
Kedatangan orang tua Ziko ke rumah untuk melamar Devina secara resmi membuat gadis itu gugup bukan main, dia duduk disamping Fahisa dan menggenggam tangan Mommy nya itu dengan cukup erat untuk menghilangkan sedikit rasa gugupnya. Sebenarnya ini cukup cepat hingga Devina benar-benar kebingungan apalagi mereka sudah bertanya masalah tanggal juga.
Sesuai kesepakatan mereka akan melangsungkan acara lamaran bersama keluarga besar dua minggu dari sekarang kemudian mempersiapkan pernikahan dalam waktu kurang dari dua bulan. Masih ada sedikit keraguan apalagi ketika melihat Devano yang sangat murung hanya saja Devina sangat menginginkannya.
Menikah dengan Ziko lalu menghabiskan banyak waktu bersamanya.
“Nah sayang karena sudah sepakat kamu sama Ziko bakal cari cincin lagi untuk acara lamarannya.” Kata Nazwa membuat Devina menatap jari manisnya
Dia suka cincin pertunangannya.
“Vina udah punya cincin gak mau ganti lagi, suka cincin ini.” Kata Devina sambil tersenyum
“Jadi kamu gak mau ganti cincinnya?” Tanya Fahisa pada anaknya
Devina menganggukkan kepalanya dengan semangat dia juga tersenyum dengan begitu lebar.
“Enggak papa kan? Nanti kalau beli cincin lagi yang ini gak bisa dipakai, Vina suka yang ini.” Kata Devina membuat semua orang tersenyum mendengarnya
“Yaudah kalau Vina memang gak mau.” Kata Nazwa
Mereka tidak ada yang mau memaksa Devina dan membiarkan saja apa yang memang gadis itu inginkan karena hari bahagia itu adalah milik Devina serta Ziko.
“Saya juga mau minta satu hal, setelah pernikahan nanti saya mau Devina dan Ziko tinggal di sini, tidak lama hanya tiga hari saja sebelum Devina benar-benar ikut dengan Ziko.” Kata Daffa
“Tentu saja itu tidak masalah Daffa kami tidak akan dan tidak mungkin melarang.” Kata Zidan
“Kalau gitu Ziko kita pulang sekarang.” Kata Nazwa
Mereka memang bariu bicara setelah selesai makan malam bersama dan kini sudah pukul Sembilan makanya Nazwa mengajak suami dan anaknya untuk pulang. Setelah berpamitan pada tuan rumah Daffa dan Devina mengantar mereka hingga ke depan dan tanpa ragu atau takut Ziko memeluk Devina yang berdiri disamping Daffa membuat kedua orang tuanya langsung menegurnya.
“Ziko!”
Tertawa kecil Ziko mengusap pelan pipi Devina sebelum Zidan menarik pelan lengannya.
Ditempatnya Devina masih terdiam hingga akhirnya Daffa merangkulnya dengan sayang lalu mengajak untuk kembali ke dalam. Begitu kembali ke ruang tamu Devina kembali diantara keluarganya lalu dia mendapat pelukan tiba-tiba dari Daddy nya.
Tidak ada perkataan apapun Devina juga hanya diam sambil membalas pelukan Daddy nya lalu tersenyum dan menatap Mommy serta kembarannya. Cukup lama berada di pelukan Daffa hingga pria paruh baya itu menjauhkan tubuhnya lalu menatap anaknya dengan senyuman dan mengusap wajahnya.
“Vina merasa senang?” Tanya Daffa
Devina menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang mengembang sempurna.
“Daddy ikut senang.” Kata Daffa
“Nanti Daddy bakal kangen Vina gak?” Tanya Devina
“Tentu saja mana mungkin Daddy tidak rindu dengan si cerewet Devina.” Kata Daffa sambil mencubit pipinya
“Vina juga bakal kangen sama Daddy, Mommy dan Vano.” Kata Devina
“Yaudah sayang kita jangan pikirkan hal itu dulu ya? Sekarang kamu sama Vano ke kamar istirahat jangan tidur larut malam.” Kata Fahisa
Devina mengangguk patuh lalu mengulurkan tangan pada Devano dan mengajaknya ke kamar. Malam ini Devina minta ditemani untuk tidur dan Devano dengan senang hati melakukannya, mungkin dia akan merindukan hal seperti itu nantinya.
Berjalan bersama hingga masuk ke dalam kamar Devina langsung mengajak Devano untuk tidur disampingnya lalu dia mendekat dan memeluk Devano dengan cukup erat. Devano memejamkan matanya dan membalas pelukan Devina dengan tak kalah erat.
Seandainya bisa dia akan meminta Devina untuk melakukan pernikahan nanti saja, tapi sayangnya tidak Devano tidak mau menghilangkan kebahagiaan kembarannya.
“Vano nyanyi untuk Vina.” Pinta Devina
“Nyanyi?”
“Heem biar Vina tidur.” Kata Devina
Devano tersenyum lalu bersenandung pelan membuat Devina mengeratkan pelukannya dan memejam mata menikmati nyanyian kembarannya yang menenangkan.
Sebentar lagi semua yang sedang Devano lakukan akan digantikan oleh orang lain.
***
Ulang tahun si kembar keenam tahun.
Acara belum di mulai sekarang kedua anak itu masih berada di kamar mereka dan Devina sedang mengintip keluar jendela kamarnya dimana satu per satu orang mulai berdatangan.
“Vano yang datang banyak meleka mau kasih kita hadiah.” Kata Devina senang
Devano menghampiri kembarannya dan ikut melihat ke bawah benar ada banyak yang datang.
“Kasih aku aja enggak kasih Vina.” Kata Devano membuat bibir Devina mengerucut sebal
“Ish nakal!” Kata Devina galak
“Vina kalau sudah besar mau jadi apa?” Tanya Devano
“Mau jadi doktel.” Kata Devina
“Vina sakit terus masa mau jadi dokter.” Kata Devano jujur
“Ish Vano nakal.” Kata Devina dengan raut wajah cemberut
“Vina jangan jadi dokter aku aja, jadi kalau Vina sakit aku yang obtain.” Kata Devano
“Emm boleh”
Keduanya saling melemparkan senyuman hingga pintu terbuka dan Fahisa masuk ke dalam lalu mengajak kedua anaknya untuk keluar kamar karena mereka akan memulai acara. Dengan penuh semangat keduanya pergi keluar kamar dan melihat rumah mereka yang ramai dengan tamu undangan.
Begitu sampai Devina dan Devano pergi ke tengah-tengah berdiri di dekat kue ulang tahun mereka. Senyuman manis Devina mengembang dengan sempurna apalagi ketika melihat ada banyak kado yang tersusun rapi.
Serangkaian acara mulai dilakukan hingga selesai setelah mereka memotong kue ulang tahun. Keduanya menyuapi orang tuanya lalu menyuapi Sahara dan Oma mereka juga.
“Vano suapin aku kue juga.” Kata Devina sambil tersenyum senang
Devano tersenyum lalu menyuapi kue ulang tahun mereka kepada Devina membuat anak itu tersenyum senang.
“Sekalang Vina yang suapin.” Kata Devina
Selesai acara suap-suapan itu Devina mendekat lalu memeluk kembarannya dengan sayang yang langsung dibalas dengan Devano dan hal itu membuat orang-orang menatap keduanya dengan haru apalagi ketika mendengar apa yang si kecil Devina katakan.
“Vina sayang Vano”
Sejak kecil keduanya memang sering sekali membuat iri orang lain.
***
Kenangan masa kecil itu datang kepada Devano dan kini pria itu tengah asik memandangi wajah Devina yang sudah tertidur lelap sejak beberapa menit yang lalu, jangan Tanya, Devano belum mengantuk dia masih ingin menatap wajah kembarannya. Terlihat lelap sekali Devina sama sekali tidak
terusik ketika Devano mengusap pipinya berkali-kali.
Setiap hari Devina akan selalu datang ke kamarnya entah dengan tujuan atau tidak dan lagi Devina selalu datang padanya ketika dia
menginginkan atau butuh sesuatu. Sungguh Devano sangat-sangat menyayangi kembarannya hingga dia tidak bisa menggambarkan seberapa besar rasa sayangnya.
“Vano sayang Vina”
Mencium sayang kening kembarannya Devano berniat untuk kembali ke kamarnya, tapi Devina malah memeluknya lagi dan hal itu membuat Devano mengurungkan niatnya.
“Kamu mau aku tidur disini ya?” Tanya Devano pada kembarannya yang masih terlelap
Gumaman pelan terdengar Devina juga menggeliat dalam tidurnya lalu melepaskan pelukannya dan tidur dengan menjadikan tangan sebagai bantalannya, tapi Devano menahannya dengan penuh kelembutan lalu menggantikan dengan tangannya.
“Nanti kamu bisa kesemutan”
Tersenyum manis Devano mendekat lalu mencium puncak kepala Devina dengan sayang.
“Selamat malam Devina”
Perlahan Devano memejamkan matanya dan ikut tertidur disamping Devina.
¤¤¤
Aku updateeee😘