My Possessive Twins

My Possessive Twins
71 : Baikan



Double date


Rencana tidak terduga itu tiba-tiba saja keluar dari bibir Devina ketika dia dan kembarannya sedang jalan bersama ke kelas dengan penuh semangat Devina menyampaikan rencananya. Sebenarnya Devano ingin menolak karena dia tidak suka selain itu dia juga ada jadwal untuk latihan, tapi melihat Devina yang sangat antusias dia jadi tidak bisa menolak.


Tadi Devina bilang dia ingin mengajak Devano double date sekalian untuk meminta maaf pada Adara secara langsung karena sudah marah pada gadis itu tanpa alasan. Tentu saja hanya Devina yang selalu berhasil membuat Devano menurut dan hanya Devina yang bisa membuat Devano melakukan hal yang tidak dia suka.


"Nanti pulang sekolah ya? Kita ke kedai ice cream terus habis itu ke taman pasti seru Van." Kata Devina


Wajahnya berbinar ketika mengatakan hal itu dan senyumnya juga mengembang dengan sempurna.


"Hmm nanti aku bilang Adara ya?" Kata Devano


Devina mengangguk singkat lalu ketika sudah sampai di depan pintu kelas dia menatap Devano sebentar dan kembarannya itu tersenyum sambil mencubit pelan pipinya.


"Belajar yang bener." Kata Devano


Sekali lagi Devina mengangguk patuh lalu dia masuk ke dalam dengan mood yang semakin baik. Tanpa keduanya sadari mereka ada banyak mata yang menatap mereka dengan iri.


Sejak dulu banyak sekali yang iri dengan perlakuan Devano, si pangeran es di SMA Kencana yang berubah begitu lembut serta penuh perhatian pada kembarannya. Sebelumnya mereka mengira kalau keduanya berpacaran, tapi ternyata hanya saudara kembar.


Dan ada banyak orang yang kecewa pada faktu itu karena menurut mereka Devano juga Devina lebih cocok untuk menjadi sepasang kekasih.


Hey, tapi itu dulu sekarang mereka tidak pernah membahas hal itu lagi.


Bahkan ada banyak juga yang mendukung hubungan Devina dengan Ziko atau Devano dengan Adara.


Sekarang kembali pada Devina yang sudah duduk disamping Mona dan langsung menghadap ke belakang, dimana kekasihnya berada. Mereka berdua saling melempar senyum dan Devina langsung meminta Ziko untuk mendekat karena ingin membisikkan sesuatu


Jangan sampai yang lainnya dengar.


"Wah mau ngapain Vinaa? Inget ini di kelas." Kata Gio heboh


"Ziko lo udah apain temen gue?" Kata Cessa


Mereka tidak menghiraukan ucapan keduanya dan Devina mendekatkan wajahnya ke telinga sang kekasih sambil berbisik pelan.


"Nanti pulang sekolah kita pergi ke kedai ice cream ya? Sama Vano dan Adara juga"


Setelah mengatakan hal itu Devina menjauhkan wajahnya dan menatap Ziko dengan senyuman. Ikut tersenyum Ziko hanya mengangguk setuju dan membuat kekasihnya semakin merasa senang juga bersemangat.


Ziko kira Devina ingin mengatakan apa ternyata dia mengajaknya untuk pergi bersama dengan Devano dan Adara juga. Sebenarnya Devina sudah pernah mengatakan hal itu pada Ziko beberapa minggu yang lalu.


"Ngomong apa sih Vin? Mau macem-macem ya kalian berdua?" Tanya Gio dengan mata yang menatap penuh curiga


"Rahasia kamu gak boleh tau." Kata Devina sambil memeletkan lidahnya dan kembali menghadap ke depan


"Kenapa sih Vin? Lo ngomong apaan emang sama Ziko?" Tanya Mona penasaran


Devina hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak mau memberi tau siapapun pokoknya.


"Ehh lo kemaren kemana sih Vin? Ziko sama Vano heboh banget nelpon kita-kita untuk nanyaiin lo." Kata Nayla


Devina tertawa kecil lalu menceritakan semuanya pada mereka dan hal itu membuat teman-temannya menggelengkan kepala karena kelakuannya.


Mereka faham alasan Devina begitu marah dan merajuk, tapi tidak menyangka kalau gadis itu bakal pergi sendirian padahal mereka tau Devina paling tidak suka kemana-mana sendirian.


"Pantesan Vano nelpon gue sampai sepuluh kali terus dia nyuruh gue buat telpon lo juga dan tanyaiin ke temen sekelas." Kata Mona


"Iya gila heboh bener Ziko juga tuh sibuk banget dia gara-gara Vano nelpon dan bilang kalau Devina gak ada di rumah." Kata Cessa


"Tumben Vin mau pergi sendirian." Kata Nayla


Devina tersenyum nenanggapi ucapan mereka, kemarin dia memang pergi tanpa izin bahkan berbohong, tapi Devina tidak menyesal.


Memang tidak enak pergi sendirian, tapi tidak buruk juga untuk dilakukan.


"Kemarin lagi pengen sendirian aja, tiba-tiba ngerasa serba salah sendiri dan akhirnya aku pergi jalan-jalan sendirian untuk nenangin diri." Kata Devina


Mereka hanya mengangguk faham dan tidak bertanya lebih lanjut. Memang begitu Devina sangat jarang bercerita bahkan cenderung memendam semua yang dia rasakan.


Gadis itu hanya akan bercerita ketika memang ingin dan jangan pernah berfikir paksaan bisa membuat Devina mau bicara karena hal itu tidak akan pernah berhasil.


Kecuali kalau Devano yang memaksanya untuk bicara.


"Aku kalau lagi marah atau kesel pasti bakal diem aja dan kalau di rumah malah selalu ditanya-tanya padahal aku malas ngomong, jadi kabur aja." Kata Devina membuat Mona tertawa kecil ketika mendengarnya


"Sekarang udah baikan sama Vano?" Tanya Nayla


Devina mengangguk dengan semangat.


"Udah dongg aku gak bisa marahan lama-lama sama Vano." Kata Devina


"Iya sih mana bisa namanya juga saudara kembar pasti nempel terus." Kata Cessa membuat Devina tertawa kecil ketika mendengarnya


"Enak gak Vin punya kembaran?" Tanya Nayla


"Kalau kembarannya kayak Devano enak, tapi kadang suka nyebelin juga apalagi dia sering banget ngelarang ini itu jadi suka sebel." Kata Devina


"Tapi gue yakin sih senyebelin-nyebelinnya Devano masih tetap nyebelin adek gue." Kata Mona sambil terkekeh


"Abang gue sih fix." Kata Cessa


"Kadang gue bingung Vano nyebelin dimananya sih?" Tanya Nayla penasaran


Devina terlihat berfikir ketika mendengar pertanyaan dari Nayla, kapan ya Devano menyebalkan?


Setau Devina dia kesal kalau kembarannya sudah mencubit pipinya, memaksanya untuk makan atau melarangnya pakai ini itu.


"Dia nyebelin kalau udah cubitin pipi aku dan ngacak-ngacak rambut juga terus kalau udah maksa aku untuk makan sama larang-larang aku pakai dress pas mau keluar." Kata Devina


"Itu mah bukan nyebelin, tapi perhatian." Kata Nayla sambil tertawa


"Gue kalau gak mau makan terus nyokap manggil adek gue malah bilang biarin aja Mah gak usah di suruh makan biar sakit sekalian, emang kurang ajar." Kata Mona membuat Devina tertawa mendengarnya


"Abang gue woy gila pas gue keluar pakai rok agak pendek kan dia bilang mau jual diri lo? Sumpah gak ada manis-manisnya bener gue punya abang mana suka noyor-noyor kepala." Kata Cessa dengan penuh emosi


Bukan hanya Devina, tapi yang lainnya juga ikut tertawa mendengar perkataan gadis itu.


"Vano juga suka noyor kepala aku." Kata Devina


"Tapi, dia gak terlalu nyebelin dan ganteng jadi termaafkan gak kayak abang gue." Kata Cesaa sebal


"Tapi, tetap aja dia pasti sayang sama kamu Cessa." Kata Devina sambil tersenyum


"Hm memang cuman itu nyebelinnya minta ampun terus omongannya agak kasar." Kata Cessa


"Kalau Vano ngomong kasar bisa ditampar sama Daddy." Kekeh Devina


"Ah gue jadi mau punya Kakak kayak Devano dia buat gue aja deh Vin." Kata Cessa


"Jangan Vano punya aku." Kata Devina dengan wajah cemberutnya


Semenyebalkan apapun kembarannya Devina sangat sayang pada Devano dan tidak mau kalau pria itu sampai pergi.


Bahkan dia sedikit tidak rela kalau perhatian Devano terbagi dengan yang lainnya.


"Pantes ya dulu banyak ngira mereka berdua pacaran." Kekeh Nayla


"Orang Vano tuh keliatan kayak cowok yang lagi ngelindungin pacarnya." Kata Cessa


"Kalian aneh aku sama dia saudara mana dan kalau mau tau dulu malah Vano sering buat aku nangis." Kata Devina


"Yang bener Vin?" Tanya Mona paling semangat


Devina menganggukkan kepalanya dengan cepat dan menceritakan betapa jahilnya Devano ketika masih kecil.


"Dulu Vano jahil banget suka bikin aku nangis dan kalau dimarahin Daddy atau Mommy dia bilang, Vina lucu kalau lagi nangis, nyebelin kan?" Kata Devina dengan bibir mengerucut


Bukan menyetujui hal itu mereka malah mengatakan hal yang membuat Devina semakin cemberut.


"Bukan lucuu itu mah gemesss." Kata mereka bersamaan


Mona tertawa kecil dan mencubit pipi temannya itu cukup kuat hingga Devina meringis sambil melepaskan tangan Mona dari pipinya.


"Sakittttt"


Tapi, Devina memang sangat menggemaskan.


Entahlah gadis itu tidak bisa membuat orang lain marah padanya bahkan tatapan matanya yang polos itu selalu berhasil membuat orang-orang luluh.


Tatapan mata dan senyuman manis Devina adalah kelemahan orang-orang disekitarnya.


¤¤¤


"Double date?"


Adara mengatakan hal itu dengan suara kecil pada Devano yang duduk disampingnya, sedikit tidak percaya dengan apa yang pria itu ucapkan. Sebelumnya Adara tidak pernah berpacaran dan sekarang dia malah diajak untuk double date, entah apa yang akan terjadi nantinya.


Hanya saja Devano mengatakan kalau mereka hanya perlu duduk dan makan sambil mengobrol bersama Devina juga Ziko. Saat Devano mengatakan kalau itu permintaan Devina dia tidak bisa menolak karena sungguh sampai sekarang Adara masih merasa bersalah meskipun dia sudah minta maaf.


Ketika Devano mengatakan kalau Devina sedang marah dan meminta Adara untuk tidak marah kalau dia tidak membalas pesannya, Adara tau kalau semua karena dia.


Sejak Devano pergi Adara selalu memaksa pria itu untuk menelpon juga mengirim pesan padanya. Awalnya Adara fikir Devina tidak akan masalah karena gadis itu memiliki banyak orang disekitarnya tidak seperti Adara, tapi ternyata dia salah.


Bagi Devina yang merupakan saudara kembar Devano tidak suka kalau pria itu mengabaikannya dan Adara tidak marah, dia bisa mengerti.


Baiklah Double date mari kita lakukan.


"Mau kan?" Tanya Devano memastikan


"Hmm boleh, tapi Van aku masih gak enak sama Vina." Kata Adara sambil menghela nafasnya pelan


Devano tersenyum dan mengatakan kalau sekarang Devina sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi.


"Jangan difikirin itu bukan salah kamu ataupun Devina." Kata Devano entah untuk yang keberapa kalinya


Adara baru akan bicara sampai suara dibelakang mereka membuat keduanya menoleh.


Siapa lagi kalau bukan Alex dan Erick.


"Ngobrolnya bareng dong Bang jangan berdua aja." Kata Alex


"Lagi ngomongin masa depan itu pasti." Kata Erick sambil tertawa


Adara berdecak kesal dan menatap mereka berdua dengan tajam.


"Kenapa sih lo berdua kerjaannya gangguin orang terus?" Tanya Adara kesal


"Kenapa sih lo berdua kalau pacaran di kelas terus?" Tanya Alex balik


Saat Adara ingin bicara lagi Devano langsung menahannya dan meminta gadis itu untuk diam saja.


"Van kemaren si Vina kemana?" Tanya Alex mengalihkan pembicaraan


"Ke toko buku sendirian." Kata Devano


"Kok sendirian sih? Mending gue yang temenin." Kata Erick membuat Alex menoyor kepalanya


"Mending sama gue lah." Kata Alex yang masih belum bisa melupakan kembaran dari teman baiknya


Kembali pada Adara dan Devano yang saling menatap dalam diam. Cukup lama hingga Adara mengalihkan pandangannya, dia selalu salah tingkah kalau berhadapan dengan Devano.


"Kemarin Vina ngerjaiin aku." Kata Devano


"Iya? Kamu diapain?" Tanya Adara penasaran


"Di pakein make up." Kata Devano membuat Adara terdiam


Entah berapa lama, tapi setelahnya Adara tertawa dan Devano tersenyum melihatnya.


Adara cantik sekali kalau tertawa.


"Pasti lucu ada fotonya gak?" Tanya Adara masih dengan tawa kecilnya


"Di hp Devina." Kata Devano


"Mau minta sama Vina nanti." Kata Adara membuat Devano menatapnya dengan sebal


"Jangan"


"Mau minta pasti lucu deh Van." Kata Adara dengan senyuman yang begitu lebar


Devano tidak memberikan tanggapan apapun hanya diam sambil menatap wajah Adara dari samping.


Dia tidak akan bisa memilih antara Devina dan Adara karena mereka berdua adalah bagian terpenting dalam hidupnya.


¤¤¤


Sudah sepuluh menit mereka diam dan tidak memulai percakapan apapun sama-sama bingung harus mengatakan apa untuk membuka percakapan. Sepulang sekolah mereka benar-benar pergi ke kedai ice cream sesuai permintaan Devina dan sekarang gadis itu duduk dihadapan Adara sambil menatapnya dengan senyuman canggung.


Sebenarnya Devina ingin minta maaf, tapi dia bingung harus memulai dari mana. Saudara kembarnya sedang pergi memesan dan sepertinya ini waktu yang tepat untuk bicara.


Berdeham pelan Devina berkali-kali membuka bibirnya yang terkatup rapat, tapi berkali-kali juga mengurungkan niatnya. Menoleh pada Ziko yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya akhirnya Devina bicara.


"Emm Adaraa"


"Iya Vin?" Tanya Adara sambil menatapnya dengan senyuman tipis


Devina kembali diam dan membasahi bibir bawahnya tak lama kemudian Devano kembali.


"Emm Dara aku mau.. emm..."


Astaga Devina bingung harus bicara dari mana.


"Aku minta maaf." Kata Devina dengan begitu cepat


Sedikit terkejut Adara mengatakan kalau itu bukan salahnya.


"Gue yang minta maaf Vin." Kata Adara


Devina tersenyum dan mengulurkan tangannya membuat Adara menatapnya dengan alis bertaut.


"Maafan dulu"


Bukan hanya Adara, tapi kedua pria disisi mereka juga ikut tertawa melihatnya.


Menjabat tangan itu dengan lembut Adara dapat melihat Devina yang tersenyum dengan begitu lebar, terlihat sangat bahagia.


Sesaat setelah jabatan tangan mereka terlepas seorang pegawai datang untuk mengantarkan pesanan. Melihat ice cream coklat dihadapannya Devina tersenyum dengan begitu lebar.


Baru ingin menyuapi ke mulutnya dia mendengar sesuatu dari bibir kembarannya dan juga Adara.


"Aku gak tau kamu suka rasa apa, jadi aku beli rasa vanilla"


"Enggak papa Van aku suka kok"


Devina mendongak dan menatap keduanya bergantian lalu sekali lagi mengatakan hal yang membuat Ziko juga Devano tertawa.


"Dara lucu kalau ngomong pakai aku kamu, jadi enggak galak lagi kelihatannya"


¤¤¤


Dapat salam dari Vina dan Dara.



Kurang gak sih kalau cuman update satuu??


Oh iya saran tentang Devina yang kena insiden tabrakan atau kecelakaan masih aku fikirkan😂


Makasih untuk kalian yang antusias nunggu cerita ini updateee😚