
Tangisan seorang Adara merupakan hal yang tidak Devano suka, tapi sekarang dia berada di rumah gadis itu dan memeluknya sambil berusaha menenangkan Adara yang sejak tadi menangis. Sama sekali tidak ada kata yang keluar hanya terdengar isakan pilu yang membuat dada Devano terasa sesak ketika mendengarnya.
Dia mendekap tubuh Adara lalu mengusap dengan lembut kepalanya tanpa mengatakan apapun, dia hanya membiarkan Adara menumpahkan segala tangisnya. Seandainya tangis itu memang bisa membuat Adara merasa lega maka biarkan dan Devano akan setia disampingnya untuk menenangkan serta menyediakan tempat untuk kekasihnya
bersandar.
Alasannya mengirimkan album serta surat yang pernah dia temukan hanya untuk membuat Juan merasa sadar dengan semua perbuatannya, tapi dia tidak tau kalau hal itu malah akan membuat gadisnya menangis. Air matanya tidak berhenti mengalir dan isak tangisnya terus terdengar dengan pelukan yang kian mengerat.
"Ra i'm here"
Devano membisikkan kata itu sambil mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Van"
"Hm aku disini Ra." Kata Devano pelan
"Aku... aku bingung..."
Adara kembali terisak membuat Devano melepaskan pelukannya untuk sesaat dan menangkup wajah kekasihnya seraya menghapur air matanya.
"Kalau kamu belum siap gak masalah sayang yang terpenting kamu tenang dulu hmm? Aku disini gak akan kemana-mana dan bakal nunggu sampai kamu siap untuk cerita." Kata Devano dengan penuh kelembutan
Terisak pelan Adara mengangguk lalu kembali memeluk Devano dengan sangat erat, dia merasa sesak.
'Ayah mau peluk kamu boleh?'
Pertanyaan singkat yang tadi berhasil membuat Adara membeku hati kecilnya sangat ingin, tapi ego nya menolak hingga dia malah memilih untuk pergi begitu saja.
Menit demi menit berlalu tangisan Adara mulai berhenti dan membuat Devano merasa sedikit lega sampai pada akhirnya Adara melepaskan pelukannya. Senyuman tipis terbentuk bersamaan dengan Adara yang menghapus air matanya sendiri lalu menatap Devano.
"Vano"
"Hmm"
"Aku bingung... aku seneng karena Ayah mulai baik sama aku, tapi aku... aku juga masih benci sama Ayah setiap kali ingat semua perlakuannya ke Bunda dan aku dulu." Kata Adara
"Semua butuh waktu Adara." Kata Devano
"Aku gak ngerti kenapa Ayah tiba-tiba berubah gitu, tapi Van aku gak bohong kalau aku merasa senang bahkan senang banget ketika untuk pertama kalinya tangan Ayah genggam tangan aku dengan sayang." Kata Adara dengan mata berkaca-kaca
Devano tersenyum lalu tangannya terulur untuk mengusap pipi Adara dengan sayang.
"Tadi Ayah bilang mau peluk aku, tapi aku malah pergi gitu aja." Kata Adara pelan
Adara tidak tau kenapa dia malah pergi, tapi yang jelas ingatannya kembali pada masa kecilnya.
'Ayah Dara mau peluk'
'Menjauhlah dariku anak pembawa sial'
Setiap kali menatap mata Juan semua kenangan buruknya itu akan kembali menghampiri Adara dan dia benci sangat benci.
"Van aku gak salah kan?" Tanya Adara pelan
Devano kembali mengusap pipinya dan mengglengkan kepalanya pelan.
"Enggak Ra kamu hanya butuh waktu karena jauh didalam hati kamu masih ada rasa peduli dan sayang untuk Om Juan kan?" Kata Devano
Adara menganggukkan kepalanya singkat.
"Don't cry"
Adara kembali mengangguk sambil menghapus jejak air matanya dan membentuk sebuah senyuman tipis.
"Enggak"
Devano ikut tersenyum lalu mendekat untuk memeluk kekasihnya lagi.
"Keluar yuk? Jalan-jalan biar kamu gak sedih lagi." Kata Devano
"Kemana?" Tanya Adara
"Belum kepikiran." Kata Devano membuat Adara tertawa kecil ketika mendengarnya
"Sekarang disini aja Van, tapi nanti malam ajak aku ke pasar malam." Kata Adara
"Oke sayang." Kata Devano
"Makasih udah temenin aku Van." Kata Adara tulus
"Aku selalu ada untuk kamu Adara." Kata Devano dengan senyuman manisnya
"Kamu beneran mau ke singapura?" Tanya Adara membuat Devano terdiam untuk sesaat lalu menganggukkan kepalanya
"Iya Daddy yang minta aku gak mungkin tolak, tapi belum tau pastinya kapan." Kata Devano
Adara mengangguk faham lalu menatap Devano dengan senyuman manisnya.
"Aku bakal kabarin kamu." Kata Devano
"Vina juga." Kata Adara mengingatkan
"Hm aku bakal kabarin kalian berdua." Kata Devano
"Sekarang kita ngapain?" Tanya Adara
"Gak tau." Kekeh Devano
"Makan aja ya? Kamu mau makan? Aku udah masak." Kata Adara
"Kamu masak? Biasanya beli." Kata Devano
"Hmm aku masak Van lagian kalau di fikir-fikir boros juga kalau beli terus sekalian belajar masak juga." Kata Adara
"Untuk persiapan kalau udah nikah sama aku ya?" Goda Devano
Adara diam sambil mengerucutkan bibirnya sebal, tapi tidak mengatakan apapun.
"Kamu masak apa?" Tanya Devano
"Em cuman bikin sup ayam soalnya baru belajar juga." Kata Adara
"Yaudah yuk makan." Kata Devano membuat Adara tersenyum senang mendengarnya
Dia mengajak Devano untuk pergi ke dapur lalu meminta pria itu duduk selagi Adara mengambilkan makan. Selesai menyiapkan makan Adara menyajikannya di hadapan Devano dengan wajah yang terlihat sedikit ragu.
"Kamu coba dulu kalau gak enak kita beli makan aja." Kata Adara pelan
Devano tersenyum lalu mencoba masakan Adara dan rasanya lumayan untuk seseorang yang baru belajar.
"Enak gak?" Tanya Adara
"Enak kok Ra kamu pinter." Kata Devano
"Kamu bilang gitu bukan untuk nyenengin aku aja kan?" Tanya Adara memastikan
"Enggak lah memang enak kok kamu udah cocok jadi istri aku, nikah yuk?" Kata Devano
"Van jangan bercanda." Rengek Adara
"Aku enggk bercanda Adara sayang." Kata Devano
"Van aku...."
"Iya tau aku bakal nungguin kamu kok." Kata Devano dengan senyuman
"Makasih"
"Anything for you"
Keduanya saling melemparkan senyum lalu Devano menggeser sedikit bangkunya.
"Aku enggak peduli harus menunggu sampai kapan yang penting hati aku tetap milik kamu, hanya kamu yang ada disana." Kata Devano
"Bohong gak?"
"Aku enggak pernah bohong apalagi kalau itu menyangkut hati dan perasaan aku." Kata Devano
"Hati aku juga milik kamu Devano." Kata Adara
"All of your heart?"
"All of my heart"
Devano tertawa kecil dia menatap wajah cantik Adara dengan jarak yang cukup dekat.
Adara berhasil membuatnya tergila-gila hingga Devano tidak bisa dan tidak akan mau mencari wanita lain dihidupnya. Mungkin Adara tidak sadar bahwa gadis itu sudah membuat Devano tergila-gila.
Tidak ada hal pernah bisa melakukan hal seperti padanya, hanya Adara yang mampu melakukannya.
Hanya Adara yang mampu membuat Devano menunggu dan menantinya.
"Adara"
Adara baru ingin menjawab, tapi Devano sudah lebih dulu memiringkan wajahnya dan mencium tepat di bibirnya.
Cukup lama mendiamkannya Devano menjauhkan wajahnya lalu tersenyum dan mengacak rambut Adara dengan gemas.
"Kalau udah siap nikah bilang aku"
Adara bisa gila mendadak karena tingkah Devano.
¤¤¤
Adara jangan kelamaan mikir ya?
Hmm part ini khusus Vano-Dara dan next part kita bertemu dengan bebeb Zikoo💞
Siang atau sore next nya aku up yaaa😚