My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (107)



Menikah dengan Ziko ternyata tidak semudah yang dibayangkan karena ada banyak sekali perdebatan yang keduanya hadapi, ya meskipun pada akhirnya Ziko akan mengalah demi tidak adanya pertengkaran diantara mereka. Terkadang Devina merajuk tanpa alasan atau merajuk karena hal sepele dan Ziko hanya bisa sabar saja, dia berusaha memahami Devina.


Sekarang keduanya lagi makan siang bersama setelah selesai mengurus masalah undangan pernikahan dan kali ini Devina mengikuti keinginan Ziko. Sebenarnya Devina sering merasa bersalah dan kasihan pada kekasihnya yang selalu mengalah selain itu Devina takut Ziko akan merasa kesal atau bosan dengannya.


Ziko sering kali terlalu bersabar menghadapinya hingga Devina tidak habis fikir, kenapa Ziko bisa sesabar itu?


Kalau keluarganya Devina bisa maklum, tapi Ziko melihat dia begitu sabar menghadapinya membuat Devina merasa begitu terharu apalagi setiap Ziko menjawab alasannya.


'Karena aku mencintai kamu Devina'


Hanya itu jawabannya, tapi hal itu selalu berhasil membuat Devina merasa begitu bahagia mendengarnya.


"Vin kok gak dimakan?"


Pertanyaan yang Ziko ajukan membuat Devina tersentak lalu mendongak untuk menatapnya dan tersenyum.


"Ehh ini makan kok." Kata Devina


"Kenapa hm? Apa lagi yang kamu fikirin?" Tanya Ziko dengan penuh kelembutan


Selalu begitu kalau Ziko sudah diam dia akan bertanya masalah apa yang sedang Devina fikirkan.


"Enggak ada kok Vina cuman kurang suka makanannya kayaknya salah pesan." Kata Devina


Sebenarnya itu hanya alasan saja, tapi Ziko menganggapnya dengan serius.


"Kamu gak suka? Pesan lagi aja, kamu mau apa?" Tanya Ziko


Dia berniat memanggil pelayan lagi, tapi Devina langsung melarangnya.


"Enggak usah Vina mau makan ini aja." Kata Devina


"Katanya enggak suka kalau kamu enggak suka kita bisa pesan lagi." Kata Ziko


"Em Vina makan ini aja kok gak papa." Kata Devina


"Gak papa?" Tanya Ziko sambil menatapnya dengan alis bertaut


Devina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya membuat Ziko ikut tersenyum dan mengusap pipi kekasihnya dengan sayang.


"Kamu kenapa sih? Apa yang kamu fikirin?" Tanya Ziko dengan penuh kelembutan


"Enggak, Vina cuman ngerasa kalau Vina itu egois." Kata Devina pelan


"Kenapa mikir gitu?" Tanya Ziko


"Vina suka maksa Ziko dari kita siapin pernikahan Vina maksa terus supaya Ziko ikutin maunya Vina." Kata Devina sedih


"Hey udah jangan difikiran aku enggak papa." Kata Ziko


"Vina gak mau ngalah." Kata Devina lagi


"Vina udah ah jangan mikir gitu lagi." Kata Ziko


"Vina sedih Ziko kenapa baik banget?" Tanya Devina


"Terus aku suruh jahat?" Tanya Ziko


"Bukan gituuu." Kata Devina


"Udah ah aku gak masalah kok." Kata Ziko


"Tapi..."


"Makan sayang." Kata Ziko


Menghela nafasnya pelan Devina mengangguk singkat lalu meraih lagi sendoknya dan mulai makan membuat Ziko tersenyum sambil mengusap kepala Devina dengan sayang.


"Kamu gak usah mikirin kayak gitu ya? Ini pernikahan kita aku gak masalah kalau kamu mau menentukan banyak hal." Kata Ziko


Devina kembali menganggukkan kepalanya membuat Ziko merasa gemas sekali melihatnya.


"Gemes banget calon istri aku"


Rasanya Ziko ingin mempercepat pernikahan saja.


¤¤¤


Ada banyak hal yang Devina lalui begitu dia kuliah dan semua hal itu dia lalui dengan Ziko yang selalu ada disisinya, mereka hampir tidak pernah bertengkar. Selama ini Ziko memang selalu sabar menghadapi Devina bahkan Devina sendiri mengakui bahwa dia keras kepala dan egois.


Sebenarnya bukan hanya kepada Ziko, tapi kepada semua orang terutama keluarganya Devina selalu mau kalau keinginannya dituruti dan hal itu terbawa hingga sekarang. Beruntungnya dia bertemu dengan pria seperti Ziko yang menerima diri Devina sepenuhnya.


Sejak awal mereka berkenalan Ziko memang mulai menaruh hati pada Devina dan ternyata hal itu berlaku hingga saat ini, perasaan untuk Devina tidak pernah pudar barang hanya sebentar. Setelah mengantar Devina pulang Ziko langsung kembali ke rumah lalu pergi ke kamarnya dan duduk di meja belajarnya.


Ada foto Devina yang dia bingkai dengan rapih.


'Ziko tau gak? Sekarang Vina sayang banget sama Ziko kalau dulu sama Alex, tapi sekarang sama Ziko'


Devina memang sangat lugu dan polos mungkin karena pergaulannya yang dibatasi oleh orang tua serta kembarannya yang membuat Devina begitu polos. Sayangnya hal itu yang menarik perhatian banyak orang hingga ada banyak pria yang menyukainya.


Ziko termasuk salah satunya.


Merasa rindu Ziko mengeluarkan ponselnya lalu membuka aplikasi chat miliknya dan membaca ulang beberapa chat bersama Devina.


*Ziko aku makan ice cream


Di kedai ice cream yang biasanya temenin😶


Temenin ya nanti Vina cium😚*


^^^**Iya aku temenin^^^


^^^Beneran dapat cium gak**?^^^


*Em enggak hehe


Ciumnya lewat chat aja😚


Vina kasih banyak😚😚😚😚😚*


^^^Maunya cium beneran^^^


*Ish gak mau


Ayo temeninn, tapi enggak mau cium*


^^^**Iya aku temenin^^^


^^^Nanti siang ya**?^^^


Yeee Vina bakal siap-siap❤


Kalau ditanya apa Ziko pernah merasa bosan dengan Devina?


Jawabannya adalah tidak, dia tidak pernah merasa bosan dengan Devina dan malah semakin nyaman berada di dekatnya.


Entahlah Ziko sudah sangat bucin pada Devina hingga dia tidak bisa melakukan apapun lagi. Satu-satunya hal yang ada dibenaknya adalah memiliki Devina dan menghabiskan waktu bersamanya.


Suara deringan ponsel membuat Ziko langsung mengambilnya dan dia melihat nama Devina tertera disana hingga Ziko langsung mengangkatnya.


'Ziko udah sampai belum?'


"Hm udah Vin." Kata Ziko


'Ish gak bilang kalau udah sampai'


"Iya maaf aku lupa, kamu di rumah kan?" Tanya Ziko


'Heem di rumah, tapi Vano lagi gak ada aku kesepian'


"Makanya telpon aku ya?" Tebak Ziko


'Iya hehe'


Ziko tersenyum sambil membayangkan Devina yang terkekeh dengan mata menyipit bahkan nyaris menghilang.


Astaga dia mulai merindukan Devina lagi.


¤¤¤


"Vanoo tolonginn"


Seruan Devina itu membuat Devano bergegas keluar kamar lalu menghampirinya di kamar Devina dan dia melihat gadis itu duduk tengah berbaring di atas ranjang. Berjalan mendekat Devano menyentuh dahi Devina yang tidak teras panas lalu menatap wajahnya yang tidak pucat juga.


Menghela nafasnya pelan Devano duduk didekat kembarannya lalu bertanya apa yang Devina inginkan. Tersenyum manis Devina menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan bahwa dia sedang bermain game.


"Vina enggak bisa menang Vano bantuin biar menang." Kata Devina


"Kamu manggil aku buat ini?" Tanya Devano


Devina menganggukkan kepalanya membuat Devano tidak habis fikir dengan kembarannya, tapi dia tetap mengambil ponsel Devina juga.


Mana mungkin dia akan menolak keinginan Devina rasanya tidak bisa, dia akan selalu menuruti keinginan Devina.


Mungkin tidak baik, tapi Devano tidak pernah bisa memberikan penolakan.


¤¤¤


Aku updateee😙