
Pagi ini Devina benar-benar mengajak kembarannya jalan-jalan di sekitar perumahan mereka berjalan beriringan dan Devina melangkahkan kakinya dengan lambat, dia memeluk lengan Devano dengan sayang. Sudah sekitar lima belas menit keduanya berjalan-jalan dan Devano merasa sangat senang karena akhirnya dia tidak lagi mencium bau obat-obatan.
Keduanya masih belum kembali ke rumah karena Devano mengatakan kalau dia masih ingin berjalan-jalan bersama Devina dan tidak mau pulang. Tentu saja Devina tidak memberikan penolakan karena hari ini Devina tidak akan menuruti semua perkataan Devano.
Habis ini Devano ingin mereka menonton film berdua menggunakan laptop dan Devina hanya mengangguk saja, tapi sebelumnya dia sudah mengatakan kalau nanti siang dia akan ke rumah Ziko.
"Vano dingin gak?" Tanya Devina
"Enggak Vin justru aku merasa hangat." Kata Devano sambil tersenyum
"Em Vano belum mau pulang?" Tanya Devina
"Belum, kamu udah capek ya?" Tanya Devano
"Belum Vina malah takutnya Vano yang capek kan baru pulang dari rumah sakit." Kata Devina
"Hm kalau gitu kita duduk dulu disana baru pulang." Kata Devano
Devina mengikuti arah pandang kembarannya lalu terseyum dan mengajak Devano untuk duduk disana. Keduanya duduk bersebelahan lalu Devano meraih tangan Devina dan menggenggamnya.
Entah kenapa belakangan ini Devano manja sekali padanya, tapi tidak papa Devina senang dia jarang sekali melihat Devano begini.
"Vin"
"Emm"
"Kamu pernah berpikir gak kalau nanti kita tinggal jauhan?" Tanya Devano
Devina terdiam lalu menatap kembarannya sesaat dan menggelengkan kepalanya.
"Enggak dan Vina enggak mau tinggal jauh-jauh dari Vano meskipun nanti udah menikah kita gak boleh jauh-jauh." Kata Devina
"Aku takut Vin harus tinggal jauh-jauh dari kamu." Kata Devano pelan
"Vanoo kan masih lama kita juga masih kuliah masih tiga setengah tahun lagi." Kata Devina
"Hm tetap aja Vin aku kepikiran." Kata Devano
"Jangan dipikirinn pokoknya Vina gak bakal jauh-jauh dari Vano kita bakal tetap tinggal satu kota enggak enggak satu provinsi eh satu rt." Kata Devina membuat Devano tertawa mendengarnya
"Iya percaya kamu jangan jauh-jauh dari aku ya Vin." Kata Devano
"Enggak Vanoo." Kata Devina
"Yaudah yuk pulang." Ajak Devano
Devina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dan mengulurkan tangan pada Devano yang langsung pria itu sambut dengan hangat. Keduanya jalan beriringan dan kembali ke rumah bersama-sama tanpa ada pembicaraan lagi.
Memang benar belakangan ini Devano selalu memikirkan tentang bagaimana jika Devina berada jauh darinya, apa dia bisa?
Sejak masih kecil mereka selalu bersama bahkan ketika sd dulu Devina sampai menangis hanya agar bisa satu kelas dengan Devano. Sekarang waktu berlalu dengan sangat cepat hingga tanpa terasa keduanya dudah beranjak dewasa.
Sebentar lagi mereka akan memiliki jalan hidup masing-masing, dia bersama Adara dan Devin bersama Ziko. Meskipun begitu Devano terus saja kepikiran dia takut membayangkan jika nanti Ziko datang melamar kembarannya lalu Devina pergi jauh darinya, tapi hal itu pasti terjadi.
Mungkin dia hanya terlalu khawatir, tapi nanti pasti akan baik-baik saja.
Sampai di rumah keduanya langsung pergi ke ruang makan karena Devano harus sarapan dan juga minum obat. Ternyata disana sudah ada kedua orang tuanya dan Fahisa langsung tersenyum lalu menyuruh keduanya untuk duduk.
Devano hanya tersenyum lalu mulai menyantap sarapannya.
¤¤¤
"Zikooo"
Suara Devina membuat Ziko menoleh lalu tersenyum apalagi ketika gadis itu berlari mendekat dan langsung memeluknya yang sedang duduk di sofa. Membalas pelukan kekasihnya dengan sayang Ziko baru tau kalau Devina sudah sampai karena orang tuanya tidak ada di rumah pasti Bibi yang meminta Devina untuk langsung masuk.
Rasanya Ziko benar-benar merindukan Devina hingga dia enggan melepaskan atau sekedar merenggangkan pelukannya. Tak hanya memeluk Ziko juga mencium puncak kepala gadisnya itu berkali-kali membuat Devina tersenyum senang.
Setelah merasa cukup Devina menjauhkan tubuhnya lalu menatap Ziko dan meraih tangannya yang kini menunjukkan luka yang telah mengering.
"Udah sembuh sayang." Kata Ziko
"Yang di kaki mana?" Tanya Devina
Ziko tersenyum lalu menunjukkan kaki kanannya dan benar lukanya juga sudah kering.
"Awas ya jangan jatuh lagi! Kalau habis hujan bawa motor atau mobilnya pelan-pelan untung kemarin Ziko jatuhnya di gang gimana kalau di jalan besar? Nanti Ziko bisa lebih parah luka...."
Mata Devina membulat ketika Ziko mencium bibirnya sekilas dan dia langsung memukul lengan pria itu dengan kesal membuat Ziko tertawa senang.
"Kamu tuh!"
"Makanya jangan marah-marah kamu kalau lagi marah gitu gemesin." Kata Ziko
"Ishhh males ah sama Ziko." Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya sebal
"Iya iya maafinn." Kata Ziko
Devina menghela nafasnya pelan lalu menganggukkan kepalanya membuat Ziko tersenyum dan mencubit pipinya.
"Vina"
"Iyaa"
"Kalau aku pindah kuliah gimana?" Tanya Ziko
"Pindah kemana?!" Tanya Devina dengan wajah tidak suka
"Kamu ingat kan? Mama pernah bilang kalau dia minta aku kuliah di...."
"Ih gak boleh! Nanti Vina gimana? Masa jauh-jauhan gak mauuu." Rengek Devina
"Gak mau gak boleh! Vina gak mau ditinggalinnn." Kata Devina dengan raut wajah sedih
"Iya enggak udah jangan sedih." Kata Ziko
"Ziko ngapain nanya gitu? Kamu mau pergi? Kamu mau jauh-jauh dari Vina? Udah bosan sama Vina?" Tanya Devina lagi
"Enggak Vin bukan gitu kemarin Mama nanya lagi katanya ada kesempatan beasiswa dan Mama minta aku coba." Kata Ziko menjelaskan
"Terus Ziko mauu?" Tanya Devina lagi
"Aku memang tertarik..."
"Gak bolehhh." Kata Devina sambil memukul-mukul lengannya pelan
"Aku belum selesai ngomongnya Devina sayang." Kata Ziko
"Terus apaa?" Tanya Devina
"Aku memang tertarik, tapi aku gak mau karena aku gak bisa ninggalin Mama sama Papa dan kamu juga." Kata Ziko
"Terus ngapain nanya Vina? Sengaja mau bikin Vina sedih yaaa?" Kata Devina kesal
"Gak papa mau nanya aja." Kata Ziko membuat Devina kesal dan memukul lengannya lagi
"Ziko nyebelin!" Kata Devina
Raut wajahnya bukan lagi cemberut, tapi terlihat marah membuat Ziko langsung memeluknya.
"Iya iya enggak aku cuman nanya aja kok Mama juga gak maksa dia cuman bilang aja kalau aku tertarik, tapi aku bilang enggak." Kata Ziko
"Vina udah takut gak mau kalau jauh-jauh dari Ziko apalagi lamaa kuliah itu lamaa nanti kita gak bisa ketemu gimana? Gak bisa jalan-jalan berdua lagi terus gak bisa peluk lagi." Kata Devina
"Iya Vin enggak aku juga udah nyaman kuliah disini lagian aku gak pinter-pinter banget kalau mau kuliah disana." Kata Ziko
"Ya jangan nanya sama Vinaa kamu bikin Vina sedih." Kata Devina kesal
Tertawa kecil Ziko mengeratkan pelukannya lalu mencium puncak kepala Devina dengan sayang.
"Iya maaf sekarang kita mau ngapain?" Tanya Ziko
"Gak tauuu"
"Mau ngapain Devina sayang?" Tanya Ziko
"Vina gak tau." Kata Devina lagi
"Hm gimana kalau nonton film? Terus kita pesen pizza?" Kata Ziko
"Bolehh tadi Vina juga habis nonton film sama Vano." Kata Devina
"Benarkah? Film apa?" Tanya Ziko
"Em gak tau judulnya apa lupa tadi Vano yang pilih." Kata Devina
Ziko mengangguk faham lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan memesang pizza untuk dia dan kekasihnya.
"Mama nya Ziko mana?" Tanya Devina
"Lagi arisan kalau Papa biasa kerja." Kata Ziko
"Kalau Ziko?" Canda Devina
"Kalau Ziko lagi pacaran." Kata Ziko membuat Devina tertawa mendengarnya
Selagi menunggu pesanan datang Ziko mengajak kekasihnya itu mengobrol dan keduanya hanya membicarakan hal-hal random saja entah tentang perkuliahan atau keluarga mereka. Setiap kali bersama Devina waktu memang berlalu sangat cepat hingga tanpa terasa bel rumah berbunyi dan Ziko bergegas keluar sambil membawa dompetnya lalu mengambil pesanan miliknya.
Setelah itu Ziko masuk ke dalam dan menunjukkan dua kotak pizza yang tadi dia beli.
"Ih Ziko kok beli dua?" Tanya Devina
"Hm gak papa aku juga lapar." Kata Ziko
"Yaudah kita mau nonton dimana?" Tanya Devina
"Hm di ruang tengah karena tv nya ada disana." Kata Ziko
Devina mengangguk faham lalu mengikuti kekasihnya ke ruang tengah dan Devina melihat Ziko yang mengambil remote lalu mengajaknya untuk duduk di sofa panjang yang lebih terlihat seperti ranjang kecil. Di rumah tentu saja bukan hanya ada Devina dan Ziko saja, tapi ada beberapa pekerja rumah tangga yang juga berada di rumah.
Sebelum fokus pada film yang akan keduanya tonton Devina lebih dulu meminta Ziko untuk diam lalu dia menaruh dua kotak pizza di atas dan meraih ponselnya lalu mengambil gambar kaki mereka.
Tersenyum senang Devina meminta Ziko untuk memutar filmya lalu keduanya menonton sambil memakan dua kotak pizza yang tadi Ziko pesan.
Devina tengah asik makan ketika Ziko memanggil namanya dan menatap dengan dalam.
"Ini ada saus"
Ziko tersenyum lalu mengusap sudut bibirnya membuat Devina ikut tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Hari ini Ziko bisa memandangi wajah cantik Devina dengan puas karena bukan film harry potter yang menarik perhatiannya, tapi gadis yang duduk disampingnya.
Devina benar-benar terlihat cantik.
¤¤¤
Aku updateeee💞