My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (37)



Adara tau bahwa selama berada di Villa dia tidak akan bisa lepas dari Devano yang tidak pernah mau berjauhan darinya dan Adara juga tau bahwa kemungkinan mereka bisa keluar dari Villa keluarga Wijaya untuk berjalan-jalan sangat kecil karena hey bahkan Devano saja tidak membiarkan dia keluar dari kamar. Hari sudah mulai gelap kini keduanya ada di kamar Adara baru selesai mandi rambutnya masih sedikit basah dan Devano sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


Di luar juga sedikit mendung bahkan gerimis kecil sudah mulai turun beruntungnya tadi mereka sempat ke supermarket untuk membeli beberapa camilan minuman serta mie instan yang sengaja Devano siapkan kalau mereka malas keluar untuk mencari makan. Berjalan ke arah meja rias Adara menyisir rambutnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


Ringisan pelan terdengar, melihat lehernya yang penuh dengan tanda merah hasil perbuatan Devano membuat Adara ngeri sendiri. Rasanya pria itu suka sekali meninggalkan tanda kemerahan di sana ah bukan di sana saja, tapi di beberapa bagian lainnya.


Adara malu sendiri kalau mengingatnya.


"Sayang"


Ah jangan lupakan Devano yang selalu memanggilnya dengan kata sayang sekarang membuat Adara sering kali tersentak karena belum terbiasa.


"Iya Van"


"Ponsel kamu mati? Ayah kamu chat ke aku katanya kamu gak balas pesan dia." Kata Devano


"Ya ampun lupa ponsel aku mati." Kata Adara


Dia bergegas mengambil ponselnya yang ada di ranjang lalu mencari charger miliknya di dalam tas. Berjalan ke dekat Devano yang duduk di sofa Adara langsung mengisi daya ponselnya yang sudah mati dan meletakkan benda itu di atas meja.


"Kamu gak mau ganti ponsel kamu Ra?" Tanya Devano


Adara menatap Devano untuk sesaat lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Enggak, untuk apa? Masih bagus tau ponsel yang aku pakai." Kata Adara


"Ya mungkin kamu mau ganti." Kata Devano


Adara tersenyum mendengarnya.


"Enggak Van." Kata Adara


Baru saja ingin pergi Adara berseru kencang ketika Devano menarik pelan tangannya hingga kini dia jatuh ke atas pangkuan suaminya.


"Ya ampun Van"


"Kamu wangi banget sih." Kata Devano sambil memeluk tubuh Adara dan mendusal manja di lehernya


"Vann"


Devano hanya diam dan menikmati posisinya sekarang.


"Besok kita mau kemana?" Tanya Adara yang memilih untuk membiarkan saja Devano


"Hm ke kamar terus kamar mandi lalu ruang tengah." Kata Devano


"Ish Van"


"Hm"


"Katanya mau ajak aku jalan-jalan." Kata Adara


"Hm enggak untuk besok soalnya besok masih mau berduaan aja sama kamu di sini." Kata Devano


"Ihh katanya...."


"Memang kamu mau keluar dengan leher kayak gini hm?" Tanya Devano


Adara terdiam lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Makanya nanti aja." Kata Devano


"Yaudah kamu jangan buat-buat lagi dong." Kata Adara


"Enggak janji sayang." Kata Devano


"Ihh Van kalau gak hilang masa kita cuman diam di Villa aja." Keluh Adara


"Ide bagus." Kata Devano membuat Adara berdecak kesal


Devano semakin mengeratkan pelukannya dia memejamkan mata sambil menghirup aroma tubuh Adara yang menenangkan untuknya.


"Sayang"


"Nanti malam mau makan apa?" Tanya Devano


"Makan mie instan aja deh Van lagian juga di luar hujan." Kata Adara


"Enggak papa?" Tanya Devano


"Ya gak papa memang kenapa?" Kata Adara bingung


"Kamu kan harus punya tenaga banyak untuk nanti malam sayang." Kata Devano


"Van ish memang kamu gak capek apa?" Tanya Adara


"Enggak lagi pula...."


Devano menggantungkan kalimatnya dia menjauhkan wajahnya lalu menatap Adara dengan senyuman dan meninggalkan ciuman singkat di bibirnya.


"Lagi pula cuacanya pas Ra hujan gini kamu pasti dingin kan? Nanti aku buat panas"


Oh astaga Adara kesal sekali pada Devano!


°°°°


Mata Adara terpejam dia hanya bisa diam sambil menikmati setiap sentuhan yang Devano berikan untuknya pria itu tidak bohong ketika mengatakan mereka akan melalui malam yang panjang. Lihat saja sekarang tepat pukul satu malam Devano masih belum mau menghentikan kegiatannya pria itu benar-benar tidak ada lelahnya.


Ya meskipun Adara juga menyukainya, tapi dia lelah dan mengantuk kalau Devano sih sepertinya tidak sama sekali rasanya bukan lelah dia malah semakin semangat. Tubuh pria itu bergerak perlahan di atasnya dan Adara hanya bisa memeluk punggung polos Devano dengan kedua tangannya.


"Adara"


Devano memanggil namanya dengan suara yang terdengar sangat serak tatapan matanya juga berbeda, penuh dengan gairah.


"Kamu buat aku kecanduan sayang." Kata Devano


Adara tidak memberikan tanggapan apapun dia hanya bisa menikmati semua permainan suaminya.


Oh sial kapan ini berhenti?


Devano tidak memberikan tanda seolah dia akan tetap melanjutkan permainan ini hingga esok.


"Van... Udah...."


"Sebentar sayang." Kata Devano


Adara memeluk Devano semakin erat ketika dia hampir sampai dan tubuhnya benar-benar sudah lemas ketika mereka berdua telah mendapatkan pelepasan bahkan Devano sudah menjatuhkan tubuhnya di atasnya.


Devano mencium pipinya lalu turun dan berbaring tepat di sampingnya.


"Ngantuk ya?" Kata Devano serak


Lihat, suaranya saja masih serak.


"Em capek." Kata Adara


Devano tersenyum dia menarik selimut lalu membawa Adara ke dalam pelukannya.


Dengan sisa tenaganya Adara mendekat dan bersandar di dada bidang Devano lalu memejamkan mata ketika merasakan usapan di kepalanya.


"Good night sayang"


Devano tidak langsung tidur dia asik memperhatikan Adara yang sudah dengan mudah tertidur lelap dalam dekapannya.


Apa dia lelah sekali?


°°°°°


Aku updateeee🥰