
"Wahh gila bagus banget pemandangannya"
Seruan itu keluar ketika mereka sampai di villa yang ada di Bandung dan sekarang sudah ada Devina bersama ketiga temannya juga Ziko yang sampai lebih dulu. Sedangkan Devano juga Adara serta yang lainnya masih berada di jalan dan belum sampai.
Sebelumnya Devano meminta kembarannya untuk satu mobil dengannya saja, tapi Devina menolak dan mengatakan kalau dia ingin berangkat bersama kekasihnya juga teman-temannya. Mereka membawa mobil milik Daffa dengan Ziko yang mengemudi sedangkan Devano membawa mobilnya sendiri dan tentu saja dia yang membawa mobilnya.
Devano tidak akan membiarkan Alex atau Erick yang membawanya karena itu sama saja dengan cari mati memgingat betapa rusuhnya mereka berdua dalam mengemudi.
"Lo sering kesini Vin?" Tanya Mona penasaran
"Emm dulu sering, tapi sekarang jarang makanya aku seneng banget waktu mau kesini." Kata Devina dengan senyuman
"Gila sih disini pemandangannya bagus banget Vin pasti kalau pagi sejuk." Kata Nayla
"Iyaa memang aku biasanya kalau disini nanti pagi-pagi jogging sama Vano atau Kak Ara atau bertiga." Kata Devina
"Ehh nanti kita tidurnya bareng kan?" Tanya Cessa
"Hmm niatnya mau dua kamar biar gak sempit-sempitan kan kita berlima sama Adara." Kata Devina
"Ah ramean aja Vin biar seru." Kata Mona
"Nanti gak sempit? Pakai kasur lantai gak papa?" Tanya Devina
"Gak papa sumpah mendingan rame-rame." Kata Cessa dengan semangat
"Yaudah nanti aku bilangin sama Vano." Kata Devina
Tak lama setelah mengatakan hal itu mobil Devano memasuki area villa membuat Devina tersenyum senang apalagi ketika kembarannya itu turun bersama yang lainnya. Berbeda dengan Devina yang senang Ziko justru sebal karena ada Alex, entahlah dia masih sangat sensitif tentang pria yang pernah disukai kekasihnya.
"Vin ke kamar dulu aja sama yang lain taruh tasnya dulu." Kata Devano begitu dia masuk ke dalam
"Vano kita maunya tidur ramai-ramai." Kata Devina
"Gak sempit?" Tanya Devano dengan alis bertaut
"Vano cariin kasur lantai." Kata Devina
"Iya nanti dicariin, sekarang ke kamar dulu sama yang lain istirahat." Kata Devano
Devina mengangguk dia menghampiri kekasihnya sebentar sebelum masuk, sebenarnya sedikit khawatir karena Ziko tidak terlalu dekat dengan teman-teman Devano, tapi tidak masalah.
"Ziko aku ke kamar dulu yaa?" Kata Devina
Ziko mengangguk sambil tersenyum.
Setelah mengatakan hal itu Devina mengajak yang lainnya untuk masuk ke dalam dan pergi ke lantai atas dimana mereka akan tidur nanti. Memiliki ruang yang cukup luas ada empat kamar di villa ini dengan tiga kamar mandi serta kolam renang dan ruang tengah yang biasa digunakan untuk menonton film.
Memasuki kamar Mona langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang dan tersenyum senang.
"Ya ampun akhirnya gue liburannn." Kata Mona senang
"Ini beneran mau berlima?" Tanya Devina
"Iyaa Vin, gak papa kan Adara?" Tanya Cessa
"Gak papa gue gak ada masalah." Kata Adara sambil tersenyum
Devina mengangguk faham dan mengambil karpet yang ada di dekat tembok lalu menggelarnya di lantai.
"Duduk sini dulu karena kasur lantainya belum ada." Kata Devina
"Ehh mereka mau kemana?" Tanya Mona ketika melihat mobil Devano meninggalkan area villa
"Mau beli makanan katanya." Kata Adara membuat mereka semua mengangguk faham
"Ehh Ziko ikut enggak? Tuh anak nanti nyasar." Kata Cessa
"Mana ada musuh bebuyutannya si Alex." Kekeh Nayla
"Gak papa lahh biarin mereka temenan lagian Ziko sama Vano juga temenan kok mereka sering ngobrol kalau di rumah." Kata Devina
"Bagus dong dia mendekatkan diri dengan saudara ipar." Kata Nayla
Devina hanya tersenyum lalu mengatakan pada yang lainnya bahwa dia akan mengambil minum. Melangkahkan kakinya ke bawah Devina mengambilkan minum untuk yang lainnya, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.
'Mommy Vanoo nakalll'
'Tidak Mommy Vina bohong'
'Nakal Mommy aku jatuhh'
'Vina jatuh sendiri Mommyy'
'Bohong Mommy aku jatuh karena dikejar sama Vanoo'
Mendadak bayangan dirinya bersama dengan Devano muncul begitu saja membuat Devina tidak bisa menahan senyumnya. Mengingat betapa menyebalkannya Devano dulu membuat Devina tidak meyangka kalau pria itu akan sangat melindungi dan perhatian padanya.
Tersenyum singkat Devina kembali melanjutkan langkahnya untuk mengambil minum.
¤¤¤
Selama perjalanan ke super market Ziko benar-benar menahan diri untuk tidak memukul wajah Alex yang duduk di belakang bersama Erick dan Yuda. Rasa kesal benar-benar menguasai dirinya karena Alex terus saja membahas Devina serta masalah mereka ketika masih SMA dulu.
Menyebalkan kan?
Memang dia tidak bisa disatukan dengan Alex karena bisa saja terjadi perang kalau mereka berdekatan. Pria itu juga terus bicara dan tidak peduli dengan kehadirannya.
Astaga ingin sekali Ziko memukul wajahnya.
"Salah lo makanya jangan kelamaan mikir dan maen-maen sama cewek, rasaiin gebetannya gue rebut." Ketus Ziko
"Tuh Lex dengerin." Kekeh Yuda
"Tau nih Alex gak mau nerima kenyataan." Kata Erick
Sedangkan Devano hanya menjadi pendengar saja sambil fokus pada jalanan di depannya.
"Padahal waktu itu Vina suka banget sama gue kalau Vano latihan pasti ikut terus kalau gue godaiin salting." Kata Alex
"Udah lewat dia punya gue sekarang." Kata Ziko
"Siapa tau putus nanti kan bisa gue rebut." Kata Alex santai
"Nyari mati lo?" Tanya Ziko galak
Erick dan Yuda tertawa melihatnya padahal mereka tau kalau Alex sudah memiliki kekasih sekarang, tapi seru juga melihat dia dan Ziko berdebat.
"Gue udah sempet bilang sayang padahal dan kayaknya waktu gue bilang itu Vina masih suka deh." Kata Alex
"Apaansih? Diem gak?! Gak usah bahas cewek gue!" Kata Ziko
"Dih lu yang apaan suka-suka gue lah mau bahas apa." Ketus Alex
"Memang bener-bener minta di pukul lo ya Alexander!" Kesal Ziko
Alex baru ingin bicara, tapi Devano langsung menengahi karena mereka mengganggu konsentrasi dia yang sedang menyetir.
"Gak usah bahas Devina diam!"
Dan mereka diam, siapa yang berani bicara kalau pawangnya Devina sudah melarang?
Sekitar lima belas menit mereka sampai di area super market dan langsung turun untuk membeli makanan serta cemilan. Hanya Devano dan Ziko saja yang masuk sedangkan yang lain memilih untuk menunggu di luar sambil merokok.
Di dalam Ziko mengambil troli belanjaan dan mendorongnya sambil mengikuti langkah kaki Devano. Berbagai cemilan serta minuman di masukkan ke dalam keranjang hingga hampir penuh.
"Udah Ko bawa ke kasir." Kata Devano
Ziko hanya mengangguk singkat lalu membawa troli belanjaan mereka ke kasir dan tanpa mereka sadari ada banyak sekali yang memperhatikan mereka berdua, mungkin merasa aneh atau kagum melihat ketampanan keduanya.
Selesai membayar mereka kembali keluar dan melihat yang lainnya yang masih asik merokok membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan.
"Buruan udah mau siang"
¤¤¤
Senyum manis Devina mengembang ketika dia melihat banyak sekali makanan serta minuman yang tadi para pria itu beli. Perutnya juga sudah sedikit lapar dan Devina langsung mengambil roti serta susu yang ada di atas meja.
Matanya sesekali melirik Ziko dan Alex yang saling menatap dengan sengit, tapi bukan rasa penasaran dia malah merasa lucu. Dengan tenang Devina memakan roti yang ada ditangannya hingga habis tak tersisa.
"Heh mata lo berdua awas copot." Kata Adara ketika melihat Ziko dan Alex
"Awas jatuh cinta." Kekeh Mona
Ziko mendengus kesal dan duduk disamping Devina tanpa mau melihat ke arah musuhnya.
Alexander!
"Kenapa sih?" Tanya Devina penasaran
"Enggak"
"Ihh kenapa?" Tanya Devina lagi
"Enggak papa Vin." Kata Ziko
Devina menghela nafasnya pelan dan dua baru saja ingin pergi ke kamar mandi ketika suara Alex terdengar.
"Vin"
"Kenapa Alex?" Tanya Devina
Perkataan Alex setelahnya membuat mereka semua diam.
"Kalau udah putus bilang gue ya Vin"
Ziko berdecak kesal lalu melempar Alex hingga mengenai kepalanya.
"Setan"
"LO TUH SETAN"
Alex baru ingin balas melempar yang langsung ditegur oleh Devano karena tidak merasa kesal sendiri melihat kedua orang itu berantem.
"Alex"
"Iya gue salah gue salah Vann"
Mereka tertawa melihatnya, tapi memang salah Alex membangunkan rasa cemburu Ziko.
¤¤¤
Alexx kamu jangan maen-maenn🐍
Dua part yaa untuk hari ini sampai ketemu besok lagiii😚