My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (62)



"Gio apaansih!"


Sentakan Ziko bukan hanya membuat Gio terkejut, tapi beberapa pengunjung cafe yang juga menatap ke arah mereka dengan penuh tanya. Sekarang Ziko sangat kesal karena tingkah Gio yang mengirimkan foto dia bersama wanita lain kepada Devina.


Padahal wanita itu juga teman Gio sendiri yang dia ajak untuk ikut dan secara kebetulan duduk disampingnya. Sekarang Gio justru tertawa kecil ketika mendengar perkataan temannya, dia hanya bercanda dan sudah bilang pada Devina juga.


Tadi Gio hanya iseng saja, tapi ternyata Ziko marah sekali.


"Lo apaan sih Yo? Gila bisa marah Vina sama gue nanti." Kata Ziko


"Gue udah bilang Vina bercanda doang kok nih lihat balasan dia." Kata Gio sambil menunjukkan chat nya dengan Devina barusan


^^^Bercanda Vin temen gue kok itu jangan marah sama Ziko^^^


ISH JAHIL BANGET SIH!


Aku udah siap-siap mau ngomelin Ziko tauuu!


Ziko tersenyum singkat lalu menyerahkan kembali ponsel Gio kepada pria itu, tapi masih dengan tatapan sengitnya. Tetap saja dia merasa kesal pada Gio yang bisa saja dengan perbuatannya menimbulkan kesalah pahaman antara dia dan kekasihnya.


"Jangan gitu lagi Yo nanti Vina beneran marah sama gue gimana?" Kata Ziko serius


"Iya Ko maaf maaf enggak lagi." Kata Gio


"Gue gak mau dia marah." Kata Ziko


"Iya Ko maaf dah gak gitu lagi gue sumpah." Kata Gio


"Lo tau kan gue cinta banget sama dia? Gue gak mau dia marah apalagi salah faham dan malah ninggalin gue." Kata Ziko


Gio hanya diam dia tidak menyangka kalau respon Ziko akan begini. Awalnya dia hanya berniat untuk bercanda, tapi sekarang dia jadi merasa sangat bersalah.


Benar juga, bagaimana kalau Devina benar-benar marah pada Ziko?


"Gue gak akan bisa kalau gak ada Devina." Kata Ziko


"Sumpah Ko maaf gue bakal jelasin lagi ke Vina." Kata Gio


"Iya udah lagian udah terlanjur juga yang penting jangan gitu lagi Yo." Kata Ziko


"Iya enggak." Kata Gio


Bersamaan dengan itu teman Gio yang bernama Zelline datang dan kembaki bergabung karena gadis itu habis dari toilet.


"Eh kok diem-dieman." Kata Zelline bingung


"Gak papa Zel." Kata Gio


Zelline hanya mengangguk singkat karena tidak ingin mencampuri urusan mereka berdua dia mengambil minumannya dan meminum hingga habis.


Di tempatnya Ziko langsung membuka ponsel miliknya dan mengirimkan pesan pada Devina.


^^^Vin poto yang dikirim Gio maaf ya?^^^


^^^Dia temennya Gio tadi memang Gio ajak dan poto itu gak seperti apa yang kamu pikirin kok^^^


^^^Jangan marah ya?^^^


^^^Aku sayang kamu Vin^^^


Setelah mengetikkan pesan itu Ziko menatap layar ponselnya cukup lama hingga centang biru terlihat dan dapat dia baca bahwa Devina sedang mengetik. Menunggu balasan yang Devina kirimkan Ziko menghela nafasnya pelan hingga pesan balasan masuk.


Pesan yang membuatnya tersenyum.


Kenapa minta maaf?


Vina enggak marah, selama ini Ziko udah sayang banget sama Vina bahkan kita udah tunangan aku gak bakal percaya gitu aja cuman karena poto apalagi yang kirim Gio


Aku tau Gio itu jahilnya kebangetan


Vina enggak marah kok dan Vina juga sayang sama Ziko♡


Hehe yaudah Vina masih di restoran sama Daddy nanti kena marah karena main hp


Pesan itu benar-benar membuat hati Ziko menghangat, dia akan menyiapkan kejutan indah untuk satu tahun mereka menjalin kasih.


Devina, dia akan menjadikan gadis itu ratu di dunianya.


Dunia Ziko bersama dengan Devina.


¤¤¤


Sejak pukul delapan Devina sudah berada di kampus karena ada mata kuliah kemarin yang dipindahkan pagi padahal dia harusnya kuliah jam dua belas. Sekarang Devina berada di kelas untuk mendengarkan dosen yang sedang menjelaskan sambil sesekali mencatat hal-hal yang penting.


Setelah kelas ini selesai nanti Devina harus ikut Bella ke foto copyan untuk print serta menjilid tugas mereka. Ada tiga orang anggota kelompok yang satu lagi Garda dan gadis itu sudah mengerjakan semuanya lalu meminta Devina serta Bella untuk print juga jilid saja.


Awalnya Devina menolak dan ingin membantu, tapi Garda bilang waktunya sudah sangat mepet karena mereka kelompok pertama.


"Minggu yang akan datang kita ujian." Kata Dosen yang sedang ada di depan


Baru akan mengajukan protes Dosen itu sudah kembali bicara dan membuat para mahasiswa hanya bisa pasrah.


"Lisan"


Astaga ujian lisan dengan Pak Alvino adalah hal yang paling menyeramkan, tapi mereka tidak bisa menolak juga.


"Saya cukupkan, sampai ketemu minggu yang akan datang dan pelajari semua materi yang pernah saya berikan hanya akan ada dua pertanyaan satu pertanyaan nilainya 50." Kata Pak Alvino


Sesaat setelah pria yang masih cukup muda itu keluar teman-teman sekelas Devina langsung ribut dan mengumpat kesal, tapi Devina dan Hanifa tidak.


Untuk apa mengeluh kalau sudah ditentukan?


Menghela nafasnya pelan Devina memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas lalu menoleh untuk melihat Bella yang sedang mengobrol dengan Luna.


"Vin lo mau kemana?" Tanya Hanifa


"Hm mau ke foto copyan sama Bella." Kata Devina


"Gue mau ke kantin sama Intan lo mau nitip sesuatu enggak?" Tanya Hanifa


Devina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Beliin susu aja sama roti." Kata Devina


"Lo gak papa kan sama Bella doang? Apa gak kita ikut Vina aja dulu Fa." Kata Intan


"Iya juga sih yaudah gue sama Intan ikut lo dulu deh." Kata Hanifa ketika ingat kalau Bella pernah ikut Yuna melabrak Devina


"Beneran?" Tanya Intan


"Bener lah lagian Bella gak bakal ngapa-ngapain kok kan kita mau ke foto copy bukan ke kamar mandi." Kata Devina dengan senyuman


"Yaudah deh gue juga tadi gak sempet sarapan, jadi lapar hehe nanti kalau ada apa-apa telpon ya?" Kata Intan


Devina mengangguk lalu melambaikan tangannya pada kedua temannya dan menghampiri Bella yang masih mengobrol dengan Rani.


"Bella"


"Oh iya mau ke foto copyan gue duluan ya Ran, Nes nanti kabarin kalian dimana." Kata Bella


Rani dan Nesya mengangguk singkat lalu Bella mengajak Devina untuk bergegas serta memberikan flashdisk yang diberikan Garda padanya.


Awalnya Devina tampak biasa dia mengikuti Bella hingga ketika sadar bahwa kini keduanya menuju gerbang belakang Devina menghentikan langkahnya dan memanggil Bella. Gadis itu menoleh sambil berdecak kesal pada Devina yang malah berhenti dan bukannya cepat.


"Cepet sih Vin!" Sentak Bella


"Bella kita mau lewat gerbang belakang?" Tanya Devina


"Ya iyalah memang mau lewat mana lagi?! Cepet deh jangan ribet." Ketus Bella


"Kita ke foto copyan depan aja yuk." Ajak Devina


"Jangan gila deh Vin! Kita tuh jalan dan lo tau fakultas kita ke depan tuh jauh lagian apa masalahnya sih?! Gak usah ribet deh." Kata Bella


"Tapi, aku..."


Devina hanya takut fikirannya mulai berkelana pada kejadian mengerikan yang pernah menimpanya.


"Apalagi sih Vin?! Lo buang-buang waktu tau gak! Cepetan." Sentak Bella


"Bella aku..."


"Lo gak usah ribet deh kita tuh udah tinggal print sama jilid, mau ke foto copyan aja ribet banget!" Kata Bella


Devina diam sambil menggigit bibir bawahnya cukup kuat, dia takut bahkan kakinya terasa sulit untuk melangkah.


"Buruan Vin!"


Tidak sabaran Bella meraih tangan Devina dan memaksanya untuk berjalan hingga sampai di tempat yang sangat Devina ingat.


Meskipun ramai, tapi Devina merasa gerbang belakang sangat sepi dia sangat takut wajahnya mulai memucat jantungnya juga berdetak sangat cepat.


"Bella aku gak mau." Kata Devina sambil melepaskan tangannya


"Mau lo apa sih Vin?! Yaudah sini gue sendirian aja." Kata Bella kesal


Devina tidak memberikan tanggapan apapun dia merasa pusing dan ketika tangan Bella dengan kasar mengambil flashdisk yang ada digenggamannya Devina berseru kencang.


"Enggak jangan!"


Bergerak mundur Devina membuat orang-orang menghentikan langkahnya untuk menatapnya, tapi Devina merasa tidak ada siapapun disana.


Devina merasa ketakutan ketika ingat bagaimana rambutnya ditarik dengan kencang.


"Vin gak usah aneh-aneh deh!" Kata Bella


Bella kembali meraih tangan Devina, tapi Devina menyentaknya dia melepaskan flashdisk itu lalu berjongkok dan menutup kedua telinganya.


"Daddy tolong Vina takut"


Kali ini Bella diam dia menatap Devina dengan bingung.


"Vin"


"Enggak jangan"


Bella semakin kebingungan apalagi banyak yang menatapnya. Ikut berjongkok Bella memegang pelan pundak Devina yang malah membuat gadis itu semakin ketakutan.


"Vin jangan bercanda"


"Enggak jangan! Daddy tolongin Vina"


Merasa bingung dan tidak tau harus berbuat apa Bella langsung menelpon Intan.


"Halo Tan ke gerbang belakang dong sekarang gue bingung Devina kayak ketakutan gitu." Kata Intan


'Hah? Iya gue kesana'


Bella semakin bingung karena Devina yang masih sama bahkan terlihat semakin parah karena dia menangis.


"Vin"


Bella tidak tau berapa lama bahkan kini ada cukup banyak orang yang mengerubungnya hingga dia melihat seorang pria yang berlari kencang ke arahnya.


Bella tau itu kembaran Devina ketika dekat.


"Vina"


Devano berjongkok dan menyentuh pundak Devina yang membuat gadis itu kembali ketakutan.


"Daddy tolong"


Merasa sangat cemas Devano memeluk tubuh kembarannya dan berbisik pelan.


"Ini aku Vin jangan takut ada Vano"


Devina sudah lama melupakannya, tapi kali ini dia kembali mengingatnya.


"Daddy tolongin Vina"


Menghela nafasnya pelan Devano menggendong tubuh Devina begitu melihat Alex yang datang membawa mobilnya.


Dalam dekapannya Devina menangis karena merasa sangat ketakutan dia terus memanggil nama Daddy nya dengan lirih.


Devano sangat cemas dia memeluk kembarannya dengan erat dan menelpon orang tuanya untuk mengatakan bahwa dia akan pulang bersama Devina.


Beruntung Intan langsung mengabarinya.


¤¤¤


Nanti aku updatee lagi yaa😚