumit.
"Zikoo"
Sedikit tersentak Ziko mendongak dan menatap Adyra dengan alis bertaut.
"Lo mau jadi patung selamat datang?" Tanta Adyra sambil menggelengkan kepalanya pelan
Dan Ziko baru sadar kalau dia masih berdiri di dekat pintu lalu tawa kecilnya terdengar bersamaan dengan kakinya yang melangkah masuk.
"Gue mau beli buku tentang musik dan gitar juga, mau belajar gitar." Kata Adyra
"Minta ajarin Bastian tuh dia bisa main gitar." Kata Ziko membuat Adyra berdecak kesal
"Bukan belajar yang ada gue malah ribut sama dia." Kata Adyra
Ziko tertawa kecil dan mengikuti langkah kaki Adyra lalu ikut melihat-lihat buku yang ada disana.
Dan lagi ingatannya kembali pada Devina.
Devina
Devina
Devina
'Ihhh aku mau beli novell ayo temenin ke toko bukuuu'
'Emm Ziko pegangin aku mau nyari novel lagi'
'Lima cukup gak yaa?'
Suara lembut Devina memenuhi telinga Ziko dan membuat pria itu semakin merindukan kekasihnya. Menghela nafasnya pelan Ziko kembali melihat Adyra yang tengah sibuk mencari buku yang mau dia beli.
Devina tidak akan tau kalau dia pergi bersama gadis lain kan?
Dia tidak berbuat apa-apa kok hanya menamani Adyra dan tadinya berniat untuk bercerita juga, tapi sepertinya dia akan mengurungkan niatnya.
Dia tidak mau lagi menambah masalah.
"Udah ni Ko yuk kita bayar." Kata Adyra membuat Ziko tersadar dari lamunannya dan mengangguk singkat
Saat sampai di kasir Ziko mengalihkan pandangannya ke segala arah, entah kenapa perasaannya mulai tidak enak dia takut kalau ada Devina. Sekali lagi Ziko tersentak kala Adyra menyenggol lengannya dan mengatakan kalau dia sudah selesai.
Mengangguk singkat mereka berdua berjalan keluar dari toko buku, tapi di pintu utama jantung Ziko berdetak dengan sangat cepat ketika melihat sosok yang sangat dia kenali.
Mata mereka bertemu dan Ziko semakin merasa takut.
Sorot mata itu menatapnya dengan berbeda dan Ziko tau kalau dia sudah memperkeruh keadaan.
"Vina"
Panggilan pelan itu malah membuat Devina berbalik dan pergi begitu saja.
Setelah Devina pergi matanya bertemu dengan mata Devano yang menatapnya dengan tajam.
Ziko tau kalau sekarang dia telah mengacaukan segalanya.
¤¤¤
"Vina"
Suara kembarannya itu Devina hiraukan dia segera pergi ke kamarnya bahkan tidak menyapa Fahisa yang ada di bawah, dadanya terasa sesak. Persetan dengan kesalah fahaman bagu Devina kekasihnya sudah sangat keterlaluan, dia sangat terluka.
Saat mereka sedang bertengkar dia malah pergi bersama gadis lain, apa maksudnya?
Memasuki kamar Devina langsung mengunci pintu dan menjatuhkan dirinya di ranjang setelah melepas sepatunya. Ponselnya terus berdering sejak perjalanan pulang, tapi Devina tidak peduli dia enggan untuk menjawab.
Saat tidak ada dering lagi Devina membuka dan melihat puluhan pesan masuk serta belasan panggilan tak terjawab.
Vina
Aku cuman nemenin Adyra dan tadinya memang ada niat mau cerita sama dia, tapi enggak jadi
Vin maaf jangan marah
Vina bales pesan aku, please
Vina aku minta maaf
Angkat telpon aku Vin
Devina jangan marah aku minta maaf
Itu beberapa pesan terakhir sebelum Ziko terus menelponnya dan berhenti mengirim pesan.
Sekarang pria itu sepertinya sedang mengetik pesan lagi karena terdapat tulisan di bawah namanya.
Lalu beberapa pesan masuk, tapi pesan ith malah membuat Devina semakin merasa sakit.
Kamu jangan egois gitu dong Vin
Jangan kekanakan dengan gak mau dengerin penjelasan orang lain
Kenapa Ziko mengatakan hal seperti itu padanya?
¤¤¤
Lohh lohh percaya gak kalau Ziko bilang gitu ke Vina??