My Possessive Twins

My Possessive Twins
31 : Bahagia Selalu



"Kamu pacaran sama Ziko?"


Pertanyaan yang dilontarkan Alex kepadanya membuat Devina terdiam sebentar lalu mengangguk sambil tersenyum singkat. Memang kabar kalau dia dan Ziko berpacaran menyebar dengan sangat cepat di sekolah karena ulah teman-temannya padahal Devina belum berniat memberitau orang-orang, bukan karena malu, tapi karena dia bingung harus menanggapi apa kalau ditanya.


Sekarang ketika sedang menemani kembarannya latihan Alex tiba-tiba berhenti dan menghampiri Devina lalu menanyakan kebebaran dari kabar yang sempat dia dengar. Ada gurat kekecewaan yang dapat Devina lihat dan membuatnya merasa tidak enak, tapi Devina berusaha mengelak kalau Alex merasa sedih karena dia kan seorang playboy.


"Selamat ya?" Kata Alex sambil tersenyum


Devina menganggukkan kepalanya singkat.


"Makasih Alex"


"Kamu tetep nonton pertandingan aku kan? Kamu udah janji." Kata Alex


Devina kembali menganggukkan kepalanya, bukan karena Alex, tapi dia memang harus datang untuk menemani kembarannya.


Selalu seperti itu sejak dulu.


"Ternyata aku terlambat ya? Tadinya aku kira kita bisa sama-sama." Kata Alex membuat Devina diam dan bingung harus menanggapi apa


"Maaf"


Alex tertawa mendengarnya, untuk apa gadis itu minta maaf toh bukan salahnya juga.


"Untuk apa minta maaf Vin? Kamu gak salah dan jangan ngerasa bersalah juga." Kata Alex


Devina mendongak untuk menatap wajah Alex yang sedang tersenyum sambil menatap lurus ke depan.


"Jangan khawatir kamu tau kan kalau aku bukan tipe cowok yang suka galau? Tenang aja Vin aku bakal cari gebetan lain." Kata Alex membuat Devina mendengus kesal lalu tertawa


Tanpa Devina tau Alex merasa sedikit sesak entah kenapa dia tidak rela, tapi mungkin perasaan itu hanya sesaat saja pasti akan hilang.


Mungkin perasaan itu hanya sekedar perasaan tidak rela karena untuk pertama kalinya Alex tidak berhasil mendapatkan wanita yang dia suka.


"Pasti ada cewek lain yang lebih baik dari aku untuk kamu." Kata Devina


Alex tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Kamu bahagia Vin?" Tanya Alex


Devina terdiam sebentar lalu mengangguk dengan senyum manisnya.


Dia sangat bahagia karena bisa memiliki Ziko di hidupnya meskipun mereka baru memulai sebuah kisah, tapi Devina sangat bahagia dan dia harap mereka berdua akan selalu bersama.


"Nanti pas nonton basket ajak temen kamu deh Vin siapa tau ada yang nyantol." Canda Alex membuat Devina tertawa mendengarnya


"Oke nanti aku bawa semua temen cewek aku sekalian." Balas Devina


Alex ikut tertawa mendengarnya mungkin dia memang hanya dibolehkan untuk berteman saja.


Devina terlalu baik untuk pria seperti dia.


Baiklah bukan masalah besar dia bisa mencari gadis lain setelah ini dan semua akan baik-baik saja.


"Bahagia terus ya Vin." Kata Alex sambil berdiri dan ingin kembali bermain


Tapi, panggilan Devina membuatnya berhenti dan menoleh.


"Kamu juga jangan main-main terus"


Alex tersenyum lalu mengacungkan jempolnya dan berlari ke lapangan menghampiri yang lainnya.


Di tempatnya duduk Devina terdiam sambil tersenyum tipis, Alex cinta pertamanya, tapi mereka hanya bisa berteman. Sekarang Devina bisa dengan yakin mengatakan bahwa perasaannya untuk Alex sudah benar-benar hilang dan digantikan oleh Ziko, kekasihnya.


"Huff nyebelin banget kembaran lo Vin"


Devina tersentak lalu mendongak untuk menatap Adara yang baru saja datang dengan wajah juteknya. Gadis itu duduk disampingnya lalu meletakkan tasnya di atas paha dan mengeluarkan air minum yang tadi dia bawa.


"Kenapa? Dia maksa kamu lagi untuk kesini ya?" Tebak Devina


"Salah satunya, tapi yang paling buat gue kesel dia bikin satu sekolah heboh dan ngira kalau dia sama gue pacaran." Kata Adara


"Memang iya kan?" Kata Devina dengan dahi berkerut


Adara menghela nafasnya pelan lalu menggelengkan kepalanya.


"Dia ubah profil whats app dan sosial medianya pakai foto gue terus kalau di kantin dia ngajak gue duduk misah dari yang lain, gue mau tau Vin,"


Mengerutkan dahinya Devina bertanya-tanya maksud dari kata malu yang Adara ucapkan.


Maksudnya Adara malu dekat dengan Devano gitu?


"Bukan malu itu, tapi malu karena diliatin orang-orang dan gue sebel banget sama cewek-cewek yang kalau ngeliat gue dengan muka yang uhhh nyebelin." Kata Adara seolah bisa membaca fikiran Devina


Mendengar hal itu Devina tertawa, bukan hal aneh kalau Adara diperhatikan karena kembarannya itu belum pernah dekat dengan gadis manapun selama ini.


"Kamu cewek pertama yang dekat sama dia selain aku wajar kalau kayak gitu Dar." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan Adara menyunggingkan sebuah senyuman sambil menatap Devano yang tengah berlari menggiring bola, terlihat menawan.


"Vina gue mau bilang makasih untuk lo, Vano dan keluarga kalian yang udah bantu gue." Kata Adara tiba-tiba


Devina tersenyum lalu merangkul Adara dan mulai bicara.


"Enggak usah bilang makasih, kamu tau gak? Sekarang kamu agak mellow anaknya padahal dulu galak." Kata Devina membuat Adara berdecak kesal lalu tertawa


"Gue senang karena kalian bikin gue punya alasan lain untuk terus bertahan." Kata Adara


"Bunda kamu sudah baikan?" Tanya Devina


Adara menoleh lalu terdiam sebentar ada tatapan sendu dimatanya, tapi dengan cepat dia membentuk sebuah senyuman.


"Udah baikan meskipun kadang suka kambuh, tapi udah lebih baik dibanding sebelumnya dimana Bunda cuman bisa tidur dan menutup matanya." Kata Adara


"Dia pasti bakal lebih baik dan semakin baik lagi." Kata Devina


Adara tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Semoga


Semoga saja perkataan Devina memang benar.


¤¤¤


Wajah tidak bersahabat Ziko membuat Devina jadi gemas sendiri melihatnya, tadi pria itu menelpon dan menanyakan keberadaannya lalu ketika Devina menjawab kalau dia masih di sekolah Ziko tiba-tiba datang menjemputnya. Setelah meminta izin pada Devano dia dibawa oleh kekasihnya ke kedai ice cream, tempat kesukaannya.


Hanya saja wajah cemberut Ziko sedikit membuat Devina kesal dan jadi malas untuk menikmati ice cream dihadapannya.


Mau tau kenapa Ziko cemberut?


Saat datang tadi Devina lagi mengobrol bersama Alex bukan obrolan berarti hanya basa basi sebelum pria itu pulang, tapi Ziko terlalu takut kalau Devina kembali jatuh hati padanya. Apalagi ketika Devina bilang kalau Minggu ini dia akan menonton pertandingan basket dan hal itu semakin membuat Ziko cemberut.


"Ziko nih ngambekan banget." Keluh Devina


"Kamu yang bikin aku ngambek." Kata Ziko


Devina tertawa kecil melihatnya disaat yang bersamaan pria itu terlihat menyebalkan dan lucu.


"Memang aku ngapain sih Ziko?" Tanya Devina lembut


"Enggak usah datang ke pertandingan basket mending jalan sama aku aja." Kata Ziko masih dengan wajah cemberutnya


"Memang kenapa kok jangan?" Tanya Devina lagi


"Vinn disana kan ada Alex." Kata Ziko


"Terus?"


"Ya terus kamunya jangan kesana." Kata Ziko gemas


"Memang kenapa kalau ada Alex?" Tanya Devina


Menghela nafasnya pelan Ziko beberapa kali mencoba untuk bicara, tapi lidahnya kelu dia malu untuk mengatakannya.


"Kenapa hmm?" Tanya Devina lagi


"Aku cemburu Vin." Kata Ziko akhirnya


Devina tertawa mendengarnya, lucu sekali.


"Kenapa cemburu sih?" Tanya Devina


"Ayolah Vin kamu kan pernah suka sama dia terus minggu ini kamu mau liat dia tanding basket nanti kalau kamu suka lagi sama dia gimana?" Tanya Ziko dengan cepat


Dia menatap Devina dengan sinis membuat kekasihnya itu tertawa, Ziko terlalu berfikiran yang aneh-aneh.


"Memang aku kesana mau nonton dia doang? Aku kan memang selalu datang Ko kalau ada pertandingan basket bukan untuk dia, tapi untuk Vano." Kata Devina


Ziko terdiam, benar juga Devina selalu menemani Devano baik ketika latihan atau tanding basket.


Astaga dia berfikiran terlalu jauh rupanya.


"Memang muka aku keliatan kayak cewek yang tukang selingkuh ya?" Tanya Devina dengan mata memicing


"Enggak bukan gitu, aku percaya sama kam Vin, tapi aku gak percaya sama Alex." Kata Ziko


"Cuman nonton sebentar aku gak sendiri ada Adara juga." Kata Devina lagi


Ziko menganggukkan kepalanya singkat.


Ayolah dia tidak mau merusak suasana kencan pertama mereka sejak pacaran.


Menyunggingkan senyumnya Ziko memiliki rencana untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya di akhir pekan.


"Vin kita jalan yuk?" Ajak Ziko dengan penuh semangat


"Kemana?" Tanya Devina tak kalah semangat


"Kamu maunya kemana?" Tanya Ziko


"Nonton? Ke toko buku?" Kata Devina


"Oke dua-duanya"


Saling melemparkan senyuman sepertinya mulai sekarang hari-hari yang mereka jalani akan terasa panjang.


Ziko tidak perlu canggung atau malu untuk mengatakan bahwa di cemburu dan Devina tidak lagi merasa bingung dengan perasaannya.


Hubungan mereka baru saja dimulai.


¤¤¤


Menata meja makan dengan begitu rapih Adara tersenyum kecil ketika melihat Bunda nya keluar dari kamar dan menghampinya ke ruang makan. Beberapa saat yang lalu Adara baru saja keluar untuk membeli bubur dan beberapa lauk untuk makan malamnya, dia tidak terlalu pandai memasak dan persediaan makanan di kulkas juga lagi habis.


Setelah membantu Bunda nya untuk duduk dan menyiapkan makan malam serta air hangat Adara duduk disampingnya sambil tersenyum. Sore tadi Ella sudah boleh pulang dan tentu saja hal itu membuat keduanya sangat senang.


"Bunda ini Adara beli semua soalnya di kulkas lagi gak ada apa-apa dan Dara juga belum terlalu pintar memasak." Kata Adara


Ella tersenyum kecil dan mengatakan kalau itu bukan masalah dia bisa memakan apa saja yang dihidangkan.


"Bunda"


"Iya sayang?" Tanya Ella dengan suara lembut yang masih terdengar lemah


"Bunda sudah baik-baik saja kan? Bunda tidak memaksa untuk pulang kan?" Tanya Adara


"Tidak sayang memang dokter sudah membolehkan Bunda pulang dengan syarat kontrol ke rumah sakit setiap tiga hari sekali." Kata Ella membuat Adara tersenyum senang


"Kalau gitu kita makan dan Bunda harus minum obat." Kata Adara


Dalam diam Ella tersenyum, dia baru saja berbohong pada anaknya.


Sebenarnya Ella tidak dibolehkan untuk pulang karena keadaannya yang belum stabil apalagi penyakitnya yang malah semakin parah, tapi Ella tidak mau berada di rumah sakit dia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan melihat anak kesayangannya.


'Saya mohon Dokter setidaknya saya mau berada di sisi anak saya dan membuat dia tidak selalu khawatir akan keadaan saya yang semakin memburuk'


Setelah menandatangani beberapa berkas Ella akhirnya pulang ke rumah dan bisa melihat senyum anaknya lagi. Selain itu dia mau pulang dan melindungi anaknya kalau-kalau mantan suaminya datang lalu menyakiti anaknya lagi.


Sudah cukup luka kecil itu saja yang dia lihat.


"Adara"


"Iya Bunda?"


"Teman kamu yang namanya Devano, kalian sangat dekat ya? Apa dia sering membantu kamu?" Tanya Ella


Adara mengangguk dan mulai menceritakan tentang Devano, semuanya.


Adara bercerita tentang Devano yang melindunginya dari tawuran, mengobati lukanya, mengantar dia ke rumah sakit, dan bantuan membeli rumah ini juga.


"Dia baik sekali Bunda dan keluarganya juga baik Dara sudah pernah bertemu mereka." Kata Adara


Mengangguk singkat sekali lagi Ella merasa lega karena anaknya memiliki seseorang yang peduli dan mau membantunya.


"Nanti kalau dia ada waktu ajak main ke rumah ya?" Kata Ella


Adara terdiam sebentar lalu menganggukkan kepalanya.


¤¤¤


Hmmm gak kesian kaliian sama Alex :(