My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (47)



Devano tidak mengerti kenapa istrinya malah menangis dengan kuat setelah memberikan kabar baik untuknya bahkan sampai sekarang Adara masih menangis di pelukannya. Sejak tadi Devano berusaha menenangkan dia terus mengusap kepala Adara sambil menenangkannya dan meminta Adara berhenti menangis.


Berkali-kali Devano mencium puncak kepalanya dan meminta Adara untuk tenang, tapi istrinya itu malah semakin terisak dalam pelukannya. Sungguh seharusnya Adara senang atau bahkan yang seharusnya menangis hari sekarang adalah Devano.


"Sayang udah kenapa nangis hm?"


Dengan sedikit paksaan Devano melepaskan pelukan istrinya lalu menangkup wajah Adara dan mengusap kedua pipinya.


"Vano.... Vannn"


"Iya sayang iya tenang dulu ini kamu minum." Kata Devano sambil memberikan air mineral yang ada di meja


Adara menerima dan langsung meminumnya hingga tersisa setengah.


"Tenang, udah jangan nangis." Kata Devano dengan penuh kelembutan


"Van..."


"Hmm"


"Aku hamil Van." Kata Adara lagi dan matanya kembali berkaca-kaca


"Iya sayang kamu hamil anak aku." Kata Devano dengan senyuman


Tangannya masih mengusap pipi Adara dengan sayang.


"Aku seneng banget Van aku..... Aku gak nyangka aku bakal punya anak.... Aku bakal jadi Ibu." Kata Adara dengan suara yang sangat pelan


Devano tersenyum dia mencium kening Adara cukup lama membuat istrinya itu memejamkan matanya.


"Kamu gak akan ninggalin aku kan Van?" Tanya Adara lirih


"Kenapa nanya gitu? Aku selalu disini untuk kamu." Kata Devano


"Kamu gak akan ninggalin aku seperti dulu Ayah ninggalin Bunda kan?" Tanya Adara lagi


Mendengar itu Devano terdiam dadanya sesak seketika dan Devano langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Enggak akan pernah sayang aku selalu disini." Kata Devano dengan penuh kasih sayang


Adara terisak lagi dia memeluk Devano dengan sangat erat.


"Jangan tinggalin aku ya? Aku sayang kamu Van." Kata Adara lagi


Devano tersenyum dia mencium puncak kepala Adara dengan sayang membuat istrinya itu mengeratkan pelukannya.


"Aku gak akan pernah ninggalin kamu Adara jangan takut." Kata Devano


Adara mengangguk pelan dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devano dan berusaha untuk tenang.


"Jangan takut sayang aku gak akan ninggalin kamu, aku juga sayang banget sama Ra." Kata Devano lagi


Kali ini Adara melepaskan pelukannya dia menatap Devano membuat pria itu langsung menghapus jejak air mata di pipinya dan tersenyum manis.


"Ayo senyum calon Mama muda." Canda Devano


Perkataan itu berhasil membuat Adara tersenyum.


"Cantik banget"


Devano mengusap rambut Adara dengan sayang lalu dia menunduk dan mencium bibir Adara hingga berkali-kali.


"Kita harus kasih tau Mommy sama Daddy mereka pasti senang." Kata Devano


Adara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Udah makan?" Tanya Devano lagi


Adara kali ini menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Belum? Yaudah makan bareng sama aku, mau makan apa?" Tanya Devano


"Makan di rumah aja Van tadi Bibi udah masak aku belum sempat makan karena terlalu semangat mau kesini." Kata Adara dengan senyuman


"Yaudah"


Devano meminta Adara menunggu selagi dia mengambil ponsel miliknya juga tas yang dia bawa dan setelahnya mengajak Adara untuk pulang. Tersenyum senang Adara memeluk lengan Devano dan keduanya bersama-sama keluar dari ruang kerja yang letaknya ada di samping ruangan Daffa.


"Udah boleh pulang sama Daddy Van?" Tanya Adara


"Kamu ganteng banget pakai jas gitu hehe." Kata Adara membuat Devano tersenyum mendengarnya


Kepala Adara bersandar di lengan suaminya membuat Devano hanya bisa tersenyum dengan hati berbunga-bunga.


"Maaf ya Van karena belakangan ini aku nyebelin dan sering ngomel"


Mana mungkin Devano akan marah pada istrinya, dasar Adara aneh.


Meskipun kesal Devano tidak pernah marah dia itu sangat sabar karena dari dulu Devano sudah terbiasa dengan Devina yang memang suka menyebalkan.


Tapi, dia tidak pernah marah sedikitpun.


°°°°


"Ya ampun Vano kamu harusnya cepat ke Dokter dan lihat keadaan anak yang Adara kandung"


Fahisa begitu heboh dan antusias ketika mendengar kabar kehamilan menantunya bahkan dia terus memeluk Adara dan mencium keningnya dengan sangat lama. Sama hal nya dengan Daffa yang sangat senang karena selain Devina ada Adara yang akan memberikan dia dan Fahisa cucu yang sangat menggemaskan.


Sebentar lagi rumahnya akan terasa ramai seperti dulu dan Daffa sangat senang dia membayangkan akan mendengar lagi suara tangisan bayi, rengekannya dan jangan lupakan kehadiran anggota baru dalam keluarganya. Di tempatnya Adara hanya bisa tersenyum, dia sudah tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia sekarang.


Memiliki keluarga suaminya yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri merupakan kebahagiaan luar biasa untuk Adara.


"Besok kalian harus ke Dokter ya? Mommy akan buatkan janji dengan Dokter Intan." Kata Fahisa


"Iya Mom"


"Aduh sayang Mommy senang sekali bukan hanya Devina, tapi kamu juga akan kasih Mommy sama Daddy cucu." Kata Fahisa sambil mencubit gemas kedua pipi Adara


Devano tertawa kecil melihatnya.


"Kamu gak boleh pergi sendirian kalau mau kemana-mana harus di temani dan bilang aja semua yang kamu mah, oke?" Kata Fahisa


"Iya Adara bilang saja sama Devano jangan seperti Mommy Fahisa yang dulu pernah keluar malam-malam untuk beli makan sendirian dan buat semua orang panik." Kata Daffa membuat Fahisa melotot dan mencubit gemas lengan suaminya


"Masss"


Adara tertawa lalu dia mengangguk patuh.


"Cantiknya menantu Mommy." Kata Fahisa sambil mengusap kepala Adara dengan sayang


"Sudah Vano sekarang ajak Adara ke kamar kalian istirahat besok Mommy sama Daddy akan buatkan janji dengan Dokter kandungan." Kata Daffa


Devano mengangguk patuh lalu mengajak Adara untuk kembali ke kamar karena memang sudah cukup malam.


"Aku sama Adara ke kamar ya Mom Dad." Kata Devano


Daffa dan Fahisa mengangguk sambil menatap mereka berdua yang kini kembali ke kamar.


Begitu masuk ke dalam kamar Adara langsung duduk di tepian ranjang dia tersenyum sambil menatap suaminya.


"Vann"


Devano bergumam pelan sambil dia melepaskan baju yang dia pakai.


"Besok ke makam Bunda ya? Terus ke rumah Ayah dan ke rumah Devina juga." Kata Adara


Devano tersenyum dan menganggukkan kepalanya membuat Adara meminta pria itu untuk mendekat.


Begitu Devano duduk di sampingnya Adara langsung memeluknya dengan sayang.


"Kalau Bunda di sini dia pasti seneng ya Van?" Kata Adara sambil mendongak dan menatap mata suaminya


Devano tersenyum tipis dia mencium kening Adara dengan sayang.


"Sekarangpun Bunda seneng Ra dia lihat kamu dari atas sana dan tersenyum untuk kamu." Kata Devano


Adara tersenyum dan mengangguk singkat.


"Udah jangan sedih nanti baby nya sedih juga"


Tertawa kecil Adara mengangguk patuh lalu mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata ketika tangan Devano mengusap kepalanya dengan sayang.


Adara sangat beruntung bertemu dengan Devano.


°°°°°


Update dulu kitaaa🥰